
Masih sangat pagi, tapi Anang dan Santi sudah sibuk bersiap-siap untuk melakukan perjalanan keluar kota.
Lelahnya karena pertempuran ulang semalam, sepulangnya dari warung makan, cukup untuk membuat Anang hampir tidak bisa membuka matanya, yang terasa berat dan kering.
"Nanti tidur dijalan saja..." kata Santi yang sama lemasnya.
Menurut Santi, perjalanan kekota itu, memakan waktu kurang lebih enam jam memakai bus.
Lumayan lama untuk jadi waktu tidur Anang.
"Buruan! Jemputannya sudah menunggu! Kamu tidak mau kita ketinggalan bus 'kan?!" ujar Santi, saat Anang hampir tidak bisa mengangkat tas ransel kecil, tempat mereka membawa pakaian ganti.
Santi harus sedikit menyeret Anang, agar bisa berjalan lebih cepat.
Bus akan berangkat jam tujuh tepat pagi itu, sedangkan Anang dan Santi tidak bisa tidur sampai hampir jam empat pagi.
Bayangkan ngantuknya kalau cuma tidur kurang lebih dua jam, apalagi kalau tenaga mereka sudah terkuras habis malam itu.
Anang memaksakan kakinya untuk melangkah lebih cepat, menyusul Santi.
Beberapa kali Anang hampir tertidur diperjalanan menuju terminal bus, yang memakan waktu kurang dari lima belas menit.
Tidak jauh dan tidak memakan waktu lama, hanya karena saking lelahnya, perjalanan ke terminal bus, terasa sangat lama dan jauh.
Setibanya di terminal, Santi kemudian mengurus pembelian tiket untuk mereka berdua.
Untung saja tidak terlalu lama Anang harus menunggu, sambil duduk dikursi tunggu terminal, Santi sudah memegang dua tiket ditangannya, sambil berjalan menghampiri Anang.
"Ayo kita naik busnya sekarang. Aku ngantuk sekali..." ujar Santi, sambil memegang tangan Anang, dan mengajaknya berjalan untuk masuk kedalam bus.
Setelah memeriksa nomor kursi, dan yakin tidak ada yang salah, Anang kemudian menyimpan tasnya dibawah kursi.
Sedangkan gitarnya yang terbungkus tas bawa'an gitar, Anang meminta tolong kernet, untuk menyimpannya dibagasi dengan baik, agar tidak rusak karena terhimpit.
Santi duduk di dekat jendela, sedangkan Anang duduk disampingnya, dan lengan Anang jadi tempat bersandar Santi yang paling nyaman.
Tidak butuh waktu lama, bus belum juga berjalan, Anang dan Santi sudah tertidur disitu.
Entah berapa lama Anang tertidur, tapi ketika Anang membuka matanya, Santi sudah bangun dan sedang menatap keluar jendela, sambil tetap bersandar dilengan Anang, dan menggenggam tangan Anang erat-erat.
"Apa yang kamu lihat? Hutan?" tanya Anang.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun... Iya, aku belum pernah ke daerah ini sebelumnya. Rasanya menenangkan, melihat banyak pepohonan yang masih rindang." ujar Santi.
Santi lalu mengelus-elus tangan Anang, dengan jempol tangannya.
"Mungkin menyenangkan kalau tinggalnya didesa ya?!" kata Santi.
"Lalu apa? Kita jadi petani?" tanya Anang sambil tertawa pelan.
"Bisa. Kamu yang mencangkul lahannya, aku yang menanam padinya!" sahut Santi sambil ikut tertawa.
"Kulitmu akan gosong, juga penuh lumpur. Kamu nanti lelah dan nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Mau?" ujar Anang.
Santi tertawa lepas.
"Yang penting aku tetap cantik dimatamu!" ujar Santi.
Anang mengecup kepala Santi.
"Aku nggak tega kalau kamu sampai harus bekerja sekeras itu. Aku tahu rasanya jadi petani, mendiang kedua orang tuaku dulu itu petani," kata Anang, sambil memegang pipi Santi dan mengelusnya pelan.
"Entah apa yang harus aku lakukan nanti, kalau aku sudah tidak laku lagi untuk bernyanyi. Apa mungkin aku masih bisa memenuhi kebutuhanmu?" celetuk Anang.
"Nggak usah pikirkan itu sekarang. Asal kita bisa tetap berhemat, tabunganmu itu bisa jadi investasi nanti," sahut Santi.
Anang ikut tertawa, tapi tetap ada rasa khawatir yang menjalar dipikirannya.
Kalau Anang menikahi Santi, Anang harus memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk menjamin hidup Santi nanti.
Untuk sementara sekarang mungkin Anang masih punya penghasilan cukup, tapi bagaimana nanti?
Kecuali ada suatu keajaiban yang bisa membuat kontrak Anang berhasil, dan mungkin bisa mendapat hasil yang lumayan, untuk jadi investasi seperti yang dibilang Santi.
Sekarang, Anang hanya bisa berharap agar cita-citanya bisa berhasil, karena sekarang Anang bukan hanya memikirkan dirinya sendiri lagi, tapi ada Santi yang bersamanya.
Bus yang mereka tumpangi, akhirnya tiba dikota tujuan.
Kota yang asing bagi Anang dan Santi, dan sempat membuat mereka berdua kebingungan, saat yang mengundang mereka tidak bisa dihubungi.
"Teleponnya nggak disambut!" ujar Santi yang terdengar agak panik.
Santi sempat beberapa kali menghubungi orang yang mengundang Anang itu, sebelum sebuah mobil berhenti tepat didepan mereka, yang sedang berdiri dipinggir jalan diluar terminal bus.
__ADS_1
Seseorang terlihat keluar dari dalam mobil, lalu menghampiri Anang dan Santi.
"Anang?" tanya laki-laki itu.
"Iya." jawab Anang.
"Namaku Setyo. Aku yang mengundangmu kesini." kata laki-laki yang bernama Setyo itu, sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Anang.
"Aku bersama calon istriku, Santi. Dia yang mengurus perjanjian untukku bernyanyi." kata Anang sambil memperkenalkan Santi.
"Santi," kata Santi
"Setyo," kata Setyo, sambil Santi menjabat tangannya.
"Ayo naik ke mobilku sekarang!" kata Setyo sambil membukakan pintu bagian tengah mobilnya, untuk Anang dan Santi masuk.
"Tadi, aku sempat beberapa kali menelpon ke nomor Setyo, tapi nggak disambut" kata Santi.
"Oh... Maaf, ponsel ku tadi ketinggalan. Semua orang sedang sibuk dengan persiapan pestanya, jadi aku tadi buru-buru pergi untuk menjemput kalian." kata Setyo sambil menyetir mobilnya.
Tidak berapa lama, mobil yang dikendarai Setyo berjalan, Anang dan Santi kemudian bisa melihat pepohonan yang berjejer rapi seperti perkebunan, disepanjang mata mereka bisa memandang.
"Orang tuaku mengelola perkebunan akasia, belakangan ayahku coba-coba dengan perkebunan kelapa sawit. Tapi bukan disini, ada dipulau lain," celetuk Setyo.
Setyo mungkin menyadari kalau Anang dan Santi tampak tertarik dengan tanaman, yang berdiri di hampir sepanjang perjalanan.
Anang dan Santi mengangguk-anggukkan kepalanya.
Menarik.
Anang jadi penasaran dengan perkebunan, yang tidak ada buahnya seperti itu.
Bagaimana sistem kerjanya, modal awal, dan perhitungan hasilnya.
Karena tampaknya hasilnya lumayan, sampai keluarga Setyo bisa membangun rumah mewah dan besar, dengan halaman yang luas, tak kalah jika dibandingkan dengan rumah orang-orang kaya lain, yang pernah Anang lihat.
Setyo memarkirkan mobilnya diparkiran rumahnya.
"Hari ini ulang tahun adikku. Dia yang memintaku agar mengundang Anang, untuk bernyanyi di pestanya." kata Setyo sambil membawa Anang dan Santi berjalan masuk kedalam rumahnya.
"Maklum saja, kami hanya dua bersaudara, dan dia anak gadis kesayangan ayah, juga sangat manja dengan kakaknya ini," sambung Setyo sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kita makan siang dulu. Nanti, kalian bisa pakai kamar tamu, untuk tempat kalian beristirahat. Pasti lelah diperjalanan yang jauh seperti tadi 'kan?!" kata Setyo lagi, setelah mereka berjalan cukup jauh kedalam rumah, yang tampak sibuk dengan banyaknya orang yang berlalu-lalang.