
Disepanjang perjalanan pulang, Anang masih tidak bisa berhenti memikirkan keadaan kost-kost'an lama mereka.
Wajah-wajah tetangga lama Anang, menyiratkan kesedihan yang mendalam, meski mereka tidak menangis.
Siapa yang tidak bersusah hati kalau begitu keadaannya?
Setahu Anang, sejak Anang pindah kesitu dulu, penghuninya yang ada, memang sudah yang itu-itu saja.
Entah sudah berapa lama mereka menghuni tempat itu.
Ucapan terimakasih dari tetangga-tetangga lama Anang, membuat Anang makin mensyukuri kehidupannya sekarang.
Meski belum menjadi orang kaya, tapi kini dia sudah bisa mencukupi kebutuhan hidupnya yang dia anggap sudah jauh lebih baik.
Bbrrr...
Celana Anang yang basah sampai kepangkal pahanya, membuat Anang menggigil kedinginan, belum lagi kausnya yang basah sampai hampir kepinggang.
"Pak! Bisa matikan pendingin udaranya?" tanya Anang kepada supir taksi, yang mengantar Anang dan Santi.
"Eh. Maaf Mas! Kalau AC-nya dimatikan, nanti saya tidak bisa lihat jalanan. Kaca depan pasti penuh dengan embun" kata supir itu.
"Oh, iya, Pak! Nggak apa-apa," sahut Anang.
"Sini!" ujar Santi pelan sambil menggenggam tangan Anang.
"Tanganmu memang dingin sekali," sambung Santi seraya menggosok-gosok sedikit telapak tangan Anang.
"Sebentar lagi, kita sampai dikost. Sabar ya...!" kata Santi lagi, dengan suara pelan.
Diluar sudah mulai gelap, tapi jatuhan air hujan, masih menguasai sisi kota bagian ini.
Hujan yang turun sejak kemarin, seakan tidak ada ampunnya, meski jalanan sekarang sudah banyak yang tergenang air, yang lambat masuk kedalam selokan.
Setibanya Anang dan Santi dikost, hujan lebat memaksa mereka untuk berlari masuk kedalam bangunan lantai dua, tempat tinggal mereka sekarang.
"Tadi kita mestinya beli payung," celetuk Santi sambil membuka kunci pintu kamar kostnya.
"Kalau hujan nggak mau reda, nanti waktu kita pergi ke undangan, bisa-bisa kamu basah lagi," kata Santi, yang kali ini sudah memegang tangan Anang, dan membawanya berjalan masuk, terus sampai kekamar mandi bersamanya.
"Kenapa dari tadi kamu banyak diamnya saja? Ada yang kamu pikirkan?" tanya Santi sambil menggosok punggung Anang dengan sabun.
"Nggak ada apa-apa. Cuma kedinginan aja," jawab Anang, kemudian berbalik, lalu memeluk, dan mengecup bibir Santi sekejap.~
Acara peresmian hotel baru, yang mengundang Anang dan beberapa musisi lain untuk bernyanyi, benar-benar kontras dengan situasi dipemukiman lama Anang.
Para tamu undangan dengan penampilan mentereng, lengkap dengan aksesoris dan perhiasan mahal, tampak menikmati waktunya mereka untuk bersenang-senang.
Jamuan makan dan minum yang berkelimpahan, sampai-sampai ada makanan yang tidak tersentuh, saking banyaknya sajian yang dihidangkan.
Anang bisa apa?
Mengecewakan, tapi memang beginilah keadaannya.
Kesempatan dan rejeki orang memang berbeda-beda.
Sesekali Santi tersenyum manis kepada Anang, yang melihat kearahnya, saat Anang masih bernyanyi diatas panggung.
__ADS_1
Santi kelihatannya menyadari, kalau Anang masih memikirkan tentang keadaan penghuni kost-kostan mereka yang lama.
Karena setelah Anang selesai bernyanyi, Santi langsung menghampiri Anang, lalu berbisik ditelinga Anang,
"Tidak perlu terlalu dipikirkan. Masing-masing punya kesusahannya sendiri,"
Memang benar.
Meskipun memiliki harta berkelimpahan, kita tidak tahu apa yang jadi pergumulan dalam hidup orang-orang itu.
Bisa jadi makanan mewah disitu tidak dimakan, dan banyak tersisa, saking mereka takut penyakitnya kambuh.
Sudahlah...
Kecuali Anang jadi pemilik tunggal bumi ini, baru dia bisa mengubah sistem hidup semua penghuninya.
Anang memilih untuk memikirkan hal yang lain saja, yang kira-kira bisa dia atasi.
Beberapa waktu belakangan, ada yang perhatikan perubahan pada Santi?
Bagaimana?
That's true love?
Benar, tidak?
Sejak turun dari kapal pesiar mewah waktu itu, Santi tidak pernah melakukan 'sesuatu' yang nakal selain dengan Anang.
Anang merasa kalau Santi memang sungguhan menyayangi Anang sekarang.
Atau itu hanya menjadi harapan Anang?
Ya, paling tidak, hubungan Anang dengan Santi sekarang sudah ada peningkatan.
Meskipun Anang belum pacaran dengan Santi, tapi bukan hanya demi mencari 'keuntungan' semata lagi.
"Kamu masih saja melamun. Makan dulu sana! Sebentar lagi kita pulang," ujar Santi yang sejak tadi duduk disebelah Anang, dan tidak melepas genggamannya ditangan Anang, walau sebentar.
"Atau mau aku ambilkan?" sambung Santi sambil tersenyum, dan hampir tertawa melihat Anang.
Anang juga mau kalau disuapin Santi, sekalian.
"Aku ambil sendiri saja," kata Anang lalu berjalan kearah meja.
Ketika mereka pulang dari acara itu, malam sudah cukup larut.
Hujan baru saja reda, dan sempat menyisakan genangan air didepan bangunan kost, yang cukup dalam dan luas.
Anang menggendong Santi, saat memasuki halaman kost, dan berhasil membuat Santi cekikikan, karena Anang beberapa kali terpeleset, dan hampir jatuh.
"Jangan tertawa! Kalau aku jatuh, kamu juga ikut jatuh!" kata Anang yang juga hampir tertawa.
Tapi, Santi tetap saja cekikikan, dan membuat Anang makin gemas dengan wanita itu.
"Awas saja! Aku akan menggigitmu nanti!" kata Anang lalu menggigit bibirnya sendiri.
Santi hanya tersenyum, dan membuat tanda seperti mengunci mulutnya dengan jari, yang ditarik dari ujung keujung bibirnya.
__ADS_1
Aaah... Santi memang kesayangan Anang.
Ehheem. Ehhem...
Tenggorokan Anang jadi gatal, dan kering.~
Santi sudah tertidur dalam pelukan Anang, tapi Anang masih merasa segar, dan sama sekali tidak mengantuk.
Pelan-pelan, Anang mengambil ponselnya yang dia letakkan dilantai disamping ranjang, agar tidak membangunkan Santi.
Sambil melihat-lihat layar ponselnya, sesekali Anang mengecup kepala Santi, yang tampaknya kurang tenang dalam tidurnya.
Santi mungkin kelelahan, apalagi tadi sempat beberapa kali kehujanan.
Anang melihat wajah Santi.
Alis wanita itu mengerut seakan ada yang membuatnya merasa sakit.
Tapi suhu tubuh Santi rasanya tidak sedang demam, masih biasa saja. Tidak panas, tidak juga dingin.
Anang mempererat pelukannya ditubuh Santi, lalu kembali memperhatikan ponselnya.
Ada pesan dari seseorang, yang rasanya Anang mengenali wajahnya, yang terpasang difoto profil akunnya.
Oh, iya.
'Apa Anang masih ingat denganku? Aku Peter.'
Begitu isi pesan dari Peter, yang masuk diponsel Anang.
'Kami mencari kamu ditempat kamu biasa mengamen, tapi kamu tidak ada disana'
'Apa kita bisa bertemu nanti?'
Isi pesan dari Peter berjejer, dan sudah dikirimkan sejak lima jam yang lalu.
Anang lalu mengetikkan pesan balasan untuk Peter.
'Maaf, aku tidak melihat ponselku tadi,'
'Bisa. Kita bisa bertemu lagi. Kapan kira-kira?' balas Anang.
Anang melihat jam diponsel.
Sudah hampir jam satu malam.
Ah, tidak masalah.
Nanti kalau Peter membacanya besok atau kapan-kapan 'kan tidak mengapa, yang penting sudah Anang balas pesannya.
Santi tiba-tiba membuka matanya, lalu beranjak turun dari ranjang.
"Mau kekamar mandi?" tanya Anang.
Santi lalu menunjuk kebawah perutnya.
"Tamu tak diundang!" kata Santi, sambil berjalan kekamar mandi.
__ADS_1
Tak lama, Santi sudah kembali, lalu bersandar didada Anang yang langsung memeluknya.
"Perutku sakit," kata Santi pelan.