SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 193


__ADS_3

Rasanya, Anang tidak bisa mempercayai semua kejutan, di dua hari berturut-turut ini.


Berarti, Santi jadi sering saling berhubungan dengan Tejo, karena kebun akasia miliknya.


Ponsel Anang tiba-tiba berbunyi dan bergetar, di kantong celananya.


Tumben sekali pak Robi menghubungi Anang.


"Halo, Pak!" sambut Anang diponselnya.


"Halo! Anang dimana sekarang?" tanya pak Robi dari seberang.


"Saya lagi dikampung, Pak!" sahut Anang.


"Loh! Kok, masih dikampung?" ujar pak Robi, yang terdengar heran.


"Kenapa, Pak?" tanya Anang.


"Nggak apa-apa... Tadi, pak Handoko menghubungi saya. Katanya, Anang akan menikah dengan Santi besok. Jadi, saya pikir Anang lagi dikota," sahut pak Robi.


"Oh... Nanti siang, baru kami ke kota. Santi juga masih disini bersamaku," sahut Anang.


"Ada apa memangnya, Pak?" sambung Anang.


"Saya mau bertemu. Ada yang mau saya bicarakan. Hmmm... Kita bicara disini saja kalau begitu," ujar pak Robi.


"Saya baru saja dihubungi pegawai studio, kalau ada tabloid musik ingin mewawancarai Anang. Saya tahu kalau Anang tidak bisa melakukannya besok...


Tapi, kalau lusa, apa Anang bisa di wawancara tabloid itu?" tanya pak Robi.


"Kenapa saya mau di wawancara, Pak?" tanya Anang.


"Heh? Anang belum tahu? Sudah lebih sebulan ini, lagu-lagu Anang naik dipuncak teratas tangga lagu, dengan pencarian terbanyak, untuk lagu-lagu terbaru!" sahut pak Robi.


"Eh! Saya nggak tahu, Pak!" ujar Anang.


"Jangan-jangan, Anang juga mungkin nggak mengecek royalti, yang masuk direkening Anang?!" ujar pak Robi.


"Belum... Pak!" sahut Anang pelan.


"Pantas saja!" ujar pak Robi.


"Lalu bagaimana? Apa lusa Anang bisa di wawancara?" tanya pak Robi.


"Sepertinya bisa, Pak! Tapi, bapak bisa tunggu sebentar?" ujar Anang.


"Bisa!" sahut pak Robi.


Tanpa memutuskan panggilannya, Anang menghampiri Santi, yang kini terlihat berjalan kembali mendekat ke barak, tempat Anang dan Tejo menunggunya.


"Lusa, ada kegiatan nggak?" tanya Anang kepada Santi.


"Hmmm... Besok 'kan kita nikahnya. Tapi, resepsinya nanti minggu depan. Rasanya, lusa nggak ada kegiatan yang mendesak. Kenapa?" ujar Santi.


"Sebentar, nanti aku jelaskan!" kata Anang kepada Santi, lalu kembali menempelkan ponsel ke telinganya.


"Halo, Pak!" ujar Anang.


"Iya, bagaimana?" tanya pak Robi.

__ADS_1


"Bisa saja, Pak! Saya bisa di wawancara lusa nanti!" sahut Anang.


"Oke! Kalau begitu, saya hubungi pihak tabloidnya dulu!" ujar pak Robi.


"Iya, Pak! Terimakasih!" sahut Anang.


"Sama-sama...!" kata pak Robi, lalu koneksi panggilannya terputus.


Kejutan baru lagi...


Anang sama sekali tidak tahu, kalau lagu-lagunya sekarang populer.


"Ada apa? Kamu mau di wawancara apa?" tanya Santi.


"Lagu-laguku tenar..." ujar Anang sambil tersenyum.


"Lusa aku akan di wawancarai tabloid musik," sambung Anang.


Santi tersenyum lebar, lalu memeluk Anang erat-erat.


"Aku jadi istrinya artis..." celetuk Santi.


Anang tertawa pelan, lalu mengecup kepala Santi.


"Jangan mengalihkan pembicaraan...! Banyak yang kamu sembunyikan dariku..." ujar Anang gemas.


"Kenapa kamu nggak pernah memberitahu aku?" tanya Anang.


"Biar jadi kejutan!" sahut Santi, lalu tertawa sambil tetap memeluk Anang.


"Kalau begini, aku jadi punya banyak pertanyaan untukmu," ujar Anang.


"Kenapa?" tanya Anang.


"Aku capek..." sahut Santi.


"Duduk lah, kalau begitu!" ujar Anang.


Anang membawa Santi, agar duduk diteras barak, dengan jarak agak jauh dari Tejo, dan orang-orang disitu, lalu Anang juga ikut duduk disampingnya.


"Bagaimana kamu bisa menemukan orang-orang itu?" tanya Anang.


"Ada teman kuliahku yang memberitahu aku, waktu aku menceritakan rencanaku, untuk membuat perkebunan akasia...


Katanya, mereka biasa bekerja diperkebunan akasia. Karena jumlah mereka yang berlebihan banyaknya, pemilik kebun memberhentikan sebagian pekerja...


Jadi, aku minta kontak mereka yang bisa aku hubungi," sahut Santi.


"Jadi, Papamu sebenarnya, juga tahu kalau kamu membeli tanah ini?" tanya Anang.


"Iya, berkas kepemilikan tanahnya 'kan disimpan Papa," sahut Santi.


Berarti, waktu itu, mungkin Tejo dan pak Handoko, berbincang-bincang tentang tanah kebun itu, yang tampak seolah-olah main rahasia-rahasiaan.


Karena, pak Handoko dan Tejo, menunggu Santi sendiri yang memberitahukannya kepada Anang.


"Ukuran lahan ini sudah besar, lalu untuk apa Papamu masih meminta kami mencarikan tanah, atau rumah lagi untuknya?" tanya Anang.


"Pertanyaan macam apa itu? Papa mau tinggal ditengah perkampungan, bukannya tinggal ditengah kebun," sahut Santi, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Benar juga ya?!" celetuk Anang.


Santi yang terlihat gemas, lalu mencubit pipi Anang.


"Jadi sekarang kamu sudah terkenal... Kira-kira acara pernikahan kita akan diliput wartawan nggak ya?!" celetuk Santi, lalu tertawa.


"Ah, kamu ini!" ujar Anang.


"Pasti banyak wanita yang jadi penggemarmu...! Untung saja, aku cepat kembali! Kalau nggak, hmm...." ujar Santi, sambil melirik Anang dengan ujung matanya, dan tampak sedang menahan senyum.


Santi terlihat seolah-olah sedang mengejek Anang, dan itu membuat Anang benar-benar gemas melihatnya.


Anang menggigit bibirnya sendiri.


"Kalau cuma kita berdua disini, bakalan aku cium kamu sampai nggak bisa nafas," ujar Anang dengan suara bergetar.


Santi hanya tertawa, lalu mengecup bibir Anang sekejap.


"Kamu memang brengsek!" ujar Anang, yang makin gemas.


Bukannya marah, Santi malah tersenyum sambil berdiri dan mengecup bibir Anang sekejap lagi, lalu dengan cepat berjalan menjauh dari Anang.


Anang tidak sempat menangkapnya, Santi sudah berdiri didekat Tejo, dan pekerja-pekerja kebun.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berjalan menghampiri Santi, dan berdiri tepat dibelakang wanita itu.


"Awas saja...! Memangnya, kamu bakalan bisa kemana nanti!" bisik Anang, sambil menunduk agar dia bisa bicara tepat ditelinga Santi.


Dari samping, Anang bisa melihat pipi Santi yang tertarik, seolah-olah wanita itu sedang tersenyum.


"Tolong dijaga gabahnya, sekalian dirawat kebun sebelah, ya?!" ujar Santi kepada orang-orang disitu.


"Kami pulang dulu!" sambung Santi.


"Iya, Bu!" sahut pekerja-pekerja itu bersamaan.


"Terimakasih!" ujar Santi, lalu berbalik dan bersiap berjalan pergi dari situ, sambil memegang tangan Anang.


"Sama-sama, Bu!" sahut mereka.


"Terimakasih sebelumnya!" ujar Anang, sebelum Santi menariknya untuk berjalan lebih jauh.


"Sama-sama, Mas!"


"Tenang saja!"


"Nggak masalah!"


sahut pekerja-pekerja kebun Santi itu.


Tejo berjalan paling depan, sedangkan Santi dan Anang berjalan bersama dibelakang Tejo.


Setibanya dirumah Tejo, Anang dan Tejo memasukkan barang-barang bawaan mereka, kedalam bagasi mobil Santi.


Tejo dibantu Anang memeriksa sekeliling rumahnya, dan yakin kalau sudah tidak ada lagi yang perlu dibawa, semua jendela dan pintu juga sudah tertutup rapat.


Setelah sudah selesai semuanya, dan aman, mereka bertiga lalu masuk kedalam mobil Santi.


Perlahan tapi pasti, Santi mengemudikan mobilnya di jalanan.

__ADS_1


Disepanjang perjalanan, mereka bertiga terkadang bersenda gurau, untuk menghilangkan kebosanan selama diperjalanan.


__ADS_2