SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 130


__ADS_3

Ketika Anang terbangun dari tidurnya untuk yang kesekian kalinya, Santi masih belum menampakan dirinya didalam kamar apartemen.


Anang yang sejak siang tadi sudah merasa kesal, karena Santi terus-terusan meninggalkannya, kini jadi semakin kesal, bercampur dengan perasaan cemas.


Anang melihat layar ponselnya.


Jam diponselnya sudah menunjukkan pukul delapan malam, lewat beberapa menit.


Anang yang sudah kehilangan kesabarannya untuk menunggu Santi kembali, mencoba menghubungi Santi lewat aplikasi wh*tsapp.


Tapi Santi sepertinya tidak mengaktifkan ponselnya.


Panggilan telepon tidak bisa, pesan Anang juga tidak ada yang terkirim kekontak Santi.


Sambil berpikir, Anang berjalan mondar-mandir didalam kamar.


Kalau Anang menghubungi ayah Santi, bisa-bisa ada salah paham.


Mana tahu Santi memang sedang sibuk mengurus sesuatu, yang berhubungan dengan Anang atau ayah Santi.


Kalau begitu, mau tidak mau, Anang hanya bisa menunggu sampai Santi kembali.


Tapi ini sudah terlalu lama.


Sejak siang atau mungkin saja masih pagi, waktu Santi meletakkan makanan dan obat-obatan Anang dikursi, sampai dengan malam ini, sudah berjam-jam waktu yang berlalu.


Anang berdiri didekat jendela sambil melihat keluar.


Diseberang jalan, orang-orang yang berkemah ditrotoar, terlihat sudah menyalakan api dalam bak sampah, yang seperti potongan drum bekas.


Kalau hanya dilihat begitu saja, bisa-bisa Anang menduga kalau mereka itu tunawisma.


Anang tidak terlalu tertarik untuk berlama-lama melihat mereka.


Anang fokus melihat jalanan, mencari-cari tanda adanya Santi yang turun dari taksi, atau berjalan kembali ke apartemen.


Tapi, sampai pegal kaki Anang berdiri didekat jendela, tetap tidak ada tanda-tanda Santi diluar sana.


Anang melihat layar ponselnya lagi, sambil duduk disofa.


Pesan yang dia kirim tadi, masih bertanda centang satu.


Menjengkelkan!


Disini ladangnya tanaman unggul, meski sedikit, tetap ada rasa curiga kalau Santi tidak bersama Anang untuk waktu yang lama seperti itu.


Apalagi sejak mereka tiba dinegara itu, sudah beberapa hari berlalu, Anang tidak pernah menyentuh Santi.


Apa yang sebenarnya dilakukan Santi diluar?


Urusan... Urusan apa?


Kenapa Santi tidak memberitahu dengan jelas, urusan apa?


Kenapa Santi tidak mengaktifkan ponselnya?

__ADS_1


Apa jangan-jangan...?


Aaarrrghhhhh...!


Menunggu itu menjengkelkan!


Cukup lama Anang duduk menunggu disofa, sebelum pintu apartemen kemudian terbuka, Anang melihat Santi yang melewati pintu, lalu menutupnya kembali.


Anang tidak mau menyapa Santi, dan berpura-pura sibuk dengan ponselnya, meski tidak ada yang dia lihat disitu, hanya menggeser-geser layar asal-asalan.


Pokoknya Anang sekarang sedang marah dengan Santi.


Anang bahkan berpura-pura seolah-olah dia tidak melihat Santi datang, dan hanya mencuri pandang dengan ujung matanya, saat Santi membuka jaketnya dan meletakkan barang-barangnya keatas meja.


"Kamu sudah lebih baik?" tanya Santi yang masih sibuk merapikan barang-barang yang dia pakai tadi.


Anang berdiam diri, dan tidak mau menjawab pertanyaan Santi.


Santi lalu terlihat sedang mencolokkan ponselnya ke pengisi daya.


Berarti ponsel Santi tadi mungkin kehabisan daya, makanya tidak bisa dihubungi Anang.


Tapi, Anang tetap berpura-pura tidak memperdulikan Santi.


Anang tetap tidak terima kalau Santi keluar tanpa memberitahu dengan jelas, apa yang dia lakukan diluar sendirian.


"Kenapa?" tanya Santi sambil berjalan mendekat, menghampiri Anang.


Anang tetap bersikeras untuk tidak memperdulikan Santi.


Anang hanya diam seribu bahasa.


Sampai saat Santi mencoba untuk duduk dipangkuan Anang, Anang bertingkah seolah-olah dia tidak mau Santi duduk dipangkuannya, dan menggeser kakinya agar Santi tidak bisa duduk disitu.


Meski dalam dada Anang terasa sesak, karena dia ingin sekali memeluk Santi, tapi sekali-kali Santi harus tahu, kalau Anang juga bisa marah kepadanya.


"Hmm... Jadi aku nggak boleh mendekatimu?" tanya Santi yang batal duduk, dan akhirnya hanya tetap berdiri didepan Anang.


Anang tetap mengunci mulutnya rapat-rapat.


"Ya sudah...! Kalau begitu, aku pergi membeli makanan untukku dulu..." kata Santi sambil berjalan pergi.


Santi tidak perduli, malah akan pergi lagi?


Bukannya Santi sudah dari luar?


Kenapa dia tidak langsung membeli makanan?


Apa yang membuatnya terlalu sibuk, sampai lupa membeli makan, lalu baru sekarang mau keluar lagi mencari makan?


Oh, tidak bisa!


Anang tidak tahan lagi.


Buru-buru Anang menahan lengan Santi, yang bersiap memakai jaketnya lagi.

__ADS_1


"Kamu kemana saja?" tanya Anang dengan nada tinggi.


Tampaknya pita suara Anang sudah benar-benar pulih.


Santi menatap Anang lekat-lekat, dengan alisnya yang mengerut dan memasang wajah sangar.


"Ada yang harus aku urus!" sahut Santi dengan suara tak kalah tinggi, lalu lanjut memakai jaketnya.


"Santi!" ujar Anang, sambil menahan lengan Santi agar berhenti memakai jaketnya.


"Ada apa denganmu ini?" tanya Santi tak mau kalah, dan bersikeras memakai jaketnya, meski Anang juga berusaha menghentikannya.


"Urusan apa sampai lama sekali kamu diluar?" Anang balik bertanya.


Santi kali ini tampak sangat kesal dengan tingkah Anang.


"Aku menikmati s*x, diluar! Puas?!" seru Santi, dengan nafas memburu, mungkin karena sedang berusaha keras untuk menahan kekesalannya dengan Anang.


Mata Anang terbelalak.


"Santi!" bentak Anang.


Entah Santi berkata benar, atau hanya sekedar bicara untuk melampiaskan kekesalannya.


Tapi tetap saja, perkataan Santi cukup mengganggu pikiran Anang, dan membuat Anang makin merasa marah.


"Apa?" sahut Santi ngotot.


"Lepaskan aku!" seru Santi lagi, sambil menyentak tangannya yang dipegang Anang.


"Jangan coba-coba membuatku makin kesal denganmu!" kata Anang tegas, dan makin mempererat pegangannya, agar Santi tidak bisa melepaskan diri.


"Ah, bodo amat!" ujar Santi yang masih berusaha untuk melepaskan tangannya dari pegangan Anang.


"Santi!" bentak Anang lagi, lalu mengertakan giginya.


"Apa? Kamu mau apa? Memangnya kamu siapa? Kita memangnya sudah suami istri? Belum 'kan? Suka-suka aku! Kamu urus saja dirimu sendiri!" ujar Santi bertubi-tubi dengan suara tinggi.


Anang benar-benar kesal dengan omongan Santi kali ini.


Bukan maunya Anang sampai mereka harus menunda untuk menikah.


Anang juga terpaksa datang ke negara itu.


"Santi!" bentak Anang dengan suara bergetar.


Anang hampir tidak bisa mengendalikan amarahnya lagi.


Tanpa sadar, tampaknya Anang meremas lengan Santi dengan cukup kuat, sampai Santi hampir menangis, sambil memegang tangan Anang yang meremas salah satu lengannya.


Setelah melihat mata Santi yang sudah berkaca-kaca, bahkan sudah meneteskan airmata, meski Santi tidak mengeluarkan suara tangisannya, barulah Anang tersadar kalau dia sudah menyakiti Santi.


Anang mengendurkan pegangannya, lalu memeluk Santi erat-erat, meski Santi meronta-ronta, dan berusaha melepaskan pelukan Anang.


"Maafkan aku...!" kata Anang pelan, lalu mengecup kepala Santi.

__ADS_1


Santi akhirnya tidak melawan lagi dipelukan Anang, dan hanya menangis sesenggukan.


__ADS_2