SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 153


__ADS_3

Gelagat Tejo, dirasa Anang semakin aneh, saat mereka sudah pulang kerumah Tejo.


Tejo sering berteleponan, dengan seseorang diponselnya, sambil tertawa kecil.


Padahal, semalam Tejo tampaknya tidak ada yang menghubunginya sampai se-intens itu, bahkan rasanya, ponsel Tejo tidak berbunyi sama sekali.


Tapi, sejak disawah tadi, sampai malam ini Tejo, terlihat sibuk dengan ponselnya.


Anang tidak bisa menduga apa-apa.


Toh, Anang baru saja disitu, mana Anang tahu bagaimana Tejo selama ini.


"Besok kamu mengurus perjanjian jual belinya?" tanya Tejo, sambil ikut duduk dengan Anang di kursi teras rumahnya.


"Iya, rencananya begitu," sahut Anang.


"Kita sama-sama saja! Nanti aku meminta orang menjaga sawahku," ujar Tejo.


"Jadi orangnya membeli tanah itu?" tanya Anang.


"Iya, dia malah sudah mentransfer tanda jadi ke rekeningku, sekalian dengan imbalan untukku. Padahal kalau sudah aku bilang kalau tidak perlu memberiku apa-apa..." sahut Tejo, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tinggal aku datangi orang yang menjual tanahnya," sambung Tejo, lalu terlihat kaget, seakan baru menyadari sesuatu.


"Eh, iya! Aku pergi dulu kerumah orang yang punya tanahnya!" ujar Tejo, lalu buru-buru berdiri, dan berjalan keluar dari teras rumahnya.


Anang memandangi Tejo, sampai laki-laki itu menghilang dari pandangan Anang.


Daripada bengong sendiri, Anang berjalan masuk lalu mengambil gitarnya, kemudian kembali ke teras depan.


Sambil memetik-metik senar gitarnya, dan bersenandung, Anang menunggu Tejo kembali.


Lama-lama Anang merasa bosan, karena Tejo belum juga kembali, Anang memeriksa layar ponselnya.


Di aplikasi Wh*tsApp, kontak Santi terlihat baru saja aktif beberapa menit yang lalu.


Santi berarti sudah keluar dari pesawat, makanya dia bisa mengaktifkan ponselnya lagi, tapi dia sama sekali tidak mau mengabari Anang.


Anang masih memperhatikan kontak Santi, tiba-tiba kontak Santi dalam kondisi aktif.


Anang menunggu sambil menatap layar ponselnya, kalau-kalau Santi akan mengiriminya pesan, meski hanya sekedar menyapa.


Untuk beberapa menit Anang menunggu, tetap tidak ada tanda kalau Santi sedang mengetik pesan untuknya.


Anang hampir saja mengetik pesan lebih dulu, tapi niat Anang terhenti, saat mendengar sayup-sayup suara Tejo dari kejauhan, seperti sedang berbicara dengan seseorang.


Anang melihat Tejo, yang hampir memasuki halaman rumahnya, dengan ponsel yang menempel di telinganya.


Tak lama, Tejo menurunkan ponsel dari telinganya lalu melihat layarnya, tepat saat akan kembali duduk dikursi teras rumahnya, dimana Anang masih terduduk.


Ketika Tejo kelihatannya sudah selesai berhubungan dengan orang diponselnya, Anang melihat layar ponselnya lagi, dan kontak Santi sudah tidak aktif.

__ADS_1


Kebetulan yang aneh, tapi rasanya tidak mungkin, kalau Tejo tadi saling menghubungi dengan Santi.


Untuk apa?


Sedangkan Santi sekarang berjarak ribuan kilometer jauhnya.


"Sudah beres! Besok, kita bisa bersama-sama mengurus semuanya dikantor desa," celetuk Tejo.


Tejo terlihat senyum-senyum sendiri, sambil menatap layar ponselnya, sebelum dia memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.


Itu juga aneh.


Perasaan, semalam Tejo hanya menggeletakkan ponselnya diatas meja, dan tidak repot-repot memasukkan benda itu kekantong celananya.


"Bantu aku didapur! Kita siapkan makan malam. Aku mulai lapar!" ujar Tejo, lalu berdiri dan berjalan masuk kedalam rumah.


Anang menyusul Tejo, lalu membantu Tejo menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.


Sementara makan, Tejo masih terlihat sibuk mengetik-ngetikkan sesuatu dilayar ponselnya, seolah-olah sedang saling berkirim pesan dengan seseorang.


Sampai mereka selesai makan, dan kembali duduk bersantai diteras depan rumah Tejo, laki-laki itu masih sibuk diponsel sambil senyum-senyum sendiri.


Bahkan, Tejo tampak tidak sempat, meski hanya sekedar bicara basa-basi lagi dengan Anang.


Anang tidak mungkin mempertanyakan kepada Tejo, siapa dan ada apa orang yang sekarang sering menghubungi Tejo itu.


Anang yang penasaran, mencoba melihat kontak Santi di aplikasi Wh*tsApp lagi.


Tapi tidak lama, sudah kembali tidak aktif lagi.


Anang mengangkat wajahnya, lalu melihat Tejo.


Tejo juga sudah berhenti menatap layar ponselnya.


Anang rasanya makin curiga, tapi dia tidak bisa terlalu banyak menduga-duga.


"Pinjam gitarmu!" kata Tejo, sambil menjulurkan tangannya kepada Anang.


Anang mengambil gitarnya, yang dia berdirikan dipagar teras disampingnya, lalu menyodorkannya kepada Tejo.


"Orang mana yang membeli tanah tadi?" tanya Anang.


Tejo yang sedang memetik-metik senar gitar asal-asalan, lalu melihat Anang.


"Orang dari kota. Kami berkenalan waktu ketemu dikampung sebelah," sahut Tejo, yang bagi Anang seolah-olah Tejo sedang mengada-ada.


Ah, sudahlah...


Anang tidak mau menjadi bodoh, cuma gara-gara memikirkan Santi, lalu dengan curiga tanpa alasan pasti kepada Tejo.


"Kamu nanti bisa membantuku mencari orang, yang mau membersihkan lahannya?" tanya Anang.

__ADS_1


"Kalau cuma semak begitu, langsung pakai traktor saja sudah bisa bersih..." sahut Tejo enteng.


"Nanti selesai dari kantor desa, aku menghubungi orang-orang yang punya traktor. Kamu nego sendiri imbalannya, karena nanti aku harus nego imbalan untuk lahan yang satunya, yang juga harus dibersihkan," sambung Tejo.


Anang mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kenapa kamu yakin kalau perkebunan akasia punya prospek menjanjikan?" tanya Tejo.


"Aku melihatnya ditempat kenalanku Setyo. Memang nggak bisa langsung merasakan hasilnya...


Tapi, kalau sudah mulai panen, dan bergilir tanamnya, baru bisa kelihatan hasilnya," sahut Anang.


"Keluarga Setyo sekarang berhasil, cuma berawal dari perkebunan akasia, dan sekarang malah bisa membuka lahan sawit dipulau lain," sambung Anang.


"Hmm... Sayangnya terlalu lama menunggu masa panennya," celetuk Tejo.


"Iya, kalau kamu membandingkan dengan sawah, yang cuma hitungan bulan sudah panen, jelas saja terasa lama," sahut Anang, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu bertanya tentang itu? Kamu tertarik mencobanya juga?" tanya Anang.


"Nggak. Mengurus sawah saja aku mulai bosan, apalagi sampai mengelola kebun yang seperti itu...


Aku cuma mau tahu. Karena, orang yang membeli tanah itu, katanya, akan membuka perkebunan akasia," sahut Tejo.


"Orang itu mau membuka lahan akasia juga, katamu?" tanya Anang heran.


"Iya, kalau nggak salah dengar, sih begitu! Dia juga memintaku, mencari lahan persawahan dengan ukuran kecil, tapi harus dekat dengan tanah yang mau dibelinya itu...


Satu lagi, dia juga mau membeli, kalau ada rumah diperkampungan ini...


Katanya, dia menunggu informasi dariku, kalau-kalau ada yang mau dijual orang, dengan harga yang bagus," sahut Tejo.


"Orangnya dimana sekarang?" tanya Anang hati-hati, dan dengan rasa sangat penasaran.


"Masih dikota. Katanya, dia kemungkinan nanti pindah kekampung ini, kalau dia sudah bosan tinggal dikota...


Tapi, kalau dia tetap tinggal dikota, paling nggak, nanti dia punya hasil tambahan, yang bisa untuk dia pakai di hari tuanya," sahut Tejo.


"Bagaimana ceritanya kamu bisa mengenalnya?" tanya Anang lagi.


"Dia sedang jalan-jalan dikampung sebelah, lalu bertemu denganku, sambil bertanya ini-itu denganku...


Kami lalu bertukar kontak, setelah aku beritahu padanya, kalau aku penduduk asli dikampung ini...


Aku juga bilang padanya, kalau aku bisa membantunya, kalau dia mau membeli tanah didaerah ini," sahut Tejo, lalu meletakkan gitar yang sedari tadi dipangkunya, keatas meja.


Anang mengangguk-anggukkan kepalanya.


Berarti, bukan cuma Anang yang memilih, untuk membuka perkebunan akasia.


Wajar saja, sih!

__ADS_1


Bukti kemungkinan berhasilnya, ada di Setyo dan keluarganya.


__ADS_2