SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 105


__ADS_3

Entah Tejo tidak menyadari keberadaan Anang dan Santi didekat situ, atau memang sengaja memamerkan tubuhnya yang basah.


Iya, Anang bisa menduga kalau Tejo sengaja pamer, karena disitu ada kamar mandi, untuk apa harus mandi diluar, dan seakan tidak bisa berhenti menyiram tubuhnya dengan air.


Anang berdiri didepan Santi untuk menghalangi pandangan Santi disitu.


"Menarik?" tanya Anang kepada Santi dengan ketus.


Santi hanya tertawa cekikikan.


Anang lalu mencoba membawa Santi, agar berjalan kembali kebagian depan rumah, tapi Santi tidak mau bergerak.


"Gendooong...!" kata Santi dengan suara dimanja-manjakan.


Dengan cepat Anang menggendong Santi, dan berjalan menjauh dari tempat Tejo mandi.


Santi masih saja cekikikan, sambil menyandarkan wajahnya dileher Anang.


"Kamu mau aku jatuhkan ketanah?" tanya Anang ketus.


"Coba saja kalau berani!" sahut Santi menantang Anang sambil tetap tertawa.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menatap Santi lekat-lekat.


"Tetap gendong aku! Aku mau ambil itu!" kata Santi menunjuk buah jambu air yang sudah merah.


Anang membawa Santi kepohon yang ada buahnya, yang ditunjuk Santi.


Tapi Santi masih tidak bisa mengambilnya dengan tangannya.


"Angkat aku sedikit lagi!" seru Santi bersemangat.


Dengan Anang yang sedikit mendorong Santi keatas, akhirnya Santi bisa mengambil buah itu sambil tertawa, lalu mengecup bibir Anang sekejap.


"Lihat! Ini pasti manis," ujar Santi sambil menunjukkan buah yang sudah dipegangnya.


"Buah segar dikampung ini memang tidak ada lawan!" sambung Santi sambil tertawa.


Anang merasa kalau omongan Santi itu bukan ditujukan pada buah ditangannya.


"Kamu memang mau aku jatuhkan ketanah sekarang?" tanya Anang yang kesal.


Santi mencium bibir Anang dengan lembut.


Berhasil... Itu selalu berhasil meredakan amarah Anang.


Anang menikmati ciuman Santi, sampai-sampai hampir lupa kalau mereka sedang menunggu teman-teman Anang datang kesitu.


"Ehheem... Ehheem..."


Anang dan Santi lalu menghentikan ciumannya, dan menoleh kearah datangnya suara batuk palsu itu.


Beberapa laki-laki sebaya dengan Anang, sudah berdiri didalam halam rumah Tejo, tidak jauh dari Anang berdiri sambil menggendong Santi.


"Turun dulu ya...! Itu teman-teman sekolahku" ujar Anang pelan.


Santi mengangguk, lalu sambil berpegangan dibahu Anang, diturunkan Anang dari gendongannya.


Joko, Bowo dan Sugeng.


Teman-teman Anang sejak masih sekolah dasar, sampai SMA.

__ADS_1


Selain Sugeng, Joko dan Bowo punya perawakan mirip-mirip juga dengan Anang, meski tubuh Anang masih lebih tinggi sedikit dari mereka berdua.


Sugeng lebih kalem dan agak sedikit gemulai.


"Joko... Bowo... Sugeng," kata Anang memperkenalkan teman-temannya kepada Santi.


"Ini Santi, calonku," ujar Anang dengan bangga, apalagi ketika melihat teman-temannya, yang tampak terpukau saat melihat Santi.


"Hebat!"


"Mantap! Nggak rugi jauh-jauh ke kota!"


"Cantiknya...!"


Ujar ketiga teman Anang hampir bersamaan, dan tampak terkagum-kagum.


"Kalian duluan saja duduk disana! Aku masih mau mengambilkan buah untuk Santi," ujar Anang sambil menunjuk kearah teras rumah Tejo.


"Siap bos!" kata mereka bertiga, kemudian berjalan pergi ke teras, dan duduk disana.


Anang bisa melihat kalau mereka masih memandangi Anang dan Santi disitu.


"Yang benar saja!" celetuk Santi.


Anang lalu menatap Santi dengan perasaan heran.


"Apa?" tanya Anang.


"Disini terlalu banyak pupuk bertebaran kah?" tanya Santi.


Anang makin bingung dengan perkataan Santi.


"Maksudnya?" tanya Anang lagi.


Anang akhirnya paham maksud omongan Santi.


"Santi...!" ujar Anang sambil menaikkan nada suaranya.


Santi hanya tertawa cekikikan.


Anang lalu melihat teman-temannya, dari tempat Anang dan Santi berdiri.


Memang benar kata Santi.


Selain Sugeng yang berwajah manis seperti perempuan, teman-teman Anang yang lain memang tampak macho, bahkan Tejo malah terlihat lebih tampan dari Anang, meski laki-laki itu hanya memakai kaus tanpa lengan dan celana pendek.


Sepertinya Anang sudah salah mengambil keputusan, untuk mengajak teman-temannya berkumpul disitu.


Anang kemudian kembali melihat Santi, yang masih cekikikan didekatnya.


"Tenang saja sayang...! Kamu masih lebih menarik dari Sugeng!" kata Santi, sambil menarik tangan Anang, dan membawa Anang berjalan bersamanya, menuju keteras rumah Tejo.


Anang merangkul pinggang Santi, dan Santi seolah-olah akan melepaskan tangan Anang dari pinggangnya.


"Jangan macam-macam!" kata Anang sambil berbisik, dan makin mempererat rangkulannya dipinggang Santi.


"Tumben! Biasanya kamu malu kalau mesra-mesraan didepan orang," ujar Santi yang ikut berbisik-bisik.


"Kali ini aku mau mereka tahu, kalau kamu nggak bisa diganggu," ujar Anang.


Santi tertawa pelan.

__ADS_1


Hanya tertinggal satu kursi kosong disitu, dan Tejo, Joko, dan Bowo berdiri bersamaan, seakan mau memberikan kursi mereka untuk Santi duduk.


Mereka lalu bertatap-tatapan disitu.


Situasi disitu terasa sangat canggung sekarang.


"Nggak usah repot-repot. Aku bisa berpangku dengan Anang," ujar Santi dengan entengnya.


Mendengar perkataan Santi, Anang lalu tersenyum puas.


Ketiga teman laki-laki Anang yang sudah berdiri, terlihat agak kikuk, ketika kembali duduk kekursi mereka.


Anang kemudian duduk disatu kursi kosong, dan memangku Santi diatas pahanya.


Untuk beberapa waktu, hanya ada kesunyian tanpa ada satupun dari mereka, yang mau membuka percakapan.


"Santi! Kamu masih mau mengambil buah?" tanya Sugeng.


Santi menganggukkan kepalanya.


"Iya. Tapi ada buah lain selain jambu air?" tanya Santi.


"Ada, kamu mau kelapa muda? Kita pergi kerumahku, buahnya bisa dipetik tanpa perlu memanjat," ujar Sugeng.


Santi lalu melihat Anang.


"Terserah kamu... Rumahnya Sugeng nggak jauh. Selisih tiga rumah saja dari sini," ujar Anang meski Santi tidak bertanya apa-apa kepadanya.


Santi lalu beranjak turun dari pangkuan Anang.


"Geng! Jaga dia baik-baik! Jangan sampai ada yang lecet!" ujar Anang tegas sambil menatap Sugeng lekat-lekat.


Santi lalu menepuk bahu Anang.


"Apa-apaan sih?!" ujar Santi.


Sugeng hanya tertawa pelan.


"Siap bos!" ujar Sugeng, lalu berjalan pergi bersama Santi.


Ketika Anang melihat kearah ketiga temannya yang tertinggal disitu bersamanya, ketiga-tiganya masih memandangi Santi dan Sugeng.


"Ehheem... Ehheem..." Anang berpura-pura batuk, lalu menuangkan air putih kedalam gelas yang dia pakai tadi, dan masih ada diatas meja.


"Bagaimana rasanya tinggal dikota?" tanya Bowo.


"Sama sulitnya. Baru belakangan ini saja, keadaanku membaik," sahut Anang, lalu meminum air putih yang dia tuangkan tadi.


"Tapi kelihatannya kamu sekarang jauh lebih baik dari waktu kamu masih disini dulu. Apalagi bisa bawa calon seperti Santi," ujar Joko.


"Iya. Anggap saja begitu," ujar Anang.


"Kalian sudah menikah?" tanya Anang.


"Tuh! Tejo saja yang sudah pernah menikah, tapi malah bercerai lagi," ujar Joko.


"Kamu tahu kalau yang jadi istrinya itu cewek yang kamu taksir sejak SMP?" sambung Joko sambil tertawa.


"Iya. Tejo sudah cerita tadi." sahut Anang.


"Padahal seingatku dulu, kamu mencoba memacari wanita itu, tapi dia selalu menolakmu. Eeh, malah dia menembak Tejo!" ujar Bowo yang ikut tertawa.

__ADS_1


Anang juga ikut tertawa.


__ADS_2