
"Tadi ada Lia menghubungiku. Katanya kita harus mengambil berkas ditempatnya untuk ditanda tangani," ujar Santi ketika mereka sedang duduk disalah satu warung makan untuk makan siang.
"Oh iya, permintaan untukmu bernyanyi sekarang lebih banyak, juga tumpang tindih. Jadi aku akan memilih yang tawaran imbalannya paling tinggi," kata Santi.
"Terus?" tanya Anang yang merasa ada sesuatu yang Santi sembunyikan.
"Hmm... Rata-rata undangan dengan tawaran tinggi itu untuk acara privat," kata Santi dengan wajah cemas.
"Maksudnya?" tanya Anang lagi.
"Pesta 'khusus' yang biasanya lagu-lagu pesanannya nggak banyak," ujar Santi dengan matanya yang bergerak liar kesana kemari.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu tersenyum.
"Pasti pesta yang aneh-aneh 'kan?!" ujar Anang, sambil menatap Santi lekat-lekat.
Santi terlihat seolah-olah sedang menahan rasanya untuk tertawa.
"Nggak semuanya. Tapi kamu nggak akan terlalu capek, karena kamu tidak perlu bernyanyi terlalu lama," sahut Santi, lalu buru-buru menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya, dan tidak mau menatap Anang.
Anang hanya tertawa.
Sudahlah...
Tidak ada salahnya juga menerima pekerjaan begitu.
Anang sudah dua kali menerima tawaran untuk pesta yang 'aneh', dan tampaknya tidak pernah ada masalah yang berarti.
Jam makan siang sudah terlewatkan lama sekali, dan Anang seakan kurang berselera makan saat rasa laparnya yang sempat timbul, lalu menghilang sejak distudio tadi.
Sebisanya saja Anang dan Santi memakan makanan didepan mereka, dari pada hanya terbuang begitu saja.
"Malam ini kamu tidak ada jadwal. Dari sini kita ke kantor Lia. Selesainya nanti, kita jalan-jalan, mau?" tanya Santi.
"Hmm... Bisa. Kamu mau kemana?" tanya Anang.
"Nanti deh! Aku juga nggak tahu mau kemana," sahut Santi.
Kelihatannya keceria'an Santi sudah mulai kembali.
Bagus saja.
Kalau begitu 'kan, Anang juga bisa lebih tenang.
Selesai menghabiskan makan siang yang terlambat, mereka kemudian mendatangi kantor Lia, dimana Lia sudah memang sudah menunggu mereka.
"Kita langsung saja ya?! Aku lagi terburu-buru." ujar Lia, yang kelihatan sangat bersemangat.
Anang dan Santi bertatap-tatapan sebentar lalu bersama-sama menatap Lia.
"Ah, kalian seperti nggak paham saja... Aku ada janji dengan kekasihku," kata Lia lalu tersenyum lebar.
Lia menyodorkan beberapa kertas kepada Anang dan Santi bergantian, untuk mereka berdua tanda tangani.
"Ada yang harus ditandatangani dari kecamatanmu, Mas! Tapi nggak usah kamu pikirkan, anak buahku akan mengurus semuanya, hanya untuk suntik tetanus saja yang harus Santi sendiri.
Nggak mungkin 'kan anak buahku menggantikan Santi untuk disuntik?!" ujar Lia sambil tertawa.
__ADS_1
Santi juga ikut tertawa disitu.
Anang hanya tersenyum, sambil memandangi Santi.
Semakin menyenangkan melihat Santi bisa tertawa lepas begitu lagi.
"Sudah, Mas! Nggak puas kah melihat Santi terus?" celetuk Lia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Santi lalu menoleh kearah Anang, lalu memegang pipi Anang dan mengelusnya pelan.
"Kalian mau membuatku menyetir pulang dengan kecepatan tinggi?" ujar Lia lagi yang tampak terganggu dengan sikap mesra Anang dan Santi didepannya itu.
Anang dan Santi hanya tertawa pelan, lalu buru-buru menyelesaikan semua berkas yang perlu mereka tanda tangani.
"Sudah semua?" tanya Santi.
Lia memperhatikan lembaran-lembaran kertas ditangannya.
"Sudah! Nanti kalau memang masih ada yang kurang, aku hubungi kalian lagi," kata Lia sambil berdiri dari duduknya.
Anang dan Santi juga ikut berdiri, dan berjalan keluar dari dalam bangunan kantor Lia, bersama-sama dengan Lia.
"Aku pulang duluan ya?!" kata Lia yang berjalan menuju parkiran mobilnya.
Sedangkan Anang dan Santi berjalan pelan menuju kepinggir jalan raya.
"Mau langsung jalan-jalan, atau balik kekost dulu?" tanya Santi.
"Terserah kamu saja," sahut Anang, sambil merangkul pinggang Santi.
Mereka berdua kembali kekamar kost, rencananya sekedar untuk meluruskan pinggang keduanya, yang terasa cukup pegal.
Santi yang bertelungkup, lalu bergerak naik dan menindih Anang.
"Aku menemukan lahan yang cukup luas yang dijual dengan harga miring. Aku rencananya akan membelinya untukmu, kalau kamu mau," kata Santi.
"Heh? Kamu memang mau kita jadi petani?" tanya Anang sambil merapikan poni Santi, yang terjatuh kewajah wanita itu.
"Aku 'kan bilang, kalau kamu mau?!" ujar Santi.
"Nanti saja. Jangan buru-buru! Takutnya nanti kamu berubah pikiran, lalu nggak mau jadi petani, terus mau diapakan lahan itu?" ujar Anang.
"Hmm... Benar juga." sahut Santi.
"Kalau begitu, aku mau ini saja sekarang," ujar Santi lalu mencium Anang disitu.
Anang memeluk Santi erat-erat dan membalas ciumannya.~
Anang batal mengistirahatkan pinggangnya.
Mau bagaimana lagi?
Menikmati candu Santi, bisa menghilangkan penatnya otak Anang dari masalahnya, yang sedang bergulir.
Ya, memang nggak menyelesaikan masalahnya, tapi paling tidak, 'kan otak Anang bisa berhenti berpikir sejenak.
Atau lama-lama?
__ADS_1
Ah, terserah Anang dengan Santi saja lah!
Sesuai kemampuan mereka saja, sanggupnya sampai berapa ronde.
Yang namanya ada kesempatan, siapa yang sok-sok'an mau menolak?
"Sudah tahu mau jalan-jalan dimana?" tanya Anang.
Santi yang masih bermain-main dengan jarinya didada Anang, tidak menjawab pertanyaan Anang.
"Katanya tadi mau jalan-jalan. Jadi nggak?" tanya Anang sambil tertawa pelan karena merasa geli.
"Belum tahu." jawab Santi.
"Apa kita ketaman ditengah kota saja?" sambung Santi yang masih rajin memancing keributan di jantung Anang.
"Bisa saja kita kesana nanti," sahut Anang.
Nanti benaran nanti, karena Anang sekarang sedang sibuk membalas gangguan Santi.
Anang tidak akan berhenti, sebelum Santi mengibarkan bendera putih.
Tapi ternyata, target Anang mungkin akan gagal.
Anang masih memacu kecepatannya, tapi ketukan dipintu kamar kost mereka, mengganggu konsentrasi Anang.
Mau tidak mau Anang harus menginjak rem ditengah jalan.
Klakson Santi yang menyuruh Anang lanjut, tidak sanggup membuat Anang menancap gasnya lagi.
"Nggak dengarkah?" tanya Anang, sambil membesarkan matanya kepada Santi.
"Pura-pura nggak dengar saja, toh sudah berhenti diketuk," sahut Santi.
Anang terdiam sebentar.
Benar juga.
Mungkin orangnya sudah pergi.
Ya sudah...
Anang melanjutkan perjalanannya, sampai mereka berdua tiba ditujuan.~
Setelah membersihkan diri seadanya, Anang yang sudah memakai celana pendek, masih penasaran dengan orang yang mengetuk pintu kamar mereka tadi.
Anang kemudian berjalan kepintu lalu membukanya, dan melihat-lihat keluar, tapi tidak ada seorangpun yang ada disekitar situ.
Anang lalu menutup kembali pintu kamarnya, dan ikut mandi dengan Santi.
Mereka masih berpakaian, setelah selesai mandi, ketukan dipintu kembali terdengar.
Anang melihat Santi yang belum selesai berpakaian, jadi Anang yang pergi membukakan pintu kamar.
Mata Anang terbelalak.
kedatangan tamu tidak diundang itu cukup mengejutkan bagi Anang.
__ADS_1
Ayah Santi terlihat berdiri didepan pintu kamar kost mereka.