SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 188


__ADS_3

Selama kurang lebih empat hari pak Handoko ikut tinggal dikampung Anang, hampir tiap hari mereka berjalan-jalan mencari rumah, atau tanah pekarangan yang dijual, tapi tidak membuahkan hasil.


Sampai pak Handoko kembali ke kota, belum ada yang mau menawarkan rumah atau tanahnya untuk dijual.


Meskipun begitu, pak Handoko tampaknya tidak berputus asa, dan tetap memesan kepada Anang dan Tejo, untuk mencarikan tempat tinggal untuknya dikampung itu.


Sepeninggalnya pak Handoko, kegiatan Anang dan Tejo kembali seperti biasa.


Anang yang kembali sibuk merawat kebunnya, begitu juga Tejo yang kembali memantau sawahnya.


Semua gelagat aneh antara Tejo dan pak Handoko, yang seolah-olah menyembunyikan sesuatu dari Anang, selama pak Handoko tinggal dikampung itu, juga sudah dilupakan Anang.


Semakin lama, Anang juga jadi semakin akrab dengan pekerja-pekerja dilahan tetangga.


Ketika pekerjaan dikebun tidak ada yang perlu dikerjakan, atau dirumah Tejo juga tidak ada yang mendesak yang harus Anang lakukan, Anang biasanya pergi berkumpul dengan pekerja-pekerja dilahan tetangganya itu.


Entah hanya sekedar berbincang-bincang santai, atau bernyanyi sambil bermain gitar bersama, atau terkadang mereka memperlihatkan kepada Anang, permasalahan yang terjadi pada tanaman, yang sering menggagalkan pertumbuhannya.


Semua rutinitas Anang itu berlanjut hingga beberapa bulan berikutnya.


Semakin sering Anang menghabiskan waktu dengan pekerja-pekerja dilahan itu, semakin banyak yang Anang mengerti tentang perkebunannya.


Apalagi, terkadang pekerja-pekerja itu ikut pergi membantu Anang untuk merawat kebun milik Anang.


Kebun Anang jadi lebih terawat, dengan semua tanamannya yang berkembang dengan baik.


Tejo yang sesekali ikut berjalan-jalan didalam areal kebun milik Anang, juga tampak terpukau dengan tanaman padi disitu.


Tanaman padi Anang sudah berbuah dan tinggal hitungan hari siap untuk dipanen.


Kalau tidak salah, setelah Anang menghitung waktu sejak Anang menanamnya waktu itu, kurang lebih sekitar hampir enam bulan.


Pekerja-pekerja dilahan tetangga sudah berjanji dengan Anang, kalau mereka juga nanti akan membantu Anang memanen padi dikebunnya.


Tanaman padi dilahan tetangga sudah lebih dulu siap panen, dan mereka masih memanen padi disitu.


Anang dan Tejo juga dengan sukarela membantu proses pemanenan, yang dilakukan pekerja-pekerja dilahan itu.


"Menarik!" celetuk Tejo, ketika mereka sedang berisitirahat sebentar untuk minum, dari kegiatan memanen padi, didepan barak dilahan tetangga itu.


"Apanya?" tanya Anang.


"Padinya... Hasilnya lumayan juga..." sahut Tejo, sambil menunjuk tumpukan karung berisi gabah hasil panen, yang sudah dilakukan beberapa hari ini.


Beberapa karung goni, bertumpuk tinggi diteras depan barak.

__ADS_1


"Kalau dilihat-lihat, hari ini kelihatannya akan selesai dipanen semua padinya," ujar Tejo.


"Mungkin..." sahut Anang.


"Besok, sudah bisa pindah panen dikebunmu lagi," ujar Tejo.


Anang melihat kearah tanaman padi dilahannya yang sudah menguning dan menunduk.


"Iya," sahut Anang.


"Dikebunku paling-paling waktu panennya kurang lebih sama dengan disini," sambung Anang.


Tejo kemudian kembali melanjutkan kegiatan memanen padi bersama Anang, untuk membantu pekerja-pekerja lahan itu.


Mereka melewatkan jam makan siang, karena pekerjaan memanen itu sudah kepalang tanggung kalau harus beristirahat, sedangkan tinggal sedikit lagi sudah selesai dipanen.


Setelah semua tanaman padi dilahan itu sudah selesai dipanen, barulah mereka semua beristirahat diteras depan barak.


Ketika Anang dan Tejo hendak berpamitan pulang, pekerja-pekerja itu menahan mereka berdua, agar ikut makan siang bersama disitu.


Dengan lauk sederhana, tetap saja nikmat kalau dimakan saat perut yang memang sudah terasa lapar, dan dimakan beramai-ramai seperti itu.


Sambil menikmati makan siangnya, mereka sesekali bersenda gurau dan bercerita sekedarnya, yang membuat suasana disitu semakin menyenangkan.


Lelahnya bekerja dibawah terik matahari, tidak terasa bagi mereka semuanya lagi.


Sebelum Anang dan Tejo pulang, pekerja-pekerja disitu masih memberikan beberapa karung gabah untuk mereka berdua, tapi, Anang dan Tejo menolaknya dengan halus, kemudian mereka berdua berjalan pulang.


Anang dan Tejo masih di areal perkebunan itu, ponsel Tejo tiba-tiba berdenting beberapa kali, dan Tejo terlihat mengeluarkan benda itu dari saku celananya.


"Anang! Kamu duluan saja kerumah! Aku masih mau singgah dipondokku dulu!" ujar Tejo, setelah melihat layar ponselnya sebentar.


Anang hanya menganggukkan kepalanya, dan terus berjalan lurus, sedangkan Tejo berbelok kearah pondok sawahnya.


Ponsel Anang pagi tadi ketinggalan dirumah, karena masih diisi daya, dan Anang juga mau memeriksa kalau-kalau ada Santi menghubunginya.


Jadi, Anang tidak terlalu menghiraukan Tejo yang mau singgah dipondoknya, dan tetap terus berjalan, berniat agar cepat sampai dirumah.


Dari kejauhan, Anang bisa melihat kalau Tejo tampaknya sedang menghubungi seseorang, dengan ponsel menempel ditelinganya.


Anang hanya melihatnya sekilas, lalu kembali fokus kejalannya, karena Anang sudah tidak heran lagi dengan gerak-gerik Tejo.


Belakangan, Tejo memang semakin sering dilihat Anang, sedang berbicara dengan seseorang diponselnya, dan tampak berusaha agar Anang tidak tahu dengan siapa dia bicara, atau apa yang dia bicarakan disitu.


Terserah Tejo saja.

__ADS_1


Kalaupun Tejo sedang saling menghubungi dengan Santi, Anang juga tidak mau mempermasalahkan hal itu.


Jalani saja, dan lihat nanti berakhir dimana.


Dengan cepat Anang berjalan menyusuri jalan perkampungan, dan setibanya dirumah, Anang lalu melihat ponselnya, yang masih tersambung di listrik.


Hari ini, tidak ada Santi meninggalkan pesan apa-apa untuk Anang, meski sekarang kontaknya baru saja berhenti daring.


Memang baru saja, tanda waktu dibawah kontak Santi, masih hitungan menit Santi keluar dari aplikasi itu.


Anang kemudian mencabut ponselnya dari sambungan pengisi daya, lalu mengirimkan pesan untuk Santi.


'Sibuk?' ketik Anang lalu mengirimkannya kekontak Santi.


'Nggak'


'Ada apa?'


Tidak berapa lama, Santi sudah membalas pesan Anang.


Tidak ada apa-apa, Anang hanya mau menghubunginya saja, jadi Anang tidak tahu harus membalas apa kepada wanita itu.


Anang hanya menatap layar ponselnya, sambil memikirkan alasan apa yang membuatnya ingin bicara dengan Santi.


Untuk beberapa waktu lamanya, Anang hanya terdiam, Anang benar-benar tidak ada ide yang bisa dijadikan alasan baginya.


Untung saja, Santi yang lebih dulu menghubungi Anang lewat panggilan video, dan Anang buru-buru menyambutnya.


"Kenapa mengirim pesan, lalu nggak mau membalas pesanku lagi?" tanya Santi dari seberang.


"Aku tadi masih mengambil air minum," sahut Anang asal.


"Baru datang dari kebun?" tanya Santi.


"Iya. Tadi, aku dan Tejo membantu memanen padi dikebun tetangga," sahut Anang.


Santi mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku sudah tahu... Barusan aku bicara dengan Tejo," ujar Santi.


"Katanya, mulai besok, padi di kebunmu lagi yang dipanen," sambung Santi.


"Iya..." sahut Anang pelan.


Berarti, Tejo memang menyembunyikan pembicaraannya dengan Santi, dan kemungkinan besar, semua hubungan diponsel yang dilakukan Tejo sambil menghindari Anang, adalah saat Tejo berbicara dengan Santi.

__ADS_1


"Kamu yang menghubungi Tejo duluan?" tanya Anang.


"Iya, ada yang mau aku tanyakan dengannya tadi," sahut Santi.


__ADS_2