
Anang memang membiarkan Gita menciumnya sampai Gita puas.
Meski Anang merasa agak kebas, dan sedikit jontor, Anang masih merelakan Gita mencaplok bibirnya.
Gita seakan tidak bisa puas, dan tetap bertengger diatas pangkuan Anang, sampai suara ketukkan dipintu terdengar oleh mereka berdua.
Akhirnya Gita menghentikan gigitannya dibibir Anang, dan Anang bisa bernafas lega.
"Mungkin itu pesananku tadi," ujar Gita, lalu turun dari pangkuan Anang.
Anang yang masih duduk dipinggir ranjang, ikut mengintip dari sela badan Gita yang berjalan ke pintu, ketika pintu itu terbuka.
Seseorang dengan jaket dan helm berlambang perusahan, yang terlihat berdiri diluar, lalu memberikan kantong plastik kepada Gita.
Tidak ada Santi terlihat disitu.
Biarkan saja.
Santi sendiri yang mau hubungannya dengan Anang, hanya jadi teman seranjang.
Santi juga tadi pasti baru selesai berjoget ria dengan laki-laki lain.
Malahan tadi pagi, Santi seakan memberi kesempatan bagi Anang, untuk menggoyang Gita diranjang.
Berarti, Anang tidak ada salah apa-apa 'kan?
Anang juga tidak berbuat macam-macam, hanya berciuman saja.
Ah, kenapa Anang bisa berpikiran kalau Santi akan memperdulikan apa yang Anang lakukan?
Wanita itu sedingin es, dan hanya hangat saat berhubungan intim saja.
Tidak begitu juga sih, Santi mau mengurus semua keperluan Anang.
Santi hanya dingin kalau berurusan tentang cinta.
Anang tanpa sadar melamun memikirkan Santi, sambil menatap kantong plastik ditangan Gita.
"Mau minum sekarang?" tanya Gita yang mungkin melihat mata Anang, yang memandangi kantong belanjaannya.
"Iya," sahut Anang yang sudah terkumpul kesadarannya lagi, saat Gita bicara dengannya.
Gita lalu membuka kantong plastiknya, kemudian mengambil segelas minuman, dan menyodorkannya kepada Anang, sedangkan sisanya, diletakkan Gita keatas meja.
"Terimakasih!" ujar Anang.
"Nggak masalah. Aku malah belum mengganti gitarmu yang ke rusak," kata Gita lalu duduk dikursi, didepan Anang.
"Nggak usah dipikirkan,, 'kan aku sudah membeli gitar baru," ujar Anang kemudian menyeruput es kopinya, yang sudah dibuka tutupnya.
"Tetap saja aku akan menggantinya. Berapa kamu beli gitarmu itu?" tanya Gita.
"Nggak usah. Nggak apa-apa. Gitar yang dulu juga sudah usang," kata Anang.
"Kalau begitu aku traktir makan malam diluar, sambil jalan-jalan denganku. Mau?" tanya Gita seakan memaksa.
"Hmm... Malam ini nggak bisa. Aku ada janji untuk bernyanyi lagi," kata Anang yang juga baru ingat jadwalnya.
Anang melihat jam dilayar ponselnya.
Sudah hampir jam enam.
__ADS_1
"Gita... Aku harus bersiap-siap lagi untuk pergi. Maaf ya?!" ujar Anang.
"Jam berapa pulangnya nanti?" tanya Gita sambil berdiri dari duduknya.
"Hmm... Kurang tahu. Biasanya sih tengah malam, kalau undangannya nggak jelas acaranya begini," sahut Anang yang juga ikut berdiri.
Anang kemudian meletakkan gelas minumannya keatas meja, dan berniat mengantar Gita keluar dari kamarnya.
"Memangnya nggak dikasih tahu acara apa?" tanya Gita sambil mereka berjalan pelan, menuju kepintu.
"Nggak. Lagu-lagunya juga nggak ada pesanan khusus," sahut Anang.
Anang sudah membuka pintu kamarnya, Gita masih menyempatkan mencium bibir Anang disitu sebentar, dan memeluk Anang erat-erat.
"Aku pulang dulu kalau begitu. Aku besok sudah masuk kerja. Kalau sempat, nanti aku kesini besok. Nggak apa-apa 'kan?" ujar Gita.
"Iya. Nggak apa-apa. Kirim pesan saja dulu, sebelum kesini. Siapa tahu aku masih diluar," kata Anang.
"Oke!" ujar Gita bersemangat.
Kembali Gita mencium bibir Anang, barulah dia pergi dari situ sambil tersenyum, dan melambaikan tangannya kepada Anang.
Anang melihat kesana kemari.
Santi tetap tidak kelihatan didekat situ.
Anang menutup pintu, lalu bertelungkup diatas ranjang.
Anang mau istirahat dulu sebentar sebelum mandi, dan pergi ke undangannya nanti.
Dengan wajah menghadap kearah jendela, Anang memejamkan matanya disitu.
Santi memang brengsek.
Hampir setiap ada waktu, Anang selalu melayani kemauannya, tapi masih saja mencari tambahan diluar.
Sia-sia Anang berlelah-lelah untuknya.
Apa dia mau Anang menghukumnya sampai tidak bisa berjalan?
Hanya saja kalau begitu, Anang juga tidak bisa bekerja.
Tapi, sama saja.
Tadi pekerjaan Anang juga kacau, mungkin lebih baik tidak bekerja, tapi pikiran tenang.
Aaarrggghh!
Anang berteriak sambil menutup wajahnya dengan bantal.
Cinta gobl*k.
Apa tidak bisa pilih orang lain?
Biar nggak secantik Santi yang penting orang lain, selain Santi, wanita yang tidak punya hati.
Kalau Anang masih tidak bisa mengendalikan pikirannya, maka di undangan nanti, Anang masih akan tampil buruk.
Santi masih belum kembali.
Bagus saja.
__ADS_1
Anang berniat pergi sendiri saja di undangan malam ini, dari pada hanya sakit hati melihatnya dengan laki-laki lain.
Sudah cukup mengganggu bayangan tentang Santi bersama laki-laki bule tadi.
Sebenarnya Anang sedikit memaklumi kenapa Santi selalu tergila-gila dengan orang asing.
Jawabannya jelas dan wajar saja.
Karena belum tentu ukuran Anang, mampu menyaingi ukuran asing.
Ukuran XL disini dibandingkan dengan diluar negeri, masih lebih besar XL yang diluar negeri.
Benar, 'kan?!
Tapi jangan sampai ukuran Anang nanti dibandingkan Santi, dengan barang lokal lain.
"Hufftt." Anang mendengus.
Santi... Lelah hayati abang dibuatmu.
Dengan rasa enggan, Anang beranjak turun dari ranjang, dan berjalan pelan menuju kekamar mandi.
Air dingin yang jatuh dari pancuran keatas kepala Anang, cukup menyegarkan kepalanya yang panas.
Mungkin ada uap panas sekarang, yang keluar dari sela-sela akar rambut Anang.
Perasaan, Anang sudah berlama-lama didalam kamar mandi, tapi setelah selesai mandi, dan dia keluar dari dalam situ, Santi masih tidak terlihat.
Anang memilih pakaian, lalu mulai memakai pakaiannya disitu.
Sampai Anang selesai berpakaian, tidak ada Santi menampakkan batang hidungnya yang mancung.
Sudahlah, lebih baik Anang pergi sekarang.
Anang masih harus mencari taksi, atau ojek yang bisa mengantarnya ketempat dia akan bernyanyi malam ini.
Sambil menenteng gitarnya, Anang berjalan keluar dari kamar, melewati balkon, dan menuruni anak tangga, sambil melihat-lihat kalau ada Santi, tetap nihil.
Anang kemudian berjalan keluar kompleks perumahan, yang lumayan jauh dari jalan raya.
Terpikir dikepala Anang, kalau semestinya dia tadi bertanya dengan Gita, cara memesan taksi online, jadi dia tidak perlu berjalan sejauh itu, hanya untuk mencari tumpangan.
Alamat yang dicatat Santi diponselnya, juga cukup jauh, sedangkan waktunya sudah mepet.
Mudah-mudahan cepat dapat tumpangan diluar nanti.
Portal perumahan sudah terlihat.
Tak jauh lagi, Anang sampai dijalan raya.
Terlihat beberapa kendaraan bermotor melewati portal memasuki wilayah perumahan.
Untung saja, tidak berapa lama Anang berdiri dipinggir jalan, ada taksi yang melintas dan mau berhenti saat Anang melambaikan tangannya.
"Antarkan saya ke alamat ini ya!" kata Anang, sambil memperlihatkan layar ponselnya kepada supir taksi.
Supir itu melihat alamat yang tertera disitu, lalu mengangguk setuju.
Anang merasa ada yang aneh dengan gelagat supir itu, yang sesekali melihat Anang dari kaca spion, dengan raut wajah yang tidak bisa Anang gambarkan.
Tapi Anang tidak mau terlalu memperdulikannya, yang penting tiba ditujuan tepat waktu.
__ADS_1