
Berarti, dugaan Anang kalau ada yang membantu Tejo, sampai bisa menemukan penginapan itu, Gita orangnya.
"Santi?" tanya Sugeng, yang terdengar hanya sekedar bertanya, dan bukan sedang meminta jawaban.
"Kapan kamu pergi ke kota dengan Tejo?" tanya Sugeng.
"Sudah lama..." sahut Anang asal.
Sugeng mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jadi, Tejo bisa berhubungan dengan Santi?" tanya Sugeng.
Anang terduduk dikursi.
Rasanya, Anang tidak berminat lagi untuk kembali ke teras depan.
"Tapi, kalau begitu, berarti Santi mungkin sengaja membuat Tejo dekat dengan wanita itu!" ujar Sugeng.
"Apa jangan-jangan...?" sambung Sugeng, yang ikut duduk dengan Anang disitu.
"Apa?" tanya Anang ketus.
"Jangan-jangan Tejo sempat menembak Santi! Tapi Santi nggak mau, lalu menyodorkan wanita tadi untuk Tejo!" sahut Sugeng.
Anang terdiam.
"Atau memang Tejo yang minta Santi mencarikan wanita, yang bisa jadi calon untuk Tejo. Atau Santi menerima Tejo, lalu wanita itu hanya untuk sementara saja, selama Santi tidak ada disini, ..." ujar Sugeng lagi.
"Hmmm... Rasanya, Santi nggak mungkin sekejam itu, kalau hanya menyodorkan wanita itu, sebagai penggantinya sementara..." sambung Sugeng.
Kepala Anang rasanya pusing.
Karena, Meski Sugeng tidak mengatakan semuanya, Anang juga bisa menduga-duga seperti itu.
Dan, perkataan Sugeng, tidak ada yang membantu menjelaskan, atau meyakinkan Anang, yang mana satu yang benar-benar terjadi.
Yang jelas, Tejo masih bisa berhubungan dengan Santi.
Itu yang pasti.
"Tapi, semuanya itu nggak jadi masalah untukmu 'kan? Kamu sendiri, yang nggak mau berhubungan dengan Santi lagi..." celetuk Sugeng.
Sugeng lalu mengangkat salah satu gelas berisi teh, dan menyesap cairan teh panas, pelan-pelan, setelah meniupnya sebentar.
Gita lalu terlihat berjalan kembali kedapur.
"Kamu yang membantu Tejo, pergi ke penginapan waktu itu?" tanya Anang.
Gita tertawa pelan.
"Iya...! Santi menghubungiku. Katanya, kamu sedang ke persidangan, lalu Tejo bengong sendirian di Mall," sahut Gita.
"Maaf! Aku nggak menunggu untuk bertemu Mas Anang, karena aku juga ditunggu teman kantorku," sambung Gita.
"Nggak masalah! Apa ada yang lain, yang Santi bilang ke kamu?" tanya Anang buru-buru.
Gita mengerutkan alisnya.
"Nggak ada! Itu saja! Santi hanya mengirim pesan, karena dia sedang kuliah," sahut Gita.
"Kenapa?" tanya Gita.
"Nggak apa-apa...!" sahut Anang pelan.
__ADS_1
"Hmmm..." Gita menggumam.
"Selain itu, Santi memang pernah beberapa kali menghubungiku..." ujar Gita.
Anang menatap Gita lekat-lekat, menunggu kelanjutan perkataannya.
"Do'akan saja...! Mudah-mudahan kali ini, aku memang menemukan pengganti Mas Anang, lalu aku bisa menikah," sambung Gita, lalu tersenyum, sambil menepuk-nepuk lengan Anang.
Gita hampir saja berjalan kembali kedepan, tapi Anang menahannya.
"Apa yang Santi bilang denganmu?" tanya Anang, sambil memegang tangan Gita.
Gita melihat Anang, lalu melihat Sugeng bergantian.
Anang bisa mendengar, kalau Sugeng sedang cekikikan didekatnya, tapi Anang tidak perduli.
"Kenapa kamu nggak bicara langsung dengannya?" tanya Gita.
Anang jadi salah tingkah.
Dengan menundukkan kepalanya, Anang lalu melepaskan tangan Gita perlahan-lahan.
Gita kemudian berjalan pergi, tanpa bicara apa-apa lagi.
Sugeng masih tertawa didekat Anang, sampai Anang melotot kearahnya, dan membuat Sugeng seketika terdiam, meski masih terlihat kalau dia kesulitan untuk berhenti menertawakan Anang.
"Kenapa? Katanya tadi, 'Aku nggak mau mengingat Santi lagi'. Begitu 'kan?" tanya Sugeng, sambil meniru omongan Anang.
"Lalu, kenapa sekarang penasaran?" tanya Sugeng lagi.
"Bodo amat!" sahut Anang ketus.~
Sampai Gita dan temannya Ayunda kembali kekota keesokkan harinya, Anang tidak mau memperdulikan mereka lagi.
Sambil bekerja dikebun, Anang mengingat-ingat omongan Gita.
Gita mau agar hubungannya dengan Tejo berjalan lancar, kalau bisa, sampai mereka bisa menikah.
Kalau mereka sampai menikah, jelas saja Tejo nggak bisa apa-apa lagi dengan Santi, meski laki-laki itu tertarik dengan Santi, atau sebaliknya, Santi tertarik dengan Tejo.
Kecuali, kedua wanita itu terlalu bodoh, sampai mau jadi madu dan dimadu.
Ah!
Tejo, punya dua istri?
Eh, masih ada Ayunda.
Berarti, Tejo bisa punya tiga istri?
Ckckck... Pikiran gila, apa itu?
Lebih baik Anang sibuk dengan kebunnya saja.
Apalagi, bibit akasia miliknya yang sudah ditanam, ada beberapa yang terlihat layu, dan hampir mati.
Apa yang salah?
Pupuk sudah!
Baik untuk akasia, juga untuk tanaman tumpang sarinya, semua sudah dipupuk sesuai aturan.
Anang lalu berjalan ke lahan milik tetangga.
__ADS_1
Dilahan tetangga, para pekerja masih sibuk bekerja, tapi ada satu orang yang sedang memasak didapur darurat, ditanah didekat barak.
"Tanaman kalian ada yang mati?" tanya Anang, kepada orang itu.
"Pasti ada, Mas...!
Entah, karena bibitnya kurang baik, atau karena diperjalanan terlalu lama, sampai bibitnya lambat ditanam, atau memang ada kesalahan tanam, bisa juga karena hama!" sahut orang itu, sambil merapikan kayu, agar apinya tidak mati.
Anang terdiam.
"Apa Mas mau saya lihat tanamannya yang mati? Kalau memang karena hama, bisa Mas atasi secepatnya," ujar orang itu.
Anang buru-buru menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku mau! Bisa?" tanya Anang.
"Sebentar ya, Mas! Nggak lama lagi, nasinya matang. Baru kita pergi kesana!" sahut orang itu.
"Makasih ya!" ujar Anang.
Orang itu lalu menganggukkan kepalanya.
"Nggak apa-apa, Mas!" sahut orang itu.
Tidak butuh waktu lama Anang menunggu, orang itu sudah mematikan api kayu, lalu mengajak Anang pergi ke kebun Anang.
"Ayo kita lihat, Mas!" ajak orang itu.
Anang dan orang itu berjalan pelan, didalam kebun milik Anang, sambil sesekali orang itu berjongkok, dan memperhatikan bibit yang mati.
Orang itu dengan sabar menjelaskan kemungkinan penyebab kematian bibitnya, sambil memberi Anang solusi, agar bibit yang lain bisa bertahan hidup.
Bahkan memberi contoh kepada Anang, caranya mengatasi hama, yang mereka temui, meski bukan itu penyebab utama kematian bibit akasia milik Anang.
Anang memperhatikan, dan berusaha mengingat semua perkataan orang itu.
Setelah orang itu kembali kekebun mereka, dan meninggalkan Anang sendiri disitu.
Anang mulai mengerjakan semua yang diajarkan orang itu.
Untung saja, ada mereka yang bisa membantu mengajari Anang.
Meski Anang berhubungan baik dengan Setyo, tapi rasanya, tidak enak kalau Anang terus-terusan bertanya dengan Setyo.~
Beberapa hari berlalu, Anang selalu sibuk dengan kebunnya, dan hanya saling menyapa sekedar saja dengan Tejo, saat mereka bertemu dirumah.
Sekarang, benih padi yang ditanam Anang waktu itu, sudah mulai bertunas, keluar dari dalam tanah.
Anang tersenyum lebar.
Sambil berjalan pelan, Anang memeriksa bibit tanaman yang layu, sudah kembali segar.
Tapi, ada juga bibit akasianya yang tetap mati, mungkin karena lambat ditangani.
Tiba-tiba ponsel Anang berbunyi, dan Anang buru-buru mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya.
Pak Handoko, menyuruh Anang untuk pergi menemuinya dikota.
Suara pak Handoko terdengar aneh, waktu berbicara dengan Anang diponsel.
Seolah-olah ada sesuatu yang lain yang terjadi, selain dari urusan pengadilan Anang waktu itu.
Entah ada apa, karena pak Handoko tampaknya tidak mau menceritakannya di ponsel, meski Anang sudah mencoba bertanya kepadanya.
__ADS_1