
Setelah menyempatkan singgah makan siang yang sudah jauh terlambat, Anang dan Santi kemudian kembali kekost-kost'an.
Anang harus bersiap-siap untuk janji bernyanyinya di undangan malam itu.
Sambil menemani Anang berlatih lagu-lagu pesanannya, Santi melihat-lihat layar ponselnya.
Anang yang duduk dipinggir ranjang, jadi tempat bersandar Santi, yang tampaknya sangat nyaman menyandarkan punggungnya, dipunggung Anang, sambil duduk diatas ranjang.
Menyenangkan bukan?
Dengan perasaan tenang, Anang bisa berkonsentrasi, karena Santi juga tenang di punggungnya.
Tidak butuh waktu lama bagi Anang kalau hanya menghapalkan lagu-lagu lokal yang sering dia dengar, dimainkan ditaksi-taksi yang pernah mereka tumpangi.
"Belum jamnya kita pergi sekarang?" tanya Anang sambil meletakkan gitarnya berdiri dilantai bersandar ke dinding.
"Hmm... Belum, sebentar lagi!" kata Santi.
Anang bisa merasakan kalau Santi berhenti bersandar di punggungnya, tapi belum sempat Anang berbalik, Santi sudah memeluknya dari belakang.
"Kenapa?" tanya Anang.
"Nggak apa-apa. Memangnya aku nggak bisa memelukmu?" sahut Santi ketus.
"Bisa. Selamanya juga bisa," ujar Anang sambil tertawa pelan.
"Kamu melindungiku dari tamparan papaku tadi." celetuk Santi.
"Bukannya aku memang harus begitu?" tanya Anang.
Santi hanya terdiam, dan mempererat pelukannya.
Anang melepaskan tangan Santi, lalu berbalik.
"Aku juga mau memelukmu," kata Anang, kemudian memeluk Santi.
"Maafkan aku..." kata Santi pelan.
"Heh? Memangnya apa salahmu?" tanya Anang heran.
"Gara-gara aku, sampai Peter membuat cerita buruk, yang tidak jelas tentangmu. Sampai-sampai kamu dipermalukan Papaku yang bodoh itu," kata Santi sambil mengelus-elus dada Anang.
"Eh, nggak usah dipikirkan. Biarkan saja. Nanti juga bakalan ketahuan siapa yang benar, dan siapa yang berbohong," sahut Anang pelan.
"Kalaupun tidak ketahuan, yang penting kamu tetap bisa bersamaku," sambung Anang sambil mengecup kepala Santi, lama dan lembut.
Ah, Anang pasti lupa kalau sudah tidak ada yang mengganggu Santi lagi.
Dikecup lama dan lembut seperti itu, hanya akan membuat Santi jadi pengganggu.
Gerakan bawah tanah Santi yang sedang bergerilya, membuat benteng pertahanan Anang kebobolan.
"Masih sempat?" tanya Anang.
Santi melihat ponselnya sebentar, lalu buru-buru menjauhkan ponselnya.
"Masih!" ujar Santi bersemangat, lalu menarik Anang sampai terlentang diatas tempat tidur.
Semua koneksi saraf yang bisa membuat pikiran Anang tertekan, putus seketika saat Santi mulai menekan tombol-tombol darurat perang.
Tapi, Anang tidak bisa menyerahkan lama-lama area perbatasan kemampuan Anang, yang sedang diserang Santi.
Anang harus mengambil alih wilayah kekuasaannya kembali.
__ADS_1
Waktunya terlalu mepet, Anang harus memastikan pertempuran kali ini akan seri.
Tidak ada yang boleh kalah atau menang duluan.
Kalau hasilnya seri begitu, saat pertempuran selanjutnya, pasti akan jadi lebih sengit.
"Jangan menyerah! Sebentar lagi!" seru Anang yang masih penuh semangat juang.
Oke!
Baik Anang maupun Santi sudah menyerah bersama-sama sekarang.
Cukup!
Waktunya juga sudah habis!
Tidak ada lagi yang ingat lelahnya bertempur, keduanya setengah berlari menuju kekamar mandi.~
"Pesanku sudah dibalas. Katanya, dia bisa membantu mengurus berkas-berkas kita." celetuk Santi, ketika dia dan Anang sudah dalam perjalanan ketempat Anang harus bernyanyi.
"Kamu mengenalnya juga. Dia akan menyusul kita ditempat undanganmu" sambung Santi, sambil tersenyum.
Tapi, senyuman Santi tampaknya menyiratkan sesuatu yang nakal.
"Siapa?" tanya Anang penasaran.
"Nanti saja..." sahut Santi, dan masih saja tersenyum.
Anang mulai menduga-duga.
Siapa orang yang dimaksud Santi?
Kalau sekedar kenal, rasanya tidak mungkin orangnya mau dimintakan bantuannya, untuk mengurus berkas-berkas untuk pernikahan mereka, yang sebanyak itu.
Rasanya yang dilihat Anang, orang-orang yang bicara dengan Santi, tidak ada yang dikenalnya.
Sampai lagu pesanan terakhir yang dinyanyikan Anang, hampir usai, tetap tidak ada seorangpun yang dikenal Anang, yang berada didekat Santi.
Tinggal bagian refrain yang harus diulang sekali lagi oleh Anang, barulah ada seseorang yang cukup dikenali Anang disitu.
Lia.
Heh!
Dia kah orangnya?
Konsentrasi Anang agak terganggu, saat teringat bayang-bayang pesta Lia waktu itu.
Untung saja tinggal bait terakhir yang harus dinyanyikan Anang, dan berhasil dilewati Anang dengan baik, dan mendapat sambutan meriah dari tamu-tamu undangan.
Ajakan tamu-tamu undangan yang hendak meminta Anang berfoto dengan mereka, tidak terlalu menarik perhatian Anang.
Tapi, Anang masih menuruti permintaan orang-orang, yang mengajaknya berfoto bersama, sampai semua orang-orang itu puas.
Meski sibuk berfoto, sambil tersenyum seadanya, pikiran Anang tetap mengingat adegan-adegan delapan belas keatas, yang dilakukan wanita-wanita dipesta Lia.
Termasuk kelakuan Santi waktu itu.
Astaga.
Apa Anang harus merasa cemburu sekarang?
Ah, tidak perlu.
__ADS_1
Itu 'kan hanya bersenang-senang.
Tapi, Santi menikmatinya waktu itu.
Sudahlah... Tidak mungkin Santi masih menginginkan itu lagi.
Tapi, bisa saja...
"Masih ingat denganku 'kan, Mas?" sapa Lia, yang membuyarkan pikiran-pikiran dikepala Anang.
"Masih..." sahut Anang.
Mana mungkin Anang lupa?
Sampai bentuk dari bagian paling tersembunyi Lia, sudah dilihat Anang malam itu.
"Ehheem. Ehheeemm..." Anang terbatuk-batuk, karena tiba-tiba lehernya terasa kering dan gatal, mungkin karena Anang terlalu banyak bernyanyi.
Atau mungkin karena bayangan Lia dan teman-temannya waktu itu?
"Kenapa? Mau aku ambilkan minum?" tanya Santi sambil menatap Anang.
Anang menganggukkan kepalanya.
"Iya. Tolong, ambilkan air putih saja ya...?!" sahut Anang.
Santi kemudian terlihat berjalan menjauh dari Anang dan Lia.
"Cukup mengejutkan mengetahui kalian berdua akan menikah" celetuk Lia, sambil memandangi Santi yang masih berjalan mengambilkan minum untuk Anang.
Anang menatap Lia lekat-lekat.
"Eh, jangan salah paham! Aku sudah tahu kalau Santi itu straight. Aku tidak akan mengganggu kalian.
Justru aku akan membantu menguruskan pernikahan kalian, sampai dipencatatan sipil," kata Lia menjelaskan saat melihat Anang, dan mungkin menyadari kalau Anang tidak terlalu senang, dengan cara Lia memandang Santi.
"Jangan cemburu denganku! Aku sudah punya pasangan! Cuci mata doang bisa 'kan?" sambung Lia enteng.
Anang yakin kalau Anang pasti sekarang sedang memasang wajah masam.
Lia tertawa pelan.
"Aku hanya bercanda, Mas!" kata Lia sambil tersenyum.
Anang menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan.
Tak lama, Santi sudah kembali sambil membawa sebotol air mineral.
"Ada apa?" tanya Santi, sambil melihat Anang dan Lia bergantian.
"Nggak ada apa-apa!" sahut Lia dan Anang berbarengan.
Anang dan Lia lalu bertatap-tatapan, kemudian saling tersenyum.
"Ini airnya..." kata Santi, lalu menyodorkan botol air kepada Anang.
"Jadi Lia bisa membantu kami?" tanya Anang, yang sekarang sudah lebih tenang, setelah meminum sedikit air.
"Iya. Mas berarti tidak tahu ya, kalau aku bekerja sebagai notaris pernikahan?" tanya Lia.
Anang menggelengkan kepalanya.
"Aku punya banyak kenalan di kantor catatan sipil. Rasanya nggak akan terlalu sulit untuk mengurus berkas-berkas kalian." sambung Lia.
__ADS_1