
Setyo mengantarkan Anang dan Santi keterminal bus pagi-pagi sekali, setelah mereka menikmati sarapan beberapa potong roti, dan kopi panas.
"Anang kalau jadi mau buat kebun akasia, hubungi saja aku kalau butuh bantuan. Jangan sungkan-sungkan!" kata Setyo sambil menyalami tangan Anang dan Santi bergantian.
"Terimakasih banyak ya!" kata Anang.
"Sama-sama. Aku juga senang kalian berdua mau datang kesini. Kapan-kapan kalian jalan-jalan lagi kesini, dan yang terpenting waktu aku menikah nanti, kalian usahakan bisa datang ya?!" kata Setyo.
Setyo lalu melambaikan tangannya kearah Anang dan Santi, ketika Anang dan Santi sudah naik, dan duduk didalam bus.
Setyo masih menunggu diterminal, sampai bus yang ditumpangi oleh Anang dan Santi, berjalan menjauh dari situ.
"Lumayan berguna perjalanan kali ini..." celetuk Anang.
"Bukan cuma kerja, tapi bisa dapat bayangan untuk usaha baru," sambung Anang, sambil menggenggam tangan Santi.
"Bagus kalau kamu senang. Nanti setibanya dikost, kamu harus kerja lagi, jadi kamu harus tetap bersemangat," ujar Santi.
"Wah...! Kamu mau aku terus bekerja keras?!" ujar Anang sambil tersenyum.
"Iya dong! Masa aku yang kerja keras," sahut Santi.
Paham saja maksud percakapan Anang dan Santi sekarang 'kan?
Ah, sudahlah...
Jangan membahas sesuatu yang bisa memancing Santi.
Sudah cukup Santi menahan diri sejak kemarin pagi, sampai ke pagi ini lagi.
Bayangkan apa yang akan terjadi nanti kalau Santi sampai 'kumat', sedangkan perjalanan mereka masih akan memakan waktu yang cukup lama.
Apalagi percakapan Anang dan Santi hanya akan membuat orang-orang yang jomblo, jadi iri dan sakit hati.
Lebih baik menikmati pemandangan disepanjang perjalanan kembali ke kota asal mereka berdua.
Sayangnya pepohonan rindang diperjalanan itu, sudah dilihat Anang dan Santi kemarin, jadi hari ini agak membosankan bagi mereka untuk melihatnya lagi.
Ada sebagian saja yang menarik perhatian mereka berdua cukup lama, sebelum akhirnya Anang dan Santi tertidur, dihampir sepanjang waktu perjalanan pulang.
Setibanya diterminal bus, tanpa menunda-nunda lama-lama, Santi langsung memesan taksi untuk mengantarkan mereka kembali ke kost-kostan.
Saat Santi akan memesan taksi, saat itu juga Santi terlihat terpaku lama dilayar ponselnya, dan tampak agak gelisah.
__ADS_1
Untuk beberapa waktu Santi menatap ponselnya disitu, kemudian menunjukkan layar ponselnya kepada Anang.
"Ada apa?" tanya Anang yang penasaran, saat melihat gelagat Santi, yang terlihat kurang tenang.
"Kelihatannya kita belum bisa pulang ke kost-kostan. Kita langsung ke studio rekaman pak Robi saja dulu." ujar Santi yang terdengar lemas.
Anang kemudian membaca tulisan, yang ada diponsel Santi.
Mata Anang terbelalak.
Artikel yang dikirimkan Pak Robi, kepada Santi memang cukup mengganggu pikiran Anang dan Santi.
Memang di artikel itu tidak menuliskan nama lengkapnya, tapi inisial AY, kelihatannya memang merujuk kepada Anang.
Single Anang yang dirilis label pak Robi, ternyata sekarang sudah masuk tangga atas daftar pencarian lagu.
Tapi sayangnya, single itu kini diklaim seseorang atau salah satu label rekaman, bahwa Anang melakukan plagiarisme dari lagu aslinya, yang berbahasa asing.
Memang mengecewakan bagi Anang.
Anang menggubah lagu itu, tanpa ada referensi dari lagu orang lain, benar-benar spontan saja waktu itu, saat Anang sedang bersama Santi dan Gita.
Anang menghela nafas panjangnya, yang terasa berat.
Setelah Anang selesai membaca artikel, Anang lalu mengembalikan ponsel kepada Santi.
"Masih," sahut Anang pelan.
"Kamu perlihatkan saja itu kepada pak Robi. Itu bisa menjadi bukti untuk membantu label pak Robi, dan kamu nanti," kata Santi.
Santi lalu memesan taksi, dan menuju ke studio rekaman pak Robi.
Diperjalanan menuju studio Pak Robi, Anang memikirkan semuanya.
Sebenarnya ada rasa senang, karena lagu Anang bisa diterima masyarakat.
Belakangan ini, Anang memang tidak pernah mendengar lagu-lagu online yang baru tenar.
Anang hanya berfokus dengan lagu-lagu pesanan orang untuknya bernyanyi, jadi Anang tidak tahu kalau lagunya sudah mendapat tempat dipencarian terbanyak.
Anang memeriksa ponselnya sendiri, dan melihat di aplikasi pemutar lagu yang terpasang disitu.
Cover single Anang tampaknya dibuatkan oleh label pak Robi.
__ADS_1
Hanya bertuliskan nama Anang Yoga, dengan gambar gitar akustik disitu.
Begitu juga judul lagunya, rasanya waktu itu Anang tidak mengatakan judulnya, tapi disitu tertera judul lagu yang dinyanyikan Anang itu.
Berarti semua ditangani label pak Robi, dengan baik, sampai-sampai bisa setenar itu.
Tapi, dengan adanya tuduhan plagiat, membuat Anang cukup merasa cemas dan sedih.
"Nggak usah terlalu dipikirkan. Kamu punya bukti kalau itu bukan hasil plagiat. Pak Robi pasti bisa mengatasi tuduhan palsu begitu," kata Santi sambil menggenggam tangan Anang, dan mengelusnya pelan dengan jari jempolnya.
Anang hanya terdiam, tanpa tahu harus menanggapi apa dengan Santi.
"Lagu yang mana yang kamu rekam di studio pak Robi? Apa itu lagu yang kamu unggah di f*cebook?" tanya Santi.
"Bukan itu. Masih ingat lagu yang aku nyanyikan untukmu dan Gita waktu itu? Itu lagunya yang diminta pak Robi untuk dijadikan single," sahut Anang.
Lagu indah yang menyentuh tiga sisi emosi orang yang mendengarnya.
Wajar saja kalau itu bisa cepat naik daun, dan mudah diterima banyak kalangan penggemar musik.
"Iya aku ingat," sahut Santi.
Santi lalu memeriksa tas kecilnya, kemudian mengeluarkan earphone dari situ.
"Katanya sudah tenar, berarti bisa kita temukan di aplikasi musik online 'kan? Aku mau mendengarkannya," kata Santi.
Anang lalu menyambung earphone keponselnya, dan menyalakan lagunya, sementara Santi memasang speaker earphone di kedua telinganya.
Santi senyum-senyum sendiri saat mendengar lagu itu, sambil sesekali melirik Anang.
"Lagunya dan suaramu, jadi lebih bagus setelah direkam secara profesional," celetuk Santi sambil melepaskan earphone dari telinganya.
Santi memeluk Anang erat-erat.
"Aku akan menikahi penyanyi terkenal," bisik Santi sambil tertawa pelan.
Anang ikut tertawa dan mengecup kepala Santi.
"Jangan terlalu bangga! Kita masih belum tahu hasil dari tuntutan plagiat itu," kata Anang datar.
"Yakin saja kalau pak Robi bisa mengatasinya. Apalagi kamu punya bukti rekaman aslinya, disitu pasti tertera waktu ketika kamu membuat lagu itu," kata Santi yang tampak berusaha untuk menenangkan Anang.
"Ah, nggak usah dipikirkan sekarang. Nanti kalau sudah ketemu Pak Robi, baru kita akan tahu bagaimana nanti," sambung Santi yang tetap memeluk Anang.
__ADS_1
Benar kata Santi, Anang tidak mengerti hal begitu, mau tidak mau tinggal melihat bagaimana tanggapan dan cara kerja label pak Robi.
Anang hanya bisa berharap kalau pak Robi dan labelnya bisa menang dari tuntutan, yang bisa merugikan Anang dan label pak Robi.