SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 91


__ADS_3

Masih ada waktu kurang lebih dua jam lagi, barulah pesta ulang tahun adik perempuan Setyo itu dimulai, tapi Santi dan Anang sudah bersiap-siap.


Santi yang sudah lebih dulu mandi, sekarang sudah selesai berpakaian, dan sedang memakai riasan diwajahnya, ketika Anang keluar dari dalam kamar mandi.


"Baju mu kelihatannya agak kusut," kata Santi.


Anang melihat pakaiannya yang sudah digelar Santi diatas ranjang.


"Sedikit. Nggak masalah. Mereka pasti maklum saja," sahut Anang, lalu mulai memakai pakaiannya.


Sambil memakai pakaiannya, sesekali Anang melirik Santi yang memoleskan lipstik tipis dibibirnya.


"Kenapa?" tanya Santi ketika menangkap basah mata Anang yang sedang melihatnya.


"Nggak apa-apa." sahut Anang.


Santi berdiri lalu menghampiri Anang, dan memeluk Anang erat-erat.


"Kalau ada apa-apa, kamu harus biasakan untuk cerita denganku," ujar Santi.


"Nggak ada apa-apa. Aku hanya bingung gunanya lipstikmu itu untuk apa? Bibirmu sudah merah meski nggak pakai lipstik. Apa biar aku nggak bisa mencium mu?" tanya Anang sambil merengut.


Santi mendongakkan kepalanya, untuk melihat Anang lalu tersenyum lebar.


"Mau menciumku?" tanya Santi.


Apa Anang perlu ditawari lagi?


Tentu tidak.


Tidak akan lama-lama Anang menunda untuk mencium Santi, dan memeluk tubuh kecil Santi sampai mengambang dari lantai.


"Sudah puas?" tanya Santi sambil membersihkan bekas lipstiknya dibibir Anang.


"Belum," sahut Anang, dan berhasil membuat Santi tertawa geli, saat Anang mencium lehernya disitu.


"Awas kalau sampai berbekas merah!" kata Santi.


Peringatan Santi, datangnya terlambat.


Ada sedikit bulatan merah dileher Santi, dengan bagian pinggirannya yang tidak beraturan.


Anang gelagapan, karena panik.


"Maaass...!" seru Santi, lalu buru-buru turun dari pelukan Anang, dan setengah berlari melihat lehernya dipantulan cermin.


"Ah, berbekaaas...!" seru Santi dengan suara merengek.


Santi terlihat panik menutupi kemerahan dilehernya dengan bedak, sedangkan Anang hanya terdiam, karena takut dimarahi Santi.


Kelihatannya bedak Santi tidak bisa menutupi bekas ciuman Anang.


Karena dengan wajah masam, Santi hanya menarik rambutnya kesalah satu sisi bahunya, untuk menutupi tanda merah dilehernya, lalu menghampiri Anang.

__ADS_1


"Aku nggak bawa alas bedak," celetuk Santi.


"Maaf...! Nggak sengaja...!" ujar Anang pelan, sambil menggaruk kepalanya, yang sebenarnya tidak terasa gatal.


Santi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ingatkan aku nanti! Siapa tahu aku lupa, lalu aku mengikat, atau menggulung rambutku," ujar Santi.


"Siap!" sahut Anang.


"Kita keluar sekarang? Biar bisa kenalan dengan keluarga Setyo yang lain," sambung Anang sambil membuka lengannya agar digandeng Santi.


Tapi Santi tidak mau menggandengnya, malah berjalan melewati Anang.


Salah Anang sendiri, wajar saja kalau Santi marah dengannya.


Untung saja, kekesalan Santi tidak berlangsung lama.


Ketika Anang merangkul pinggang Santi, Santi sudah bisa tersenyum kepada Anang.


Anang selamat kali ini.


Setelah berjalan sebentar, mereka bertemu dengan beberapa orang yang ada dirumah itu.


Santi lalu menanyakan tempat pestanya akan dilangsungkan, dan dengan petunjuk dari orang mereka temui itu, Anang dan Santi lalu pergi ke bagian samping rumah, yang menjadi tempat acaranya dihelat.


Belum ada tamu yang datang, hanya beberapa orang saja yang terlihat sibuk disitu.


Termasuk Setyo yang sudah kelihatan lebih rapi, dibandingkan saat menjemput Anang dan Santi tadi.


"Kalian juga sudah siap!" ujar Setyo saat sudah berhadap-hadapan dengan Anang dan Santi disitu.


"Perkenalkan, ini calon istriku, Mia!" sambung Setyo.


Anang dan Santi lalu bergantian bersalaman dengan Mia calon istri Setyo, yang terlihat tidak kalah ramah dengan Setyo.


"Adikku masih berdandan, tunggu sebentar ya! Kalian duduk saja dulu disana!" kata Setyo sambil menunjuk kursi-kursi didekat panggung ala-ala, yang dibuat dihalaman terbuka.


"Iya, kami kesana ya?!" sahut Anang, lalu membawa Santi berjalan kearah yang ditunjuk Setyo.


Sudah sore, dan cahaya matahari sudah hampir tidak kelihatan.


Lampu hias yang bergantungan, dan berjejer rapi menjadi penerang tempat itu.


Kursi-kursi yang disiapkan disitu cukup banyak.


Tampaknya undangan yang disebarkan, mungkin juga cukup banyak.


Belum terlalu lama Anang dan Santi duduk disitu, sambil Anang memetik senar gitarnya pelan, seorang gadis menghampiri mereka, dengan wajah ceria dan kelihatan sangat bersemangat.


"Kak Anang! Aku Yuni, yang berulang tahun hari ini!" kata gadis itu lalu tersenyum manis dan menyodorkan tangannya kepada Anang.


Gadis yang cantik, dan terlihat semakin cantik dengan gaun pesta yang dia pakai.

__ADS_1


Anang meletakkan gitarnya, lalu berdiri dan menyalami tangan gadis itu sambil tersenyum.


"Selamat ulang tahun!" kata Anang.


Tanpa aba-aba gadis itu memeluk Anang erat-erat, dan membuat Anang kebingungan, tapi membiarkannya saja, sambil melihat kearah Santi yang masih duduk didekat Anang.


Santi hanya mengangkat kedua bahunya, sambil tersenyum.


"Makasih sudah mau datang kesini...! Aku naksir dengan kak Anang...!" ujar Yuni yang terdengar malu-malu, tapi tetap saja memeluk Anang disitu.


"Terimakasih sudah mengundangku kesini!" sahut Anang.


Anang kembali melihat kearah Santi, tapi Santi masih tersenyum seperti tadi.


"Kak Anang sudah punya pacar? Kalau belum, pacaran denganku saja, mau?" tanya Yuni.


"Yuni...!" seru Setyo pelan.


Setyo terlihat berjalan mendekat, dan berdiri dibelakang Yuni.


"Anang sudah ada calon istrinya!" sambung Setyo, lalu melihat Anang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Anang yang tidak tahu harus berkata apa, hanya bisa tersenyum kepada Setyo.


Yuni lalu melepaskan pelukannya dari Anang.


"Masa sih? Kak Anang sudah punya calon istri? Kak Anang masih muda loh!" ujar Yuni dengan wajah merengut.


"Iya." sahut Anang pelan, sambil tersenyum.


Anang lalu memegang tangan Santi, dan mengajak Santi berdiri.


"Ini Santi, calon istriku!" kata Anang, memperkenalkan Santi kepada Yuni.


Yuni melihat Santi dari ujung rambut sampai ke kaki, sambil tetap memasang raut wajah tidak senang.


Tanpa mau bertegur sapa dengan Santi, Yuni lalu berjalan pergi dan duduk dikursi, yang memang dipersiapkan untuknya.


Setyo yang masih berdiri disitu, menggeleng-gelengkan kepalanya, saat Yuni melewatinya begitu saja.


"Maafkan sikap adikku! Adikku sebenarnya baik, hanya saja dia terbiasa mendapatkan apa saja yang dia mau," kata Setyo dengan sedikit nada penyesalan.


"Nggak apa-apa!" sahut Santi santai.


Setyo lalu berjalan pergi, sedangkan Santi dan Anang kembali duduk dikursi mereka.


"Ada-ada saja..." celetuk Anang, lalu mengambil gitarnya lagi, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Santi hampir tertawa melihat Anang, lalu meletakkan tangannya diatas paha Anang, dan meremasnya pelan.


Anang melihat Santi sebentar, kemudian lanjut memetik senar gitarnya asal-asalan.


Para tamu undangan terlihat mulai berdatangan.

__ADS_1


Rata-rata anak-anak yang sebaya dengan Yuni, ada sebagian saja orang dewasa, tapi duduk dibagian yang berbeda dari anak-anak itu.


Yuni berulang tahun yang ke delapan belas hari ini, dan memang sudah tidak bisa disebut anak-anak lagi.


__ADS_2