SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 143


__ADS_3

Setibanya di event, Anang langsung pergi mandi lalu berpakaian, begitu juga Santi yang sudah kelihatan segar, ketika memeriksa luka ditangan Anang, sekalian mengoleskan salep obat dan mengganti perbannya.


"Jangan sampai ada lagi yang harus kamu tinju hari ini!" celetuk Santi.


Anang tertawa, lalu mengecup bibir Santi sekejap.


"Aku serius! Jangan mudah terpancing emosi, yang cuma membuatmu terluka!" ujar Santi, tampak bersungguh-sungguh.


"Siap bos!" sahut Anang, sambil menahan rasanya untuk tertawa.


"Mas! Kalau ada orang gila, aku bisa meminta petugas keamanan mengatasinya. Aku nggak mau kamu terluka seperti ini lagi," ujar Santi dengan wajah memelas.


"Iya sayang...!" ujar Anang lalu menunduk sampai wajahnya dekat sekali dengan wajah Santi.


Santi memegang sisi-sisi wajah Anang dengan kedua tangannya, lalu menatap Anang lekat-lekat, sebelum dia mencium bibir Anang disitu sepuasnya.


"Sakit nggak?" tanya Santi, sambil memegang tangan Anang.


Anang menggerakkan jari-jari tangannya.


"Nggak!" sahut Anang.


Anang lalu merangkul pinggang Santi, dan membawanya berjalan keluar dari ruang ganti.


Mungkin karena cuacanya yang cerah, belakangan ini, kalau disiang hari, eventnya sering dilangsungkan dilapangan terbuka.


Kata Santi, sekarang sudah mulai memasuki musim semi, makanya sudah tidak terlalu dingin seperti awal-awalnya Anang datang.


Meski ada beberapa kota yang didatangi Anang, memang tidak ada tanda-tanda pernah tersentuh musim dingin yang bersalju.


Ketika Anang naik keatas panggung, seperti biasanya, Santi akan mencari tempat berdiri yang bisa membuatnya terlihat jelas oleh Anang.


Tapi kali ini, Santi tampaknya sudah berjaga-jaga.


Santi tampak mengajak seorang petugas keamanan, untuk ikut berdiri didekatnya.


Anang yang melihatnya dari atas panggung, tersenyum lebar kearah Santi.


Sambil bernyanyi satu lagu yang itu-itu saja, Anang lebih banyak memandangi Santi, dan hanya sesekali memandang penonton, tanpa terlalu mau memperhatikan mereka.


Kemungkinan besar Santi pasti sudah bosan mendengar lagu itu, tapi Santi masih bisa tersenyum sambil melihat Anang.


Apa lagi yang bisa lebih menghibur, dibandingkan dengan senyuman orang yang Anang sayang?


Aaahh...


Anang bisa bernafas lega, melihat Santi yang setia menemaninya.


Penampilan Anang belum berakhir, tapi tampaknya ada sesuatu yang mengalihkan perhatian Santi dari Anang.


Santi tampak merogoh sesuatu dari dalam tasnya.


Anang melihat Santi mengeluarkan ponselnya, lalu menempelkan benda itu ditelinganya, dan tampak berbicara disitu, sampai Anang selesai bernyanyi.


Ketika Anang berjalan menghampiri Santi, wanita itu baru saja memasukkan ponselnya kembali kedalam tas, dan tersenyum manis sambil ikut berjalan mendekati Anang.


"Kamu mau pulang?" tanya Santi, yang mengangkat wajahnya, sambil memegang pinggang Anang dengan kedua tangannya.


"Kemana? Apartemen atau ke Indonesia?" Anang balik bertanya, dengan rasa sangat penasaran.


"Ke Indonesia, sayang...!" sahut Santi lalu tersenyum lebar.

__ADS_1


"Serius?" tanya Anang memastikan.


"Iya!" sahut Santi mantap.


Anang rasanya mau meloncat kegirangan, tapi dia hanya memeluk Santi, sampai kaki Santi terangkat dari tanah.


"Aku memesan tiket pesawat dulu. Mudah-mudahan ada penerbangan hari ini," ujar Santi.


Anang menganggukkan kepalanya.


"Kamu sudah bisa turunkan aku sekarang?" tanya Santi sambil berbisik, dan terdengar seolah-olah dia akan tertawa.


"Nggak! Aku mau menggendongmu..." ujar Anang sambil berjalan pergi dari tempat itu menuju ke van label, yang menunggu mereka.


Anang memang tidak mau menurunkan Santi, meski gitar masih menggantung dipunggungnya.


Santi hanya tertawa cekikikan, sambil membenamkan wajahnya dibahu Anang.


Ketika mereka sudah didalam van, Santi lalu terlihat sibuk dengan ponselnya sambil duduk dipangkuan Anang.


Anang ikut melihat kelayar ponsel Santi.


Santi tampak sedang memeriksa penerbangan kembali ke negara asal mereka.


"Ini ada untuk nanti malam!" ujar Santi bersemangat.


Setelah menekan-nekan layar ponselnya sebentar, Santi lalu menatap Anang lekat-lekat.


"Akhirnya aku bisa berhenti mendengar lagumu yang itu-itu saja," celetuk Santi, lalu tertawa terbahak-bahak.


Anang ikut tertawa.


"Mau kemana? Aku mau menciummu..." ujar Anang memelas.


Santi tertawa lagi, lalu berkata,


"Sebentar aku beritahu supir dulu, supaya dia mengantar kita kembali ke apartemen sekarang!" ujar Santi.


Santi lalu berjalan ke bagian depan van, dan berbincang-bincang dengan supir disitu.


Kali ini perasaan Anang, Santi bercakap-cakap dengan supir itu cukup lama, tapi Santi belum kembali menghampiri Anang.


Sambil menunggu Santi, Anang lalu melihat keluar jendela.


Kalau kembali ke negara asalnya, Anang tidak mau lagi bekerja yang terlalu ekstra seperti sekarang, sampai-sampai membuat Santi juga kewalahan mengurus Anang.


Anang masih akan tetap bernyanyi sambil menciptakan lagu seperti dulu, dan tetap bekerjasama dengan label pak Robi.


Tapi, Anang harus mencoba melakukan hal yang baru, mungkin membuka lahan akasia seperti Setyo.


Hmmm...


Kalau tidak salah harga lahan dikampungnya, yang dikatakan Tejo waktu itu, bisa terbeli dengan uang tabungan Anang, meski hanya lahannya saja dulu.


Sambil Anang mengumpulkan uang lagi, mungkin pelan-pelan Anang bisa membeli bibit, dan persiapan pembukaan lahannya nanti.


Tapi, Tejo...


"Kita bisa kembali ke apartemen," ujar Santi membuyarkan lamunan Anang.


Santi lalu kembali duduk dipangkuan Anang.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali ngobrol dengan supirnya?" tanya Anang penasaran.


"Supirnya kebingungan, lalu sempat menolak mengantar kita kembali...


Dia khawatir kalau-kalau nanti dia dimarahi, atau kemungkinan terburuknya dia bisa dipecat...


Tapi, aku bilang kalau dia bisa beralasan, karena mobilnya yang rusak, jadi dia harus kembali," kata Santi menjelaskan.


Anang mengangguk-anggukkan kepalanya.


Tabrakan yang terjadi tadi pagi, ternyata ada hikmahnya.


"Kamu lagi melamun apa tadi?" tanya Santi.


"Aku cuma memikirkan, apa yang baiknya aku lakukan kalau kita sudah pulang..." sahut Anang.


"Maksudnya, kamu mau berhenti bernyanyi?" tanya Santi.


"Bukan berhenti total. Aku hanya berpikir, kalau aku harus ada usaha tambahan, dengan hasil yang bisa jangka panjang.


Jadi, aku tidak perlu menerima kontrak bernyanyi seperti sekarang... Mungkin membuka lahan akasia, dengan membeli lahan di kampungku..." sahut Anang.


"Hmm..." Santi menggumam, seolah-olah ada yang dia pikirkan.


"Beli saja lahannya, kalau begitu!" ujar Santi.


"Iya, rencananya mungkin begitu. Tapi..." Anang tidak mau melanjutkan kalimatnya.


Tejo.


Jelas nanti Anang akan sering bertemu Tejo.


Meski sedikit, bayangan Tejo cukup mengganggu pikiran Anang, kalau Tejo sering berkeliaran didekat Santi.


"Tapi, apa?" tanya Santi dengan alis mengerut.


"Tabunganku mungkin nggak cukup untuk kita menikah nanti, kalau aku buru-buru membeli lahan," ujar Anang beralasan.


"Aaahh...! Cuma itu saja?" ujar Santi.


Anang menganggukkan kepalanya.


"Iya," sahut Anang.


Santi tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tapi, kamu tahu kalau ada lahan yang dijual dikampungmu?" tanya Santi.


"Kata Tejo, ada lahan yang dijual dengan harga terjangkau," sahut Anang.


"Hmm... Nanti aku tanya langsung dengan Tejo," ujar Santi.


Yang benar saja!


Anang lupa kalau Santi punya kontak Tejo.


Gara-gara obrolan ini, Santi bakalan menghubungi Tejo kalau begitu.


"Nanti saja urusan lahannya! Aku mau kita mengurus pernikahan kita saja duluan," kata Anang tegas.


Pokoknya setibanya di Indonesia, Anang harus menikah dengan Santi, tidak boleh ada kata 'tunda'. Titik!

__ADS_1


__ADS_2