
Pagi itu van label, berhenti untuk mengisi bahan bakar disalah satu tempat pengisian bahan bakar, sebelum mengantar Anang ke event yang digelar dikota itu.
"Aku ke toilet dulu! Kamu nggak turun?" tanya Santi, yang sudah berdiri dipintu van, yang sudah terbuka, dan bersiap-siap untuk turun dari kendaraan itu.
Anang yang baru saja terbangun dari tidurnya, kemudian ikut turun dari van, sambil setengah berlari menyusul Santi yang sudah berjalan pergi.
Santi berjalan ke salah satu sisi diluar bangunan, sedangkan Anang yang hampir mengikuti Santi, langsung dihadang Santi langkahnya, sampai berhenti tiba-tiba.
"Sebelah sini untuk perempuan! Tuh, untuk laki-laki, ada disebelah sana!" kata Santi.
Santi menunjuk papan tanda yang menggantung di dinding, diatas kepala Anang.
Anang lalu berbalik, dan berjalan menuju kearah yang ditunjuk Santi.
Kandung kemihnya yang penuh, harus dikosongkan, sekalian membasuh wajahnya meski hanya sekedar saja.
Toh, biasanya Anang mandi dan bersih-bersih, nanti saat mereka sudah di tempat event berlangsung.
Ketika Anang keluar dari toilet laki-laki itu, Anang melihat kesana-kemari, tapi Santi tidak kelihatan, sedangkan van mereka sudah selesai mengisi bahan bakar, dan menunggu tidak jauh dari alat pengisian bahan bakar.
Anang yang menduga kalau Santi sudah kembali kedalam van, lalu mulai berjalan mendatangi kendaraan itu.
Dengan jarak yang masih lumayan jauh dari van yang terparkir, suara benturan yang keras, terdengar memekakkan telinga Anang, di kesunyian pagi itu.
Entah ada masalah apa, sebuah kendaraan roda empat, yang tadi sempat dilihat Anang, sedang berjalan masuk ke area pengisian bahan bakar, bukannya memelankan laju kendaraannya, malah menambah kecepatannya tiba-tiba.
Mobil semi truk itu, menabrak bagian belakang van, sampai sedikit bergerak maju dari tempat awalnya.
Setengah berlari, Anang menuju ketempat van mereka terparkir.
Anang cemas, kalau-kalau terjadi sesuatu dengan Santi yang mungkin sudah didalam van itu.
Buru-buru Anang membuka pintu van, sambil mencari-cari keberadaan Santi didalam situ, tanpa memperdulikan supir van yang sibuk diluar, memeriksa kerusakan yang terjadi di kendaraan itu.
Anang masih panik, keluar kembali dari van, dan melihat Santi sedang berdiri, sambil menatap bagian belakang kendaraan mereka.
Tanpa aba-aba, Anang memeluk Santi erat-erat.
"Aku kira kamu didalam sana tadi..." ujar Anang pelan.
"Hmm... Aku tadi masih di toilet," sahut Santi.
Anang melepas pelukannya dari Santi, lalu ikut melihat kendaraan tumpangan mereka.
__ADS_1
Kerusakannya lumayan parah.
Bagian belakang van, sampai penyok tertekan masuk cukup dalam.
Anang melihat mobil yang menabrak, juga mengalami kerusakan yang lumayan parah.
Kap mesin kendaraan sampai terangkat, dengan bagian depan ringsek parah, dan mengeluarkan asap putih dari bagian mesin, yang mengepul ke udara.
Orang yang mengendarai mobil itu, beranjak keluar dari mobil perlahan-lahan.
Anang melihat supir mobil itu, seorang laki-laki lanjut usia tampak berjalan sempoyongan, dengan darah yang mengalir dari pelipisnya.
Dengan cepat, Anang menghampiri orang tua itu, dan membantunya duduk didekat alat pengisian bahan bakar.
Santi juga ikut menghampiri orang itu, dan berbicara dengannya.
"Katanya, dia tadi salah menginjak pedal..." celetuk Santi, yang membantu mengelap darah diwajah laki-laki berusia senja itu.
Santi lalu berbicara dengan salah satu orang, yang berdiri didekat mereka.
"Aku sudah meminta orang menghubungi nomor darurat," ujar Santi.
"Semestinya kalau sudah berumur seperti ini, tidak perlu menyetir sendiri," sambung Santi, sambil tetap mengelap darah diwajah laki-laki itu, menggunakan lembaran tissue.
Anang yang memegang lelaki itu, agar tidak terjatuh, dan bisa tetap terduduk, hanya terdiam mendengar perkataan Santi.
Apa tidak ada keluarganya yang bisa membantu mengantarkannya?
Atau memang orang tua ini yang keras kepala untuk menyetir sendiri?
Tidak berapa lama, suara sirine ambulance menggema dari kejauhan, saat Anang dan Santi masih menjaga orang tua itu.
Ketika orang itu sudah dimasukkan kedalam ambulance, Anang dan Santi lalu mendatangi supir van, yang menunggu mereka.
Santi terlihat berbicara dengan supir itu sebentar, lalu mengajak Anang masuk kembali kedalam van.
"Ayo! Kita harus pergi sekarang! Kamu nanti terlambat sampai di event!" ujar Santi, sambil menarik tangan Anang.
Kendaraan mereka kemudian berjalan pergi, dari tempat pengisian bahan bakar itu.
"Disini nggak ada batas umur untuk menyetir?" tanya Anang.
"Kurang tahu... Hanya saja, waktu aku datang kesini pertama kali, juga memang merasa bingung, melihat orang-orang yang sudah tua seperti tadi, masih menyetir dijalanan," sahut Santi.
__ADS_1
"Kalau kata salah satu temanku, disini memang kebanyakan anak-anaknya nggak terlalu mau, atau nggak sempat memperhatikan orangtuanya," sambung Santi.
"Kok bisa begitu?" tanya Anang heran.
"Bisalah! Rata-rata anak-anaknya 'kan sudah keluar dari rumah, lalu tinggal terpisah dari orang tuanya di usia sembilan belasan tahun, sejak mereka masuk kuliah," sahut Santi.
"Tapi, memangnya mereka sama sekali nggak bisa mengecek keadaan orang tuanya?" tanya Anang yang masih penasaran.
Santi menatap Anang lekat-lekat, dengan wajah datar.
"Nggak bisa kamu samakan dengan kebiasaan dinegara kita..." ujar Santi sambil menjepit hidung Anang, disela-sela kedua jari tangannya.
"Kalau disini, orang-orang yang sudah berusia lanjut, malah kebanyakan di masukkan ke panti jompo, dan bukannya tinggal dengan anak-anaknya lagi,"
Anang makin bingung dengan perkataan Santi.
"Jadi sejak keluar dari rumah, anak-anaknya sudah nggak bertanggung jawab menjaga orang tuanya lagi?" tanya Anang.
"Iya! Orang tuanya juga nggak bisa memaksa untuk tinggal dengan anak-anaknya, meskipun mereka mau, kecuali anak-anaknya yang mengajak mereka tinggal bersama," sahut Santi.
Pantas saja, kalau seperti orang tua tadi yang meski sudah berusia lanjut, masih harus menyetir kendaraannya sendiri.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa anak-anaknya nggak kasihan dengan orang tuanya ya?!" celetuk Anang.
"Nggak usah terlalu dipikirkan...!" sahut Santi.
"Pertama kali aku tinggal dinegara ini dulu, juga merasa bingung...
Sering aku lihat diberita, kalau ada orang tua yang meninggal dirumahnya, tanpa ada yang tahu, sampai-sampai jenazahnya sudah membusuk," sambung santi.
"Malah ada salah satu kenalanku waktu aku kuliah dulu, yang menemukan jenazah ibunya tinggal tulang-belulang...
Gara-gara dia tidak pernah memeriksa keadaannya, dengan alasan sibuk kuliah sambil bekerja," kata Santi lagi.
Bukan main.
Rasanya meski sibuk bekerja atau apapun itu, tetap tidak wajar kalau sampai tidak mencari tahu kabar orang tua sendiri.
"Itu sudah jadi kebiasaan orang disini?" tanya Anang.
Santi menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Sayang...! Aku nggak tahu itu sudah jadi kebiasaan atau nggaknya, hanya saja karena keseringan kejadian seperti itu, jadi aku sudah nggak lagi merasa heran," ujar Santi, lalu memeluk Anang erat-erat.
"Mudah-mudahan, anak-anak kita nanti nggak seperti itu..." sambung Santi, lalu tertawa.