SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 113


__ADS_3

"Bagaimana Papa bisa melarangmu membawa Santi, kalau seperti itu modelannya?!" kata ayah Santi sambil berbisik kepada Anang, ketika Santi sudah masuk duluan kedalam taksi yang menjemput mereka.


"Mudah-mudahan kamu bisa membawa Santi bersamamu. Kalau masih ada kesempatan sebelum kamu pergi, datang jalan-jalan kerumah Papa, ya?!" kata ayah Santi lagi sebelum Anang ikut masuk kedalam mobil.


"Iya, Pak!" sahut Anang, lalu ikut duduk bersama Santi di jok belakang.


"Papa ku, memintamu memanggilnya 'Papa'?" tanya Santi sambil mengerutkan alisnya.


"Iya," sahut Anang lalu tertawa pelan.


Santi tersenyum lebar, lalu memeluk Anang erat-erat.


Disepanjang perjalanan menuju ke restoran, yang menjadi tempat yang dijanjikan, untuk bertemu Peter, Anang memikirkan caranya agar Peter tidak bisa bertingkah kelewatan menjengkelkan bagi mereka.


Santi tampaknya mengerti kalau Anang sedang memikirkan sesuatu, sehingga Santi tidak mengatakan apa-apa, saat Anang hanya terdiam didalam mobil yang mereka tumpangi.


Ketika mereka tiba di restoran, Peter terlihat sudah duduk disalah satu meja yang ada didalam restoran itu, dengan memasang wajah tidak senang.


Wanita berkulit putih kemerahan dengan rambut pirang, yang dikenali Anang juga ada disitu bersamanya.


Miss Jordan.


Entah saat ini bisa jadi kesempatan emas bagi Anang, atau akan menjadi kekacauan terparah yang bisa Anang bayangkan.


Wanita itu sempat terlihat bersemangat, ketika melihat Anang, tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah jadi datar seketika.


Anang juga berusaha bersikap biasa, seolah-olah tidak pernah ada apa-apa yang terjadi diantara mereka, bahkan Anang tersenyum kepada Miss Jordan.


Dan kelihatannya gerak-gerik Anang, bisa meluluhkan hati wanita itu.


Miss Jordan bisa tersenyum melihat Anang, yang sudah lebih dulu tersenyum kepadanya.


"Kamu sudah tahu 'kan konsekuensinya kalau berani melakukan plagiarisme?" ujar Peter dengan nanda mengejek.


Anang hanya melihat Peter sekilas, tanpa mau meladeni perkataannya, lalu kembali melihat Miss Jordan.


"Santi! Tolong beritahu Miss jordan, kalau aku mau bicara tanpa ada Peter disini," bisik Anang.


Santi lalu terlihat berbicara dengan Miss Jordan, yang bisa membuat wajah Peter berubah sangar, sambil membentak Santi, dan seakan-akan hendak memukul Santi disitu.


Tapi, Anang menatap Peter lekat-lekat, dan memang sudah bersiap-siap.


Kalau sampai Peter nekat menyakiti Santi, maka peperangan pasti akan terjadi disitu.


Miss Jordan lalu terlihat bicara dengan Peter, dan Peter menganggukkan kepalanya, lalu berjalan keluar dari restoran.


"Kamu mau bilang apa?" tanya Santi.

__ADS_1


"Katakan kalau aku berterima kasih, karena Miss Jordan sudah mau mengontrakku di naungan labelnya," ujar Anang.


Santi mengerutkan alisnya seakan tidak percaya dengan apa yang Anang katakan.


"Katakan saja begitu" ujar Anang lagi.


Santi lalu berbicara dengan Miss Jordan.


Miss Jordan terlihat tersenyum lebar.


"Katakan lagi, kalau aku senang bisa bekerja dengannya, dan aku mau tahu, kapan aku sudah bisa menanda tangani kontrak," kata Anang, sambil Santi menyampaikan semua yang dikatakan oleh Anang, kepada Miss Jordan.


"Katanya kamu bisa menanda tangani kontrak saat kamu sudah tiba di studio, di negara asalnya," kata Santi.


"Katakan kalau aku akan secepatnya mengurus keberangkatanku, ke negaranya, tapi aku mau membawa kamu yang akan jadi penerjemah untukku," ujar Anang lagi.


Santi lalu berbicara dengan Miss Jordan.


Miss Jordan terdiam sambil mengerutkan alisnya sebentar, sebelum di berbicara dengan Santi.


"Katanya, 'kan ada Peter?" ujar Santi.


"Katakan kalau aku mau kamu saja yang bersamaku, katakan kalau aku merasa aneh, kalau sampai aku tinggal disana, dan harus kesana kemari dengan seorang laki-laki," ujar Anang.


Santi kembali bicara dengan Miss Jordan, dan mereka berdua bersahut-sahutan.


"Katakan saja apa adanya. Katakan juga kalau aku akan lebih bersemangat bekerja, kalau pasanganku ada bersamaku," kata Anang.


Ketika Santi bicara dengan Miss Jordan, wanita itu tampak mengerutkan alisnya saat melihat Anang.


Miss Jordan lalu menganggukkan kepalanya, lalu bicara lagi dengan Santi.


"Dia setuju!" ujar Santi bersemangat.


"Dengan syarat, kita harus sudah siap berangkat ke negaranya dalam dua hari ini, juga tiket untukku, harus kita tanggung sendiri," sambung Santi.


Tanpa menunggu tanggapan Anang, Santi lalu terlihat asyik berbincang-bincang dengan Miss Jordan, sambil Santi menggenggam tangan Anang erat-erat.


Kelihatannya pertemuan Anang, Santi dan Miss Jordan, malam itu berjalan lancar.


Iya, karena Peter tidak bisa mengintervensi disitu.


Miss Jordan adalah pebisnis, pasti akan lebih memikirkan keuntungan, dari pada tanggapan yang tidak jelas, meskipun itu dari tangan kanannya sendiri.


Setelah perbincangan Santi dan Miss Jordan usai, barulah Miss Jordan terlihat menghubungi seseorang, dan kemungkinan yang dia hubungi itu Peter, karena tak lama, Peter terlihat kembali memasuki restoran, dan duduk disebelah Miss Jordan.


Anang dan Santi lalu berpamitan pulang dengan Miss Jordan, tanpa mau memperdulikan wajah Peter yang terlihat jelas kalau dia sedang menahan kekesalannya.

__ADS_1


Anang dan Santi lalu singgah untuk makan malam, diwarung makan pinggir jalan.


"Kamu disana akan diberikan tempat tinggal, dengan jaminan makan dan kebutuhan sehari-hari," ujar Santi ketika mereka sudah duduk, sambil menunggu pesanan makanan mereka datang.


"Tapi kelihatannya kamu akan bekerja keras disana. Mulai dari rekaman, promosi album, sampai target mereka tercapai," sambung Santi dengan wajah cemas.


"Nggak apa-apa. Nggak usah terlalu dipikirkan. Yang namanya bekerja dibawah aturan orang, mau bagaimana lagi?" sahut Anang.


"Aku malah memikirkan kalau kita harus berangkat dalam dua hari ini, berarti kita harus menunda pernikahan kita," sambung Anang.


"Iya," ujar Santi.


"Kalau diantara orang bule, kira-kira apa aku harus khawatir denganmu?" tanya Anang.


Santi tertawa.


"Aku serius!" ujar Anang bersungguh-sungguh.


"Nggak perlu khawatirkan itu. Aku memang gila, tapi sekarang gilanya hanya denganmu saja," sahut Santi.


Santi lalu menggerakkan matanya liar kesana kemari.


"Santi...!" ujar Anang dengan suara meninggi.


Santi tertawa terbahak-bahak.


"Aku hanya bercanda, sayang...!" ujar Santi sambil memegang tangan Anang.


"Banyak yang harus dipersiapkan," ujar Santi.


"Besok, kamu harus membuat paspor. Kita bawa saja barang-barang kita kerumah kita yang baru. Juga harus membatalkan semua janjimu, yang sudah terjadwal," sambung Santi.


Tak lama makanan pesanan mereka sudah disajikan keatas meja.


"Selesai makan, kamu mau jalan-jalan dulu?" tanya Anang.


"Boleh! Jalan kaki saja?" tanya Santi.


"Iya," sahut Anang.


Mereka kemudian menghabiskan makanannya, sebelum berjalan-jalan disekitar situ.


Sambil Anang merangkul pinggang Santi, mereka berjalan pelan menikmati suasana malam kota.


Anang membayangkan kalau mereka sudah berangkat keluar negeri.


Entah bagaimana rasanya, tinggal dalam waktu lama di negeri orang nanti.

__ADS_1


Tempat yang asing, yang tidak pernah terpikir dikepala Anang kalau dia bisa pergi kesana, apalagi sampai tinggal ditempat itu.


__ADS_2