
Pertandingan gulat ditelevisi yang sekarang sudah dilarang untuk ditayangkan, belum ada apa-apa serunya, jika dibandingkan dengan adegan pergulatan dikamar kost Anang.
Pufftt...
Yang mana laki-laki yang katanya 'kuat'?
Pasti berani mengaku 'kuat' karena belum bertemu pasangan, yang modelannya macam Santi saja.
Buktinya, Anang meski berbadan tinggi besar, dengan otot perut sixpack, masih bisa menyerah dengan Santi.
Jadi, jangan coba-coba mengaku 'kuat', nanti bisa-bisa malah malu sendiri.
"Istirahat sebentar ya...?! Aku mengantuk!" kata Anang yang sudah terkapar, terbantai, terlentang diatas ranjang, sampai hampir tidak bisa bergerak.
"Iya," sahut Santi sambil mengganggu akal sehat Anang.
Yang benar saja!
Siapa yang sanggup?
"Santi...!" ujar Anang memelas.
"Apa?" sahut Santi dengan entengnya.
"Besok aku nggak bisa kerja kalau begini terus..." kata Anang merasa cemas.
"Kamu cuma ada undangan malam saja besok!" sahut Santi yang makin nakal, seolah-olah tidak perduli meski Anang sudah lemas.
Anang benar-benar kelelahan, tapi masih bisa terpengaruh dengan gerak-gerik Santi.
Untung saja Anang tidak punya riwayat penyakit jantung.
Bayangkan saja bagaimana jantung Anang bekerja memompa darah Anang, yang sesibuk itu.
Serangan demi serangan Santi tidak bisa ditolerir Anang.
Dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya yang hampir terkuras habis, Anang masih bisa mengambil alih wilayah teritorialnya, sebelum terbantai untuk yang terakhir malam itu.
Atau subuh itu?
Ah, bodo amat.
Anang tidak sempat melihat jam, mending langsung tidur saja.
Yang jelas, perasaan Anang, dia belum terlalu lama terlelap, tapi keributan dari ponsel Santi, yang berbunyi dan bergetar berulang-ulang, sudah mengganggu istirahatnya.
Anang tidak mau membuka matanya, meski suara ponsel Santi benar-benar berisik didengarnya.
Santi mendorong Anang sedikit yang masih bertelungkup diatasnya, lalu terasa seperti sedang menggerak-gerakkan tangannya.
Mungkin Santi sedang berusaha menggapai ponselnya, tapi Anang tidak mau bergerak dari atas Santi.
"Mas...! Geser sedikit...! Aku nggak bisa ambil ponselku!" ujar Santi.
Anang tidak mau bergerak, pokoknya tidak mau.
Anang masih sangat mengantuk, tidak ada yang boleh mengganggu tidurnya.
Ponsel Santi tetap berbunyi.
__ADS_1
"Mas...!" ujar Santi dengan suara memelas, lalu mengecup leher Anang.
Ya sudah, Anang yang akan ambilkan ponselnya.
Dengan tangannya yang meraba-raba, akhirnya Anang menemukan ponsel Santi.
Anang hanya membuka matanya yang terasa kering sebentar, sambil memberikan ponsel kepada Santi, lalu kembali memejamkan matanya, tanpa mau bergeser dari atas Santi.
Kalau Santi sesak nafas, itu urusan nanti.
Siapa suruh memaksa Anang bekerja terlalu keras.
Santi terdengar berbicara dengan seseorang diponselnya.
Terasa tangan Santi mengelus bagian belakang kepala Anang, makin membuat Anang merasa nyaman, dan membuatnya ingin tidur lebih lama.
Anang tidak terlalu mau memperhatikan apa yang Santi bicarakan, rasa ngantuk dan lelahnya masih menguasai Anang, yang hampir tertidur lagi meski Santi berbincang-bincang disitu.
Semakin Santi mengelus rambut Anang, Anang makin tidak ingat apa-apa lagi.
Anang kembali tertidur.~
Ketika Anang terbangun, dan mengangkat kepalanya lalu melihat Santi, mata Santi masih terpejam.
Santi hanya tertidur atau pingsan karena sesak nafas?
Anang mendekatkan wajahnya, ke hidung Santi.
Santi masih bernafas, malah terlihat lebih nyaman tidurnya.
Kalau begitu, Anang tidak perlu bergeser, biar saja Santi tertidur begitu, sambil Anang memandangi wajah Santi.
Anang tidak bisa membayangkan, bagaimana kalau Santi yang hampir kehilangan nyawa seperti Lia kemarin.
Apa Anang bisa tetap kuat melihatnya?
Santi lalu membuka matanya perlahan.
"Kamu sudah bangun!" kata Santi lalu memejamkan matanya lagi.
"Kita disuruh pergi ke studio Pak Robi sebentar. Katanya ada yang pak Robi mau bicarakan denganmu," sambung Santi.
"Kapan?" tanya Anang.
"Katanya tadi terserah saja. Pak Robi akan tetap distudio sampai nanti malam," sahut Santi.
Anang lalu mengambil ponsel Santi, dan melihat jam dilayar ponsel.
Sudah hampir jam sebelas siang.
"Masih ngantuk?" tanya Anang.
"Nggak terlalu... Aku cuma mau kamu tetap memelukku sebentar lagi," sahut Santi.
Anang tersenyum.
"Bilang kalau sudah puas...! Aku mulai lapar," kata Anang.
Santi lalu membuka matanya.
__ADS_1
"Mana ponselku?" tanya Santi.
Anang lalu memberikan ponsel kepada Santi.
"Kenapa?" tanya Anang.
"Aku pesan makanan. Kita makan disini saja, mandi, baru nanti pergi kekantor Lia, lalu lanjut lagi ke studio Pak Robi," sahut Santi sambil mengetik dilayar ponselnya.
"Pakai baju dulu... Nanti makanannya diantar, nggak mungkin membuka pintu hanya pakai handuk 'kan?!" ujar Santi.
"Berarti sudah puas dipeluknya?" tanya Anang.
"Belum...! Nanti lagi, aku juga lapar," sahut Santi sambil tertawa.
Anang lalu beranjak turun, dan memakai celana pendek, sambil menunggu pesanan makanan mereka diantar.
Ketika Anang duduk didekat kardus bawaan mereka dari kampung Anang, aroma harum keluar dari dalam situ.
"Mana guntingmu?" tanya Anang.
"Tuh, diatas sana!" sahut Santi menunjuk ke lemari pakaian.
Anang lalu berdiri dan mengambil gunting, kemudian membuka kardus yang tergeletak dilantai.
Yang berbau harum itu buah nangka yang sudah matang, diantara macam-macam camilan sampai belut asap juga ada, terbagi-bagi dalam beberapa kardus yang ada disitu.
Anang tertawa melihat isi bawaan mereka itu.
"Kenapa?" tanya Santi heran.
"Untung cepat dibuka. Bisa-bisa nangkanya busuk kalau masih dibungkus," sahut Anang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pantas saja kardus yang satu itu terasa sangat berat.
"Kita bagi dengan siapa, buah juga yang lainnya ini?" tanya Anang.
Santi melihat isi kardus-kardus, yang sudah terbuka.
"Hmmm... Kita bagi dengan Lia, Gita, Papaku mungkin juga mau itu," sahut Santi.
"Tapi bagi buahnya seperti apa? Pisau aja kita nggak punya," sambung Santi sambil tertawa.
"Kita pinjam dengan ibu kost saja, sekalian bagi nangka itu dengannya" ujar Anang lalu memakai kausnya dan berjalan keluar sambil membawa buah nangka itu.
"Kamu pakai baju! Jangan menggoda tukang antar makanannya nanti!" seru Anang sebelum melewati pintu kamar.
Anang tahu kalau Santi pasti cemberut, tapi nangka itu cukup berat, Anang harus buru-buru meminta tolong ibu kost membagi-bagi buah itu.
Ibu kost dengan cekatan memotong dan membagi-bagi buah, bahkan membantu Anang membungkus setiap potongan buah nangka itu.
Setelah memberi sepotong buah nangka, dan berterimakasih kepada ibu kost, Anang lalu kembali kekamar mereka, sambil membawa semua potongan buah yang terbungkus rapi.
Didalam kamar, makanan yang dipesan Santi juga sudah datang.
"Sudah?" tanya Santi.
"Sudah. Tinggal dibagi-bagi saja..." sahut Anang sambil meletakkan potongan-potongan buah, yang dimasukkan dalam satu kantong plastik besar, dilantai kamar didekat pintu.
"Aku lapar sekali!" ujar Anang, lalu pergi mencuci tangannya kekamar mandi.
__ADS_1
Begitu juga Santi yang menyusul Anang disitu, sebelum mereka memakan makan siangnya.