
Keesokkan paginya, Anang masih belum bisa membantu Tejo, untuk memanen sisa padi yang sudah matang.
Anang harus mengarahkan orang-orang yang bekerja menanam bibit dilahan Anang, sambil Anang menghubungi Setyo, agar bisa sesuai dengan cara Setyo yang lebih berpengalaman.
Baru saja, Anang akan mendatangi Tejo, setelah sebaris bibit sudah tertanam, ponsel Anang berbunyi berulang-ulang.
Pak Handoko, ayah Santi yang menghubungi Anang.
Setelah berbicara sebentar dengan pak Handoko, Anang mematikan ponselnya, lalu lanjut mendatangi Tejo disawah, kemudian membantu Tejo yang sibuk sendiri memanen padinya.
"Aku besok harus kekota...!" celetuk Anang.
Tejo berhenti memotong padi, lalu menoleh kesamping, melihat Anang.
"Kamu kembali tinggal dikota?" tanya Tejo heran.
"Nggak. Persidangannya sudah mulai berjalan. Kata pak Handoko, besok aku harus memberikan kesaksian dipersidangan. Kemungkinan aku harus tinggal disana, selama dua hari," sahut Anang yang tetap memotong batang padi.
"Pak Handoko?" tanya Tejo lagi.
"Ayah Santi..." sahut Anang.
Tejo tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu lanjut mengerjakan pekerjaannya disitu.
Anang memang menghindari menyebut nama Santi.
Anang tidak mau memikirkan wanita yang tidak memikirkan dirinya lagi.
Untuk apa mengingat nama yang hanya membuat Anang merasa sedih?
Bukannya hidup harus terus berjalan?
Sudah berminggu-minggu wanita itu pergi, tapi meski sekali, dia tidak pernah menghubungi Anang, walau hanya sekedar menyapa.
Anang menganggap kalau wanita itu, memang benar-benar melupakan Anang.
Anang menghela nafas panjang.
Tanpa mau berlama-lama tenggelam dalam perasaan tidak enak, Anang kembali memusatkan perhatiannya di pekerjaannya memanen padi.
Anang harus berusaha agar bisa maksimal membantu Tejo hari ini, karena besok dan lusa, sudah pasti Anang tidak bisa ikut bekerja disawah lagi.
Meski Tejo sempat beristirahat untuk makan siang, Anang tidak berhenti bekerja.
Dan akhirnya membuat Tejo memakan makanannya dengan terburu-buru, agar bisa kembali kedalam sawah.
"Memangnya kamu nggak lapar?" tanya Tejo.
"Nggak terlalu. 'Kan tadi pagi aku sudah sarapan!" sahut Anang.
"Iya. Aku juga sarapan, tapi tetap saja lapar," sahut Tejo, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Tidak sia-sia meski Anang melewatkan makan siangnya, sawah Tejo berhasil dipanen habis hari itu.
Sambil bersenda gurau, Anang dan Tejo kembali kerumah Tejo, dengan memikul beberapa karung padi, hasil panen tadi.
Ketika tiba dirumah Tejo, barulah perut Anang terasa sangat lapar, sampai-sampai Anang makan dengan badan kotor, sebelum akhirnya Anang pergi mandi.
Anang sudah kenyang, sudah segar setelah mandi, dan berpakaian, lalu berjalan kedepan rumah, dimana Tejo sedang berbicara diponselnya, dikursi teras rumahnya.
Tejo masih saja menampakkan gelagat aneh.
Ketika Tejo melihat Anang menyusulnya di teras, Tejo lalu berdiri dan berjalan keluar dari situ, dan memilih untuk berbincang-bincang dengan seseorang diponselnya, dihalaman rumah.
Sudahlah...
Wajar kalau ada waktunya orang mau privasinya terjaga, jadi Anang tidak mau mengambil pusing dengan tingkah Tejo itu.
Untuk beberapa waktu belakangan ini, Anang menyadari, kalau dia sudah jarang bermain gitarnya, apalagi bernyanyi.
Entah karena kelelahan bekerja disiang hari, atau memang sedang tidak bersemangat saja.
Sambil duduk diteras, Anang memandangi Tejo yang masih berdiri di halaman depan, dengan ponsel menempel ditelinga.
Lama-lama duduk melamun disitu sendiri, Anang merasa matanya berat, dan mulai mengantuk.
Tanpa menunggu Tejo kembali ke teras, Anang lalu masuk kedalam rumah dan pergi tidur.
Ketika Anang terbangun, Anang melihat jam di ponselnya.
Ternyata sudah subuh.
Ketika Anang keluar dari kamar, hampir bersamaan juga dengan Tejo yang keluar dari kamarnya, sambil mengucek-ngucek matanya.
"Kamu cepat sekali tidurnya tadi malam!" celetuk Tejo, sambil berjalan pelan bersama Anang menuju ke dapur.
"Nggak tahu... Tiba-tiba saja, rasanya mataku sudah berat," sahut Anang.
"Aku nggak bisa membantumu hari ini..." kata Anang, sambil merebus air diatas kompor.
"Memangnya mau membantu apa lagi? Kemaren 'kan sudah selesai panen?! Aku juga nggak pergi ke sawah hari ini," sahut Tejo.
"Lalu kenapa kamu bangun pagi-pagi buta?" tanya Anang.
"Eh, namanya juga sudah kebiasaan! Meski maunya bangun siang, tetap nggak bakalan bisa," sahut Tejo.
Anang lalu menyeduh teh di dalam dua gelas, dengan air panas yang baru saja mendidih.
"Kamu jadi ke kota hari ini?" tanya Tejo.
"Jadi!" sahut Anang.
"Bagaimana dengan tanamanmu?" tanya Tejo.
__ADS_1
"Aku sudah mengarahkan pekerjaan mereka kemarin. Nggak mungkin mereka nggak bisa mengerjakannya, meski aku nggak ada disitu," sahut Anang.
"Kenapa kamu bertanya tadi? Apa kamu mau ikut kekota?" tanya Anang.
"Hmmm..." Tejo menggumam, lalu menyesap sedikit tehnya.
"Kalau aku ikut kesana, tidurnya nanti dimana?" tanya Tejo.
"Hmmm..." kini Anang yang menggumam, sambil berpikir.
"Nggak tahu. Soalnya, aku sudah nggak ada tempat tinggal lagi disana," sahut Anang, lalu meniup-niup teh yang masih panas, sebelum disesapnya sedikit.
Anang juga baru menyadari, kalau dia nanti tidak ada tempat untuk menginap disana, sampai dia kembali kekampung, lusa nanti.
"Bisa saja kita menyewa satu kamar di penginapan," kata Anang.
"Tapi, kemungkinan aku nggak bisa mengajakmu jalan-jalan, karena aku harus hadir di persidangan," sambung Anang.
"Hmmm... Rasanya nggak masalah. Selama ini aku hanya berdiam dikampung. Paling jauh perginya kekampung tetangga. Aku ikut saja!" kata Tejo bersemangat.
"Kalau begitu, kamu siap-siap sana. Paling nggak, siapkan baju ganti untuk dua hari," kata Anang, lalu berdiri, dan berjalan pergi dari dapur, ke kamarnya.
Anang juga belum sempat mengemasi bajunya, jadinya sekarang dia harus mempersiapkannya, kalau tidak mau ketinggalan bus kekota.
Ketika Anang selesai mengemas baju-baju secukupnya, Anang yang berniat mandi dulu, lalu berjalan ke sumur.
Tejo sudah disitu, dan sudah mulai mandi, sambil menggosok-gosok badannya dengan sabun.
Anang ikut mandi diluar situ, didekat sumur bersama-sama Tejo.
Mereka berdua sudah siap.
Setelah Tejo mengunci rumahnya, mereka berdua lalu berjalan mencari ojek, yang bisa mengantarkan mereka ke terminal bus.
Tiket bus sudah terbeli, Anang dan Tejo duduk bersebelahan didalam bus kekota, sambil berbincang-bincang.
"Kamu nanti mau saja menunggu diruang sidang?" tanya Anang.
"Kamu ajari saja bagaimana aku bisa pergi ke pertokoan. Biar aku bisa menunggumu, sambil cuci mata disana," sahut Tejo enteng.
"Maksudmu, pusat perbelanjaan, Mall gitu?" tanya Anang.
"Ya, gitu deh! Yang ada tempat belanja, tempat bermain, juga ada tempat bersantainya," sahut Tejo.
"Gampang aja kalau begitu!" ujar Anang.
Di sepanjang perjalanan ke kota, Anang kembali terbayang-bayang, dengan wanita yang sudah pergi jauh dari Anang.
Tapi, Anang berusaha menepis bayang-bayangnya dari pikiran Anang.
Sudahlah... Sudah!
__ADS_1
Semua sudah berakhir...
Anang menatap keluar jendela, karena Tejo tampak sudah tidak berminat, untuk bicara lagi dengan Anang, malah kelihatan sibuk mengetik-ngetikkan sesuatu dilayar ponselnya.