SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 129


__ADS_3

Sepanjang hari itu, Anang benar-benar mengistirahatkan tubuh dan pita suaranya.


Apa-apa yang Anang butuhkan, Santi yang tidak berhenti memantau Anang, yang menyediakannya untuk Anang.


Anang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur, dan diwaktu-waktu tertentu, Anang disuap Santi makan, dan meminum obatnya.


Mungkin karena efek obat-obatannya juga, yang membuat Anang jadi lebih sering merasa mengantuk.


Beberapa kali saat Anang terbangun dari tidurnya, Santi terlihat duduk dikursi yang dia letakkan didekat ranjang, sambil menatap layar ponselnya, dan hampir selalu terlihat sibuk mengetik-ngetikkan sesuatu dilayar ponselnya itu.


Anang tidak tahu apakah Santi sempat istirahat atau tidak, apakah Santi sempat makan atau tidak, karena Anang terlalu banyak tidur.


Sedangkan kalau Anang bertanya, Santi hanya berkata kalau dia sudah makan, dan dia sempat tertidur sebentar.


Tapi perasaan Anang mengatakan kalau Santi berbohong, dan hanya sibuk menjaga Anang, dan tidak mengurus dirinya sendiri.


Meski begitu, Anang tidak bisa memastikan, apakah Santi memang sempat mengurus dirinya sendiri, karena mata Anang yang sebentar-sebentar terasa berat, dan rasanya ingin tidur saja terus-terusan.


Sekali ketika Anang terbangun, Santi tertidur dengan posisi sama seperti malam tadi.


Padahal Anang sudah jauh lebih baik keadaannya sekarang, tapi Santi tampak masih ekstra menjaga Anang, seakan takut kalau kondisi Anang memburuk, dan dia sedang tidak awas.


Mestinya Santi bisa tidur nyenyak disamping Anang diatas ranjang, tapi Santi seolah-olah tidak mau tidurnya terlalu nyenyak demi menjaga Anang.


Anang melihat layar ponselnya, sudah hampir jam tiga pagi.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu beranjak turun dari ranjang.


Perlahan-lahan Anang mengangkat Santi, dan memindahkannya keatas ranjang.


Santi tidak terbangun, dan tetap tertidur pulas.


Sepertinya Santi memang benar-benar kelelahan menjaga Anang.


Kalau begini caranya, bisa-bisa nanti Santi yang sakit.


Hanya sebentar Anang memandangi Santi yang sedang tertidur, tapi mata Anang sudah mulai terasa berat lagi, Anang mengecup dahi Santi, lalu kembali tidur disamping Santi sambil memeluknya erat-erat.


Ketika Anang terbangun lagi, Santi sudah berpakaian rapi lengkap dengan jaket, dan semua perlengkapan untuk menghalangi dinginnya suhu diluar.


"Kamu mau kemana?" tanya Anang pelan.


Suara Anang sudah kembali, meski belum sepenuhnya merdu seperti aslinya, dan masih agak serak-serak basah.


Santi melihat Anang, dan tampak sangat terkejut, lalu tersenyum lebar.

__ADS_1


"Kamu sudah jauh lebih sehat," ujar Santi, lalu menghampiri Anang dan memeluknya erat-erat.


"Suaramu yang ini, terdengar lebih seksi..." bisik Santi lalu tertawa pelan, kemudian mengecup pipi Anang.


"Jangan banyak bicara dulu, ya?! Biar suaramu benar-benar pulih," sambung Santi.


"Iya, tapi kamu mau kemana?" tanya Anang pelan.


"Aku mau ke studio Miss Jordan. Ada yang mau aku cari disana, sekalian ambilkan makananmu," sahut Santi.


"Kamu tunggu saja disini, ya?! Istirahat, biar bisa sehat total, jadi nggak membuatku khawatir lagi," sambung Santi.


Anang menganggukkan kepalanya.


"Sebentar! Aku buatkan kamu sarapan dulu! Makan, lalu minum obat lagi!" ujar Santi yang melepaskan pelukannya dari Anang.


Santi lalu terlihat sibuk didapur.


Wajah Santi terlihat agak pucat, meski dia masih terlihat bersemangat untuk melakukan segala sesuatunya.


Setelah Santi selesai membuatkan Anang makanan, Santi masih seperti kemarin, memaksa Anang sarapan dengan menyuapkannya makan.


Memangnya Anang masih bisa berkutik kalau sudah seperti itu?


Meski begitu, biar Anang tidak terlalu berselera untuk makan, Anang tetap berusaha untuk mengunyah dan menelan makanannya.


Selesai menghabiskan sarapannya, Santi lalu memberikan dosis obat yang harus Anang minum, sambil menunggu Anang menelan obat-obatannya, sebelum Santi pergi dari apartemen.


"Kalau ada rasanya mengantuk, langsung tidur! Toh, nggak ada juga yang perlu kamu lakukan," ujar Santi sebelum menghilang dari balik pintu kamar apartemen.


Anang berjalan mendekat ke jendela, dan melihat keluar, saat Santi terlihat mencegat taksi dan berlalu pergi ke studio Miss Jordan.


Anang tertinggal sendirian didalam situ, dan itu rasanya tidak menyenangkan bagi Anang.


Entah kenapa, kalau Anang tidak melihat Santi disekitarnya seperti itu, rasanya seperti Santi meninggalkannya dan tidak akan kembali lagi.


Membayangkan seperti itu, sedangkan masih di negara asalnya saja, tidak mengenak-kan hati, apalagi kalau dinegeri orang seperti sekarang.


Anang masih memandangi keluar jendela, sambil melihat-lihat orang-orang yang ada diluar, sementara matanya belum terasa mengantuk lagi.


Apakah Anang memang tidak memperhatikan waktu itu, atau memang baru-baru saja ada tenda untuk orang berkemah, terpasang berdiri ditrotoar diseberang jalan.


Untuk apa orang berkemah ditengah kota seperti ini?


Setelah Anang makin mendekat ke jendela agar bisa memperluas area jangkauan pandangnya, ternyata bukan cuma satu, tapi ada beberapa tenda yang terpasang berjejer disitu.

__ADS_1


Memangnya disini tidak ada hutan untuk berkemah?


Rasanya aneh melihat orang berkemah ditrotoar seperti itu.


Kelakuan orang-orang dinegara ini, ada-ada saja.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.


Lama-kelamaan melihat keluar jendela itu jadi membosankan, karena selain orang-orang dengan kulit berbeda-beda yang berlalu lalang dijalan, tidak ada perbedaan yang berarti jika dibandingkan dinegara Anang.


Anang duduk disofa sambil mengutak-atik ponselnya, sambil mendengarkan lagu dari situ.


Tidak bertahan lama Anang melihat layar ponsel dan mendengarkan lagu, Anang sudah mulai merasa mengantuk.


Anang lalu berbaring diranjang, dan rasanya tidak terlalu lama dia berbaring, Anang sudah tidak ingat apa-apa lagi.


Ketika Anang terbangun lagi, Santi masih belum terlihat didalam situ.


Ada bungkusan makanan yang diletakkan Santi dikursi didekat ranjang, lengkap dengan obat-obatan, serta catatan kecil dikertas.


'Dimakan, lalu minum obatnya, ya sayang. Urusanku masih belum selesai diluar.'


Anang membaca pesan dicatatan itu, lalu meletakkan kertasnya begitu saja.


Kali ini meski Santi tidak menyuapinya, Anang tetap harus makan.


Kalau Anang masih sakit, maka Anang tidak akan bisa ikut kemana Santi pergi, dan hanya akan terkurung didalam kamar sendirian.


Setelah selesai makan dan meminum obatnya, Anang kembali melihat keluar jendela.


Santi sebenarnya mengurus apa?


Kenapa sampai lama sekali nggak selesai-selesai, dan harus bolak-balik begitu?


Apa Santi nggak tahu kalau Anang bosan sendirian, meskipun banyak waktu dia habiskan untuk tidur, tapi pada saat Anang terbangun, Anang lebih suka kalau dia bisa melihat Santi didekatnya.


Rasanya jalanan diluar semakin ramai kendaraan berlalu-lalang, dan ada beberapa orang yang berkemah di trotoar, sedang duduk-duduk diluar dan tampak sedang berbincang-bincang disana.


Anang lalu kekamar mandi, air panas rasanya tidak akan menyakiti Anang kalau Anang mandi meski masih belum terlalu sehat.


Setelah selesai mandi, Anang melihat didalam kamar, masih tidak terlihat Santi disitu.


Kalau begini terus rasanya Anang mau merajuk, karena ditinggal Santi terlalu lama.


Santi harus tahu kalau Anang kesal dengannya.

__ADS_1


__ADS_2