SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 44


__ADS_3

"Ada beberapa tempat nih yang bisa sekamar berdua. Mau yang mana?" tanya Santi sambil memperlihatkan layar ponselnya kepada Anang.


"Rata-rata lokasinya dipinggiran kota. Tapi harga sewanya masih terjangkau. Nambah sedikit dari gabungan harga kost kita sekarang," sambung Santi.


Anang melihat foto-foto yang ada didalam layar ponsel, yang tampaknya dikirimkan temannya Santi.


Tempatnya bagus, jauh lebih baik dari tempat tinggal mereka sekarang.


"Hmm... Terserah kamu saja. Kayaknya sih semuanya bagus-bagus aja," ujar Anang.


Santi lalu tampak memperhatikan satu persatu gambar-gambar kamar, yang kelihatan sudah terisi perabotan seperlunya.


"Yang ini saja. Sebentar aku hubungi pemilik kostnya!" ujar Santi.


Santi kemudian terlihat sedang berbicara dengan seseorang diponselnya, sambil berjalan mondar-mandir dengan wajah serius.


Anang memperhatikan gerak-gerik Santi, yang bolak-balik didepannya.


Kalau Santi tidak sakit pasti dia jadi rebutan banyak laki-laki yang ingin menikahinya, tapi pasti dia juga tidak akan pernah menganggap Anang itu ada.


Jangankan mengurus situasi yang melibatkan Anang, melihat Anang saja belum tentu Santi mau.


Tampaknya Anang harus berterimakasih dengan penyakit Santi, atau malah harus marah?


Gara-gara penyakitnya juga sampai Anang tidak berani memikirkan Santi akan jadi istrinya.


Heh, kejauhan mikirnya!


Anang memang harus diganggu Santi lagi biar nggak sempat mikir.


"Bzzz... bzzz!" ujar Santi tiba-tiba.


Anang tidak mendengar apa yang dibilang Santi, karena sedang melamun sambil memandangi Santi.


Anang baru tersadar kalau ada yang Santi bicarakan dengannya, saat Santi mendekat dan menatap Anang dengan wajah sangar.


Anang yang gelagapan hanya bisa bilang "Eh,"


"Kamu dengar yang aku bilang tadi?" tanya Santi.


"Apa? Aku nggak dengar. Aku masih mengantuk." ujar Anang beralasan.


Raut wajah Santi lalu berubah jadi tenang.


"Ayo kita lihat tempatnya dulu," kata Santi dengan suara pelan, seakan ada nada penyesalan didalam situ.


"Nanti kita masih harus usahakan agar sempat pergi ke bank. Kalau sudah selesai baru kamu tidur lagi," kata Santi sambil menyentuh dan mengelus wajah Anang dengan lembut.


Jangan Santi!

__ADS_1


Jangan menyentuh Anang begitu!


Anang akan berpikir yang aneh-aneh lagi nanti.


Mending sentuh yang lain saja! Ups...


Mudah-mudahan Santi tidak mendengar isi kepala Anang.


Santi kemudian menarik tangan Anang agar berdiri dari duduknya, dan mengikuti Santi berjalan keluar kamar.


"Ayo kalau kamu mau cepat bisa tidur, kita harus cepat selesaikan semuanya," kata Santi yang terburu-buru melangkahkan kakinya.


Saking cepatnya mereka berjalan, Anang sampai tidak berani melirik Santi.


Iya, kalau sibuk melihat Santi, lalu Anang tersandung, bagaimana?


Ketika mereka sudah dipinggir jalan raya, tak lama sudah ada mobil yang menjemput mereka.


Berarti sempat berapa lama Anang memikirkan Santi tadi, sampai dia tidak sadar kalau Santi sudah memesan taksi online?


Kali ini Anang tidak boleh berpikir lama-lama, kecuali mau ditinggalkan Santi yang sekarang sudah duduk di jok belakang mobil itu.


Dengan menumpang taksi online, mereka diantar kesebuah perumahan disalah satu sisi kota.


Anang melihat beberapa bangunan bertingkat ketika turun dari mobil bersama Santi.


Santi lalu menarik tangan Anang lagi, yang sudah hampir melamun menatap bangunan-bangunan didepannya itu.


Mungkin Anang memang hanya mengantuk, sampai otaknya lelah, dan tidak mampu tersadar untuk waktu yang lama.


"Kamar yang kalian tanya tadi ada dilantai atas!" kata seorang wanita paruh baya, yang kelihatannya mungkin dialah pemilik salah satu bangunan, yang sekarang sudah dimasuki Anang dan Santi.


Anang dan Santi lalu ikut menaiki tangga menyusul si pemilik kost yang sudah berjalan duluan.


"Yang ini!" kata wanita paruh baya itu, sambil membuka pintu kamar, dan seakan mempersilahkan Anang dana Santi untuk masuk.


Anang melihat-lihat didalam situ.


Ruangan kamar yang cukup lega, dengan beberapa jendela kaca yang membuat ruangan itu terlihat terang. Ada satu lemari dua pintu, sebuah ranjang yang cukup untuk dua orang tidur, dan ada satu meja kecil lengkap dengan sebuah kursi.


Anang kemudian melihat ada pintu didekat meja kecil tadi, membukanya lalu melihat kedalam.


Kamar mandi pancuran dengan pembatas kaca, lengkap dengan toilet, dan ada sisa ruang kosong sedikit, yang mungkin bisa untuk meletakkan pakaian kotor, atau menjemur pakaian basah disitu.


Bagus, bersih dan lengkap.


"Gimana?" tanya Santi.


"Bagus," sahut Anang.

__ADS_1


"Kalau begitu kami pakai yang ini ya Bu!" kata Santi kepada wanita paruh baya tadi.


"Tapi, sesuai perjanjian, uang sewanya harus bayar didepan!" sahut wanita itu.


"Oke! Aku transfer ya, Bu!" kata Santi.


Santi kemudian terlihat sibuk dengan layar ponselnya, begitu juga wanita paruh baya yang terlihat ikut sibuk dengan ponselnya.


"Oke, sudah! Ini kuncinya..." kata wanita paruh baya itu, lalu berjalan pergi meninggalkan Anang dan Santi dikamar itu.


Santi lalu menutup pintu kamar, dan langsung bertelungkup diatas ranjang.


Anang juga ikut bertelungkup disebelah Santi.


"Bulan ini aku yang bayar sewanya. Bulan depan kamu yang bayar," ujar Santi dengan wajahnya menghadap Anang meski matanya sudah terpejam.


"Terserah kamu saja," sahut Anang dengan matanya yang sudah terasa berat, dan hampir terpejam.


Keduanya tertidur ditempat kost baru, meski barang-barang milik mereka belum dibawa ketempat itu.


Tidak lama, mungkin hanya sekitar setengah jam saja yang berlalu, Anang bisa merasakan, kalau tangan Santi sudah menggoyang-goyang punggung Anang.


"Bangun! Kita masih harus ke Bank!" kata Santi sambil tetap mengguncang-guncang punggung Anang.


Anang memaksa membuka matanya, dan melihat Santi sudah duduk disebelahnya, dan mengutak-atik layar ponselnya lagi.


"Nggak bisa ditunda? Aku masih ngantuk!" ujar Anang sambil mengucek-ngucek matanya yang terasa kering dan gatal, lalu kembali memejamkan matanya.


"Bangun! Tinggal itu saja lagi," kata Santi yang masih mengetik sesuatu diponselnya.


"Aku sudah selesai! Ayo keluar sekarang! Nggak lama lagi jemputan kita datang," kata Santi.


Tapi Anang benar-benar masih mengantuk, dan masih merasa nyaman saat matanya masih terpejam.


Anang lalu merasakan sesuatu yang lembut dibibirnya, Anang lalu buru-buru membuka matanya.


Wajah Santi berada tepat didepannya, dengan kegalapan malam didalam matanya yang sekarang sedang menatap Anang.


"Wah! Berhasil! Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang!" ujar Santi santai, sambil berdiri dan berjalan kearah pintu.


Ini sudah kedua kalinya, Santi mencium bibir Anang.


Apa Santi memang berniat mempermainkan perasaan Anang?


Apa Santi tidak puas bermain-main dengan persneling milik Anang?


Atau mungkin juga karena tongkat Anang tertindih dikasur, dan Santi tidak bisa menggapainya.


Anang buru-buru bangun dari tempat tidur lalu menyusul Santi yang sudah tidak kelihatan, dan menghilang dibalik pintu.

__ADS_1


__ADS_2