
Demi cintanya kepada Santi, kondisi Anang sekarang memang menjadi sangat memprihatinkan.
Kemarin sore, keringat lelah Anang sudah menetes deras.
Sudah cukup?
Tentu saja tidak.
Sepulang dari undangan malam tadi, Anang kembali bekerja keras, agar Santi tidak sempat memikirkan untuk mencari sesuatu yang menarik diluar.
Pagi ini, masih terlalu pagi, Anang harus sudah siap bekerja keras lagi, agar Santi tetap merasa lelah, dan puas.
Dari pada Santi mencari kepuasan diluar. Bagaimana?
Mendingan Anang saja yang rutin memberi jatah.
Benar 'kan?
Untung saja Anang sudah tidak bekerja jadi pembantu tukang.
Bayangkan saja kalau masih kerja seperti itu...
Mungkin lutut Anang akan gemetaran, dan tidak akan sanggup menggerakkan kakinya lagi untuk menaiki tangga, sambil memikul ember adonan semen dibahunya.
Kasihan sih... Tapi mau bagaimana lagi?
Memang melelahkan.
Meski Santi hanya melakukannya untuk kepuasan, sedangkan Anang melakukannya untuk cinta, tapi Anang tetap bersemangat, dan tidak mengeluh lelah.
Anang hanya bisa bilang "Aaarrggh" dengan suara bergetar.
"Masih mau?" tanya Anang dengan nafas tersengal.
"Cukup dulu! Aku lelah!" sahut Santi dengan nafasnya yang tak kalah sesak.
Aman kalau sudah begitu 'kan?
Berarti Anang sudah bisa istirahat, dan pergi mandi tanpa khawatir Santi menghilang dari situ.
Anang masih dibawah jatuhan air pancuran, Santi sudah menyusul masuk kedalam situ.
"Kita mandi sama-sama. Aku mau pergi belanja nanti. Sekalian nambah 'stok'," kata Santi sambil mengedipkan sebelah matanya.
Tahu aja apa maksud Santi.
Apa ada batas kemampuan nggak sih?
Mudah-mudahan tidak ada, jadi Anang tetap mampu menjamu Santi.
Baru saja mereka keluar dari kamar mandi, terdengar ada yang mengetuk pintu kamar mereka.
"Sebentar!" seru Anang.
Anang buru-buru memakai pakaiannya, hanya dengan celana pendek dan kaus, kemudian pergi membuka pintu.
Gita jadi tamu tidak diundang yang datang berkunjung kesitu.
"Aku bawa sarapan!" ujar Gita lalu menerobos masuk kedalam kamar.
Apa Gita memang sebodoh itu?
__ADS_1
Atau hanya jadi bodoh karena cintanya kepada Anang?
"Apa kamu nggak pergi bekerja hari ini?" tanya Anang yang merasa heran.
Untung saja Gita datang saat Santi sudah puas, coba kalau belum.
Anang akan panik mencari Santi dimana nanti.
"Kamu nggak tahu kalau hari ini tanggal merah? Kantor pasti libur!" sahut Gita sambil meletakkan bungkusan plastik berisi makanan, dan air mineral ke atas meja.
Anang memandangi Gita, yang kelihatannya tidak terganggu dengan Santi, yang masih memakai pakaiannya disitu.
Gita tidak cemburu?
Tidak mungkin Gita tidak berpikir kalau Santi baru saja melakukannya bersama Anang.
Memang aneh dan gila.
Anang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Gita pikirkan.
"Bagaimana Kamu bisa tahu tempat kost kami ini?" akhirnya yang mengganjal dikepala Anang sejak kemarin, bisa dia tanyakan kepada Gita.
"Oh... Aku mengikuti kalian kemarin. Jadi aku tinggal tanya dengan pemilik kost dimana kamar kalian," sahut Gita dengan entengnya, lalu duduk dipinggir ranjang.
"Aku belanja kedepan dulu," kata Santi yang terlihat sudah selesai berpakaian.
Sama seperti Anang, Santi hanya memakai celana pendek, dengan kaus longgar.
"Aku ikut!" kata Anang buru-buru.
"Mau beli apa? Nanti aku belikan. Masa Gita ditinggal sendiri?" ujar Santi.
Anang yang memang belum ada keperluannya, untuk dibeli hanya bisa terdiam.
"Nanti saja. Kalau kalian mau makan duluan, duluan saja," ujar Santi sambil melenggang keluar dari kamar kost itu.
Kini tertinggal Gita dengan Anang disitu.
Mendengar perkataan Gita tadi, cukup membuat Anang bergidik ngeri.
Gita tukang kuntit, dengan tingkat kekerasan ekstrim, berbanding terbalik dengan tampangnya yang manis.
Mungkin itu sebabnya, di postingan-postingan lama akun f*cebook Gita, Anang tidak pernah melihat Gita berfoto mesra dengan laki-laki.
Mungkin semua laki-laki yang mengenal Gita, merasa takut dengannya.
Seketika, Anang menyesal pernah menyatakan cinta pada Gita.
Anang melihat gelagat aneh dengan Gita, yang tampak gelisah ditempatnya duduk.
Tampaknya Anang tahu apa yang Gita pikirkan sekarang.
Meski belum merasa lapar, Anang berjalan menghampiri meja tempat Gita meletakkan bungkusan makanan.
"Kamu bawa apa tadi?" tanya Anang sambil membuka kantong plastik.
"Kamu sudah lapar? Nggak mau tunggu Santi balik dulu?" tanya Gita.
Ditelinga Anang tampaknya suara Gita terdengar dekat sekali.
Anang kemudian berbalik.
__ADS_1
Benar.
Gita dengan senyuman yang menyeramkan sudah berdiri tepat dibelakang Anang.
"Kamu pasti baru saja selesai berhubungan s*x dengan Santi 'kan?" tanya Gita.
Anang hanya terdiam.
Jujur, Anang takut kalau-kalau Gita tiba-tiba mengamuk, lalu menendang persneling Anang, nanti Anang tidak bisa maju atau mundur lagi.
Apalagi kalau telur puyuhnya sampai menetas, Anang akan kerepotan merawatnya, dan tidak bisa bekerja.
Perlahan-lahan Anang merapatkan kedua kakinya, dan menutup bawah perutnya dengan kedua tangannya.
"Nggak apa-apa, kok,, Aku mau juga," kata Gita, sambil mendekat kepada Anang yang sudah tersandar dimeja.
Maaak...!
Tolong, selamatkan Anang sekarang!
Mata Anang terbelalak melihat Gita yang membuka baju kaus ketat yang dia pakai.
Ehhem. Ehhemm...
Tidak seindah dada Santi, tapi cukup mulus dan padat, dengan br* bermotif kembang-kembang dan renda disepanjang bingkai kacamata itu.
Anang bergerak pelan tapi pasti, bergeser ke samping, agar mendapat jalan keluar dari hadangan Gita.
Tapi Gita tampaknya menyadari gerakan Anang, dan berusaha menghadang Anang lagi.
"Kamu mau apa? Aku lagi nggak mau macam-macam! Aku sudah lapar! Kalau kamu nggak pakai bajumu lagi, aku pergi makan diluar sekarang!" ujar Anang.
Anang baru saja berkeringat hebat dengan Santi, meski potongan daging segar ada didepan matanya sekarang, tapi Anang masih kenyang, dan tidak tertarik sama sekali.
Gita tampak kecewa.
Tangan Anang yang masih menutup bagian bawah perutnya, dipegang Gita lalu diletakkan diatas dadanya yang terbuka, dan menantang.
"Nggak menarik?" tanya Gita pelan.
"Bukan! Aku hanya lagi lapar saja," sahut Anang.
Gita lalu melepaskan tangan Anang, dan memakai kausnya lagi.
"Ya sudah..." ujar Gita.
Kantong plastik diatas meja lalu diambil Gita, dan membawanya kelantai, kemudian membuka bungkusannya disitu.
Rasanya Anang tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Apa yang ada dipikiran Gita?
Gita mau menyerah begitu saja, cuma karena Anang bilang lapar?
Bisa-bisanya Gita dibodohi rasa cintanya.
Percuma sekolah tinggi-tinggi kalau begitu.
Anang sedikit merasa iba dengan Gita, tapi sama saja, Anang sekarang juga sedang dibutakan dengan cintanya kepada Santi.
Anang masuk kekamar mandi, lalu mencuci tangannya, sambil menatap wajahnya dicermin diatas wastafel.
__ADS_1
Berarti Santi melihat Anang, sama seperti Anang melihat Gita sekarang.
Bedanya, Santi memang tidak sedang jatuh cinta, hanya mau memuaskan keinginannya, makanya Santi tetap menerima Anang.