
Persiapan untuk perjalanan promosi pagi itu, kelihatannya lebih menyenangkan daripada biasanya.
Baik Santi maupun Anang, masih bisa sambil bercanda saat memasuki kendaraan, yang seperti biasanya akan membawa Anang berkeliling mendatangi event.
Anang sudah bisa lebih menyesuaikan diri dengan jam kerja, dan keadaan perjalanan jarak jauh hari itu.
Hampir tidak ada lagi mabuk perjalanan, seperti yang Anang alami sebelum-sebelumnya.
Sejak pagi sampai malam, setiap event yang didatangi Anang berjalan dengan baik, meski sempat terjadi ketegangan di event terakhir malam itu.
Bagaimana tidak tegang, kalau Anang hampir dituntut akibat melakukan pemukulan kepada seseorang ditempat event digelar.
Santi yang diminta Anang untuk berdiri ditempat yang bisa dilihatnya dengan baik, lalu memilih untuk berdiri didekat penonton.
Salah satu penonton yang sedang mabuk, kemudian mencoba menggerayangi badan Santi dengan tangannya.
Menurut kata Santi, petugas yang berjaga disitu sempat mendorong orang itu menjauh, ketika Santi melaporkan kelakuan orang itu.
Tapi, tepat saat Anang selesai tampil dipanggung, dan menghampiri Santi, laki-laki yang mabuk tadi, ternyata juga ikut kembali mendekati Santi.
Laki-laki itu yang duluan tiba didekat Santi, kemudian mencoba meraba badan Santi.
Ketika Anang melihat kelakuan tangan orang itu, yang mencoba menggapai dada Santi, lalu setengah berlari menghampiri Santi.
Tanpa bersuara ataupun menunggu lama, Anang mendaratkan bogem mentah tepat di wajah laki-laki itu.
Tinju Anang berhasil mematahkan batang hidung orang mabuk itu, berikut juga dengan bibir orang itu yang pecah berdarah.
Sebenarnya, kemungkinan besar laki-laki yang mencoba melecehkan Santi itu, bukan hanya akan pulang dengan hidung patah dan bibir robek saja, kalau tidak ada orang yang menghentikan Anang saat itu.
Iya...
Hampir saja...
Anang yang sudah menyandarkan lututnya didada laki-laki itu yang sudah terlentang dilantai, memang berniat menyakiti orang itu sampai benar-benar terbantai.
Untung saja petugas yang melihatnya, buru-buru menarik Anang, dan menahannya agar tidak bertindak lebih jauh.
Walaupun pasangan dari laki-laki yang dipukul Anang itu mengamuk, dan seolah-olah meminta agar Anang ditahan, tapi petugas yang bekerja di event lebih mendukung Anang.
Beberapa pekerja di event dan petugas keamanan disitu, menendang keluar penonton mabuk itu, berikut juga pasangannya, dari gedung tempat event diselenggarakan.
Dengan begitu, permasalahan itu juga tidak berlarut-larut berkepanjangan, dan Anang juga dibebaskan untuk pergi begitu saja.
Rasanya, seumur-umur, Anang belum pernah memukuli orang seperti itu.
Tapi Anang tidak menyesal, Anang malah merasa puas bisa memukul orang itu, meski tangannya juga terasa cukup sakit, karena memukul orang itu dengan tangan telanjang.
Didalam van, Santi dengan wajah cemas, sibuk merawat tangan Anang.
__ADS_1
Anang melihat kalau sesekali Santi mengelap wajahnya, yang tampaknya sedang menangis tanpa bersuara, sambil mengompres tangan Anang dengan bungkusan makanan beku.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Anang pelan sambil mengangkat wajah Santi yang menunduk, menghadap salah satu tangan Anang yang terluka.
"Ini semua salahku..." kata Santi dengan matanya berair, dan hampir pecah tangisannya.
"Bukan salahmu sayang...! Orang itu yang mengganggumu," ujar Anang, lalu menarik Santi perlahan, agar duduk keatas pangkuannya.
Santi memeluk Anang, dan menenggelamkan wajahnya dileher Anang.
Anang bisa merasakan kalau Santi masih sesenggukan, meski Santi tidak mengeluarkan suara tangisannya.
"Sudah...! Jangan menangis lagi...!" bujuk Anang, sambil mengusap-usap punggung Santi.
Santi lalu mengangkat kepalanya, lalu mengelap wajahnya dengan tangan, kemudian kembali sibuk menahan bungkusan makanan beku, yang ditempelkan dipunggung tangan Anang.
"Bagaimana kamu nanti bermain gitarnya?" tanya Santi.
"Nggak usah khawatir. Masih bisa kok!" ujar Anang sambil menggerakkan jari-jari ditangan kanannya, yang dia pakai memukul orang tadi.
Sambil Santi memegang kompresan ditangan Anang, Santi menatap Anang lekat-lekat.
"Kenapa?" tanya Anang lalu tersenyum.
Santi menggelengkan kepalanya.
"Lah, terus ngapain melihatku begitu?" tanya Anang lagi.
"Kamu mau aku menciummu?" tanya Anang iseng-iseng.
Santi menganggukkan kepalanya, lalu mendekatkan wajahnya kepada Anang, dan membiarkan Anang menciumnya.
"Tanganmu masih sakit?" tanya Santi pelan.
"Nggak terlalu... Sudah hampir nggak ada rasanya lagi," sahut Anang, lalu mengangkat tangannya dan melihatnya disitu.
Meski Anang sudah berkata kalau dia baik-baik saja, tapi Santi tetap saja terlihat cemas.
"Kita minta singgah dirumah sakit saja, ya?!" ujar Santi sambil memegang tangan Anang, dan memperhatikan memarnya.
"Nggak usah...! Aku nggak apa-apa..." sahut Anang.
Santi beranjak turun dari pangkuan Anang, lalu menghampiri supir dibagian depan van.
"Ngapain kamu mendatangi supir?" tanya Anang, ketika Santi berjalan kembali menghampiri Anang.
"Kita periksakan saja dulu tanganmu," kata Santi yang kembali duduk dipangkuan Anang, lalu bergelayut manja dileher Anang.
"Ya sudah, terserah kamu saja...!" ujar Anang.
__ADS_1
Bagus saja kalau diperiksa dokter.
Kalau dokter yang beritahu, kalau memang benar tangan Anang baik-baik saja, Santi pasti bisa tenang, dan tidak perlu khawatir terus-terusan.
Santi mungkin merasa bersalah, karena gara-gara Anang yang berusaha melindunginya, sampai tangan Anang terluka.
Padahal Anang yang juga yang memintanya, agar berdiri ditempat yang bisa dijangkau penglihatan Anang.
Sedang apes saja sampai bertemu dengan orang brengsek, yang terlalu berani karena alkohol yang menguasainya.
Alkohol hanya membuat orang jadi bodoh, dan tidak bisa berpikir panjang.
Tapi, masih saja banyak orang yang mau mengkonsumsinya, meskipun itu bisa merugikan dirinya sendiri.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Santi.
"Nggak apa-apa. Aku hanya memikirkan orang tadi. Kalau dia nggak mabuk, belum tentu bisa seberani itu. Tapi tetap saja brengsek! Bukannya dia tadi ada pasangannya, kenapa masih sibuk mengganggu wanita lain?" ujar Anang.
"Mungkin karena kamu terlalu cantik..." sambung Anang, lalu tertawa kecil.
"Mas! Jangan mengejekku! Nggak lucu tahu!" ujar Santi ketus.
"Iya memang semestinya dia nggak begitu. Dasar laki-laki brengsek!" ujar Anang dengan tampang serius.
"Tapi kamu memang cantik, jadi aku nggak heran," sambung Anang lalu tersenyum.
"Maas...!" ujar Santi dengan suara memelas.
Anang tertawa lalu mengecup dahi Santi.
"Tanganmu sampai begitu, tapi kamu masih bercanda!" ujar Santi dengan wajah merengut.
Baru saja Santi menyelesaikan kalimatnya, van yang mereka tumpangi, sudah berhenti berjalan.
Santi lalu beranjak turun dari pangkuan Anang.
"Ayo turun! Kita periksakan dulu tanganmu," ujar Santi, sambil setengah menyeret Anang, agar cepat berjalan dengannya memasuki rumah sakit.
Tidak terlalu lama mereka menunggu didalam rumah sakit itu, tangan Anang sudah bisa diperiksa dokter jaga.
Setelah tangan Anang yang terluka selesai diperiksa, dan sudah dipasangi perban, Santi lalu membawa Anang untuk mengambil obat-obatan yang diresepkan dokter untuknya.
"Untuk apa tabletnya itu?" tanya Anang setelah melihat obat berupa salep, dan beberapa butir tablet, yang dikeluarkan Santi kantong kertas kecil.
"Pereda nyeri," sahut Santi.
"Kalau begitu aku nggak perlu obat itu! Tanganku sudah nggak sakit lagi kok!" ujar Anang.
__ADS_1
Tapi Santi menatap Anang, dengan sorot mata tajam dan wajah sangar.
Ya sudah, Anang pasti meminum obatnya.