SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 121


__ADS_3

Persis seperti omongan Santi, perjalanan yang membutuhkan banyak waktu menggunakan pesawat, ternyata memang membosankan.


Anang rasanya bisa depresi, kalau masih harus berdiam didalam situ lebih lama lagi.


Apalagi, Anang hampir saja salah mengambil minuman, yang disajikan pramugari didalam pesawat.


Botol kecil yang menarik perhatian Anang, ternyata bukan teh manis yang dikemas imut-imut, seperti yang Anang duga.


Kalau saja Santi tidak terbangun, dan menghentikan Anang yang berniat meminumnya, mungkin Anang akan singgah transit dinegara lain, dengan kondisi mabuk dan pengar.


Sebenarnya itu salah Anang sendiri.


Semestinya waktu pramugari menawarkan minuman, Anang bilang saja kalau dia tidak bisa berbahasa Inggris, bukannya malah hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Akhirnya, Anang tidak tahu kalau botol imut itu, isinya minuman beralkohol.


Nyaris saja...


Begitu juga makanannya.


Anang lebih suka makan nasi ditemani ikan asin dan sayur asem, atau nasi goreng dipedagang kaki lima yang berjualan dipinggir jalan, daripada makanan yang disajikan disitu, yang hampir tidak ada rasa garamnya.


Kalau Anang tidak tahu bersyukur, karena pernah merasakan perutnya yang kosong dalam waktu lama, mungkin Anang tidak mau memakan makanan itu.


Benar-benar membosankan, dan benar-benar melelahkan.


Meski kursi yang Anang pakai itu cukup nyaman, tapi rasanya tidak akan senyaman tidur dirumah sendiri, walau hanya beralaskan kasur kapuk tipis.


Diruangan tertutup seperti itu, Anang sampai-sampai merasa takut untuk buang angin.


Ya iyalah...


Memangnya akan keluar kemana aromanya, kalau tidak berputar-putar didalam situ saja.


Memangnya akan ada angin yang tiba-tiba berhembus, dan menyamarkan aroma seperti telur rebus yang kelewat lama dimasak, sehingga tidak akan ketahuan kalau Anang yang buang gas beracun dari perutnya?


Terang saja, Anang nanti akan mendapat tatapan kesal dari penumpang lain, yang menutup hidung mereka.


Belum lagi saat Anang kebelet pipis, dan pup didalam pesawat.


Kalau cuma pipis, masih bisa ditolerir oleh Anang.


Tapi untuk pup, tidak lagi-lagi Anang mau mencobanya.


Bokong Anang rasanya seret, karena hanya bisa dibersihkan dengan lembaran tissue.


Ckckck...


Kalau begitu caranya, mendingan Anang pup dikakus diatas rakit.

__ADS_1


Meski deras airnya, seolah-olah bisa menghanyutkan Anang bersama-bersama dengan kotorannya, tapi Anang bisa merasa yakin kalau bokongnya itu sudah pasti bersih.


Anang menyerah...


Bukan cuma belasan jam, melainkan mencapai lebih dari dua puluh jam, bahkan hampir mencapai tiga puluh jam, jika ditotal dengan waktu yang mereka butuhkan ketika singgah disalah satu negara asing, sebelum kembali masuk lagi di pesawat, menuju negara Miss Jordan.


Kalau ada perjalanan menggunakan kapal laut, rasanya mungkin tidak akan se-melelahkan itu.


Iya...


Anang 'kan pernah ikut dikapal pesiar Mister Grand?!


Perjalanan menggunakan kapal laut, rasanya hanya seperti tinggal didalam rumah, tapi rumahnya berada diatas air laut.


Anang masih bisa jalan-jalan, cuci mata, bermain-main, cuci mata lagi, bermain-main lagi, aaarrrghh...


Yang jelas masih jauh lebih menyenangkan dari pada didalam pesawat, yang cuma bisa duduk, tidur, tetap duduk, tidur lagi, begitu-begitu saja terus berulang-ulang.


Melihat keluar pesawat juga tidak semenarik yang Anang kira.


Apa yang dilihat?


Hanya ada awan, langit, air dilautan, tidak ada burung, atau alien dari planet lain yang berlalu-lalang, seperti didalam film kartun.


Anang lalu mendengar suara seperti pengumuman, yang menggema didalam kabin.


"Sebentar lagi kita sampai!" ujar Santi, lalu merapikan selimut yang dia pakai sejak tadi.


"Beneran... Sudah bosan ya?" tanya Santi.


"Iya," sahut Anang.


Santi tersenyum.


"Sabar...! Sebentar lagi, nggak sampai setengah jam lagi, pesawatnya sudah mendarat," kata Santi menenangkan Anang.


Benar kata Santi.


Hanya beberapa menit, pesawat sudah mendarat dan Anang bisa melihat bangunan bandara yang menjadi tujuan mereka bersama Miss Jordan.


Negeri Paman Sam, kata Santi.


"Lihat...! Masih ada sisa-sisa salju diluar!" ujar Santi sambil menunjuk keluar jendela.


Anang melihat salju berwarna putih, yang masih menutupi dataran didekat bangunan bandara.


Persis seperti salju yang ada didalam lemari es.


Anang sebenarnya agak merasa bingung dengan keadaan disitu.

__ADS_1


Kalau Anang menghitung perjalanan mereka, mestinya sekarang sudah malam.


Tapi kenapa dinegara itu malah masih siang?


Daripada bingung-bingung, lebih baik Anang bertanya dengan Santi.


"Kenapa disini masih siang?" tanya Anang.


"Oh... Disini berbeda waktu dengan negara kita. Kalau di Indonesia malam hari, maka disini siang hari...


Seperti sekarang, disini masih pagi, berarti di negara kita sekarang sudah mulai malam," kata Santi menjelaskan kepada Anang.


"Keluarkan jaket, syal, juga sarung tangan dari dalam tas itu!" kata Santi lagi.


Setelah Anang mengeluarkan semua yang dikatakan Santi, Santi lalu memakai jaket, barang-barang itu ditubuhnya, sambil menyuruh Anang untuk memakai jaket, dan barang-barang perlengkapan miliknya juga.


Santi membantu Anang memasang syal dilehernya, sambil berdiri setelah pesawat sudah benar-benar berhenti bergerak.


Para penumpang sudah mulai berjalan keluar dari dalam pesawat, Anang dan Santi juga berjalan keluar sambil mengikuti Miss Jordan yang berjalan didepan mereka.


Ketika mereka sudah didalam bangunan bandara, Santi terlihat berbicara bersahut-sahutan dengan Miss Jordan, sambil menunggu koper-koper di rel berjalan didepan mereka.


"Kata Miss Jordan kita nanti ada jemputan sendiri, jadi kita tidak satu mobil dengannya," kata Santi.


"Apa kita nggak langsung ke studio Miss Jordan?" tanya Anang.


"Belum... Nanti agak sore kita kesana. Katanya, Miss Jordan masih mau istirahat dulu. Sekarang ini, kita akan diantar ketempat tinggalmu sementara," sahut Santi yang terdengar lemas.


Dengan arahan Santi, Anang meletakkan koper-koper milik mereka berdua keatas troli, lalu mendorongnya keluar dari bandara.


Astaga dinginnya...


Meski jaket yang dipakai Anang rasanya sudah cukup tebal, tetap rasa dinginnya masih bisa menembus sampai ke tulang-tulang.


Belum berapa lama keluar dari pintu bandara, Anang sudah mulai menggigil, dan hampir tidak bisa melangkahkan kakinya, yang terasa agak kaku.


"Bagaimana? Dingin?" kata Santi lalu tersenyum, sambil mengangkat sedikit syal Anang, agar bisa menutup leher Anang dengan baik.


Ketika Santi bernafas dan berbicara, Anang bisa melihat uap yang keluar dari mulut Santi, seperti uap yang keluar dari kopi panas.


Begitu juga orang-orang yang ada disekitar situ.


Semuanya mengeluarkan uap dari pernafasan mereka, tapi mereka masih terlihat biasa saja, kurang lebih seperti Santi.


Tidak terlihat mereka menggigil kedinginan seperti Anang saat ini.


Apa mungkin mereka sudah terbiasa, atau jaket dan celananya lebih tebal dari yang Anang pakai?


Begini rasanya musim dingin dinegeri orang ini?

__ADS_1


"Sekarang sudah tidak terlalu dingin. Musim salju sudah hampir berakhir. Kalau masih awal-awalnya, sampai pertengahan musim, suhunya jauh lebih dingin dari sekarang," kata Santi.


__ADS_2