SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 175


__ADS_3

Pak Handoko lalu mengajak Anang pulang kerumahnya, setelah semua urusannya untuk hari itu dianggap sudah selesai.


Ketika Anang disuruh pak Handoko untuk beristirahat dikamar Santi, yang dipakai Anang untuk tidur semalam, Anang menolak, karena rasanya, Anang memang belum se-lelah itu untuk berbaring.


Anang memilih untuk duduk bersantai diteras samping rumah pak Handoko.


Tempat itu memang jadi tempat favorit untuk bersantai.


Taman bunga, tanaman buah, dengan segala sesuatu yang ada disamping rumah pak Handoko, bisa membuat pikiran terasa lebih tenang.


Pak Handoko juga menyusul Anang untuk duduk-duduk bersantai disitu, dan disusul asisten rumah tangga pak Handoko, yang mengantarkan pak Handoko dan Anang, minuman dan sedikit camilan.


"Apa mungkin Santi sebenarnya tahu kelakuan Peter dengan Wina?" tanya pak Handoko tiba-tiba memecah kesunyian, saat mereka berdua memandangi taman itu.


Anang menoleh kesamping, melihat pak Handoko yang duduk didekatnya.


"Karena saya menduga, Peter dan Wina sudah berselingkuh sejak lama..." sambung pak Handoko.


Anang tidak mau menanggapi perkataan pak Handoko, meski Anang tahu tentang itu, karena Santi sudah pernah menceritakannya kepada Anang.


Anang memilih untuk berdiam diri, dan mengunci mulutnya rapat-rapat.


"Sikap Santi saat melihat Wina atau Peter, sama... Santi kelihatan sangat membenci mereka berdua," kata pak Handoko.


"Saya benar-benar bodoh... Bahkan waktu itu, saya malah sempat percaya dengan Peter, dan menyepelekan Anang..." sambung pak Handoko dengan nada penyesalan.


"Saya harap, Anang benar-benar bisa memaafkan saya..." ujar pak Handoko pelan, dan tampak sangat terbeban dengan kesalahannya.


"Bapak nggak perlu memikirkan itu lagi... Saya tidak menyalahkan, atau menganggap Bapak orang yang buruk. Saya anggap itu semua wajar, karena Bapak belum mengenal saya," kata Anang.


"Terus terang saya khawatir, kalau mungkin karena sikap saya waktu itu terhadap Anang, yang membuat Anang tidak bisa bersikap, seperti saya adalah bagian dari keluarga Anang," ujar pak Handoko.


"Bukan begitu, Pak...!" ujar Anang pelan.


"Saya hanya masih merasa canggung saja..." sambung Anang.


"Kalau begitu, apa saya terlalu memaksa Anang, agar jadi keluarga saya?" tanya pak Handoko.


Anang menggaruk kepalanya.


"Sedikit..." sahut Anang, lalu tersenyum.


Pak Handoko tersenyum lebar.


"Saya tahu kalau saya kelewatan...


Tapi, semakin saya mengenal Anang, saya memang menjadi semakin mau, agar Anang jadi bagian dari keluarga saya...


Baik Anang nanti jadi menikah dengan Santi atau tidak, Anang tetap akan saya anggap seperti anak saya sendiri...


Jadi, sebaiknya Anang membiasakan diri, dan jangan merasa canggung lagi," kata pak Handoko.


"Tetap saja, itu namanya pemaksaan, Pak!" sahut Anang bercanda, dan hampir tertawa.


"Silahkan tuntut saya kalau begitu!" ujar pak Handoko, membalas Anang.


Pak Handoko dan Anang akhirnya tertawa terbahak-bahak.


Rasanya setelah tertawa lepas seperti itu, beban dipundak keduanya menghilang, dan membuat mereka merasa sedikit lebih lega.

__ADS_1


Baik Anang maupun pak Handoko, terlihat santai sambil menikmati minuman, dan camilannya disitu.


Ponsel pak Handoko lalu berbunyi, ketika mereka masih duduk disitu, dan laki-laki itu kemudian melihat layar ponselnya sebentar.


"Saya masuk dulu, ya! Ada berkas yang harus saya siapkan!" ujar pak handoko, lalu buru-buru berdiri, dan berjalan masuk kedalam rumah.


Lama kelamaan termangu diluar situ sendiri, dan melihat ayunan tempat dia pernah duduk dengan Santi, membuat Anang teringat dengan wanita itu.


Anang mengeluarkan ponselnya, lalu melihat layarnya.


Di aplikasi wh*tsapp, kontak Santi baru saja aktif beberapa menit yang lalu.


Meski merasa agak ragu, Anang mencoba mengirim pesan kepada Santi.


'Sibuk?' ketik Anang, lalu mengirimkannya tanpa mau berpikir panjang lagi.


Anang tetap menatap layar ponselnya, sampai pesan itu bercentang dua, begitu juga warnanya yang tak lama berubah jadi biru.


Untuk beberapa waktu Anang menunggu, pesannya tidak dibalas Santi.


Sudah dibaca, tapi tidak dibalas...


Semestinya Anang tidak mengirimkan pesan kalau begitu.


Baru saja Anang akan menyimpan ponselnya lagi, ponselnya berbunyi dan bergetar panjang.


Santi menghubungi Anang lewat video call.


Buru-buru Anang merapikan rambutnya, dan menyambut panggilan itu.


"Halo, Mas!" sapa Santi dari seberang, sambil tersenyum manis.


Heh?


"Halo! Kenapa rambutmu dipotong?" tanya Anang heran.


"Eh! Rambutku lebih penting dari pada kabarku?" tanya Santi, lalu tersenyum lagi, dan hampir tertawa.


"Hmmm... Bagaimana kabarmu?" tanya Anang.


"Baik-baik saja, sayang...!" ujar Santi lalu tertawa.


"Kamu mengejekku?" tanya Anang serius.


"Heh? Aku sudah nggak bisa lagi memanggilmu sayang?" Santi balik bertanya.


"Kamu pergi meninggalkanku, lalu kamu bilang masih sayang denganku?" ujar Anang.


Raut wajah Santi berubah drastis.


"Apa kamu menghubungiku, cuma untuk bertengkar denganku?" tanya Santi.


Anang terdiam.


"Kalau begitu, kita berhenti ngobrol saja?" tanya Santi lagi, dan seakan-akan bersiap untuk memutuskan panggilannya.


"Tunggu!" kata Anang.


"Aku bukan mau bertengkar denganmu... Aku hanya mau tahu kabarmu disana," sambung Anang.

__ADS_1


"Hmmm..." Santi menggumam.


"Itu saja?" tanya Santi.


"Bagaimana kuliahmu?" tanya Anang.


"Biasa saja... Belajar dikampus, pulangnya nanti ngerjakan tugas... Begitu-begitu saja," sahut Santi datar.


"Hmmm..." Anang bergumam.


Anang kebingungan mau bicara apa, karena sebenarnya Anang hanya ingin melihat Santi saja.


"Kamu lagi dimana?" tanya Santi.


"Aku lagi dirumah Papamu," sahut Anang.


"Kamarmu aku pinjam dulu, untuk sebulan ini ya?" sambung Anang.


"Kamu tinggal dirumah Papa?" tanya Santi heran.


"Iya, sementara ini. Aku mau merekam lagu-lagu untuk satu album, dengan label pak Robi," sahut Anang.


"Bagaimana dengan kebunmu?" tanya Santi.


"Bagaimana kamu tahu kalau aku punya kebun?" Anang balik bertanya.


"Papa, yang memberitahu aku," sahut Santi terdengar asal, lalu melihat kearah lain sebentar, seolah-olah ada yang mengalihkan perhatiannya, sebelum dia kembali melihat ponselnya lagi.


"Kamu nggak berbohong denganku?" tanya Anang memastikan.


"Tejo yang memberitahu aku. Katanya, setelah aku pergi, kamu kembali ke kampungmu, lalu membuka kebun disana," sahut Santi.


"Kamu masih sering berhubungan dengan Tejo?" tanya Anang.


"Sesekali, iya!" sahut Santi, lalu kembali melihat kearah lain, dan berbicara dengan bahasa asing.


"Mas! Aku pergi dulu! Dosen sudah masuk di ruanganku," kata Santi buru-buru, lalu memutuskan sambungan video call-nya, tanpa menunggu jawaban Anang.


Anang merasa, pembicaraannya dengan Santi berlangsung datar.


Hanya seperti teman yang saling menghubungi, untuk sekedar menyapa.


Bagaimana situasinya kalau Santi berbicara dengan Tejo?


Apa hanya seperti saat berbicara dengan Anang tadi?


Atau mungkin bisa lebih mesra?


Santi memang mengakui kalau dia masih bisa berhubungan dengan Tejo, tapi, seberapa sering mereka berdua saling menghubungi, dan apa saja yang mereka bicarakan.


Selama ini... Selama ini saja, Anang terpisah dari Santi, baru dua kali Anang bisa bicara dengan wanita itu.


Itupun hanya bisa bicara sedatar itu.


Untuk apa Santi saling menghubungi dengan Tejo?


Semakin Anang memikirkan semuanya itu, Anang jadi semakin penasaran.


Tapi, Anang tidak mau bertanya dengan Tejo.

__ADS_1


Anang kemudian terpikir, jikalau Anang bisa lebih sering menghubungi Santi, kemungkinan ada waktunya Santi akan kelepasan untuk membicarakan, apa yang sering jadi pembahasan antara Tejo dengannya.


__ADS_2