
Setelah berhari-hari perjalanan Anang berkeliling mempromosikan lagunya, hari ini mereka bisa kembali kekota, dimana apartemen mereka berada.
Suhu dikota itu, sudah jauh lebih baik daripada saat terakhir mereka kembali kesitu.
Hangatnya sinar matahari, sudah bisa sedikit Anang rasakan dikulit wajahnya.
Meski masih harus memakai baju dua lapis, Anang sudah tidak perlu lagi memakai jaket panjang yang tebal.
"Hari ini... Maksudku nanti agak sore, ada yang harus aku temui," celetuk Santi, ketika mereka berdua sudah didalam apartemen.
"Siapa?" tanya Anang sambil menatap Santi lekat-lekat.
"Itu, loh! Penyanyi dari Filipina itu!" sahut Santi.
"Tadi aku sudah mengirimkan pesan padanya," sambung Santi.
Anang menghampiri Santi, yang terlihat sibuk membongkar barang-barang, yang tadi sempat diambil dari studio Miss Jordan.
Anang memeluk Santi dari belakang, lalu mengganggu pekerjaan Santi disitu.
"Kenapa?" tanya Santi, yang akhirnya berhenti mengeluarkan barang-barang, dari kantong-kantong plastik.
"Masih perlu kamu bertanya?" tanya Anang.
"Kamu nggak capek?" Santi balik bertanya, dan hampir tertawa.
"Nggak...!" sahut Anang, lalu membalikkan badan Santi, agar berhadap-hadapan dengannya.
Perjalanan mereka minggu itu memang lebih ekstra, daripada hari-hari di minggu sebelumnya.
Tapi, beberapa hari belakangan sejak Santi sakit waktu itu, Anang yang suasana hatinya sudah membaik, tidak lagi merasa kelelahan yang berlebihan.
"Mau sekarang?" tanya Santi, lalu menggigit bibirnya sendiri.
Untuk apa menunda-nunda?
Mumpung ada waktu, Anang mau sekarang!
Sudah giliran Santi untuk membalas suara Anang yang bernyanyi untuknya selama ini, dengan suara merdu des*h*n Santi yang menggema ditelinga Anang.
Anang juga tidak mau dan tidak akan berhenti, sampai dia benar-benar merasa lega.
Atau sampai keduanya sama-sama puas?
Ah, sudahlah...
Tidak perlu membahasnya, apalagi membayangkan apa yang Anang dan Santi sedang lakukan.
Yang pasti, keduanya sama-sama rajin, dan bersemangat mengerjakan tugasnya masing-masing, bergantian.~
"Apa yang kamu lihat?" tanya Santi, saat keluar dari kamar mandi.
Anang yang sedari tadi melamun dengan menatap keluar jendela, sambil menunggu Santi mandi, agak tersentak karena terkejut dengan suara Santi yang tiba-tiba muncul didekatnya.
Santi yang masih memakai jubah mandi, berdiri didepan Anang, lalu ikut-ikutan melihat keluar jendela.
Anang lalu memeluk Santi dari belakang.
"Itu...!" ujar Anang.
__ADS_1
"Untuk apa orang-orang berkemah ditrotoar? Aku sudah melihat mereka mendirikan tenda, sejak kita belum lama datang kesini. Tapi, kok mereka masih belum bubar-bubar?" sambung Anang.
Anang lalu menunduk, sampai dagunya bersandar disalah satu sisi bahu Santi.
Aroma shampoo dan sabun Santi yang harum, seakan-akan memancing keributan di otak Anang.
Rasanya ada yang dikatakan Santi, tapi Anang tidak bisa mendengar dengan jelas.
"Mas!" seru Santi, sambil menepuk tangan Anang yang melingkar dipinggang, sampai keperutnya.
"Eh, apa?" tanya Anang.
"Kamu dengar yang aku bilang tadi nggak?" tanya Santi.
"Nggak...!" sahut Anang pelan.
Bodo amat.
Anang tidak terlalu mau tahu, apa maksud orang-orang yang berkemah ditrotoar itu.
Menikmati aroma Santi lebih menarik bagi Anang.
"Mas!" seru Santi lagi.
"Apa?" sahut Anang, yang memejamkan matanya, dengan wajahnya yang menempel dileher Santi.
"Mereka tuna wisma! Bla, bla, bla..." kata Santi, dan masih ada lagi yang lain yang dikatakan Santi, tapi Anang tidak menyimak sisa kalimat Santi, kecuali...
"Masih mau?"
Dua kata yang jadi pertanyaan Santi dipenghujung kalimatnya itu, bisa terdengar jelas ditelinga Anang.
Sudah, ah!
Capek!
Suka-suka Anang dan Santi saja.~
Anang sudah lega, sudah makan, sudah mandi, sekarang Anang sudah siap menghadapi apapun didepannya.
"Jam berapa kamu bertemu dengan orang Filipina itu?" tanya Anang, sambil memakai pakaiannya.
"Hmm... Sebentar lagi!" sahut Santi yang sedang mengepang rambutnya.
"Tumben, rambutmu diikat begitu!" celetuk Anang.
Santi hanya tertawa kecil, sambil tetap melilitkan setiap bagian rambutnya yang panjang.
"Nanti kita ketemu dengannya di atas kapal feri, sambil jalan-jalan ke Staten island," ujar Santi.
"Bisa juga berfoto dengan latar patung liberty, meski hanya sambil lewat saja," sambung Santi lagi.
"Ooh..." sahut Anang yang sudah selesai berpakaian.
"Tetap pakai jaket ya?! Yang pendek saja, nggak perlu yang panjang itu lagi!" kata Santi sambil menunjuk dengan matanya, jaket panjang Anang yang tergantung didekat lemari.
Pantas saja Santi mengepang rambutnya.
Mulai dari pelabuhan sampai diatas feri, angin yang berhembus cukup kencang.
__ADS_1
Anang berdiri didekat pagar kapal, sambil Santi berbicara dengan penyanyi yang dari Filipina itu.
Anang benar-benar menikmati pemandangan yang bisa dilihatnya dari atas feri.
Cukup menarik perhatian Anang, dan lumayan untuk menenangkan pikirannya, dari penatnya perjalanan promosi lagunya beberapa hari belakangan.
Penumpangnya dikapal itu tidak terlalu banyak.
Masih banyak area dikapal yang kosong, jadi Anang tidak terganggu dengan penumpang yang lain.
Ketika melewati patung wanita yang mengangkat obor yang dipegangnya, Anang lalu melihat Santi, kalau-kalau Santi jadi berfoto disitu.
Tapi, Santi masih sibuk berbicara bersahut-sahutan, dengan orang Filipina yang bersama mereka.
Ya sudah, biarkan saja...
Anang memperhatikan patung besar yang berdiri di satu pulau kecil terpisah itu.
Tetap tampak megah, meski warnanya terlihat agak kusam.
Anang membayangkan lamanya patung itu berdiri disitu, dan bertahan meski digerus cuaca dan waktu.
"Menurutmu apa yang membuat patung itu berwarna hijau?" tanya Santi tiba-tiba.
Anang melihat Santi, yang kini hanya tinggal berdua dengannya, sedangkan penyanyi dari Filipina tadi sudah tidak ada disitu.
"Mana orang Filipina tadi?" tanya Anang penasaran.
"Dia pergi ke toilet," sahut Santi.
"Kamu dengar yang aku tanya tadi?" sambung Santi mengingatkan Anang.
"Cat?" sahut Anang ragu-ragu.
"Bukan. Itu namanya 'patina'. Patung itu dibuat dari tembaga. Logam tembaganya yang lapuk karena beroksidasi... Maksudku, karena air dan udara. Itu yang membuat 'patina' itu muncul...
'Patina' itu hanya lapisan tipis. Tapi dengan adanya 'patina' itu, tembaganya justru terlindungi supaya tetap bertahan lebih lama," kata Santi.
Anang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Patina.
Seperti karat dibesi.
Hanya saja kalau karat bisa merusak besi, tapi yang ini malah melindungi tembaganya.
Unik.
Ibarat orang yang melalui rintangan hidup yang sulit, dan hampir membuatnya tumbang, tapi hasil dari rintangan itu, yang membuat orangnya jadi semakin kuat.
Rintangan tidak bisa ditepis, cukup berusaha agar bisa tetap bertahan, sampai bisa menghasilkan lapisan pelindung seperti 'patina' itu.
"Nanti waktu kita balik, baru kita berfoto-foto ya?! Aku masih harus bicara dengan orang tadi," celetuk Santi.
Anang menganggukkan kepalanya.
"Iya," sahut Anang.
Tak lama, penyanyi dari Filipina tadi sudah kelihatan kembali menghampiri Santi, lalu berbincang-bincang dengan Santi disitu lagi.
__ADS_1