SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 35


__ADS_3

"Katanya ini kamar untuk kita istirahat," kata Santi setelah berbicara sebentar dengan pelayan yang membawa mereka tadi.


"Ingat nomor kamarnya ya?! Jadi kalau aku sibuk, kamu bisa kembali kesini," sambung Santi lagi.


Santi kembali terlihat bicara dengan pelayan itu.


"Ayo! Kali ini kita bertemu Mister Grand," kata Santi sambil menggandeng tangan Anang untuk berjalan mengikuti pelayan itu lagi.


Anang yang tidak sempat berpikir apa-apa, hanya mengikuti langkah Santi dan pelayan didepan mereka.


Mereka dibawa keruangan yang lebih besar lagi dari tempat tadi.


Didalamnya hampir seperti rumah yang lengkap kamar dengan tempat tidur terpisah dinding kaca, ada lemari kaca berisi botol-botol minuman beralkohol, dengan meja panjang yang berjejer kursi-kursi didepan meja.


Sofa besar dibagian tengah dan masih banyak lagi barang yang ada didalam situ, tapi masih terlihat luas dan lega.


Seorang lelaki asing yang mengundang Anang, terlihat duduk disofa besar yang ada ditengah-tengah ruangan.


Setelah berbicara sesuatu dengan Santi, Santi lalu mengajak Anang duduk dengannya di sofa yang berseberangan dengan tempat laki-laki itu duduk.


Mister Grand kemudian terlihat berbincang-bincang dengan Santi.


Anang yang sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan hanya bisa memandangi mereka bergantian.


"Kata mister Grand, Kamu hanya perlu menyanyikan satu lagu. Tapi itu lagu yang spesial untuk istrinya,


Hari ini, hari ulang tahun pernikahan mereka, jadi dia menuliskan lagu cinta khusus untuk istrinya," kata Santi menjelaskan apa yang laki-laki itu bicarakan.


"Katanya dia sudah merekam suaranya, jadi kamu akan tahu nada lagunya seperti apa,


Rekaman dan teksnya itu yang ada dimeja," sambung Santi kepada Anang, sambil menunjuk dengan matanya kearah meja


"Tapi, dia bilang kamu bisa sedikit improvisasi, kalau menurutmu nada lagunya kurang menarik. Kamu juga masih bisa sambil bersantai, agar saat bernyanyi, kamu tidak tampak tertekan,


Dia mau kamu mempelajari, dan menyanyikan lagu itu sungguh-sungguh,


Kalau istrinya menyukai lagu untuknya itu, imbalanmu akan dilipat gandakan," kata Santi.


"Mister Grand mau kamu menampilkan kemampuan terbaikmu nanti jam tujuh malam, saat pesta dansanya dimulai. Kamu akan jadi penyanyi pembuka acaranya," kata Santi lagi.


"Apa ada yang kamu butuhkan sekarang?" tanya Santi.


"Hmm... Gitar," sahut Anang.


Santi kemudian terlihat bicara lagi dengan Mister Grand.

__ADS_1


"Katanya, kita sarapan saja dulu. Nanti gitarnya diantarkan pelayan kekamar kita tadi,


Dia juga bilang kalau ada yang lain yang kita butuhkan, bisa kita minta kepada pelayan," ujar Santi.


Mister Grand kemudian berdiri, begitu juga Santi dan Anang.


Mister Grand menjulurkan tangannya kepada Anang, dan Anang berjabat tangan dengannya, kemudian Mister Grand berjabat tangan dengan Santi.


Anang lalu mengambil sebuah alat perekam kecil diatas meja, beserta dengan lembaran kertas berisi teks lagu yang Mister Grand ingin Anang nyanyikan, ketika Mister Grand berjabat tangan dengan Santi.


Anang dan Santi kemudian berjalan keluar dari ruangan itu, mengikuti pelayan yang mengantar mereka ke tempat lain.


Mereka berdua dibawa keruangan seperti restoran yang luas, dengan meja-meja bundar tertata rapi dengan kursinya disitu.


Setelah mereka dipersilahkan duduk, Santi lalu bertanya dengan Anang,


"Kamu mau makan apa? Itu bisa pilih dibuku menu,"


Anang membuka buku diatas meja didepannya.


Tapi saat melihat isinya, Anang malah kebingungan.


Tulisan berbahasa Inggris.


"Kamu saja yang pesankan. Aku bingung lihat isi menu begitu," ujar Anang frustrasi.


Santi hampir tertawa, tapi terlihat jelas kalau dia berusaha menahan tawanya jangan sampai berlari lepas dari mulutnya.


Santi lalu bicara dengan pelayan yang berdiri didekat mereka.


Tak lama setelah pelayan itu pergi, beberapa pelayan lain, datang dan menyajikan makanan keatas meja tempat Anang duduk dengan Santi.


"Selesai makan apa kamu mau langsung belajar lagunya, atau mau berjalan-jalan denganku?" tanya Santi ketika mereka mulai makan.


"Hmm... Kamu bawa earphone nggak?" Anang balik bertanya.


Kalau Santi bawa earphone, Anang bisa jalan-jalan dulu sambil mendengar lagu yang ada dialat perekam tadi.


Aji mumpung, Anang mau ambil kesempatan sebaik-baiknya.


Kapan-kapan Anang bisa lagi naik kapal mewah begitu?


Mungkin sambil memotret dirinya sendiri, dengan ponselnya, lalu diposting di f*cebook. Apalagi kalau ada cewek bule mau ikut berfoto dengannya...


Pasti keren!

__ADS_1


"Kayaknya ada. Sebentar kita kembali kekamar baru aku lihat di tasku," sahut Santi.


Mereka berdua tampaknya tidak ada yang mau berlama-lama diruangan itu. Keduanya makan tergesa-gesa sampai sarapan mereka habis dimakan.


Anang dan Santi kemudian buru-buru berjalan mendatangi kamar yang diberikan untuk mereka.


Santi terlihat mengacak-acak isi tasnya, lalu menarik earphone dari dalam situ, sambil tersenyum.


"Ada. Untuk apa?" tanya Santi.


"Aku bisa jalan-jalan dulu denganmu, sambil dengar lagunya Mister Grand," sahut Anang sambil menghampiri Santi, dan mengambil earphone dari tangannya.


"Ooh... Oke! Tapi kalau aku bertemu yang menarik, jangan dekat-dekat ya?!" ujar Santi sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Terserah kamu!" ujar Anang.


Anang kemudian memasang earphone ke sebelah telinganya, dan menyalakan rekaman yang ada disitu.


Mata Anang terbelalak ketika mendengar suara yang keluar dari earphone ditelinganya.


"Kenapa?" tanya Santi yang mungkin memperhatikan perubahan wajah Anang.


Anang menggelengkan kepalanya.


"Nggak ada apa-apa. Ayo kita jalan-jalan!" ujar Anang sambil menarik tangan Santi, agar ikut berjalan keluar dari kamar.


Pantas saja Mister Grand meminta Anang yang bernyanyi, suara laki-laki itu sungguh menyedihkan. Apalagi saat mencoba bernyanyi dengan nada tinggi.


Masih lebih indah didengar, suara omelan wanita tetangga Anang, dipemukiman subuh tadi.


Tapi Anang tidak mau menertawakannya. Anang punya suara indah, namun mister Grand punya kapal pesiar yang indah. Masing-masing punya kelebihan, dan kekurangannya sendiri.


Apalagi kekurangan Mister Grand, justru jadi keuntungan bagi Anang, kalau Mister Grand punya suara yang indah, Anang tidak akan dapat pekerjaan itu, dan hanya bisa bermimpi naik kapal pesiar mewah.


Anang dan Santi berjalan berkeliling, melihat-lihat kesana kemari didalam kapal yang sudah berlayar, sampai daratan sudah tidak terlihat lagi.


Tidak pernah melihat tempat terbuka tanpa halangan seluas itu, Anang merasa lega saat melihat lautan lepas didepannya, pikirannya terasa tenang.


Anang menarik nafas panjang, dan menghembuskannya pelan, saat angin laut yang segar menerpa wajahnya.


Dunia ini masih luas, untuk jadi tempat Anang menjelajah, dan mencari sampai dapat, kehidupan yang baik, dan lebih baik lagi.


Selama ini Anang selalu merasa sempit dan seakan susah bernafas, kali ini Anang bisa bernafas sesukanya tanpa ada yang menghimpit, dan mengganggu konsentrasinya kecuali suara Mister Grand ditelinganya.


Dan Santi yang seperti cacing kepanasan, sibuk berbicara dengan laki-laki bule, sambil bertingkah nakal dan menggoda.

__ADS_1


__ADS_2