
Diperkampungan Anang, tidak ada yang namanya menunggu ayam berkokok, sebagai penanda kalau hari sudah pagi.
Suara sapu lidi yang bergesekan dengan tanah halaman, suara langkah kaki yang ramai, sambil sesekali terdengar suara seperti orang yang sedang mengobrol, bersahut-sahutan memecah kesunyian.
Kata Tejo, sekarang hampir musim panen, jadinya petani harus balapan dengan burung pipit, yang menjadi hama bagi padi yang sudah mulai menunduk, hampir siap dipanen.
Masih gelap, tapi orang-orang didesa itu yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani, sebagian besar sudah dijalanan menuju areal persawahan.
Begitu juga dirumah Tejo.
Anang yang berniat untuk ikut Tejo ke sawah, juga sudah bangun sejak tadi, dan membantu Tejo mempersiapkan bekal untuk mereka disawah.
Maklum, tidak ada wanita yang bisa ditunggu untuk mengantarkan mereka makanan, atau pun minuman, seperti petani-petani yang lain.
"Sebenarnya kamu bisa menyusul nanti..." ujar Tejo, sambil memasukkan beberapa barang kedalam keranjang.
"Kamu masih ingat sawah kami 'kan?" sambung Tejo.
"Ah, lalu aku ngapain dirumah? Aku ikut ke sawahmu, sekalian nanti melihat-lihat lahan yang dijual itu," sahut Anang.
Tejo akhirnya tidak berkomentar apa-apa lagi.
"Ayo kita pergi!" ajak Tejo, yang kelihatannya sudah siap dengan barang-barang bawaannya.
Ketika mereka tiba disawah milik Tejo, matahari baru saja keluar dari kaki perbukitan.
Tejo mengeluarkan barang dari keranjang, sedangkan Anang menyalakan api untuk merebus air.
Setelah menikmati teh panas, dan singkong rebus ditemani ikan kering, Anang dan Tejo, duduk-duduk memandangi persawahan, yang membentang luas memanjang didepan mereka.
Tejo hanya menjaga sawahnya, karena ada beberapa tetangga Tejo yang bekerja di persawahannya, sebagai tenaga harian, jadinya Tejo tidak terlalu sibuk bekerja.
Paling-paling diwaktu-waktu tertentu saja, barulah Tejo turun membantu didalam lumpur sawahnya.
Sesekali, Tejo menarik tali yang dipasang melintang, bersaling-silang ditengah sawah, agar kaleng yang menggantung ditali mengeluarkan suara, untuk mengusir burung-burung yang mendekat.
Lokasi sawah Tejo yang terletak tepat berbatasan dengan tanah yang dijual, membuat Anang bisa melihat tempat itu dari atas pondok Tejo.
Semak belukar yang tinggi memenuhi tanah, sepanjang jangkauan mata Anang bisa memandang.
Anang menatap lokasi itu sampai-sampai hampir melamun.
"Mau melihat-lihat kesana?" tanya Tejo, mengejutkan Anang.
"Iya," sahut Anang lalu meloncat turun dari atas pondok.
Tejo kemudian menyusul Anang, lalu bersama-sama dengan Anang, berjalan diatas pematang sawah menuju ke bagian timur sawah Tejo, yang jadi perbatasan dengan tanah yang dijual itu.
__ADS_1
Anang mencoba menggali tanahnya sedikit, untuk memeriksa apakah sesuai dengan ciri-ciri kontur tanah yang cocok untuk tanaman akasia, seperti yang diajarkan Setyo.
Setelah mengamati untuk beberapa waktu, Anang merasa yakin kalau tanah itu memang bisa untuk tanaman akasia.
"Disebelah sana tanahnya juga dijual!" celetuk Tejo, sambil menunjuk kebagian utara dari sawahnya.
Anang lalu melihat kearah yang ditunjuk Tejo.
"Tapi, yang sebelah sana, masih cukup mahal... Hmm... Nggak juga sih, sebenarnya nggak terlalu mahal, kalau dibandingkan dengan ukuran tanahnya," sambung Tejo.
Anang yang sejak tadi sedang berjongkok, lalu berdiri sambil memandang lahan, yang kelihatan mirip-mirip saja dengan lahan tempat dia berdiri sekarang.
"Memangnya berapa ukurannya?" tanya Anang.
"Lima puluh hektar. Tuh, sampai keujung sana!" sahut Tejo, sambil menunjuk jauh kearah barat.
"Terasa mahal karena uang untuk pembayarannya lumayan besar... Karena yang punya tanahnya, mau orang yang membelinya sekaligus, tanpa mau dipecah-pecah...
Kalau dibandingkan dengan harga dan ukuran tanah ini, masih jauh lebih murah, yang disebelah sana itu," sambung Tejo.
Tejo juga menyebutkan harga tanah itu kepada Anang.
Memang murah, kalau punya uangnya.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Uang yang Anang miliki belum sampai sebanyak itu.
"Apalagi aku!" ujar Tejo, sambil ikut tertawa pelan.
"Nggak terasa, sudah hampir jam tiga! Kamu belum lapar?" tanya Tejo, sambil melihat layar ponselnya sekilas.
"Belum. Masih kenyang dengan singkong tadi," sahut Anang.
"Ayo kita kembali ke pondok!" ajak Tejo.
"Tapi, bagaimana menurutmu tanahnya? Apa memang cocok dengan rencanamu untuk membuat perkebunan akasia?" tanya Tejo, sambil berjalan pelan dipematang sawah, dengan Anang yang menyusulnya dari belakang.
"Kalau yang aku lihat tadi, ciri-cirinya cocok dengan dikatakan kenalanku," sahut Anang.
"Katamu berapa lama baru bisa dipanen?" tanya Tejo.
"Kurang lebih tujuh tahunan paling cepat," sahut Anang.
"Selama itu... Lalu rencanamu nanti sambil menunggu, kamu mau ngapain?" tanya Tejo lagi.
Mereka sudah sampai dipondok Tejo, lalu kembali duduk disitu, dengan kaki menggantung.
__ADS_1
"Belum tahu...!
Karena sementara ini, aku belum bisa bernyanyi lagi. Kalau persidangan sudah berakhir, baru aku bisa bebas bekerja lagi dengan studio rekaman, tempatku waktu itu...
Sekarang saja, aku masih khawatir, karena aku yang mangkir dari kontrak di studio rekaman diluar negeri..." sahut Anang.
"Aku hanya berharap bisa mendapat hasil yang baik, dipersidangan..." sambung Anang.
"Jangan khawatir! 'Kan kamu bilang kalau kamu yakin nggak bersalah, pasti ayah Santi dan teman-temannya bisa membuktikannya nanti!" ujar Tejo.
Anang menghela nafas panjang.
Bayang-bayang Santi menari-nari dipikiran Anang.
Rasanya, Anang memang akan merasa kesulitan melupakan Santi secepatnya, selama masih harus mengikuti persidangan, dengan ayah Santi yang kemungkinan besar masih akan sering Anang temui.
Anang mengeluarkan ponsel dari saku celana pendeknya.
Santi belum mengabari apa-apa dengan Anang.
"Tejo! Kamu bisa hubungi orang yang menjual tanah itu sekarang... Atau kamu berikan saja kontaknya denganku, nanti aku yang bicara langsung," kata Anang.
Tejo lalu mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya, kemudian menyalakan layarnya.
Raut wajah Tejo, kelihatan aneh, seolah-olah ada yang membuatnya terkejut dengan yang dia lihat diponselnya.
Sebelum memberikan Anang nomor orang si penjual tanah, Tejo tampak sibuk mengetik-ngetikkan sesuatu dilayar ponselnya itu, sambil sesekali melirik Anang.
"Sebentar, ya! Ada yang sedang berkirim pesan denganku," celetuk Tejo.
Gelagat Tejo agak mencurigakan, tapi Anang tidak sempat berpikir terlalu jauh, karena Tejo lalu menyebutkan angka-angka, sambil Anang mengetik nomor itu diponselnya sendiri.
"Kamu ngomong saja, ya?! Aku mau bicara dengan seseorang dulu!" kata Tejo, lalu meloncat turun dari pondok, dan berjalan menjauh dari pondok.
Tejo terlihat menerima panggilan diponselnya, dan tidak mau Anang ikut mendengarkan pembicaraannya.
Anang hanya melihatnya begitu saja, lalu menghubungi kontak yang baru saja diberikan Tejo.
Dengan negosiasi yang berlangsung tidak terlalu lama, Anang berhasil meyakinkan penjual tanah, dan bisa menawarnya dengan harga yang cukup terjangkau.
Anang bisa bernafas lega.
Tinggal mengurus perjanjian jual beli dikantor desa, lalu mencari orang yang bisa bekerja membantunya membersihkan lahan, sebelum Anang menghubungi Setyo untuk membeli bibit.
Ketika Anang selesai bicara dengan orang diponselnya, Tejo juga baru kembali ke pondok.
"Ada yang mau membeli lahan yang sana!" celetuk Tejo sambil menunjuk lahan, yang tidak mampu dibeli Anang.
__ADS_1
Anang menghela nafas panjang.
Untung saja Anang cepat menawar lahan yang satu itu, kalau tidak, bisa-bisa lahan itu juga diembat orang lain.