SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 69


__ADS_3

Santi tampak lemas, dan sangat kesakitan.


"Sakit perut karena salah makan atau apa?" tanya Anang.


Ponsel Anang, sudah Anang letakkan kembali kelantai, dan benar-benar menaruh perhatiannya kepada Santi.


"Kram datang bulan," sahut Santi yang makin merapatkan badannya kepada Anang.


"Mau aku ambilkan obat pereda nyeri?" tanya Anang, sambil memeluk Santi erat-erat.


"Iya. Tapi aku lupa, aku simpan dimana," sahut Santi pelan.


"Tunggu sebentar!" ujar Anang melepaskan pelukkannya dari Santi, lalu beranjak turun dari ranjang.


Perasaan, Anang pernah melihat obat pereda nyeri didalam laci meja.


Anang lalu memeriksa kedalam laci, dan untung saja memang ada disitu.


"Yang ini?" tanya Anang, sambil memperlihatkan satu strip obat, yang berbahan alumunium foil.


"Iya, itu!" sahut Santi.


Santi lalu duduk diatas ranjang, sambil Anang mengambilkan sebotol air, dan menyodorkannya kepada Santi.


Setelah Santi selesai meminum obatnya, Anang lalu berbaring diranjang sambil membawa Santi agar diam dipelukannya lagi.


"Kamu tadi mengirim pesan dengan siapa?" tanya Santi, yang bersandar didada Anang.


"Gita!" sahut Anang, berniat menggoda Santi.


"Oh," jawab Santi singkat.


Eh, kelihatannya berhasil!


Santi langsung berbalik, dan agak menjauh dari Anang.


Anang tersenyum puas.


Anang lalu menarik Santi kembali kedalam pelukkannya, meski Santi terlihat enggan, dan menolak pelukan Anang.


"Kamu cemburu?" tanya Anang mengejek Santi.


Santi memasang wajah garang, sambil mendorong Anang.


Kelihatan jelas kalau Santi sedang marah pada Anang.


"Aku hanya bercanda. Aku tadi membalas pesan dari kenalan lama. Itu juga bukan perempuan, tapi laki-laki," ujar Anang.


Anang kembali memaksa agar Santi mau dipeluknya.


"Aku sudah bilang kalau aku mencintaimu. Aku nggak ada niat bermain-main," ujar Anang sambil memeluk Santi erat-erat, lalu mengecup kepala Santi.


Anang kemudian mendecakkan lidahnya.


"Tapi kalau kamu masih nggak mau jadi pacarku, berarti aku memang harus cari calon istri baru," celetuk Anang.


Cubitan Santi mendarat tepat diperut Anang.


Anang meringis kesakitan, tapi masih bisa sambil tertawa.


"Lah, betul nggak? Masa aku harus bertahan menunggumu? Sampai kapan?" tanya Anang sok-sok'an, seolah-olah dia yang akan meninggalkan Santi.

__ADS_1


Sudahlah...


Kalau Santi menjawab 'Bodo amat', memang tamat riwayat cinta Anang.


Orang-orang hanya akan mendengar kegalauan, dan kemerana'an Anang nanti.


Tapi karena gelagat Santi yang sudah bisa cemburu dengan Anang, mungkin ini kesempatan yang tepat untuk Anang memastikan apa maunya Santi.


Setelah menunggu cukup lama, Anang masih tidak mendengar jawaban dari Santi.


"Gimana? Mau jadi calon istriku nggak? Atau aku harus cari calon istri yang lain?" tanya Anang.


"Nggak tahu. Terserah kamu. Asal kamu nggak menyesal aja," sahut Santi.


Wah!


Jawaban Santi sebenarnya punya dua arti, tapi Anang yakin kalau Santi menerimanya.


Anang juga yakin kalau dia sekarang sedang tersenyum lebar, dengan mata berkaca-kaca karena bahagia.


Atau hampir menangis dengan bibir melebar, karena cubitan Santi diputing payudara Anang sekarang, yang terasa sangat sakit.


"Santi! Sakit!" seru Anang dengan suara tertahan, sambil memegang tangan Santi, agar berhenti mencubitnya.


Santi hanya tertawa cekikikan, lalu melepas p*ting payudara Anang.


"Begitu rasa sakitnya kram perut, kalau lagi menstruasi. Jadi, jangan coba-coba menggangguku!" ujar Santi enteng.


Mau tidak mau, Anang hanya bisa terdiam, sambil mengusap-usap dadanya yang sakit.~


"Mau jalan-jalan denganku?" tanya Anang saat Santi baru selesai mandi pagi itu.


"Hmm... Bukannya diluar masih hujan? Mau kemana?" tanya Santi, sambil memakai pakaiannya.


"Oh... Bisa saja. Mau kemana? Maksudku ke toko apa?" tanya Santi, seraya menyisir rambut panjangnya yang masih basah.


"Aku mau ke toko perhiasan," sahut Anang.


Santi berhenti menyisir rambutnya dan menatap Anang.


Tampaknya Santi bingung dengan tujuan Anang yang tiba-tiba mau berbelanja perhiasan.


Santi lanjut menyisir rambutnya, dan mengibaskannya pelan.


"Oke. Sebentar aku pesankan taksi," sahut Santi yang terlihat buru-buru mengambil ponselnya, meski rambutnya masih belum selesai dia sisir.


"Sudah! Tinggal tunggu jemputannya datang," kata Santi, lalu lanjut menyisir sisa rambutnya yang masuh kusut.


Tidak menunggu terlalu lama, ponsel Santi kemudian bergetar beberapa kali.


"Ayo! Taksinya sudah datang!" kata Santi.


Rambut panjang Santi yang masih agak basah, ikut membasahi kemeja Anang, yang merangkulnya sambil berjalan keluar dari kamar kost.


Setelah sudah naik kedalam mobil, barulah Santi menyadari kalau kemeja Anang dibagian dada, jadi agak transparan.


Santi terkekeh


"Bajumu jadi tembus pandang," kata Santi, sambil mengusap dada Anang, dengan beberapa lembar tissue.


Pikiran Anang sekarang sedang kosong.

__ADS_1


Semangat tinggi dan rasa khawatir, yang muncul berganti-gantian di benak Anang, cukup membuat Anang jadi linglung.


Bagaimana tidak?


Anang berniat melamar Santi, dengan mengajak wanita itu yang memilih sendiri cincinnya.


Menikahi Santi dianggap Anang, adalah yang terbaik baginya, juga bagi Santi.


Niat yang baik, tapi Anang tidak tahu respon Santi nanti seperti apa.


"Tumben mau beli perhiasan!" celetuk Santi ketika mereka sudah berjalan-jalan didalam toko perhiasan.


Toko yang lumayan besar, dengan banyak etalase kaca yang menjadi tempat memajang banyak bentuk dan model perhiasan, dengan pencahayaan yang cukup menyilaukan mata.


Pandangan mata Anang tertuju pada etalase, yang berisi cincin-cincin, yang dipajang berpasang-pasangan.


Ketika Anang mengajak Santi mendekat ke etalase itu, Santi tidak mau dan hampir saja berjalan keluar dari toko, tapi Anang menahannya.


"Aku mau menikahimu... Tolong jangan kamu menolakku!" kata Anang pelan, dan dengan suara bergetar, sambil memegang lengan Santi.


"Tapi..." Santi belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Anang sudah memotongnya, dan memeluk Santi disitu.


"Aku mencintaimu. Tapi, kalau kamu menolakku, berarti sekarang, sudah waktunya kita berpisah jalan..." kata Anang bersungguh-sungguh.


Anang bisa merasakan kalau Santi sedang menganggukkan kepalanya, yang tersandar di dada Anang.


Anang lalu melepaskan pelukannya, dan melihat wajah Santi sambil memegang kedua tangan wanita itu.


"Kamu mau menikah denganku?" tanya Anang memastikan.


Santi hanya menganggukkan kepalanya, tanpa mengeluarkan suara apa-apa.


Tapi itu sudah lebih dari cukup, bagi Anang.


Anang merangkul Santi, dan membawanya kembali kedalam toko.


"Kamu yang pilih, mau yang seperti apa," kata Anang.


Sepasang cincin polos bertuliskan nama mereka berdua dimasing-masing cincin, jadi pesanan mereka untuk nanti.


Bukan itu saja, Anang juga membelikan Santi sebuah cincin dengan batu permata kecil yang cocok, dan terlihat indah dijari manis Santi.


Mereka berdua berjalan belum terlalu jauh dari toko perhiasan tadi, dan masih menyusuri, selasar pertokoan yang berjejer disitu, ponsel Anang berbunyi berulang-ulang.


"Halo!" sambut Anang.


"Anang? Ini aku Peter!" sahut suara dari seberang, yang ternyata Peter yang menghubungi Anang.


"Oh, iya. Ada apa?" tanya Anang.


"Apa kita bisa bertemu hari ini?" tanya Peter.


"Bisa. Kapan?" sahut Anang.


"Terserah kamu kapan bisanya saja," ujar Peter.


"Apa kamu mau temani aku bertemu dengan kenalan lamaku?" tanya Anang kepada Santi, sambil menjauhkan ponselnya dari wajahnya.


"Iya," sahut Santi.


"Sekarang juga bisa. Mau ketemu dimana?" sahut Anang.

__ADS_1


Peter lalu menyebutkan alamatnya kepada Anang, yang bisa jadi tempat untuk mereka bertemu.


__ADS_2