
Kalau sedang berjalan,
Jangan hanya melihat keatas, langit tidak akan berkurang ketinggiannya, dan kakimu mungkin akan tersandung.
Jangan selalu melihat lurus kedepan, nanti kamu tidak tahu siapa yang akan menikammu dari belakang, atau menabrakmu dari samping.
Sesekali lihatlah kebawah, selain menghindarimu masuk kedalam lubang, mungkin kamu akan menemukan satu koin. ~
Kegiatan bernyanyi Anang siang ini, meski tampaknya tidak semua tamu undangan bisa hadir, karena banyaknya meja yang kosong, tapi dianggap Anang cukup berhasil.
Anang sempat diajak berfoto-foto dengan pasangan pengantin, dan beberapa tamu undangan.
Cukup membuktikan kalau Anang tidak mengacau kali ini.
Pikiran Anang yang tenang saat melihat Santi hanya mengobrol dengan beberapa wanita paruh baya, juga cukup menghibur Anang, agar tetap berkonsentrasi.
Pasangan pengantin yang terlihat bahagia, benar-benar memuaskan mata-mata yang memandangi mereka, dan cukup membuat Anang merasa iri.
Wajar!
Pasangan yang menikah itu usianya masih jauh lebih muda dari Anang, tapi sudah berani berkomitmen.
Atau karena gelembung diperut pengantin wanita yang sudah kelihatan, hingga gaun pengantinnya sesak, yang membuat mereka akhirnya buru-buru menikah.
Jangan coba-coba menghakimi!
Mungkin saking mereka terburu-buru, lalu 'pengaman'nya malah terpasang dijempol, dan bukan 'disitu', kita mana ada yang tahu. Iya 'kan?
Dari pada menambah beban negara dipanti asuhan, atau yang lebih buruk, dibuang dan jadi penyumbat selokan air, jelas keberanian anak-anak itu, untuk bertanggung jawab, patut Anang acungi jempol.
Sejak selesai bernyanyi, dan berfoto-foto ria, Anang menikmati makan siang ditempat itu, sambil ditemani Santi.
"Jadi mau ke kost'an lama?" tanya Santi.
Santi meletakkan tangannya diatas paha Anang, yang duduk bersebelahan dengannya.
"Iya. Kamu nggak capek 'kan?" tanya Anang yang masih memakan makanannya.
Meski pandangan mata Santi kelihatannya sedang melihat pelaminan, dan tidak melihat kearah Anang, tapi Anang bisa melihat Santi yang menggigit bibirnya sendiri, sambil meremas paha Anang.
Wah! Kelihatannya Anang harus buru-buru menghabiskan makan siangnya.
"Pengen?" tanya Anang sambil berbisik ditelinga Santi.
Santi menoleh kearah Anang disampingnya, sambil membesarkan matanya.
"Apa perlu kamu bertanya lagi?" ujar Santi.
Untung tinggal sekali suapan lagi, makanan Anang sudah habis dipiringnya.
Anang mengunyah sisa makanan dimulutnya secepat dia bisa, kemudian membawa Santi berdiri, dan pergi dari situ.
Sepanjang perjalanan pulang kekost, Santi terlihat sangat gelisah.
Seakan tidak perduli dengan supir yang duduk didepan, Santi membawa tangan Anang masuk dari bawah roknya, dan membiarkan Anang menyentuh pahanya.
Tumben!
Pasti ada yang memicu Santi, sampai tiba-tiba berfantasi seperti itu.
Segila-gilanya Santi, biasanya dia bisa menahan diri, kalau sedang berada didepan orang lain.
__ADS_1
Anang melirik spion.
Supirnya tidak melihat kebelakang, mungkin karena sibuk memperhatikan jalanan yang masih diguyur hujan lebat.
Santi terlihat makin gelisah.
"Diremas, sayang..." bisik Santi dengan suara bergetar.
Anang yang sudah memegang paha Santi bagian dalam, menuruti kemauan Santi.
Menyentuh kulit halus nan hangat, dan meremasnya seperti itu, bukan hanya Santi yang gelisah, Anang laki-laki normal, jelas juga ikut gelisah.
Anang jadi tidak sabar untuk cepat tiba dikost.
Bayangan Anang tentang caranya untuk memuaskan Santi, benar-benar mengganggu ketenteraman didalam celana Anang.
Setibanya dikost-kostan, Anang sudah sama gilanya dengan Santi.
"Nggak usah pakai k*nd*m. Kamu buang diluar aja," kata Santi, sambil menahan tangan Anang, yang hampir memasang karet dipersnelingnya.
Heh?
Bagaimana kalau Anang lupa cara menariknya keluar tepat waktu?
Apa Santi sudah siap membelendung?
Aaahh... Itu dia!
Tampaknya bayangan tentang pengantin yang sedang hamil tadi, yang memicu fantasi s*x Santi.
Meski merasa agak khawatir, Anang tetap menuruti permintaan Santi.
Kalau perut Santi muncul balon, salahnya Santi sendiri, ditambah salah Anang sedikit.
Berhasil?
Tidak.
Anang yang ke'enakkan, benar-benar lupa kapan dia harus berhenti mencelup tehnya dicangkir Santi.
Alhasil keduanya jadi panik sendiri.
"Kenapa kamu tidak berhenti?" tanya Santi dengan wajah cemas, sambil berlari kekamar mandi.
Anang tidak bisa menjawab pertanyaan Santi.
Siapa yang bakal ingat kalau sudah begitu?
Benar, tidak?
Apalagi rasanya jauh lebih enak, daripada pakai pembatas karet.
Kelihatannya Anang sekarang harus bersiap-siap, untuk dipanggil 'ayah'.
Entah kekacauan apa yang akan terjadi, saat sang ibu lagi pengen, lalu anaknya menangis.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kacau!
Masa Anang harus berebutan 'susu' dengan anaknya?
__ADS_1
Santi lalu terlihat keluar dari kamar mandi, sambil berlilitkan handuk.
Kemudian Santi terlihat sibuk dengan ponselnya.
Raut wajah Santi tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya.
Anang tidak berani bersuara, sampai bernafas saja Anang usahakan sepelan mungkin, agar tidak mengganggu Santi.
"Banjir dikost'an lama meluas parah. Lebih dari separuh pemukiman tenggelam," celetuk Santi sambil tetap menatap ponselnya.
Anang melihat wajah Santi, tampaknya sudah tidak sepanik tadi, malah sekarang terlihat sedih.
"Kamu mau menyumbang sesuatu?" tanya Santi yang sekarang sudah melihat Anang.
"Iya. Sebentar!" ujar Anang lalu berjalan kekamar mandi.
Sambil mebersihkan dirinya didalam kamar mandi, muncul beberapa pertanyaan dikepala Anang.
Santi sudah tidak panik dengan kecelakaan yang tidak disengaja tadi.
Apa memang Santi sudah siap memberikan Anang keturunan?
Apa sekarang Anang harus membeli cincin, dan melamar Santi?
Atau Anang membawa Santi untuk memilih sendiri cincinnya?
Berarti Anang akan segera menikah?
Tapi, itu rasanya tidak menjadi masalah bagi Anang.
Anang memang mau Santi tetap bersamanya.
Meski kejadian tadi, Anang tidak sengaja melakukannya.
"Buruan! Kita masih harus belanja, kalau mau membawa sesuatu kesana," terdengar suara Santi dari balik pintu.
"Iya. Aku sudah selesai," sahut Anang, lalu buru-buru memakai handuk, dan berjalan keluar dari kamar mandi.
Anang rencananya akan membawa Santi memilih cincinnya sendiri saja nanti.
Anak-anak seperti pengantin tadi saja berani, masa Anang takut?
Anang harus usahakan sebelum perut Santi membesar, Anang harus sudah menikahi Santi.
"Kita belanja, nanti minta tolong orang toko saja yang antarkan," kata Santi yang sudah hampir selesai memakai pakaiannya.
Santi hanya memakai kaus longgar, dengan celana pendek dibawah lutut.
Anang juga memilih untuk memakai pakaian, yang gayanya mirip-mirip dengan Santi.
"Sudah selesai?" tanya Santi.
Anang menganggukkan kepalanya.
"Iya," sahut Anang.
"Aku sudah pesan taksi. Ayo kita tunggu diluar," kata Santi, sambil memegang tangan Anang, dan agak menariknya sedikit agar ikut dengannya.
Anang tidak bergerak, dan membuat Santi melihatnya dengan tatapan heran.
Anang memeluk Santi erat-erat, dan mencium bibir Santi sebentar disitu.
__ADS_1
"Aku akan tetap bersamamu. Apapun yang akan terjadi nanti," kata Anang bersungguh-sungguh.