SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 54


__ADS_3

Kelihatannya Anang memang akan menyesali pekerjaan sia-sia yang dia lakukan demi Santi.


Ketika Anang sedang bernyanyi di atas panggung, tempat acara pernikahan berlangsung, yang mengundang Anang.


Anang melihat Santi yang terlihat senang, dengan santainya dipegang tangannya, oleh seorang laki-laki ras kulit putih.


Gerak-gerik Santi sungguh merusak konsentrasi Anang.


Meski Anang memejamkan matanya, dan berusaha untuk fokus dengan lirik dan nada lagu, bayang-bayang Santi dengan laki-laki itu, tetap berputar-putar dipikirannya.


Beberapa kali Anang kehilangan lirik, atau meleset nada saat bernyanyi, dan akhirnya menarik perhatian orang-orang yang ada disitu.


Kecuali Santi, yang masih tertawa kecil dengan laki-laki yang bersamanya, dan tampak tidak menghiraukan Anang.


Seseorang menepuk punggung Anang, yang sedang termangu diatas panggung.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya salah satu kerabat dari orang yang mengundang Anang.


"Maafkan saya! Tapi, apa saya bisa permisi ke toilet sebentar?" ujar Anang.


Orang itu tampaknya mengerti kalau Anang sedang tidak baik-baik saja.


"Silahkan!" kata orang itu.


Tergesa-gesa Anang berjalan ketoilet yang ada digedung tempat acara diselenggarakan.


Anang mencuci tangan dan wajahnya diwastafel.


Anang melihat wajahnya dicermin, yang tampak pucat, dengan matanya yang berkunang-kunang.


Kepala Anang terasa pusing dan sakit.


Santi benar-benar merusak otak Anang.


Hanya membayangkan saja kalau Santi dipeluk laki-laki itu, membuat Anang kesal setengah mati.


Anang hampir saja meninju cermin, yang menempel di dinding didepannya.


Kembali Anang mencuci wajahnya dengan air dingin disitu.


Kalau dia tidak bisa mengendalikan emosinya, maka kemungkinan besar Anang akan merusak citranya sendiri.


Anang menghela nafas panjang, dan menghembuskannya berulang-ulang, sampai Anang merasa yakin kalau dia bisa lanjut bernyanyi.


Tapi keyakinan itu seakan tidak ada, rasa cemburu lebih kuat untuk menguasai pikiran Anang.


Kekacauan mungkin akan terjadi kali ini.


"Ada apa denganmu? Apa kamu sakit?" tanya seseorang yang tiba-tiba berdiri dibelakang Anang.


Anang melihat orang itu dari pantulan cermin didepannya.


Seorang laki-laki berusia lanjut, berpakaian rapi dengan setelan jas dan lengkap dengan dasi dilehernya, sedang berdiri dibelakang Anang, sambil melihat Anang.

__ADS_1


Anang kemudian berbalik.


"Kepala saya sakit," kata Anang.


"Apa mau minum obat?" tanya laki-laki itu.


"Nggak usah, Pak. Mungkin saya hanya kelelahan," sahut Anang lalu mencuci wajahnya sekali lagi.


Masih ada beberapa lagu lagi yang harus Anang nyanyikan.


Apa yang harus Anang lakukan sekarang agar bisa sedikit merasa tenang?


"Kalau mau istirahat dulu, tidak apa-apa. Nanti saya beritahu anak saya, kalau kamu lagi kurang sehat," kata laki-laki itu, yang tampaknya orang tua dari pengantin yang mengundang Anang.


"Terimakasih, Pak! Saya keluar dulu. Permisi!" kata Anang, lalu kembali tergesa-gesa keluar dari situ, dan kembali keatas panggung.


Ketika Anang melihat kearah Santi berdiri tadi, wanita itu sudah tidak ada disitu, begitu juga laki-laki bule yang bersamanya, juga ikut menghilang.


Anang tidak bisa memikirkan atau menduga-duga hal lain lagi.


Anang merasa yakin, kalau Santi sekarang sudah pergi bersenang-senang dengan laki-laki bule itu.


Anang merasa akan pingsan disitu, dengan bayangan-bayangan gila yang ada dipikirannya sekarang, yang membuat kepalanya terasa akan pecah saking pusing dan sakitnya.


Anang berusaha sebisanya agar bisa lanjut bernyanyi, didepan orang-orang yang menunggunya.


Anang memang lanjut bernyanyi, tapi suaranya seakan kehilangan nyawanya.


Suara Anang jadi datar, dan membuat lagu yang dia nyanyikan jadi tidak bermakna seperti biasanya.


Tampaknya terdengar jelas kalau Anang hanya mau cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya saat itu.


Karena ketika Anang selesai bernyanyi, tidak ada komentar dari orang-orang disitu.


Bahkan tidak ada yang menghampirinya, meski hanya sekedar menyapa Anang, seperti ditempat-tempat yang pernah Anang datangi.


Salah satu kerabat yang sempat bicara dengannya diatas panggung, memberi amplop imbalan kepada Anang.


Dan sama saja.


Orang itu tampak kurang puas dengan apa yang Anang kerjakan hari itu.


"Maafkan saya! Saya sedang kurang sehat," kata Anang, sempat menolak pemberian orang itu.


"Tidak apa-apa. Ambil saja!" kata orang itu tetap memberikan amplopnya kepada Anang, lalu berjalan menjauh.


"Terimakasih!" seru Anang memburu gerakan orang itu yang sudah membelakangi Anang, dan hanya mengacungkan jempol diudara kepada Anang


Anang tidak mau berlama-lama lagi disitu.


Dengan tergesa-gesa berjalan keluar dari gedung, meninggalkan orang-orang, yang menatapnya dengan tatapan kurang senang.


Ponselnya ada disakunya kalau-kalau pembayarannya memakai dompet digital, Anang juga sudah tahu alamat kostnya.

__ADS_1


Anang hanya belum tahu caranya memesan taksi online, tapi itu bukan masalah yang berarti bagi Anang.


Setelah Anang berada diluar gedung, Anang lalu melihat kesana kemari mencari-cari pangkalan ojek, atau taksi yang sekiranya bisa dia tumpangi untuk kembali ke kost'an.


Anang akhirnya menemukan taksi yang berhenti disitu, lalu memintanya untuk mengantar Anang.


Disepanjang perjalanan, kekacauan dalam pikiran Anang menjadi-jadi, karena Anang sudah terbiasa dengan adanya Santi, yang duduk disebelahnya.


Sampai-sampai ada satu hal yang penting, yang Anang lupakan.


Kunci kamar kost dengan kunci cadangannya yang dipegang Santi.


Setibanya dikost-kostan, Anang akhirnya kebingungan sendiri karena dia tidak bisa masuk kedalam kamar.


Anang meletakkan gitarnya berdiri di dinding, Anang kemudian duduk dilantai didepan kamar, lalu menyandarkan punggungnya dipintu.


Sakit hati Anang kali ini, lebih sakit daripada ditolak Gita waktu itu.


Santi sudah jadi dunia Anang, tapi Santi tidak menganggap Anang adalah dunianya.


Anang mencintai orang yang tidak tahu tentang rasa cinta, seperti Anang sedang mencoba memegang angin.


Hembusannya terasa ditangan Anang, tapi tidak akan pernah bisa dia genggam.


Anang menundukkan kepalanya, lalu memegang kepalanya dengan kedua tangannya, dengan sikut yang bersandar dilututnya yang sedikit ditekuk.


Untuk beberapa waktu lamanya, Anang masih terdiam seperti itu.


Penampilannya yang rusak diacara tadi, karena rasa cemburunya, cukup membantu membuat Anang makin sesak.


Anang menghela nafasnya yang terasa berat, dan menghembuskannya pelan.


Tidak ada yang Anang bisa lakukan.


Itu bukan kesalahan Santi.


Santi memang sudah begitu adanya, Anang saja yang mencoba-coba bermain api.


Kalau sampai Anang terbakar, itu salahnya sendiri.


Anang mengambil gitarnya, dan memangkunya diatas kakinya yang bersila.


Anang memainkan senar gitarnya, dan spontan menemukan irama yang cocok dengan perasaannya sekarang.


Bodo amat.


Kalau ada yang mendengar lagu Anang lalu berniat meloncat dari gedung, atau mengiris tangannya sampai kehabisan darah, Anang tidak mau perduli.


Berarti orang-orang itu sama bodohnya dengan Anang.


Saat itu juga Anang menciptakan lagu, yang rasanya adalah lagu tergalau yang pernah dia dengar.


Anang lalu merekam lagu barunya, dengan perekam diponselnya.

__ADS_1


__ADS_2