
Pak Handoko terlihat intens berbicara dengan orang yang menemuinya.
Baik pak Handoko, maupun orang itu, memiliki perawakan yang sama, dengan gaya yang mirip-mirip juga.
Kalau dilihat-lihat dari wajahnya, kemungkinan laki-laki itu juga masih seumuran dengan pak Handoko.
Perasaan, sudah cukup lama Anang duduk menunggu didalam ruang kerja pak Handoko, tapi, pak Handoko masih berbincang-bincang dengan orang itu, dengan wajah sama-sama serius.
Anang melihat jam dilayar ponselnya, masih ada waktu kurang lebih satu setengah jam lagi, barulah jam makan siang.
Yang jadi masalahnya, Anang mulai bosan melihat-lihat akun f*cebooknya, karena bagi Anang, tidak ada satupun yang bisa menarik perhatiannya.
Iseng-iseng, Anang lalu membuka aplikasi wh*tsapp.
Toh, belum tentu pak Handoko akan memperhatikan gerak-gerik Anang disitu.
Seakan-akan sedang janjian dengan Santi, ketika Anang membuka kontak wanita itu, saat itu juga kontak Santi tiba-tiba daring.
Belum sempat Anang mengetik sesuatu untuk menyapa Santi, wanita itu sudah menghubungi Anang lebih dulu lewat panggilan video.
Buru-buru Anang menyambut panggilan itu, sebelum nada dering ponselnya mengganggu pembicaraan pak Handoko, dengan orang yang sedang bersamanya sekarang.
Masih sama seperti kemarin, Santi masih ditempat tidurnya, tampak berbaring menyamping, tersenyum manis meski dengan mata sayu.
"Aku lagi dikantor Papamu..." kata Anang, setengah berbisik.
"Oh... Lalu kamu nggak mau Papa mendengar percakapan kita? Gitu?" tanya Santi.
"Papamu lagi ada tamu... Sekarang masih mengobrol didalam sini," sahut Anang pelan.
"Kamu memangnya nggak rekaman hari ini?" tanya Santi.
"Hampir tiap hari, ada jadwalnya. Hanya saja, di jam siang seperti kemarin," sahut Anang.
Santi terlihat menguap, diseberang sana.
"Kalau masih mengantuk, kenapa sudah bangun?" tanya Anang.
"Nggak tahu... Beberapa hari belakangan, pasti terbangun di jam-jam segini..." sahut Santi.
Tahu-tahu Santi menyipitkan matanya, sambil tersenyum.
"Apa?" tanya Anang.
"Bagaimana foto-fotoku?" tanya Santi, dan terlihat hampir tertawa.
Anang menggigit bibirnya sendiri, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu memang mau membuatku gila disini..." kata Anang gemas.
Santi hanya tersenyum, sambil tetap melihat Anang diponselnya.
"Memangnya belum ketemu pacar baru?" tanya Santi.
Anang menggelengkan kepalanya.
"Belum sempat cari pacar baru!" sahut Anang asal.
Santi tertawa pelan seperti tertahan.
"Santi...! Apa kamu memang mau kita benar-benar berpisah?" tanya Anang pelan.
__ADS_1
"Jangan bahas itu...!" sahut Santi datar.
"Aku juga masih mau selesaikan kuliahku dulu..." sambung Santi pelan.
Santi lalu berbalik kesisi sebelahnya lagi, tapi, kali ini wanita itu tampak berhati-hati saat bergeser, jadi, tidak ada yang terlihat, yang bisa mengganggu otak Anang.
"Tanganku keram...!" celetuk Santi sambil tersenyum.
"Bagaimana rekamanmu?" tanya Santi, yang tampaknya memang mau mengalihkan pembicaraan mereka.
"Biasa saja... Kemarin sudah satu lagu yang selesai direkam. Tinggal tunggu mereka memastikan apa perlu diulang, atau tetap dipakai yang itu," sahut Anang.
"Hmmm... Baguslah kalau begitu! Mudah-mudahan tetap berjalan lancar-lancar saja," ujar Santi.
"Muka mu kenapa?" tanya Santi, sambil mengerutkan alis.
"Nggak apa-apa..." sahut Anang pelan.
Tampaknya, Santi merasa kalau Anang sedang berbohong dengan perasaannya yang galau dan kacau, karena Santi yang masih tidak mau membicarakan tentang hubungan mereka.
Atau paling tidak, Santi mungkin tahu kalau Anang merindukannya.
"Nggak usah banyak pikiran. Kalau ada sesuatu yang mau kamu bicarakan denganku, hubungi saja. Asalkan aku nggak sibuk, aku pasti menerima teleponmu," ujar Santi.
"Kalau sudah ketemu penggantiku, jangan lupa kabar-kabari ya!" sambung Santi, lalu tersenyum.
Anang mendengus kesal.
"Santi...! Memangnya kamu kira semudah itu aku bisa gonta-ganti pacar?" ujar Anang, yang hampir saja meninggikan suaranya.
Santi terdiam sebentar, sedangkan Anang melihat kearah pak Handoko, yang sempat melirik Anang, tapi, kembali fokus berbicara dengan orang didepannya.
"Aku hanya bercanda..." kata Santi pelan.
"Bagaimana kebunmu sekarang?" tanya Santi.
"Nggak tahu. Sudah beberapa hari ini aku tinggal," sahut Anang.
"Tapi, sudah selesai ditanam bibitnya semua?" tanya Santi.
"Sudah!" sahut Anang.
"Ada bibit yang mati?" tanya Santi lagi.
"Ada beberapa pohon yang mati," sahut Anang.
Dari ujung mata Anang, terlihat kalau orang yang berbincang-bincang dengan pak Handoko, sudah berdiri, dan berjalan keluar dari ruang kerja pak Handoko itu.
Tapi kelihatannya, pak Handoko seolah-olah memberikan Anang kesempatan untuk tetap mengobrol diponselnya, karena orang tua itu masih duduk dikursi kerjanya, tanpa pergi menghampiri Anang.
"Tamu Papamu barusan saja pergi," celetuk Anang.
"Apa ada yang terjadi disana?" tanya Santi.
"Nggak ada. Kenapa?" Anang balik bertanya.
"Tumben, kamu sampai ikut kekantor Papa," sahut Santi.
"Nggak ada apa-apa. Bosan kalau diam dirumah sendiri, makanya aku ikut saja dengan Papamu waktu dia mengajakku tadi," ujar Anang.
Anang memang sengaja menutup-nutupi semua kejadian yang dia tahu.
__ADS_1
Tetap saja rasanya, kalau bukan Anang yang patut memberitahu Santi, tentang apa yang terjadi.
Sebaiknya, biarkan saja Santi tahu semuanya dari ayahnya nanti, kalau ayahnya mau bercerita kepadanya.
"Belum waktunya pergi ke studio pak Robi?" tanya Santi.
Anang lalu melihat jam, disudut layar ponselnya.
"Belum. Sebentar lagi," sahut Anang.
"Mau lihat sesuatu?" tanya Santi.
"Apa?" Anang balik bertanya.
Santi terlihat berdiri dari tempat tidurnya, lalu seolah-olah sedang berjalan pelan, mengarah kesalah satu sudut dikamarnya.
"Bagus nggak?" tanya Santi enteng.
Mata Anang terbelalak, dengan mulutnya terkunci rapat, dan tidak bisa menjawab pertanyaan Santi.
Santi berdiri didepan cermin besar, dan memperlihatkan kepada Anang pantulan dari cerminnya.
Brengsek!
Santi memang brengsek!
Kalau cuma foto yang terdiam, dan tidak bergerak saja bisa membuat Anang sakit kepala.
Bagaimana kali ini?
Gaun tidur dengan sedikit renda dibagian tali bahunya, dan dibagian ujung roknya yang pendek diatas lutut.
Gaun yang sangat tipis menerawang, masih terlihat jelas, kulit dan lekuk tubuh Santi disitu.
Ditambah dengan gerakan Santi, yang bak model pakaian dalam yang sedang dipotret, membuat Anang makin gelisah.
Keringat sebesar butiran jagung, muncul di dahi Anang, dengan jantungnya yang berdebar-debar.
Anang hampir lupa dengan adanya pak Handoko diruangan itu.
"Bagus nggak sih?" tanya santi.
"Sebentar!" sahut Anang.
Anang lalu berdiri, dengan ponsel masih dipegang tangannya, menggantung dengan layar menghadap ke kaki Anang, tanpa memutus koneksi panggilan videonya itu.
"Toiletnya dimana, Pak?" tanya Anang kepada pak Handoko.
"Itu disebelah sana!" sahut pak Handoko, sambil menunjuk kesalah satu arah.
Buru-buru Anang berjalan keluar dari ruang kerja pak Handoko, dan ketika melihat papan bertanda toilet, Anang lalu masuk kedalam situ, kemudian duduk diatas kloset yang tertutup.
Ketika Anang melihat layar ponselnya, Santi hanya memperlihatkan wajahnya saja.
"Coba aku lihat lagi!" ujar Anang bersemangat.
Santi lalu tersenyum, kemudian melakukan permintaan Anang.
Anang menggigit bibirnya sendiri, dengan nafas memburu.
Berlama-lama Anang memandangi pantulan Santi dicermin, yang tampil dilayar ponselnya, tanpa berkata apa-apa.
__ADS_1
"Bagus?" tanya Santi.
"Bagus..." sahut Anang pelan, dan suara bergetar.