
Suara gadis remaja yang mengundang Anang itu memecah keramaian.
Anang dan ayah gadis itu berbalik melihat gadis yang melambai-lambaikan tangannya memanggil Anang.
Anang melihat ayah gadis itu yang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nak Anang maklumi saja. Anak gadis ku itu memang manja," kata si pemlik rumah.
"Nggak apa-apa, Pak. Saya kesana dulu ya, Pak?!" kata Anang.
Si pemilik rumah menganggukkan kepalanya.
Anang lalu permisi dari kumpulan orang-orang tadi, lalu berjalan menghampiri gadis yang memanggilnya.
"Ini, sesuai janji ku. Terimakasih ya Bang!" kata gadis itu, sambil menyodorkan selembar amplop kepada Anang.
"Terimakasih juga, Dek. Sudah mau mengundang abang," kata Anang.
"Abang sudah mau pulang?" tanya gadis itu.
"Iya, rencananya begitu," sahut Anang.
"Kita foto-foto dulu sebentar ya, Bang!" kata gadis itu dengan tampang memelas, sampai membuat wajahnya terlihat makin imut.
Anang tersenyum, lalu mengangguk setuju.
Gadis itu tersenyum lebar, lalu meminta fotografer memotret mereka berdua, begitu juga teman-temannya yang perempuan, berganti-gantian berfoto dengan Anang.
Sebelum Anang pulang, Anang masih dipanggil si pemilik rumah, untuk bertemu dengannya didalam rumah.
"Bajunya nggak usah dikembalikan. Maaf, bukan saya mau menyinggung perasaan nak Anang, tapi apa nak Anang mau kalau saya memberikan pakaian si sulung untuk nak Anang," ujar si pemilik rumah.
"Saya mau, Pak! Terimakasih banyak!" sahut Anang senang.
Anang kemudian duduk menunggu disofa sambil berbincang-bincang ringan dengan si pemilik rumah.
Anang jadi tahu, kalau laki-laki itu sudah menjadi duda. Pantas saja Anang tidak melihat ada yang mengaku jadi Mamanya gadis itu sejak dia datang.
Si pemilik rumah memberikan Anang sekoper dengan ukuran lumayan besar, pakaian anaknya yang tidak terpakai lagi.
"Terimakasih banyak, Pak!" kata Anang.
Berkali-kali Anang berterimakasih kepada si pemilik rumah, sebelum dia pergi dari situ.
Sesampainya Anang ditempat tinggalnya, Anang lalu memeriksa semua pemberian gadis dan papinya tadi.
Mata Anang terbelalak, didalam amplop itu lembaran kertas yang ada, jauh berlebihan dari tawaran imbalan yang dikatakan gadis itu lewat pesan.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Anang kemudian membuka koper, sama mengejutkan dengan amplop gadis itu.
Pakaian disitu masih seperti baru, ditambah sepasang sepatu lagi, jadi Anang sekarang punya dua pasang sepatu kulit yang bagus.
Sudah semua?
Belum.
Ada satu amplop lagi didalam koper, yang berisi lebih banyak lagi lembaran kertas berharga didalamnya.
Anang menghela nafas panjang. Apa yang dia terima hari ini sangat berlebihan.
Anang mengambil ponsel lalu mengetik pesan kepada gadis remaja yang mengundangnya tadi.
'Dek, terlalu banyak yang kalian berikan tadi, Terimakasih banyak ya, Dek.'
Tidak terlalu lama, ada pesan balasan yang masuk diponsel Anang.
'Nggak apa-apa, Bang. Aku senang, teman-temanku juga senang tadi.' balas gadis remaja itu.
Kemudian Anang melihat fotonya bersama gadis itu, dikirim keponselnya.
'Aku mau Abang pasang foto itu, jadi foto profil Abang, sebagai hadiah ulang tahun untukku.'
Anang tersenyum membaca permintaan gadis itu.
'Ok." Balas Anang.
Didalam foto itu Anang terlihat tampan, dengan setelan jas, meski dia tidak memakai dasi.
Akun media sosialnya itu kemudian dibanjiri dengan pemberitahuan, tidak lama setelah foto profil itu terpasang.
Ada yang hanya sekedar menyukai, ada juga yang berkomentar, bertanya kalau itu hanya teman, atau pacar, atau adik Anang.
Anang rasanya tidak sanggup kalau harus membalas semua komentar disitu, jadi dia hanya melihat dan membacanya saja.
Begitu juga pesan yang masuk, banyak dan beruntun dari banyak orang yang mau tahu siapa gadis itu bagi Anang.
Anang tidak menjawab, bisa-bisa jempolnya keseleo kalau harus mengetik sebanyak itu.
Anang jadi lebih sering membaca di akun f*cebooknya, karena Anang sekarang sudah mengerti, kalau dari akun f*cebook itu dia kemungkinan dapat pekerjaan untuk menghibur, dengan suara nyanyian dan petikan gitarnya.
Dan memang benar, dia mendapat tiga pesan permintaan lagi untuk bernyanyi, lengkap dengan tawaran imbalan untuknya.
Anang lalu menyanggupi permintaan yang rata-rata akan diadakan malam selepas maghrib.
Sambil melihat-lihat tampilan akun f*cbooknya, dan mengkonfirmasi permintaan pertemanan baru, Anang mendengarkan musik dengan earphone ditelinganya.
Semakin lama, dan semakin sering Anang memegang, dan melihat ponselnya, Anang sudah semakin mengerti semua kegunaannya.
__ADS_1
Dengan semua kesibukkan Anang, sepanjang hari sampai malam itu, Anang jadi tidak terlalu merindukan Gita lagi. Meski dia masih mencoba memeriksa, dan dia hanya melihat pesan terakhir Gita, tapi dia tidak merasa sakit hati yang berlebihan seperti kemarin.
Anang melihat-lihat layar ponselnya sampai mengantuk, lalu tertidur dengan ponsel yang masih menyala.~
Ketika Anang terbangun keesokkan harinya, ponselnya sudah mati karena kehabisan baterai.
Setelah menyambung pengisi daya diponselnya, Anang kemudian turun kerakit disungai. Dia mau mandi dulu biar segar, sebelum belajar lagu-lagu baru lagi.
Rutinitas Anang hari ini berubah, dia juga tidak mencari pekerjaan serabutan baru, karena harus fokus dengan permintaan yang sudah dia sanggupi.
Malam ini, besok siang, besok malam, dan lusa malam.
Kalau Anang rutin mendapat tawaran bernyanyi, dia tidak perlu buru-buru mencari pekerjaan baru. Apalagi tawaran imbalan yang diberikan cukup besar, kalau dibandingkan dengan pekerjaannya sebagai pembantu tukang bangunan.
Pemberian gadis yang berulang tahun tadi malam, dan ayahnya saja, sudah bisa untuk membayar sewaan kost Anang sampai setahun kedepan.
Pekerjaan yang sesuai dengan hobi dan bakat juga terasa lebih menyenangkan untuk dikerjakan.
Anang jadi lebih bersemangat. Dia harus menampilkan yang terbaik, jadi yang mengundangnya tidak merasa kecewa.
Sekembalinya Anang dari sungai, baterai ponselnya sudah hampir penuh terisi daya.
Anang kemudian mengambil ponsel itu, lalu kembali berlatih lagu-lagu yang sesuai permintaan orang yang punya hajatan.
Belum terlalu siang rasanya, saat Anang masih asyik dengan gitarnya, tapi Santi sudah datang mengganggunya lagi.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Wanita ini tidak bisa menunggu Anang yang datang ketempatnya.
Kali ini Santi datang sambil membawa dua bungkus makanan, dan dua botol besar air mineral.
"Makan siang bareng aku," kata Santi yang tanpa menunggu persetujuan Anang, langsung duduk diatas kasur, bersebelahan dengan Anang disitu.
Anang melihat Santi dengan rasa heran.
Segininya wanita ini... Kasihan juga rasanya melihat Santi.
"Ayo makan dulu!" kata Santi lagi yang terlihat sudah membuka bungkus makanannya setelah menggosok tangannya dengan cairan hand sanitizer.
Anang memberi Santi selembar uang merah, sebelum dia ikut makan makanan yang dibawa Santi.
"Nggak usah!" kata Santi menolak pemberian Anang.
"Ambil saja! Nanti aku nggak mau makan lagi kalau kamu membelikan makanan seperti ini. Juga aku nggak mau lagi melayanimu," kata Anang
Anang memaksa sambil membesarkan matanya kepada Santi, dan menaik turunkan alisnya berkali-kali, sampai Santi menyerah, lalu memasukkan uang pemberian Anang kekantong celana pendeknya.
"Aku mau berlatih dulu, nanti aku ketempatmu," kata Anang, setelah mereka berdua selesai makan siang.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Kamu latihan saja. Aku cuma temani kamu, kok" kata Santi.