SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 50


__ADS_3

Kelihatannya Santi memang percaya dengan perkataan Anang, atau mungkin dia lebih memilih untuk tidak ambil pusing dengan apa yang Anang pikirkan.


"Kita kembali ke kost saja dulu ya?! Nanti aku pesankan makanan," celetuk Santi ketika mereka sudah dalam perjalanan.


"Terserah kamu saja," ujar Anang.


Setibanya di kamar kost, Anang kemudian memainkan gitar barunya sambil duduk di pinggir ranjang.


Sedangkan Santi bertelungkup di ranjang, bersebelahan dengan Anang, yang membelakanginya, sambil mengutak-atik layar ponselnya.


Suara ketukkan dipintu kamar mereka, membuat semua perhatian mereka menuju kesitu.


"Cepat amat datangnya?!" ujar Santi sambil beranjak turun dari ranjang.


Anang yang masih memangku gitarnya, juga berhenti memetik senarnya, dan melihat Santi yang berjalan ke pintu.


Santi terlihat membuka pintu, dan kerusuhan kemudian terjadi.


Masih ingat dengan pacar obsesif?


Anang melihat Gita yang menerobos masuk, tanpa memperdulikan Santi yang dia tabrak, sampai tersandar ke dinding kamar.


Gita tergesa-gesa menghampiri Anang.


"Aku mau bicara denganmu! Sekarang!" kata Gita ketus, sambil berdiri di depan Anang.


Anang yang kebingungan melihat Gita yang bisa menemukan tempat tinggal barunya, hanya terdiam dan menatap Gita dengan perasaan heran.


Bukan main!


Apa Gita adalah siluman anjing pelacak?


Bagaimana dia bisa tahu Anang disini?


Santi terlihat berjalan pelan, sambil menggosok-gosok bokongnya, yang mungkin sakit karena mencium dinding.


Anang tidak bisa bicara apa-apa.


Kosakata yang biasa Anang pakai, sekarang tergembok rapat-rapat.


Dengan santainya, Santi terlihat kembali bertelungkup di atas ranjang.


Sedangkan Gita bernafas cepat, sampai dadanya yang memompa udara dengan terburu-buru, terlihat seperti akan meletus saat itu juga.


"Mas!" seru Gita setengah berteriak, sambil menatap Anang lekat-lekat.


Belum sempat Anang menyahut, Santi lalu berkata,


"Kamu mau makan juga? Aku pesankan sekalian."


Kata-kata Santi bagaikan pemicu bom kemarahan Gita.


"Diam kamu!" seru Gita, membentak Santi.


Santi kelihatannya tidak perduli, karena dia malah menggoyang-goyang kakinya yang dia lipat ke atas.


Anang melihat Gita, yang seakan-akan hendak mencabik-cabik Santi dan Anang sekarang.

__ADS_1


"Kamu mau bicara apa? Bicara saja di sini," kata Anang pelan, sambil meletakkan gitarnya ke atas ranjang, jauh ke samping Santi.


Anang tidak mau gitar barunya jadi korban kekerasan dalam rumah tangga lagi.


Kali ini Gita yang terdiam, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.


"Apa kita bisa bicara berdua saja?" tanya Gita dengan suara yang sudah agak tenang.


Santi terlihat bergerak, seperti hendak turun dari ranjang, tapi Anang menahannya dengan memegang kakinya.


"Kamu mau bicara? Bicara saja. Di sini Santi ikut membayar sewanya. Jadi dia punya hak untuk tetap di sini," kata Anang.


Raut wajah Gita, terlihat jelas kalau dia tidak senang dengan perkataan Anang.


Tapi, Gita menurut saja.


Gita menarik kursi di dekat meja, lalu membuatnya duduk berhadap-hadapan dengan Anang.


"Katamu kamu mencintaiku. Aku juga mencintaimu. Aku mau kita pacaran," kata Gita, dengan raut wajah serius.


Anang bisa merasakan kasur yang berguncang, tampaknya Santi sedang tertawa di belakang Anang, tanpa mengeluarkan suaranya.


Anang menghela nafas panjang.


"Gita! Kenapa kamu jadi aneh begini?" ujar Anang.


"Sudah ...! Terima saja!" terdengar suara Santi menyambung pembicaraan Anang dengan Gita.


Tapi perkataan Santi tidak membuat Gita marah. Gita malah terlihat senang dengan tersenyum lebar kepada Anang.


Ranjang kembali terasa berguncang, Santi tampaknya tertawa lagi.


"Aku nggak bisa pacaran sekarang. Aku sibuk dengan kerjaanku," ujar Anang mencari-cari alasan.


"Ah, Sok sibuk." terdengar Santi kembali bersuara, dan membuat Anang hilang kesabarannya.


"Santi! Kamu bisa diam nggak?!" seru Anang, dengan suara tinggi.


Santi kemudian duduk lalu memeluk Anang dari belakang, sambil dagunya disandarkan di salah satu bahu Anang.


"Cantik, loh! Kamu sudah pernah bilang cinta dengannya. Jangan ditolak lagi sekarang...." kata Santi enteng.


Gita yang awalnya seakan hendak menerjang Santi karena Santi memeluk Anang, lalu terlihat sedikit lebih tenang saat mendengar ucapan Santi, meski masih ada sisa sedikit raut kekesalan di wajahnya.


"Santi! Jangan masuk campur!" kata Anang pelan.


Sekarang Anang makin bingung dibuat dua wanita itu.


Anang merasa senang dipeluk Santi seperti itu, tapi kesal juga dengan perkataannya, begitu juga dengan Gita.


Meski Anang senang karena Gita tidak menghancurkan barang-barang di situ, tapi Anang sudah tidak tertarik untuk berpacaran dengannya.


Malah Anang sekarang sudah lupa, kalau dia pernah jatuh cinta dengan wanita itu.


Anang sedikit khawatir kalau-kalau dia menolak Gita mentah-mentah, lalu kekacauan akan terjadi disitu, dan gitar barunya akan ikut gugur saat itu juga.


"Mas! Kita pacaran ya?!" ujar Gita terdengar memaksa.

__ADS_1


Anang tidak tahu caranya bicara, agar Gita bisa mengerti dan tidak menabuh genderang perang.


"Kita berteman saja dulu." Akhirnya Anang memilih kalimat itu untuk Gita.


Gita hanya terdiam, entah apa yang ada di kepalanya sekarang.


"Tapi aku bisa bertemu kamu kapan pun aku mau?" tanya Gita.


Anang masih memikirkan jawaban untuk pertanyaan Gita, Santi sudah duluan menjawab,


"Iya!"


Anang baru saja hendak bicara, begitu juga Gita yang terlihat akan bicara lagi, tapi suara ketukan di pintu menyela perkataan mereka berdua.


Anang lupa apa yang akan dia katakan dengan Gita.


Akhirnya, Anang dan Gita sama-sama terdiam.


"Makanannya datang!" ujar Santi, lalu melepas pelukannya dari Anang, kemudian berjalan ke pintu.


"Makasih, mas!" terdengar suara Santi, sebelum suara pintu tertutup, dan Santi kembali berjalan masuk.


"Makan dulu! Aku sudah lapar," kata Santi enteng.


Santi lalu terlihat duduk bersila di lantai, sambil membuka kantong plastik berisi tiga bungkus makanan, dan beberapa botol besar air mineral.


"Ayo makan dulu! Nanti kalau sudah kenyang, baru bahas pacarannya lagi," ujar Santi yang terlihat berdiri dan berjalan ke kamar mandi.


Tak lama dia keluar lagi, dengan tangannya yang basah.


Anang memang akan gila melihat gerak-gerik kedua wanita itu, apalagi kalau Anang memperhatikan Santi.


Di situasi yang dirasa Anang sangat canggung, tapi Santi masih terlihat santai, seolah-olah tidak terganggu sedikit pun dengan suasana yang kaku seperti itu.


Anang berdiri dari duduknya, lalu pergi mencuci tangannya di wastafel, berikut juga wajahnya yang tak luput dari air keran yang dingin.


Santi benar-benar terlihat tidak perduli kalau Anang mungkin nanti berpacaran dengan Gita.


Gita mengejar Anang, sedangkan Anang sekarang sedang berlari mengejar Santi, dan Santi sibuk dengan dunianya sendiri.


Sudah tahu 'kan?


Iya... Anang jatuh cinta dengan Santi.


Anang tidak bisa membohongi dirinya sendiri lagi.


Ada yang lebih rumit dari itu?


Mungkin ada, tapi Anang tidak pernah melalui kejadian seperti itu.


Anang sekarang butuh saran dari orang yang lebih berpengalaman.


Tapi siapa?


Anang bagaikan katak dalam tempurung.


Dunia itu luas, tapi Anang tidak tahu apa-apa, hanya bisa meloncat-loncat di situ-situ saja.

__ADS_1


__ADS_2