
Dengan menggunakan taksi lagi, Santi lalu membawa Anang berbelanja bahan makanan disebuah supermarket.
Tidak terlalu banyak belanjaan Santi disitu, Santi sudah mengajak Anang kembali ke kamar atau apartemen?
Karena Santi menyebut tempat tinggal mereka sekarang disitu adalah apartemen.
"Kalau kamu masih mau jalan-jalan, nanti saja ya?! Kita harus membawa barang-barang belanjaan kita ini ke apartemen," kata Santi, sambil mengangkat kantong plastik ditangannya yang tidak kalah banyak, dengan yang sekarang dipegang Anang.
Anang hanya mengikuti saja apa yang Santi katakan.
Mau bagaimana lagi?
Semua hal baru terasa sangat membingungkan bagi Anang, dan karena hanya Santi yang mengerti, Anang tidak terlalu mau banyak berkomentar.
Anang setuju-setuju saja.
Setelah meletakkan semua barang-barang belanjaannya keatas meja dapur, Santi mengeluarkan keran dan jet shower dari kantong plastik, berikut juga kunci pipa.
"Buka bajumu dulu, sebelum kamu mengganti keran. Disini air akan tetap mengalir. Tidak ada tempat mematikan air universal, kecuali melapor ke pengelola apartemen," kata Santi.
Benar saja.
Ketika Anang melepas sambungan air keran yang ada disitu, air langsung muncrat tanpa bisa Anang kendalikan.
Buru-buru Anang mengganti sambungan pipa dengan keran yang baru mereka beli.
Kalau begitu 'kan, Anang tidak perlu khawatir kalau mau pup kapan saja.
Setelah selesai memasang keran, Anang yang sempat menggigil kedinginan, mulai merasa lapar.
Ketika dia keluar dari kamar mandi, Santi kelihatan sudah sibuk didapur mini yang ada dikamar itu.
"Kamu bisa masak?" tanya Anang yang masih gemetaran sambil memakai pakaiannya.
Santi melihat Anang sebentar dengan wajah datar sebentar, sebelum dia kembali memperhatikan panci yang ada diatas kompor.
"Jangan mengejekku! Aku hanya bisa membuat telur dengan nugget," kata Santi.
Anang lalu menghampiri Santi, dan memeluknya dari belakang.
"Aku bukan mau mengejekmu... Malah bagus kalau ada yang sudah kamu masak. Aku sudah lapar!" kata Anang.
__ADS_1
Dan meski cuma telur mata sapi dan nugget ayam, aromanya cukup harum dan membuat Anang makin merasa lapar.
Setelah Santi selesai berkutat didepan kompor, Anang lalu membantu Santi, menata makanan diatas meja.
Telur mata sapi, nugget ayam, sayuran mentah yang diiris kasar, kentang yang di oven, juga sedikit nasi.
Iya sedikit, hanya untuk porsi satu orang makan.
"Kenapa nasinya sedikit sekali?" tanya Anang.
"Kamu saja yang makan itu! Aku makan kentang dengan salad saja... aku masih belum terlalu selera untuk makan," sahut Santi yang membuka kentang, yang terbungkus dengan lembaran tipis alumunium, diatas piringnya.
Salad, sayuran mentah yang dibuat Santi ternyata cukup enak, seperti lalapan yang sudah dicampur bumbu.
Sampai-sampai salad yang terisi hampir penuh didalam mangkuk kaca berukuran sedang, habis dimakan Anang dengan Santi dalam sekali duduk.
"Sepertinya sebentar lagi kamu dijemput ke studio Miss Jordan," celetuk Santi sambil membersihkan peralatan bekas mereka makan.
"Nanti kamu ikut kesana 'kan?" tanya Anang yang ikut membantu Santi disitu.
"Iya," sahut Santi singkat.
Ketika mereka tiba di bangunan mewah nna megah, dengan lambang J&H didepannya, tanpa menunggu lama-lama, mereka berdua langsung disuruh masuk kedalam.
Menurut kata Santi, mereka disuruh menunggu sebentar di lobi, dengan alasan Miss Jordan sedang ada tamu, dan mereka nanti akan diarahkan keruang administrasi.
Entah kenapa, apakah cuma perasaan Anang saja, tapi Santi kelihatan seperti tidak bisa berhenti memikirkan sesuatu.
Santi lebih banyak berwajah datar, dan jarang sekali tersenyum.
Seperti sekarang ada seorang laki-laki dengan ras asing yang tampak bersemangat saat bicara dengan Santi, tapi Santi kelihatan tidak terlalu tertarik untuk berbicara dengan orang itu.
Malah Santi tampak menghindari orang yang mengajaknya mengobrol itu.
Yang lebih aneh, meski dia tidak tertarik berbicara terlalu lama dengan satu orang, tapi hampir semua orang di studio itu, diajak Santi untuk berbicara dengannya bergantian.
Ketika mereka dibawa kesalah satu ruangan didalam studio, dan disodorkan lembaran kertas, dan Santi membacanya, raut wajah Santi terlihat seperti sedang berpikir keras.
Santi tidak memberitahu apa arti dari isi tulisan disitu kepada Anang, melainkan hanya membacanya sendiri tanpa mau bicara apa-apa.
"Jangan kamu tanda tangani dulu kontraknya! Tunggu sebentar disini...! Ada yang harus aku hubungi," kata Santi setelah membaca lembaran kertas, yang adalah kontrak Anang.
__ADS_1
Santi lalu berjalan keluar dari ruangan tempat Anang dan Santi, berhadap-hadapan dengan beberapa orang anak buah Miss Jordan.
Anang menunggu didalam situ untuk waktu yang cukup lama, sebelum Santi kembali ke ruangan itu.
"Tidak usah kamu tanda tangani! Kamu ikut denganku... Kita temui Miss Jordan diruangannya," ujar Santi, sambil menarik lengan Anang.
Anang tidak mau bertanya ada apa, dengan Santi, karena Santi yang memasang wajah serius, rasanya cukup membuat Anang merasa kalau ada yang tidak beres yang tidak bisa diterima oleh Santi.
Dan Anang tidak mau mengganggu Santi yang kelihatan sedang berpikir sesuatu sambil berjalan dengannya.
Anang hanya mengikuti Santi yang berjalan tergesa-gesa, menuju salah satu ruangan didalam studio itu.
Setelah Santi berbicara dengan seseorang yang duduk didekat pintu ruangan itu, mereka berdua kemudian dipersilahkan masuk dan duduk berhadap-hadapan dengan Miss Jordan, yang duduk dibelakang meja kerjanya.
Santi lalu berbicara bersahut-sahutan dengan Miss Jordan disitu.
Baik Santi maupun Miss Jordan tampak memasang wajah serius, dan terlihat sama-sama kesal, dengan gaya bicara seolah-olah sedang bersikeras tentang sesuatu.
Sesekali Anang melihat kedua wanita itu yang bergantian melihat Anang sebentar, sebelum lanjut berbicara bersahut-sahutan dengan wajah tegang.
Cukup lama Anang menunggu mereka berbicara sesuatu, yang sama sekali tidak Anang mengerti, sebelum terlihat wajah Santi berubah cerah, sedangkan Miss Jordan terlihat kesal.
"Ayo kita pergi menunggu diluar!" ujar Santi sambil menarik lengan Anang lagi, agar ikut berjalan dengannya keluar dari ruangan Miss Jordan sampai ke lobi.
"Mereka akan membuat ulang kontraknya. Tunggu saja dulu!" kata Santi, sambil membawa Anang duduk disofa yang ada di lobi.
"Ada apa?" tanya Anang ketika Santi sudah terlihat lebih tenang.
"Mereka akan mengeksploitasimu kalau kamu menandatangani kontrak yang tadi," kata Santi.
"Aku meminta Miss Jordan mengubah perjanjian kontrak, yang bisa membuatmu bekerja seperti kerbau disawah...
Kerbau disawah saja masih ada jam istirahatnya.
Tapi mereka mau kamu bekerja jauh lebih keras dari itu, dengan nilai kontrak lebih rendah dari orang yang bekerja sebagai asisten rumah tangga," sambung Santi.
Anang menundukkan kepalanya.
Kalau hanya bersama Peter sekarang ini, pasti Anang hanya akan menandatangani kontrak, tanpa tahu apa yang akan dia hadapi nanti.
"Kamu nggak usah khawatir... Aku akan mengurus semuanya," kata Santi lagi sambil menggenggam tangan Anang.
__ADS_1