SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 168


__ADS_3

Ketika Anang berpamitan dengan Tejo untuk kekota pagi itu, Tejo hanya mengangguk pelan, tanpa terlalu banyak bertanya.


Sebenarnya, selama ini, sejak kedatangan Gita waktu itu, Anang tidak bertengkar dengan Tejo.


Anang hanya menghindari pembicaraan, yang bersifat pribadi.


Begitu juga Tejo, yang tampaknya juga tidak mau bercerita dengan Anang, tentang urusan pribadinya.


Mereka berdua tidak ada yang saling memaksa, untuk mengetahui, ataupun memberitahu, apa yang mereka sedang pikirkan.


Hanya saja, karena begitu keadaannya, mereka berdua malah terlihat seperti orang yang sedang bertengkar.


Perjalanan kekota kali ini, semestinya tidak terlalu mendesak bagi Anang.


Kecuali, suara pak Handoko yang terdengar cemas dan panik diseberang telepon, kemarin pagi.


Setibanya Anang diterminal bus, tanpa berlama-lama disitu, Anang langsung menuju ke kantor pengadilan, yang menjadi tempat Anang, dan pak Handoko berjanji untuk bertemu.


Pak Handoko terlihat lemas seperti orang yang sedang sakit, ketika Anang menemuinya.


Tanpa menemani Anang, Pak Handoko hanya menyuruh Anang masuk kedalam salah satu ruangan, bersama salah satu koleganya.


Sedangkan pak Handoko, terduduk dikursi yang ada didalam lobi kantor itu.


Denda yang dibayarkan label Miss Jordan, diserahkan kepada Anang, setelah dipotong dengan berbagai hal untuk pengadilan.


Anang tidak terlalu memperdulikan tentang uang ganti rugi itu, pikirannya teralihkan dengan pak Handoko yang kelihatannya kurang sehat.


Wajar saja kalau Anang mengkhawatirkan orang tua itu 'kan?


Pak Handoko yang membantu Anang, agar terlepas dari jeratan gila, label Miss Jordan, bahkan bisa memberi pelajaran, bagi sifat serakah wanita bule itu.


Setelah semua urusan didalam ruangan itu dianggap sudah selesai, Anang buru-buru berjalan keluar, dan menemui pak Handoko.


"Ada apa, Pak?" tanya Anang, sambil ikut duduk dikursi, didekat pak Handoko.


"Nggak ada apa-apa..." sahut pak Handoko pelan.


"Terimakasih sudah membantuku, Pak!" ujar Anang.


Pak Handoko hanya menganggukkan kepalanya, tanpa mengeluarkan suaranya.


"Maaf, Pak! Tapi, kalau bapak ijinkan, mungkin ada yang bisa saya bantu?" ujar Anang lagi.


Pak Handoko masih terdiam, lalu menatap Anang lekat-lekat.


Cukup lama pak Handoko dan Anang saling menatap, tanpa ada yang bicara.


Pak Handoko lalu melihat kesana kemari, seolah-olah ada yang dia cari.


"Saya memang butuh bantuan. Tapi, kita bicara dimobilku saja...!" celetuk pak Handoko.


Anang kemudian mengangguk, dan ikut berjalan dengan pak Handoko, menuju ke mobilnya diparkiran.


"Anang bisa menyimpan rahasia dari Santi?" tanya pak Handoko, sambil menatap Anang lekat-lekat, ketika mereka sudah didalam mobil pak Handoko.

__ADS_1


"Mungkin bisa, Pak!" sahut Anang.


"Jangan sampai Santi tahu!" ujar pak Handoko tegas.


Anang menganggukkan kepalanya.


Pak Handoko lalu menghubungi seseorang diponselnya.


Anang tidak memperhatikan, apa yang dibicarakan pak Handoko dengan orang diponselnya itu.


Dalam kepala Anang, sibuk memikirkan keanehan dari gerak-gerik pak Handoko, yang mau main rahasia-rahasiaan.


Ada apa sebenarnya?


"Saya mau minta tolong Anang menemui seseorang, sekarang! Bisa?" tanya pak Handoko.


"Bisa saja, Pak!" sahut Anang.


Pak Handoko lalu mengemudi mobilnya, berjalan keluar dari area parkir kantor pengadilan, dan melaju dijalan raya.


"Anang nanti menemui orangnya dikamar hotel. Tapi, saat Anang mengetuk pintu kamarnya, Anang harus berpura-pura, kalau Anang hanya petugas di hotel itu," ujar pak Handoko.


Mendengar perkataan pak Handoko, Anang jadi semakin bingung dengan maksud, dan tujuan pak Handoko.


Tapi, Anang yakin kalau pak Handoko tidak mungkin berniat mencelakainya, jadi Anang menurut saja.


Pak Handoko, memarkirkan mobilnya disalah satu hotel mewah ditengah kota, lalu kembali menghubungi seseorang diponselnya.


"Ayo kita masuk!" ajak pak Handoko, lalu keluar dari mobil, dan berjalan kearah pintu depan hotel, sambil disusul Anang.


Pak Handoko lalu bicara dengan resepsionis hotel, untuk beberapa waktu lamanya, dan Anang hanya menunggu, dengan sedikit jarak dari tempat pak Handoko berdiri.


"Ikut dengan saya!" kata pak Handoko, kemudian membawa Anang memasuki lift, dan memilih salah satu angka lantai yang dia tuju.


"Anang ketuk pintunya. Lalu Anang bilang 'Room Service', yaa?!" ujar pak Handoko, mengajari Anang.


"Kalau Anang mengenali orangnya, Anang angkat jempol, lalu tahan pintu kamarnya agar tetap terbuka. Tapi, kalau Anang tidak mengenalnya, Anang bisa langsung pergi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa," sambung pak Handoko.


Anang menggaruk-garuk kepalanya, yang sebenarnya tidak terasa gatal.


Kalau begitu, Pak Handoko meminta Anang jadi seperti mata-mata, atau malah seperti kriminal.


Apa Anang mungkin akan menyesali niatnya, untuk membantu pak Handoko?


Sudahlah...


Pak Handoko juga tidak berdiri jauh-jauh dari Anang.


Laki-laki itu hanya berdiri dua langkah dari pintu, yang dia minta untuk Anang ketuk.


Anang menghela nafas panjang, kemudian mengetuk pintu kamar yang dimaksud pak Handoko.


Beberapa kali Anang mengetuk, tapi tidak ada jawaban dari dalam sana.


Pak Handoko memberi tanda, agar Anang kembali mengetuk pintu, dan Anang menurutinya.

__ADS_1


"Siapa?"


Akhirnya ada suara yang menyahut, dari dalam kamar.


Anang melihat pak Handoko, yang menggerakkan mulutnya 'Room Service', tanpa mengeluarkan suaranya.


"Room Service!" ujar Anang.


Tidak lama Anang berdiri didepan pintu, lalu pintu terbuka.


Peter yang membuka pintu, dengan bertelanjang dada, sambil mengenakan handuk, untuk menutupi bagian perutnya sampai ke lutut.


Spontan, Anang kemudian mengacungkan jempolnya.


Sesaat, Peter tampak kebingungan melihat Anang, lalu seakan menyadari sesuatu, Peter berusaha menutup pintu kembali.


Anang lalu menahan pintu, agar tetap terbuka, sedangkan pak Handoko, setengah berlari memaksa masuk kedalam kamar.


Anang juga ikut masuk, meski hanya berdiri didekat pintu.


"Tutup pintunya!" teriak pak Handoko.


Anang lalu menutup pintu, dan bersandar disitu.


Semua terjadi hanya sepersekian detik.


Rasanya, Anang bahkan tidak sempat mengedipkan matanya.


Pak Handoko terlihat menelpon seseorang, sedangkan Peter terlihat panik, dan seolah akan memaksa untuk keluar dari kamar.


Karena, Anang menghalangi jalan keluarnya, Peter kembali kedalam, lalu mendekat kepada pak Handoko, dan berteriak, agar pak Handoko memutuskan hubungan teleponnya.


Tapi, pak Handoko tetap berbicara disitu, dan saat itu juga Peter memukul pak Handoko, sampai terjatuh ke lantai.


Refleks, ketika Anang melihat kelakuan Peter, Anang dengan cepat menghampiri Peter, dan mendaratkan bogem mentah ke wajah laki-laki itu.


Memang hanya sekali tinju Anang yang menyentuh wajah Peter, tapi bisa membuat Peter langsung tersungkur ke lantai.


Pak Handoko meraba-raba ponselnya, lalu kembali bicara dengan orang diseberang teleponnya.


Peter terlihat masih berusaha berdiri, untuk melawan Anang.


Tapi, tinju Peter hanya menghantam angin, karena Anang bisa menghindarinya.


Tanpa menunggu lama-lama, kembali Anang menghajar Peter dibagian perutnya, dengan keras.


Kali ini, Peter benar-benar tersungkur, dan seolah-olah tidak bisa berdiri lagi.


Kejadian yang berlangsung sangat cepat itu, benar-benar membuat Anang tidak sempat menyadari, apa yang sesungguhnya sedang terjadi.


Ketika Anang melihat ke arah datangnya suara tangisan histeris wanita, barulah Anang mengerti situasinya.


Wina yang tampaknya setengah telanjang, atau mungkin benar-benar telanjang, menutup tubuhnya dengan selimut, lalu menangis sambil terduduk diatas ranjang dikamar hotel itu.


Peter ketahuan berselingkuh dengan Wina.

__ADS_1


__ADS_2