SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 97


__ADS_3

Penampilan ayah Santi tampak sangat kasual, dengan kaus berkerah, dan celana jeans panjang, dipadankan dengan sepatu olahraga.


Bagi Anang yang sempat bertemu ayah Santi beberapa waktu belakangan ini, penampilan ayah Santi kali ini sangat berbeda dari biasanya.


Meski bagian hitam dirambut ayah Santi hampir tidak terlihat lagi, tapi kali ini ayah Santi terlihat lebih segar, dan tampak lebih muda.


Laki-laki paruh baya itu memasang senyum lebar kepada Anang, yang masih termangu menatapnya dengan perasaan heran.


Untuk apa ayah Santi datang kesini?


Anang berharap, kedatangannya bukan untuk mencari keributan.


"Saya bisa masuk?" tanya ayah Santi.


"Eh, maaf, Pak! Silahkan masuk...!" jawab Anang, dan menyingkir sampai tersandar ke dinding, agar ayah Santi bisa melewatinya.


"Santi mana?" tanya ayah Santi.


Tapi, belum sempat Anang menjawab pertanyaan ayah Santi, Santi sudah terlihat berdiri didepan orang tua itu seakan menghadang langkahnya, agar tidak terlalu jauh masuk kedalam kamar.


"Santi...!" ujar Anang pelan.


"Ada apa Papa datang kesini? Kalau cuma untuk bertengkar denganku, lebih baik Papa pergi saja," kata Santi, dengan wajah datar.


"Papa mau bicara dengan kalian berdua. Papa mungkin kamu anggap bodoh, tapi Papa tidak sampai sebodoh yang kamu kira," ujar ayah Santi pelan.


"Silahkan duduk, Pak!" ujar Anang yang tergesa-gesa menarik kursi satu-satunya yang ada dikamar itu, agar dipakai ayah Santi untuk duduk.


"Sudah berapa lama kalian berdua tinggal disini?" kata ayah Santi tampak berbasa-basi, sambil melihat kesekeliling ruangan kamar kost itu.


"Belum sampai sebulan, Pak!" sahut Anang sambil duduk dipinggir ranjang.


Anang lalu mengajak Santi yang masih berdiri, dan tampak seolah-olah tidak senang dengan kehadiran ayahnya itu, agar ikut duduk didekatnya.


"Santi...! Anang...! Sebenarnya Papa datang kesini, hanya untuk memastikan dugaan Papa." kata ayah Santi.


Anang dan Santi terdiam menunggu perkataan ayah Santi selanjutnya.


"Sepulangnya kalian hari itu, Papa memikirkan semua yang Anang dan Peter katakan, dan mempertimbangkannya," kata ayah Santi yang kemudian terlihat menghela nafas panjang.


"Kamu bisa menganggap Papa ini bodoh, tapi masa Santi tidak bisa memaklumi, kalau wajar saja jika Papa lebih percaya dengan orang yang lebih dulu Papa kenal?" ujar ayah Santi.


Ayah Santi kemudian menatap Anang dan Santi bergantian, sambil mengubah posisi duduknya, agak mendekat lagi kepada mereka berdua.

__ADS_1


"Tapi tetap saja, akhirnya Papa bisa menilai, yang mana satu yang memang bisa Papa percayai," kata ayah Santi.


Santi yang tadinya terlihat seakan mencurigai kedatangan ayahnya, kini sudah terlihat tenang dan santai.


Ayah Santi tampak memberanikan diri untuk memegang tangan anaknya itu kini, dan Santi tidak menolak.


"Keputusan Santi, juga ikut jadi bahan pertimbangan Papa... Rasanya anak Papa tidak akan membuat pilihan bodoh, dengan menikahi sembarang orang,


Hanya saja waktu itu, Papa memang menganggap kalau Peter hanya berniat untuk melindungi Santi. Makanya Papa percaya dengan semua omongannya," kata ayah Santi lagi.


"Maafkan Papa...! Anang mohon maafkan saya...!" kata ayah Santi sambil melihat Anang dan Santi bergantian.


"Nggak usah dipikirkan, Pak! Saya mengerti keadaan Bapak waktu itu," kata Anang bersungguh-sungguh.


"Papa masih ingin berbicara banyak hal dengan kalian berdua." kata ayah Santi.


"Papa tadi sudah kesini, tapi waktu Papa mengetuk pintu, tidak ada jawaban kalian dari dalam," sambung ayah Santi lagi.


Mendengar perkataan ayah Santi, jantung Anang rasanya akan copot saat itu juga.


Kalau saja saat ini Anang sedang makan atau minum, Anang pasti akan tersedak.


Anang tiba-tiba merasa tenggorokannya kering, lalu menelan ludahnya pelan-pelan.


Anang dan Santi bertatap-tatapan, Santi terlihat seperti akan tertawa, karena mungkin sekarang wajah Anang pasti pucat pasi karena gugup.


"Jadi, Papa tadi pulang dulu, atau menunggu dimana?" tanya Santi.


"Papa tadi menunggu dibawah, sambil mengobrol dengan ibu pemilik kost," jawab ayah Santi.


"Oh iya, kalian tidak kemana-mana malam ini?" tanya ayah Santi.


"Nggak, Pak! Malam ini saya sedang tidak ada undangan," sahut Anang.


"Kami tadi berencana untuk berjalan-jalan ditaman kota. Papa mau ikut?" tanya Santi.


"Apa kamu sudah tidak marah lagi dengan Papa?" tanya ayah Santi dengan wajah ceria.


"Nggak... Justru ada yang mau aku bicarakan dengan Papa, kalau Papa memang sudah bisa percaya denganku dan Anang," kata Santi.


"Santi... Papa sudah bilang, kalau Papa sudah memikirkan semuanya. Papa sampai datang menemui kalian, tidak mungkin kalau Papa masih tidak percaya dengan kalian sekarang, 'kan?" tanya ayah Santi.


"Ya sudah... Papa tunggu sebentar, kami siap-siap dulu," ujar Santi, lalu berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Papa tunggu dimobil Papa, dibawah ya?!" ujar ayah Santi, lalu berjalan keluar dari kamar lebih dulu.


Setelah ayah Santi pergi, Anang lalu menghela nafas panjang.


Berarti ayah Santi tidak mendengar apa-apa tadi.


Atau mungkin ayah Santi tahu, tapi berpura-pura tidak tahu?


Anang merasa sangat malu dengan dugaan-dugaannya sendiri, sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Kenapa?" tanya Santi dengan suara mengejek, seolah-olah dia tahu, apa yang sedang Anang pikirkan sekarang.


"Nggak apa-apa," sahut Anang, lalu buru-buru menarik Santi agar cepat keluar dari kamar.


"Jangan buat Papamu menunggu lama-lama," ujar Anang.


Anang memang mau cepat mendatangi ayah Santi, karena dia tidak mau ayah Santi berpikiran, kalau Anang dan Santi sekarang sedang berbuat 'sesuatu', kalau terlalu lama dikamar.


Santi hanya tertawa pelan, sambil mengikuti Anang.


Dengan menumpang dimobil ayah Santi, Anang dan Santi pergi ketaman ditengah kota.


Perjalanan mereka bersama ayah Santi terasa menenangkan bagi Anang.


Kalau ayah Santi bisa percaya dengan Anang dan Santi, berarti keadaan Anang sekarang bisa dibilang sudah lumayan membaik.


Sekarang Anang tidak perlu terbeban dengan masalah hubungan ayah dan anak itu.


"Papa tahu kalau Peter sebenarnya mencoba merusak nama baik Anang?" tanya Santi ketika mereka sudah duduk dibangku taman, yang berjejer rapi, diantara pepohonan dan lampu hias.


"Peter sampai-sampai menghubungi salah satu teman Anang, dan mencoba membuat teman Anang yakin kalau Anang itu penipu.


Tapi jelas saja teman Anang itu tidak percaya dengannya, dan malah mendatangi kami dan menceritakan semua yang Peter katakan kepadanya," kata Santi.


"Oh, itu sebabnya, waktu kalian datang kerumah Papa kamu sampai mengamuk dengan Peter?" ujar ayah Santi.


"Iya. Kami sudah menduga kalau Peter pasti akan menghasut Papa.


Padahal aku waktu itu mau meminta Papa membantu Anang, karena menurut teman Anang, Peter akan melaporkan Anang ke polisi, dengan tuduhan penipuan," sahut Santi.


"Bukan itu saja, sekarang single Anang sedang naik daun, tapi Anang dituduh melakukan plagiarisme, dari salah satu label rekaman ternama.


Dari nama label itu, Anang menduga kalau itu label rekaman milik bos Peter," sambung Santi.

__ADS_1


__ADS_2