
Santi tampaknya baru saja kembali dari berbelanja kebutuhannya, dan 'kebutuhan'nya bersama Anang, kemudian menyusun barang belanjaannya di meja.
Minimarket letaknya hanya diseberang kost-kost'an, tapi Santi lama sekali baru kembali kekamar kost.
Ketika Anang akan melewati Santi, wanita itu seakan sengaja hendak menghadang langkah Anang.
"Gimana? Enak nggak?" bisik Santi kepada Anang.
Setelah Anang mendengar pertanyaan Santi, Anang jadi yakin, kalau wanita itu memang sengaja berlama-lama disana tadi.
"Enak!" sahut Anang ketus dan asal, lalu berjalan melewati Santi.
Santi memang keterlaluan, dan memang membuat Anang merasa kesal dengan tingkahnya.
Santi membuat Anang benar-benar merasa seolah-olah Anang adalah lelaki brengsek, yang akan mengambil setiap kesempatan.
Ada benarnya sih, tapi tidak sampai segitunya.
Anang masih punya hati, dan masih tahu kapan dia harus istirahat, agar lututnya tidak kering.
Anang melihat Gita yang masih duduk bersila dilantai, menunggu Anang, sambil menundukkan kepalanya sedikit.
Anang menghela nafas panjangnya yang terasa sangat berat.
Rasanya Anang tidak tega melihat Gita yang tampak seperti orang bodoh begitu.
Wanita berpendidikan dengan pekerjaan yang baik, tapi hampir menjadi rendahan cuma gara-gara cinta.
Anang kemudian ikut duduk disamping Gita, dan Gita menoleh kepada Anang, sambil tersenyum.
Senyuman Gita tampak seperti senyum terpaksa, karena raut wajahnya terlihat sedih.
Anang tersenyum kepada Gita, lalu membuka bungkusan makanannya.
"Kamu tinggal dimana?" tanya Anang sambil menyuap nasi uduk kedalam mulutnya.
"Nggak jauh dari sini, kurang lebih satu blok," sahut Gita yang sekarang sudah tampak lebih baik, tidak terlalu sedih lagi seperti tadi.
Kalau Anang berteman dengan Gita, tampaknya tidak ada masalahnya.
Asal Gita tidak mengamuk seperti malam itu saja.
Anang juga sudah tidak mempermasalahkan gitarnya yang rusak. Sudah terlanjur, dan sekarang Anang sudah membeli gitar yang baru.
"Oh... Dekat saja dari sini," ujar Anang.
"Iya. Aku sengaja ngekost disitu, biar dekat dengan kantor," sahut Gita yang juga menyuapkan makanannya kemulutnya.
Tak lama, Santi ikut duduk didekat mereka.
Anang hanya melihat Santi sekilas, lalu lanjut berbicara dengan Gita sambil memakan sarapan nasi uduknya.
__ADS_1
"Sudah lama tinggal disitu?" tanya Anang masih memperhatikan Gita.
"Hmm... Lumayan. Sejak diterima bekerja dikantor itu, aku langsung pindah dari rumah orang tuaku, kesitu," sahut Gita.
"Kalian kenapa pindah kesini?" sambung Gita.
"Tempat kost lama, sudah rawan banjir. Nggak aman lagi untuk ditinggali nanti," sahut Anang.
"Sampai tempat untuk mandi saja sudah nggak ada disitu," sambung Anang.
"Apa kamu sekarang sudah tidak kerja dibangunan lagi?" tanya Gita.
"Nggak. Pekerjaannya dihentikan. Nggak tahu sekarang apa dilanjut atau nggak," sahut Anang.
"Sekarang sudah banyak tawaran bernyanyi, jadi aku juga nggak cari tahu lagi tentang pekerjaan itu," sambung Anang lagi.
"Oh iya, Siapa yang ada difoto profil f*cebook mu?" tanya Gita.
"Itu anak orang kaya, yang mengundangku bernyanyi dipesta ulang tahunnya. Dia meminta foto itu dipasang jadi foto profil ku sebagai hadiah ulang tahun untuknya,
Mungkin untuk kenang-kenangan. Atau mungkin juga karena kakaknya sekarang diluar negeri, dan itu jadi pelepas kerinduannya dengan kakaknya," kata Anang menjelaskan.
Gita tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku kira itu pacarmu. Aku sempat merasa aneh kalau kamu sampai pacaran dengan anak-anak," ujar Gita.
"Heh! Nggaklah! Gadis itu dan orang tuanya baik denganku," kata Anang.
Anang mengangguk-anggukkan kepalanya. Benar juga kata Gita, bisa-bisa Anang dikira penyuka anak-anak.
Sarapan Anang dan Gita, sudah selesai mereka habiskan.
Anang kemudian merapikan sampah sisa bungkusan makanan bersama Gita, lalu pergi mencuci tangannya dikamar mandi bersama-sama dengan Gita.
Anang tidak memperhatikan apa Santi sudah selesai makan atau belum, tidak juga memperhatikan bagaimana raut wajah Santi sekarang.
"Aku mau belajar lagu-lagu pesanan untuk undangan jam sepuluh nanti. Mau dengar?" tanya Anang ketika dia dan Gita sedang mencuci tangan diwastafel.
"Boleh! Aku juga nggak kemana-mana," sahut Gita, lalu tersenyum lebar.
Anang tersenyum melihat Gita yang kini sudah tersenyum manis, persis seperti Anang baru saja mengenal Gita.
Ketika mereka keluar dari kamar mandi, Anang sempat melihat sekilas, kalau Santi berdiri dan pergi membuang sampah makanannya.
Anang mengambil gitarnya lalu duduk diujung ranjang, sedangkan Gita mengambil kursi lalu duduk berhadap-hadapan dengan Anang.
Anang bernyanyi dan memainkan gitarnya, dan Gita jadi penontonnya.
Senyum Gita diwajahnya, membuatnya terlihat seakan tidak ada satu pun masalah yang dialami dalam hidup wanita itu.
Tak lama, Anang bisa merasakan kalau ranjang itu berguncang, berarti Santi mungkin berbaring atau ikut duduk dibelakangnya, tapi Anang tidak menoleh untuk melihat Santi.
__ADS_1
Sesekali Anang tersenyum kepada Gita, disela-sela lagunya.
Dan Gita kelihatannya cukup senang dengan keadaan saat itu.
Anang bukan mau memanfaafkan Gita, atau memberi harapan palsu, Anang hanya ingin sedikit menghibur Gita, yang sejak beberapa waktu yang berlalu, terlihat menyedihkan.
Apalagi dengan begini, suasana dikamar itu jadi tenang, tanpa ada drama peperangan.
Anang bisa berlatih bernyanyi tanpa gangguan, Gita merasa senang, kalau Santi tidak usah dibahas. Dalam otak Santi hanya ada s*x. Tidak ada kata terganggu, dan Santi pasti senang asal dia bisa digoyang.
Anang sudah memuaskan Santi, juga bisa menghibur Gita.
Anang berhak mendapat sedikit ketenangan, iya 'kan?
Meski sebenarnya saat ini tampaknya terlalu tenang, tapi Anang tidak mau terlalu memperdulikannya.
"Kamu belum bersiap pergi?" terdengar suara Santi dari belakang Anang.
Anang berhenti memainkan senar gitarnya, lalu melihat jam dilayar ponselnya.
"Aku bersiap-siap dulu ya?! Nggak enak kalau sampai terlambat," kata Anang kepada Gita, sambil meletakkan gitarnya berdiri dipinggir ranjang.
"Jam berapa kamu selesai?" tanya Gita.
"Mungkin jam tiga atau empat. Tergantung yang punya acaranya nanti bagaimana, soalnya janjinya sampai acaranya berakhir," sahut Anang.
"Kalau gitu aku pulang dulu! Nanti sore aku bisa kesini ya?" tanya Gita.
"Bisa! Cuma malam nanti aku harus pergi lagi," kata Anang.
Gita tersenyum lebar.
"Oke! Nanti sore aku kesini," ujar Gita masih sempat menggenggam tangan Anang sebentar, sebelum berjalan keluar dari kamar kost Anang.
Anang baru saja akan berdiri dari duduknya hendak mengganti pakaiannya, tapi belum sempat Anang berdiri, Santi sudah memeluknya dari belakang.
"Sekali dulu. Baru kita pergi," bisik Santi ditelinga Anang.
Bagaimana?
Tolak atau lanjut?
Anang mungkin mau saja menolaknya, tapi sayangnya otak Anang sering berpindah tempat. Dari kepala, berpindah kesela pahanya.
Jadi kalau Santi mengganggu otaknya, pasti Anang tidak akan bisa berpikir jernih lagi.
Alasannya?
Demi cinta Anang untuk Santi.
Mungkin Anang akan menyesalinya, tapi biarlah, itu urusan nanti.
__ADS_1