
Dengan diantarkan pak Handoko, kembali siang itu Anang pergi ke gedung studio rekaman pak Robi, setelah Anang dan pak Handoko selesai menyantap makan siangnya, disalah satu rumah makan.
Tenggorokan Anang agak kurang nyaman rasanya, karena Anang sempat tersedak makan siangnya tadi.
Bagaimana Anang tidak akan tersedak, kalau Anang ditanya pak Handoko seperti ini,
'Kenapa Anang tadi sampai mandi keringat?'
Masa, Anang harus menjawab,
'Gara-gara kenakalan anak bapak!'
Begitu?
Ah, sial!
Sebenarnya, wajar saja kalau pak Handoko sampai bertanya.
Ketika Anang keluar dari toilet tadi, dan kembali ke ruang kerja pak Handoko, banyaknya cairan keringat Anang, sampai-sampai membuat kemeja Anang jadi tembus pandang, dan lengket ke kulitnya.
Pak Handoko sudah menatap Anang dengan raut wajah heran, tapi, orang tua itu tidak mau langsung bertanya saja.
Sayangnya, pak Handoko yang mungkin tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi, malah bertanya kepada Anang, saat Anang sedang menelan nasi berkuah soto ayam yang pedas dan asam.
Kuah soto dengan beberapa butir nasi, sampai menyembur keluar dari mulut dan lubang hidung Anang.
Anang tidak menjawab pertanyaan pak Handoko, dan hanya sibuk terbatuk-batuk, mengeluarkan semua sisa makanan yang masih tersangkut, di saluran pernafasan Anang.
Untung saja, pak Handoko tidak bertanya lagi.
Mungkin orang tua itu jadi lupa, karena melihat Anang seperti itu, dan dia hanya ikut membantu menepuk-nepuk punggung Anang, agar bisa kembali bernafas normal.
Memang salah tempat dan waktu.
Bukan salah Santi, Anang sendiri juga yang mau.
Padahal, Anang harus bernyanyi untuk direkam saat ini, tapi, leher Anang masih terasa sakit, dan sedikit pedas.
Anang berdehem berkali-kali, dengan harapan agar suaranya bisa kembali merdu seperti aslinya.
Saat bernyanyi didalam studio, Anang sempat beberapa kali tidak bisa mencapai nada tinggi, dan mau tidak mau harus mengulang nyanyiannya, tanpa disuruh pegawai pak Robi.
Pegawai pak Robi menatap Anang dengan raut wajah heran, lalu mengambilkan Anang beberapa botol air mineral untuk Anang minum.
Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya suara Anang bisa kembali ke sedia kala.
Hampir habis waktu bagi Anang memakai tempat itu, barulah Anang bisa bernyanyi dengan baik, dan sukses merekam lagunya yang kedua.
Sambil berjalan keluar dari dalam ruang rekaman, Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Lain kali, Anang harus mengingat pengalaman ini, kalau Anang baru saja bertingkah nakal, jangan coba-coba lagi untuk makan makanan berkuah bersama pak Handoko.
Apalagi, kalau ada tanda-tanda kecurigaan, yang tampak diwajah laki-laki paruh baya itu.
Sudahlah...
Perasaan, sejak kemarin siang sampai menjelang malam ini, Anang tidak melihat pak Robi meski hanya sekilas.
Kelihatannya, pak Robi sedang benar-benar sibuk sekarang.
Sebelum Anang keluar dari gedung itu, Anang menitipkan pesannya yang berpamitan untuk pak Robi, kepada pegawai pak Robi yang ada disitu.
Tanpa perlu Anang menghubungi atau dihubungi, pak Handoko ternyata sudah menunggu Anang diteras depan gedung studio.
Orang tua itu, seakan tidak mengenal rasa lelah.
Padahal, dari rumahnya ke kantor tempatnya bekerja, lalu ke studio pak Robi, semuanya berlawanan arah, dengan jarak tempuh lumayan jauh.
Ditambah lagi, tadi pagi mereka masih pergi ke kantor polisi, yang juga berlawanan arah dari semua tujuan pak Handoko.
"Bapak nggak perlu menjemputku..." ujar Anang pelan.
"Nggak masalah. Kalau cuma berdiam diri dirumah, rasanya juga nggak enak," kata pak Handoko.
"Anang, sudah selesai?" tanya pak Handoko.
"Sudah, Pak!" sahut Anang.
"Kita pulang saja, Pak!" sahut Anang.
Sebenarnya, dirumah pak Handoko juga membosankan bagi Anang.
Tapi, Anang memang memilih untuk mengajak pak Handoko pulang, agar orang tua itu bisa istirahat.
"Anang mau minum wedang jahe?" tanya pak Handoko, sambil menatap jalanan yang cukup padat kendaraan bermotor.
"Iya..." sahut Anang.
"Kalau begitu, kita singgah sebentar di depan sana!" kata pak Handoko.
Anang melihat tenda-tenda yang dipasang diatas trotoar, tidak jauh dari posisi mereka sekarang.
Pak Handoko lalu mengurangi laju kendaraannya, sambil mepet ke pinggir jalan, sampai mobilnya benar-benar berhenti berjalan.
"Badan saya rasanya pegal-pegal!" celetuk pak Handoko, saat mereka keluar dari mobil pak Handoko yang terparkir dipinggir jalan.
"Bapak kecapekan... Beberapa hari ini, Bapak terlalu sibuk kesana kemari...
Makanya, tadi saya bilang kalau Bapak nggak perlu menjemputku. Saya bisa pakai taksi, sedangkan Bapak, bisa istirahat saja dirumah," kata Anang.
__ADS_1
"Mungkin bukan karena itu. Namanya juga sudah tua, badan memang cepat pegal meski nggak ngapa-ngapain," sahut pak Handoko.
Pak Handoko lalu memesan wedang jahe, untuk Anang dan dirinya sendiri, berikut juga dengan camilan pisang goreng.
"Dulu, saya sering singgah ditempat begini, kalau saya lelah dengan pekerjaan dikantor," celetuk pak Handoko.
"Kalau Anang pulang ke kampung Anang nanti, apa saya bisa ikut jalan-jalan kesana?" tanya pak Handoko.
"Eh! Bukan saya nggak mau bapak ikut. Tapi, saya disana cuma menumpang tinggal sementara dengan teman saya. Disana juga nggak ada hotel atau penginapan," sahut Anang.
"Ooh..." pak Handoko mengangguk-anggukkan kepalanya, dengan raut wajahnya yang tampak kecewa.
"Kalau memang Bapak mau ikut, nanti saya tanya temanku dulu ya, Pak?!" ujar Anang.
"Oke!" sahut pak Handoko, yang terlihat kembali bersemangat.
"Hmmm... Disana nggak ada rumah yang dijual?" tanya pak Handoko.
"Kurang tahu, Pak!" sahut Anang.
"Untuk apa?" tanya Anang heran.
"Saya semestinya sudah pensiun... Saya mau mencari tempat istirahat, yang bisa menenangkan pikiran," sahut pak Handoko.
"Kalau dikampung seperti cerita Anang, rasanya akan jadi tempat istirahat yang nyaman...
Ketika saya nggak ada keperluan dikota, saya bisa pergi kesana kapan saja saya mau, kalau saya bisa membeli rumah disana," sambung pak Handoko.
"Hmmm... Kalau Bapak mau seperti itu, bisa saja nanti saya bantu carikan rumah disana," sahut Anang.
Pak Handoko menganggukkan kepalanya, lalu menyesap sedikit wedang jahe panas dari cangkirnya, dan memakan sepotong pisang goreng hangat.
"Maaf, Pak! Kalau saya mungkin lancang. Saya mau tahu, apa Bapak nggak punya sanak saudara?" tanya Anang.
"Nggak ada. Saya anak tunggal, begitu juga mendiang Mamanya Santi. Orang tua kami sama-sama sudah meninggal sejak lama, sejak Santi masih kecil...
Masing-masing orang tua saya, dan mendiang Mamanya Santi punya saudara. Tapi, nggak ada yang dekat. Baik dengan saya, maupun mendiang Mama Santi," sahut pak Handoko.
"Mereka juga tinggalnya jauh, dipulau yang berbeda. Mungkin karena itu, kami nggak ada yang akrab dengan keluarga mendiang orang tua kami," sambung pak Handoko.
"Berarti, Bapak dulu merantau kesini?" tanya Anang.
"Bisa dibilang begitu. Saya dulu datang kesini untuk kuliah, lalu bertemu dengan mendiang Mamanya Santi di universitas yang sama, meski berbeda jurusan," sahut pak Handoko.
"Saat kami menikah, dan beberapa tahun kemudian, mendiang Mama Santi melahirkan Santi, mendiang Mama Santi memilih untuk berhenti bekerja, dan hanya saya saja yang lanjut sampai sekarang," sambung pak Handoko.
Pak Handoko lalu tersenyum, meski tampak dipaksa-paksakan.
"Kami dulu berencana, bisa memiliki banyak anak, biar bisa punya keluarga besar. Tapi, takdir berkata lain...
__ADS_1
Mama Santi hanya bisa melahirkan Santi. Beberapa kali dia mengandung, selalu saja keguguran," ujar pak Handoko.