SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 109


__ADS_3

Anang dan Santi menemani Lia di rumah sakit, sampai Lia kembali tersadar.


"Kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti itu?" ujar Anang yang melihat mata Lia sudah terbuka.


"Anang!" seru Santi sambil mengerutkan alisnya.


"Benar kata Anang... Aku memang bodoh..." kata Lia pelan.


Santi yang duduk dikursi, didekat ranjang Lia, lalu mengelus-elus kepala Lia, yang masih terbaring lemah.


"Jangan pernah lagi kamu berpikir untuk menghabisi nyawamu seperti itu! Kamu harus yakin dengan dirimu sendiri, kalau kamu bisa bertahan.


Kamu kira kalau kamu mati, kekasihmu akan sedih? Mungkin saja dia sedih, tapi tidak akan butuh waktu lama, dia akan melanjutkan hidupnya, dan lupa denganmu," ujar Anang.


Anang benar-benar merasa kesal, dengan sikap Lia yang menyerah begitu saja.


"Anang! Mas...!" ujar Santi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu mau Lia bisa baik-baik saja? Dia harus sadar dari kebodohannya. Bagaimana kalau kita tidak bersamanya tadi?" ujar Anang kepada Santi.


Santi terdiam.


Lia terlihat menangis terisak-isak, dan mengelap air matanya dengan tangannya, kasar.


"Maafkan aku, kalau kamu menganggap ku terlalu kasar denganmu...


Tapi rasanya salah kalau aku tidak menegurmu, dan hanya mendengarkan keluh kesahmu tanpa bisa memberikan solusi, lalu membiarkanmu begitu saja," ujar Anang kepada Lia.


Dengan mata yang terlihat masih sangat sedih, Lia melihat kearah Anang, lalu mengangkat tangannya, seolah-olah meminta Anang untuk memegang tangannya.


Anang lalu duduk dipinggir ranjang, dan memegang tangan Lia, sambil mengelusnya pelan dengan jempol tangannya.


"Aku pasti membuat kalian sangat khawatir..." ujar Lia.


"Iya, kami sempat mengira, kalau kami terlambat menolongmu. Kamu ini...! Cantik-cantik, tapi bodoh!" ujar Anang.


Lia tertawa pelan.


"Aku nggak akan melakukannya lagi...! Aku janji!" ujar Lia lalu tersenyum, sambil melihat Anang dan Santi bergantian.


Santi terlihat bingung, seakan tidak percaya kalau Anang bisa membuat Lia merasa lebih baik.


Lia kini terlihat sudah bisa berbicara dengan Santi sambil tertawa.


Siapa yang menyangka, kalau teguran keras Anang malah bisa membuat Lia terlihat lebih tegar.


Kelihatannya memang ada orang yang hanya perlu didengarkan keluhannya, tapi ada juga orang yang butuh ketegasan untuk menyadarkannya.


Tinggal kita saja yang harus tahu memposisikan diri.


Apakah hanya cukup jadi pendengar, atau harus menjadi pengingat, meski harus dengan sedikit bersikap keras.


"Berikan saja berkas kalian pada anak buahku, aku akan menyuruh mereka mengurusnya nanti!" kata Lia.


"Nggak usah terlalu dipikirkan sekarang..." sahut Santi.


"Nggak apa-apa...Kalau sempat, aku besok akan kembali bekerja.

__ADS_1


Mungkin kalau aku sibuk dengan pekerjaan, mungkin aku tidak akan terlalu memikirkan sesuatu, yang bisa membuatku merasa gila," ujar Lia.


Sekarang hari sudah mulai sore, Santi terlihat memperhatikan layar ponselnya.


"Anang ada kerjaan malam ini?" tanya Lia.


"Iya," sahut Santi.


"Kalian pergi saja. Aku janji aku akan baik-baik saja. Kalian nggak usah khawatirkan aku." ujar Lia.


"Mas Anang!" seru Lia.


Anang lalu mendekat ke ranjang.


"Terimakasih...!" kata Lia lalu tersenyum kepada Anang.


Anang menganggukkan kepalanya pelan.


"Jangan berbuat aneh-aneh lagi! Masih banyak wanita lain diluaran... Selain Santi!" ujar Anang.


Santi dan Lia bertatap-tatapan, lalu tertawa terbahak-bahak.


"Kalau begitu, kami pulang dulu ya?! Besok pagi kami antar berkasnya kekantormu," ujar Santi.


"Iya." sahut Lia sambil melambaikan tangannya.


Anang dan Santi lalu berjalan keluar dari dalam ruangan tempat Lia dirawat.


"Rata-rata penyuka sesama jenis pasti posesif..." celetuk Santi, saat berdiri bersama Anang dipinggir jalan, sambil menunggu jemputan mereka datang.


Anang hanya terdiam, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Mungkin karena sulit menemukan yang seirama dengan mereka..." sambung Santi lagi.


Tak lama jemputan mereka sudah datang, dan membawa Anang dan Santi kembali ke kost-kostan.


"Apa aku harus pakai dasi?" tanya Anang setelah melihat perlengkapan pakaiannya, yang sudah diletakkan Santi diatas ranjang.


"Iya, sayang...!" sahut Santi.


"Undanganmu untuk resepsi pernikahan. Kamu diminta harus memakai pakaian lengkap, dan rapi," sambung Santi.


Setelah Anang selesai berpakaian dan tinggal dasinya saja yang belum terpasang, mau tidak mau harus menunggu Santi sampai selesai berdandan, untuk memasangkan dasi untuknya.


Santi lalu memasangkan dasi dileher Anang, kemudian menarik dasi, sampai Anang menunduk mendekat kepadanya.


"Kamu laki-laki hebat!" ujar Santi lalu tersenyum dan mencium bibir Anang.


"Tumben mau dicium meski sudah pakai lipstik?!" ujar Anang sambil memeluk Santi, sampai kaki Santi terangkat dari lantai.


Santi tertawa.


"Aku mau..." bisik Santi ditelinga Anang.


"Heh? Kita nanti terlambat." ujar Anang panik.


"Sekali saja... Rasanya masih sempat," ujar Santi dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Ya sudah, Anang turuti saja kemauan Santi.


"Sudah?" tanya Anang.


Santi menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum.


Sampai diacara yang mengundang Anang bernyanyi, Santi masih saja menggigit bibirnya sendiri sambil melihat Anang bernyanyi.


Anang hampir kehilangan konsentrasinya gara-gara melihat gerak-gerik Santi, yang menggodanya.


Apa lagi yang memancing Santi kali ini?


kelihatannya Anang harus bekerja keras malam ini, padahal makan siang tadi saja sudah mereka lewatkan.


Anang harus mengisi perutnya dulu, sebelum bertanding gulat dengan Santi.


Tapi Santi seakan tidak mau menunda-nunda lama-lama.


Anang masih makan, tangan Santi sudah bergerilya dipaha Anang.


Hampir-hampir Anang tidak bisa mengunyah makanannya, karena tangan Santi yang terlalu heboh dibawah meja.


"Tunggu sebentar ya?! Aku habiskan makananku dulu..." kata Anang sambil berbisik.


Santi memang mengangguk seolah-olah setuju, tapi tetap saja tangannya meremas paha Anang disitu.


Anang hampir tersedak makanannya, ketika tangan Santi yang terlalu jauh bergerak keatas pahanya bagian dalam.


Mau tidak mau Anang harus makan, sambil tangan sebelahnya lagi menggenggam tangan Santi dibawah meja.


"Kenapa?" tanya Anang.


Santi melihat Anang sebentar lalu berbisik,


"Buruan..."


Hembusan nafas Santi ditelinga Anang, benar-benar bisa membuat Anang ikut gelisah.


Secepatnya Anang menghabiskan makannya, dan membawa Santi keluar dari tempat itu.


Untung saja tempat acara itu diselenggarakan, tidak terlalu jauh dari kost-kostan mereka.


Santi menggeliat hebat, saat mereka masih didalam taksi yang mengantarkan mereka kembali kekost'an.


Pintu kamar tidak sempat terkunci, hanya didorong begitu saja, Santi sudah memaksa membuka semua kancing kemeja Anang.


Nafas Santi yang memburu, tak kalah dengan suara nafas Anang, yang sudah hilang akal sehatnya, setelah Santi menyentuh Anang 'kecil', dengan mulutnya.


Anang tidak tahan lagi, lalu mengangkat Santi sampai tersandar ke dinding.


"Jangan menyerah...!" kata Anang. ~


Entah apa yang merasuki Santi saat itu.


Meski Anang mencoba mengingat-ingat apa yang kira-kira memicu Santi, tapi tampaknya tidak ada yang cocok.


Sudahlah... Nanti saja.

__ADS_1


Memangnya kapan Anang bisa berpikir dengan jernih, atau mengingat sesuatu dengan baik, kalau Santi sudah merajalela ditubuh Anang.


__ADS_2