SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 133


__ADS_3

Meskipun Santi sudah berkali-kali menyemangati Anang, tapi saat Anang naik dan duduk dipanggung, dan semua mata memperhatikannya, lutut Anang tidak berkurang getarannya.


Bagaimana tidak?


Waktu dilihat dari samping panggung, penontonnya saja sudah kelihatan banyak.


Apalagi pada saat Anang diatas panggung, dan bisa melihat semua arah didepannya?


Dari ujung kiri sampai ke ujung kanan mata Anang memandang, padatnya penonton yang ada, seperti penonton dalam pertandingan sepak bola.


Lutut Anang tidak bisa berhenti berguncang, jantung yang berdegup kencang, menghasilkan keringat berlebihan, yang mulai membasahi keningnya, dan punggung Anang.


Begitu juga nafas Anang, yang sudah seperti orang yang baru saja berlari.


Anang mengepal-ngepalkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang tangkai gitar, yang sekarang sudah dia pangku.


Jari tangannya terasa kaku saking gugupnya, seolah-olah darah tidak mengalir kesitu.


Anang melihat kesamping panggung, dimana Santi mengacungi kedua jempolnya kepada Anang sambil tersenyum lebar, dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


'Semangat'


Anang membaca gerak mulut Santi, yang tidak mengeluarkan suaranya.


Gerak-gerik Santi, jadi pengurang rasa khawatir Anang.


Gemetar dilutut Anang yang sempat menjalar sampai seluruh tubuhnya, kini berkurang dan hampir menghilang.


Anang menghela nafas panjang, dan menghembuskannya pelan.


Perlahan tapi pasti, Anang mulai membunyikan senar gitarnya.


'Pejamkan matamu'


Anang memainkan gitarnya, dan bernyanyi bersungguh-sungguh sambil memejamkan matanya.


Yang ada dalam pikiran Anang, hanya Santi yang menontonnya bernyanyi, tanpa ada orang-orang lain yang ada disitu.


Dengan berfokus pada lirik dan nada agar tidak ada yang meleset, cukup membuat Anang yakin kalau dia bisa menguasai panggung tempatnya duduk sekarang.


Sampai Anang selesai menyanyikan lagunya, walau hanya sekedar mengintip, Anang tidak mau membuka matanya biar sedikit.


Ketika lagunya benar-benar usai, barulah Anang membuka matanya.


Tepuk tangan meriah menjadi sambutan Anang.


Kini Anang bisa bernafas lega.


Anang berdiri dari tempat duduknya, dan berdiri diatas panggung.


Anang tersenyum puas, lalu agak membungkukkan badannya sebagai ucapan terimakasih, atas penghargaan untuk suaranya dan suara gitarnya.

__ADS_1


Sampai Anang berjalan kesamping panggung, tepuk tangan dari orang-orang disitu, masih bisa didengar Anang.


Senyuman lebar diwajah Santi, jadi hadiah tambahan bagi Anang.


Santi hampir meloncat saat memeluk Anang, dan mencium bibirnya, ketika Anang sudah melewati tirai penghalang diujung samping panggung.


"Kamu hebat!" seru Santi kegirangan dalam pelukan Anang.


Anang hanya tersenyum, sambil tetap memeluk Santi.


"Sekarang kita kembalikan alat-alat mereka. Kamu masih harus melanjutkan perjalananmu. Masih ada satu event lagi malam ini, yang harus kamu datangi, sebelum kamu bisa istirahat," ujar Santi.


Semua yang terpasang ditelinga, pinggang, dan gitar Anang, kini dilepaskan oleh orang yang bekerja di event itu.


Santi lalu terlihat bicara dengan orang-orang disitu sebentar, sambil Anang merangkul pinggangnya.


"Ayo, kita pergi dari sini...!" ujar Santi, yang tetap membiarkan tangan Anang melingkar dipinggangnya.


Mereka lalu berjalan keluar dari tempat itu, dan langsung masuk kembali ke kendaraan milik label, yang menunggu diluar.


Ketika Anang sudah melepaskan gitarnya, dan duduk di jok didalam van, Santi naik kepangkuan Anang dan mencium bibir Anang sepuasnya.


"Aku bangga denganmu..." kata Santi, sambil bersandar didada Anang.


Kendaraan label itu sudah mulai berjalan, mengantar Anang ke tujuan selanjutnya.


"Iya, kamu nggak tahu aja gugupnya aku tadi...!" sahut Anang, lalu mengecup kepala Santi.


"Suaramu bagus! Kamu harus lebih percaya diri, kalau tampil lagi," ujar Santi.


Hadiah yang manis dari Santi.


"Jauh nggak tempat yang ke dua ini?" tanya Anang.


"Kalau nggak salah, nggak jauh. Yang aku lihat tadi disitu, mungkin sekitar satu jam perjalanan saja kesana dari sini," sahut Santi sambil menunjuk sesuatu.


Santi hampir beranjak turun dari pangkuan Anang, tapi Anang menahannya.


"Mau ngapain? Aku masih mau memelukmu..." ujar Anang.


"Aku mau mengambil itu...! Jadwalmu disitu!" sahut Santi, sambil menunjuk dengan tangannya sebuah benda mirip ponsel, tapi lebih besar dan lebar seukuran buku tulis yang tipis.


"Nggak usah...! Biarkan saja! Aku mau kamu tetap memelukku," ujar Anang yang hanya melihat benda yang ditunjuk Santi sebentar, lalu mencium Santi yang masih dipangkuannya.


Santi membalas ciuman Anang, sambil merangkul leher Anang.


Perjalanan mereka terasa singkat, dan kini kendaraan yang mengantar Anang sudah berhenti.


Anang kembali bersiap-siap untuk tampil.


Santi yang mengawasi dan membantu Anang bersiap-siap, masih sama seperti di event pertama tadi.

__ADS_1


Jadi, Anang hanya perlu mempersiapkan mentalnya saja, agar bisa tampil di event dengan baik.


Iya...


Event yang mereka datangi ini, kurang lebih sama besarnya, dengan penonton yang bejibun, dan memenuhi ruangan.


Sempat ada kekacauan sebentar, saat Anang akan bernyanyi tapi suaranya tidak terdengar di pengeras suara.


Dan saat itu juga, Anang mendapat sorakkan mengejek dari penonton.


Meskipun itu belum tentu ditujukan kepada Anang, tapi cukup membuat Anang kehilangan rasa percaya dirinya.


Penampilan Anang sempat terhenti, untuk memperbaiki peralatan yang dia pakai, sebelum mengulang lagi nyanyiannya dari awal.


Setelah Anang selesai bernyanyi, kali ini sambutannya kurang memuaskan.


Karena hanya sebagian penonton yang tampaknya menyukai penampilan Anang.


Sedangkan sebagian lagi, hanya seperti biasa-biasa saja, dan seolah-olah tidak menganggap penampilan Anang cukup spesial, untuk diberikan tepuk tangan meriah.


Anang tetap seperti di event pertama.


Setelah selesai bernyanyi, Anang kemudian berdiri, lalu membungkukkan badannya, sebelum beranjak turun dari panggung.


"Penampilanku kali ini kurang bagus?" tanya Anang, saat Anang dan Santi sudah kembali kedalam van.


"Bagus!" sahut Santi.


"Biasa 'kan kalau ada yang suka, atau nggaknya? Pasti belum tentu semua suka, karena mungkin memang berbeda selera musiknya," sambung Santi.


Kendaraan yang mengantar Anang sudah kembali melaju dijalanan.


Anang melambaikan tangannya, agar Santi mendekat dan duduk dipangkuannya lagi.


"Nggak capek?" tanya Santi.


"Nggak! Sini! Duduk disini saja!" sahut Anang, sambil menepuk-nepuk pahanya.


Santi lalu menghampiri Anang, dan duduk dipangkuannya.


"Nggak usah dipikirkan kalau melihat penonton, yang kurang tertarik dengan penampilanmu. Itu bukan berarti penampilanmu nggak bagus..." kata Santi.


Anang hanya terdiam, sambil memikirkan perkataan Santi.


Memang seperti di event pertama tadi, meski Anang menganggap penampilan orang-orang diatas panggung semuanya bagus, tapi ada saja yang mendapat tanggapan buruk dari penontonnya.


"Selera musik masing-masing orang, berbeda-beda. Jangan karena ada yang nggak suka, lalu kamu jadi nggak percaya diri!" kata Santi lagi.


Anang memeluk Santi erat-erat, sampai Santi tertidur dipangkuan Anang, tetap saja Anang tidak mau melepaskannya.


Anang melihat keluar jendela.

__ADS_1


Pikiran tentang bagaimana besok, rasanya tidak terlalu mengganggu Anang lagi.


Yang penting Anang berusaha tampil maksimal, reaksi penonton tidak akan menjadi beban yang berarti baginya.


__ADS_2