
'Kalau nggak sibuk, bisa hubungi aku lagi?'
'Aku tunggu.'
Ketik Anang dilayar ponselnya, lalu mengirimkan pesan-pesan itu kepada Santi.
Kelihatannya Santi memang sibuk kuliah, karena pesan-pesan Anang sudah bercentang dua, tapi, belum dibaca Santi.
Kontak Santi pun sedang tidak daring, kalau tidak salah, masih diwaktu terakhir Anang mengobrol dengannya tadi.
Suara langkah tergesa-gesa, terdengar mendekat kearah Anang, menyadarkan Anang dari lamunannya.
Anang buru-buru melihat kepintu, dan pak Handoko tampak membawa beberapa map tebal, dengan berisi banyak lembaran kertas didalamnya.
"Saya harus pergi keluar, sekarang...! Anang mau ikut?" tanya pak Handoko.
"Apa ada yang perlu saya bantu?" tanya Anang.
"Nggak ada. Saya hanya bertanya, kalau-kalau Anang mau ikut saja..." sahut pak Handoko.
"Pak, rencananya saya akan mengabari pak Robi kalau saya jadi menerima tawaran kontrak satu albumnya. Kira-kira besok, apa ada yang harus saya lakukan?" tanya Anang.
"Hmmm... Rasanya, besok belum ada apa-apa. Kalau Anang sudah mulai rekaman besok, silahkan saja. Nggak masalah..." sahut pak Handoko.
"Baik, Pak!" ujar Anang.
"Kalau begitu, saya pergi dulu! Saya ditunggu rekan saya di kantor," kata pak Handoko.
"Kalau Anang butuh sesuatu, katakan saja dengan mereka didalam," sambung pak Handoko lagi.
Anang mengerti maksud pak Handoko, lalu menganggukkan kepalanya,
"Hati-hati dijalan, Pak!" kata Anang.
Pak Handoko kemudian berjalan pergi, meninggalkan Anang sendiri disitu.
Belum berapa lama pak Handoko pergi, ponsel Anang berdenting.
Anang memeriksa layar ponselnya.
Bukan Santi, melainkan Lia.
Tumben.
'Mas, sibuk?'
'Mau jalan-jalan denganku?'
Begitu isi pesan Lia yang masuk dilayar ponsel Anang.
'Nggak sibuk.'
'Bisa saja. Mau ketemu dimana?' Balas Anang.
'Mas dirumah Papanya Santi 'kan?'
'Saya diperjalanan menuju kesana.'
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Darimana Lia tahu kalau Anang dirumah pak Handoko?
__ADS_1
'Iya.' Balas Anang.
Rasanya, seakan-akan ada yang memata-matai semua gerak-gerik Anang.
Asal nggak ada yang berniat buruk saja, nggak masalah.
Anang melihat kontak Santi.
Masih sama seperti tadi, belum ada tanda-tanda kalau dia sudah daring.
Sambil menunggu Lia datang, Anang menghubungi pak Robi.
Setelah berbincang-bincang tentang persetujuan Anang untuk kontraknya, pak Robi kemudian berjanji, akan mengatur jadwal, agar mulai besok, Anang sudah bisa mulai rekaman distudio miliknya.
Tepat saat Anang berhenti bicara dengan pak Robi diponselnya, salah satu asisten rumah tangga pak Handoko menghampiri Anang.
"Pak! Ada yang mencari bapak didepan!" kata asisten rumah tangga pak Handoko itu.
"Oh, iya! Terimakasih!" sahut Anang, lalu berdiri dan berjalan ke bagian depan rumah.
Lia tersenyum lebar, ketika melihat Anang berjalan mendekatinya.
Dan, tanpa aba-aba memeluk Anang erat-erat.
"Eh! Ada apa ini?" tanya Anang, yang terkejut dengan gerakkan Lia yang tiba-tiba.
"Aku kangen...!" celetuk Lia.
"Sudah normal sekarang?" tanya Anang sambil tertawa.
"Sayangnya belum..." sahut Lia, lalu ikut tertawa, dan melepaskan pelukannya dari Anang.
"Ayo, jalan-jalan denganku! Siapa tahu kita berdua bisa ketemu wanita cantik!" celetuk Lia, sambil menarik lengan Anang, dan membawanya masuk ke mobilnya.
"Bagaimana kamu tahu, kalau aku ada disini?" tanya Anang.
"Santi! Santi mengirim pesan padaku, agar menjemputmu, biar bisa jalan-jalan mencari pacar baru," sahut Lia enteng, sambil tersenyum lebar.
"Kamu bercanda?" tanya Anang.
"Nggak! Memang Santi yang memintaku mengajakmu jalan-jalan, biar nggak bosan dirumah. Atau kalau nggak salah, dia bilang biar kamu nggak mengganggu ibu tirinya," sahut Lia lalu tertawa.
Hmmm...
Santi memang belum tahu kalau yang terjadi dengan Wina.
"Jadi dia memintamu untuk membawaku mencari pacar baru?" tanya Anang.
"Iya!" sahut Lia.
"Katanya, kamu jangan menunggunya lagi, dia sudah ada yang lain!" sambung Lia.
Anang terdiam.
Santi benar-benar tidak mau berurusan dengan Anang lagi?
Anang menatap keluar jendela.
"Jangan sedih begitu! Aku hanya bercanda..." celetuk Lia tiba-tiba.
Anang menoleh, melihat Lia disampingnya, yang menyetir mobilnya, dan masih sibuk menatap jalanan.
__ADS_1
"Santi nggak ada bicara apa-apa denganku. Dia cuma bilang, ajak kamu jalan-jalan, biar nggak banyak melamun dirumah," kata Lia menjelaskan.
"Bagaimana hubungan kalian belakangan?" tanya Lia.
"Selain pisah negara?" Anang balik bertanya.
Lia tertawa pelan.
"Kita singgah di kafe sebentar!" kata Lia, lalu memelankan mobilnya, sampai benar-benar berhenti diparkiran salah satu kafe, didekat jalan raya yang mereka lalui.
Anang lalu berjalan masuk kedalam kafe bersama dengan Lia, dan memilih untuk duduk di area terbuka.
Lia yang memilih, lalu memesan minuman dan camilan untuk mereka disitu.
"Santi menghubungiku waktu dia baru saja tiba diluar negeri. Katanya, dia mau menunda pernikahan kalian...
Katanya, dia merasa karena banyak hal yang terjadi dengan kalian berdua, sampai-sampai kalian terlalu terburu-buru memilih untuk menikah," ujar Lia.
"Katanya, meskipun kamu tahu kalau dia bisa membantumu, tapi, kamu tidak pernah mau meminta bantuannya... Seolah-olah, kalian hanya seperti orang asing yang takut saling berhutang budi...
Sedangkan, kalau orang yang menikah, bukannya harus senasib sepenanggungan?!
Kesulitan maupun kebahagiaan, semestinya dijalani bersama-sama... Meskipun kamu laki-laki, tapi tidak harus kamu sendiri, yang menanggung masa depan kalian..." sambung Lia.
Anang hanya terdiam mendengarkan perkataan Lia.
"Maaf, Mas! Tapi, aku juga setuju dengan pemikiran Santi," kata Lia.
"Rasanya, kalau orang yang sudah menikah, lalu saling membantu, atau saling mengharapkan, bukannya memang begitu seharusnya?" sambung Lia.
"Lalu dia lebih memilih untuk pergi?" tanya Anang.
"Kalau menurutku itu memang yang terbaik. Kalau kalian berpisah sementara, mungkin kalian bisa berpikir jernih, dan bisa memastikan nanti mau seperti apa," sahut Lia.
"Selama kalian masih bersama-sama, dan hanya menjalani yang ada saja, kalian nggak akan tahu keputusan yang kalian ambil itu benar, atau cuma terburu-buru karena keadaan," sambung Lia.
Anang kembali terdiam.
"Mas, ingat 'kan waktu kekasihku meninggalkanku? Aku sudah tahu kalau kami tidak akan bisa bersama, tapi, aku memaksakan keadaan. Akhirnya, aku sendiri yang terluka.
Diantara kalian berdua, mungkin tidak ada yang akan bertindak sebodoh aku. Tapi, tetap saja pasti akan ada yang terluka, kalau kalian tidak mau berhenti sejenak untuk berpikir, apa yang membuat kalian ingin terikat satu sama lain...
Sementara ini, kesempatan bagi kalian berdua belajar, untuk saling menerima kekurangan juga kelebihan masing-masing...
Daripada menikah lalu bercerai, lebih baik begini 'kan?!" kata Lia.
Lia lalu menyesap minumannya, yang sudah diantar ke meja mereka, sedari tadi.
Sedangkan Anang, hanya memainkan jarinya, mengelilingi cangkir didepannya.
"Dengan Santi, Mas maunya apa?" tanya Lia.
"Aku mau dia tetap bersamaku!" sahut Anang.
"Untuk apa?" tanya Lia.
"Pasti untuk menemaniku!" sahut Anang.
"Kalau cuma menemani, berarti Mas Anang cuma mencari teman, bukan pasangan hidup," ujar Lia.
"Heh?" ujar Anang, dengan mata terbelalak.
__ADS_1
"Mas Anang pikirkan saja dulu, apa yang Mas mau darinya!" ujar Lia.
"Nggak ada jawaban benar atau salah. Tapi, kalau ada sesuatu yang bisa meyakinkanku, pasti bisa juga untuk meyakinkan Santi," sambung Lia.