
Suasana diteras rumah Tejo, rasanya santai dan baik-baik saja.
Meski bagi Anang, Tejo lumayan nekat membawa dua wanita itu bersamaan.
"Bagaimana denganmu?" tanya Anang, kepada Gita.
"Yaa... Masih sama seperti kemarin-kemarin. Aku masih kerja dikantor yang sama. Aku juga masih tinggal dikost-kostan yang dulu," sahut Gita, lalu tersenyum manis kearah Tejo.
Anang khawatir kalau suasana disitu nanti jadi canggung, kalau dia masih duduk dengan mereka, lalu berpikir untuk meninggalkan Tejo dengan dua wanitanya.
"Maaf! Tapi, aku harus pergi kekebun! Ada yang harus aku lakukan disana," ujar Anang, lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu belum makan siang 'kan?" tanya Tejo, sambil menatap Anang.
"Nanti saja! Aku kekebun dulu! Aku pulang nanti baru makan. Nggak usah menungguku! Kalian bisa makan duluan saja!" sahut Anang.
Anang kemudian berjalan pergi dari rumah Tejo, menuju kekebun miliknya.
Sebenarnya Anang agak penasaran, bagaimana Tejo bisa secepat itu dekat dengan Gita.
Apalagi bisa dekat dengan dua wanita, yang notabene wanita yang satunya masih teman Gita.
Apa dua wanita itu nggak saling cemburu?
Hmmm...
Kalau Gita, Anang tidak terlalu heran.
Gita memang kurang lebih sama bodohnya seperti Anang, kalau berurusan tentang cinta,
Mengingat waktu Gita masih tertarik dengan Anang, Gita masih bisa tahan meski dia tahu kalau Anang lebih memilih Santi.
Ah, sial!
Bukannya Anang membenci Gita, tapi, dengan melihat Gita, Anang jadi teringat dengan Santi.
Selama Gita masih disini, kemungkinan besar Anang akan tetap teringat dengan Santi.
Anang mempercepat langkahnya, agar bisa buru-buru tiba dikebun.
Kalau ada yang bisa Anang lakukan agar tetap sibuk, tidak akan ada kesempatan bagi Anang untuk memikirkan wanita itu.
Anang benar-benar sibuk dikebun, melakukan apa saja yang dia bisa lakukan.
Mulai dari membersihkan sedikit rumput yang mulai tumbuh, sampai menyiramkan tanamannya dengan air, ketika hari sudah mulai sore.
Anang yang melewatkan makan siangnya, tidak terlalu merasa lapar, karena kesibukannya bekerja dikebunnya.
Anang kembali kerumah Tejo, saat hari sudah hampir gelap.
__ADS_1
Ketika Anang tiba dirumah Tejo, teman laki-laki Anang itu memasang tampang tidak senang kepada Anang.
"Kenapa kamu seolah-olah tidak suka saat aku berhubungan dengan mantanmu?" tanya Tejo ketus, saat Anang mandi didekat sumur, dan Tejo berdiri didepan pintu dapur sambil melihat Anang mandi.
"Kamu jangan salah paham!" sahut Anang.
"Aku bukan tidak terima kalau kamu mau pacaran. Kamu menikah pun aku nggak perduli! Tapi, dikebun tadi memang banyak yang harus aku lakukan. Bukannya kamu tahu kalau aku memang akan kekebun sejak pagi tadi?" sambung Anang, tidak kalah ngotot.
Anang tidak mau mengakui, kalau dia memang sengaja menghindari untuk melihat Gita, karena ingatannya tentang Santi.
Terserah Gita, kalau mau tetap dibodohi dengan cinta.
Tapi Anang berusaha supaya tidak jadi sebodoh itu lagi, lalu harus menggila karena rindunya kepada Santi.
Tejo kemudian berjalan masuk kedalam rumah, meninggalkan Anang disitu.
Anang buru-buru menyelesaikan mandinya, dan setelah berpakaian, Anang lalu makan sendirian didapur.
Ketika Tejo berjalan kedapur, dan mengambil sesuatu, lalu melihat Anang disitu, Tejo tampaknya makin marah dengan tingkah Anang.
Anang sempat melihat raut wajah Tejo, yang mengeraskan rahangnya, meskipun mereka berdua tidak saling berkomentar apa-apa, sampai Tejo kembali berjalan kedepan.
Anang tidak mau ambil pusing, dengan apa yang akan jadi tanggapan Tejo.
Yang Anang tahu, Anang tidak mau melihat Gita.
Setelah Anang selesai makan, dan membersihkan semua peralatan bekas makannya, Anang masuk kedalam kamarnya, lalu menutup pintunya.
Anang memainkan gitarnya disitu, sambil sesekali bersenandung, tanpa mau menghiraukan gelak tawa, orang-orang yang terdengar senang diteras depan rumah Tejo.
Lumayan lama, Anang berdiam sendiri didalam kamar, sebelum perutnya tiba-tiba terasa mulas, dan membuatnya ingin buru-buru ke toilet.
Setengah berlari, Anang keluar dari kamar, lalu pergi ke toilet diluar rumah, lewat pintu belakang.
Anang melihat Tejo, sedang berdiri didekat sumur dengan ponsel menempel ditelinganya.
Kalau Anang tidak salah lihat, sepertinya, Tejo senyum-senyum sendiri disitu, dan terlihat sangat terkejut dengan kehadiran Anang yang tiba-tiba.
Anang tidak menghiraukan kelakuan Tejo, yang buru-buru menyimpan ponsel ke kantong celananya, saat Anang melewatinya, dan terus berjalan masuk kedalam toilet.
Rasa sakit diperut Anang, lebih besar dari pada rasa ingin tahu Anang, dengan apa yang dilakukan Tejo disitu.
Mungkin efek sambal kemarin, baru dirasa Anang sekarang.
Mules diperutnya seakan tidak bisa hilang, meski Anang sudah cukup lama didalam toilet, sampai-sampai kaki Anang keram, karena terlalu lama berjongkok.
Ketika rasa perut Anang sudah mendingan, Anang lalu keluar dari toilet, dan Tejo sudah tidak ada disitu lagi.
Seingat Anang tadi, sebelum Anang pergi ke toilet ada suara tawa laki-laki diteras.
__ADS_1
Kalau Tejo sedang didekat sumur, lalu siapa yang ada didepan?
Anang kemudian berjalan kedepan, sekedar melihat siapa lagi yang datang.
Bowo terlihat santai duduk bersama wanita-wanita itu, begitu juga Tejo yang sudah duduk disitu.
Hampir saja Anang berbalik, hendak kembali ke kamarnya, tapi Bowo sempat melihat Anang, lalu memanggil Anang.
"Nang! Kamu mau kemana? Ayo, gabung dengan kami disini!" ajak Bowo.
Meski dengan rasa enggan, Anang lalu ikut bergabung disitu.
Tapi, Anang tetap menghindari untuk melihat wajah Gita, dan fokus melihat Bowo, sambil mengajak Bowo mengobrol disitu.
"Aku nggak pernah melihat Joko. Dimana dia?" tanya Anang basa-basi.
Didekat Anang, Tejo sedang mengobrol dengan Gita dan temannya yang satu lagi.
"Joko ikut kenalannya ke kota. Katanya ada pekerjaan lepas, sekalian jalan-jalan disana," sahut Bowo, yang sempat terlihat terganggu, karena Anang membawanya bicara, yang keluar dari topik pembicaraan mereka yang lain.
"Kalau Sugeng dimana?" tanya Anang lagi, yang tetap tidak mau terikut dalam pembicaraan Tejo dan Gita.
Apalagi Anang memang tidak pernah melihat kedua temannya yang lain itu, sejak Anang datang kekampung.
Beberapa kali, Anang sempat mau bertanya dengan Tejo, tapi dia selalu lupa, karena sibuk memikirkan kebunnya.
"Sugeng membuka pangkas rambut dirumahnya. Jadinya dia jarang keluar dari rumah," sahut Bowo.
Anang terpikir untuk mendatangi Sugeng dirumahnya.
Apalagi rambut Anang sekarang sudah mulai panjang.
Bisa sekalian jadi alasan bagi Anang, untuk menghindar dari mereka disitu.
"Aku pergi potong rambutku dulu ditempat Sugeng!" ujar Anang, dan tanpa menunggu tanggapan dari orang-orang disitu, Anang buru-buru berjalan pergi.
Dijalan menuju kerumah Sugeng, Anang terpikir dengan tingkah Tejo, yang masih dengan ponselnya tadi.
Padahal Gita dan Ayunda, wanita yang satunya lagi, ada diteras depan.
Entah apa lagi yang terlalu penting, sampai Tejo mau meninggalkan kedua wanita incarannya itu, diteras depan bersama Bowo.
Ah, bodo amat.
Terserah, Tejo!
Rumah Sugeng yang dekat dari rumah Tejo, membuat Anang bisa tiba disana, tanpa membutuhkan waktu yang lama.
"Sugeng! Aku mau potong rambutku!" ujar Anang, mengejutkan Sugeng yang tidak menyadari kedatangan Anang, dan sedang asyik menatap layar ponselnya.
__ADS_1