SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 177


__ADS_3

Perkataan Lia benar-benar menyentak Anang.


Meskipun Lia pernah bertingkah bodoh gara-gara cintanya, tapi rasanya, pendapat Lia bisa Anang terima.


Secara, Lia yang bekerja sebagai notaris perkawinan, pasti pengalamannya menghadapi pasangan yang akan menikah, tidak mungkin bisa diragukan, apalagi disangkal Anang.


Anang menghela nafas panjang.


Meski di kafe itu pengunjungnya cukup ramai, tapi tidak ada satupun yang bisa menarik perhatian Anang.


Anang lebih suka menatap jalanan, yang padat dengan kendaraan yang berlalu-lalang, sambil melamun.


"Apa ada yang mau Mas Anang lakukan?" tanya Lia, membuyarkan lamunan Anang.


"Eh! Nggak ada!" sahut Anang.


"Oh, iya! Aku mau belanja pakaian. Rencananya, aku akan tinggal disini sementara waktu. Tapi, pakaian yang aku bawa, sepertinya nggak cukup," sambung Anang.


Anang baru ingat, kalau dia hanya membawa sepasang baju ganti, dan sekarang sudah dia pakai.


"Ayo, aku temani belanja! Mumpung aku nggak ada kesibukan," ajak Lia, lalu berdiri dari tempat duduknya, dan mulai berjalan kearah parkiran.


Anang lalu menyusul Lia dan masuk ke mobil wanita itu.


"Mau belanja dimana?" tanya Lia, saat mobilnya mulai memasuki jalan raya.


"Terserah saja... Yang penting menjual pakaian laki-laki," sahut Anang.


"Oke!" ujar Lia.


Lia membawa Anang mendatangi pusat perbelanjaan, yang cukup besar ditengah kota.


Dengan ditemani Lia, Anang memilih dan membeli beberapa pasang pakaian yang rasanya dia butuhkan, secukupnya.


"Aku sebenarnya diundang ke pesta. Tapi, aku kurang tertarik untuk pergi sendiri," celetuk Lia.


"Pesta apa?" tanya Anang.


"Mas Anang mau menemaniku?" Lia balik bertanya.


"Tergantung... Pesta apa dulu?" ujar Anang.


"Pesta biasa saja..." sahut Lia datar.


"Kamu mau pergi kesana kalau aku temani?" tanya Anang.


"Iya!" sahut Lia bersemangat.


"Hmmm... Aku ganti pakaian dulu!" ujar Anang.


"Kita kerumahku saja! Mas bisa mandi, juga ganti baju," kata Lia, lalu menunjuk kantong belanjaan Anang, yang sedang dipegang Anang, dengan lirikan matanya.


"Oke!" sahut Anang.


Daripada bengong dirumah pak Handoko, rasanya, lebih baik Anang menghabiskan waktu dengan Lia.


"Kamu tinggal sendiri?" tanya Anang, ketika mereka sudah tiba dirumah Lia.


"Iya!" sahut Lia enteng.


"Tuh! Mas bisa siap-siap dikamar itu!" sambung Lia sambil menunjuk, salah satu pintu didalam rumah itu.


Anang lalu masuk kesitu, kemudian pergi mandi, dan berpakaian, sedangkan Lia memasuki pintu kamar yang berseberangan.

__ADS_1


Setelah Anang sudah siap, Lia masih belum keluar dari kamarnya.


Anang mengetuk pintu kamar Lia, yang tertutup rapat


"Sebentar, Mas!" teriak Lia dari dalam kamar.


"Apa nggak telat perginya?" tanya Anang, didepan pintu.


Pintu kamar Lia lalu terbuka, dan Lia berdiri didepan Anang.


"Nggak. Masih sempat saja," sahut Lia, lalu berbalik.


"Tolong, bantu pasangkan ritsleting bajuku!" sambung Lia enteng.


Astaga...


Catat!


Meskipun Lia wanita penyuka sesama jenis, tapi Anang 'kan laki-laki normal.


Kulit punggung Lia yang putih mulus, tampak sangat halus, dan benar-benar terbuka sampai hampir ke pipi bokongnya.


Memang tidak seindah punggung Santi.


Tapi, tetap saja...


Dengan tangan gemetaran, Anang menarik naik ritsleting gaun Lia, sampai tertutup rapat.


Wajar... Siapa yang tidak gemetaran, kalau melihat sesuatu seperti itu, apalagi hampir tersentuh dengan kulit tangannya, saat memegang ritsleting dan menariknya pelan.


Ah, sudahlah...


Jangan sampai Anang berfantasi gila.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menghela nafas panjang, dan menghembuskannya pelan.


Anang harus menenangkan dirinya, otaknya, juga sesuatu disela-sela paha Anang.


Lia buru-buru berbalik, ketika Anang selesai menutup gaunnya, dan menatap Anang lekat-lekat.


"Jangan coba-coba berpikiran aneh-aneh!" ujar Lia ketus.


Anang jadi salah tingkah.


Senampak itukah diwajah Anang?


Tanpa menunggu lama-lama, otak Anang seketika kembali menjadi normal, karena malu.


"Apa?" tanya Anang pura-pura tidak mengerti maksud Lia.


Lia menghela nafas panjang.


"Ayo, kita pergi sekarang!" ajak Lia.


"Diambil barang-barangmu, jangan ketinggalan! Nanti sepulangnya dari pesta, aku langsung antarkan Mas Anang, kembali ke rumah Papanya Santi," sambung Lia.


Anang lalu mengambil pakaian-pakaian miliknya, dan membawa barang-barang itu bersamanya, sambil menyusul Lia, yang sudah menunggu didepan pintu rumah.


"Pesta apa, sih?" tanya Anang, saat mobil Lia sudah berjalan pelan dijalan raya.


"Pernikahan teman sekolahku..." sahut Lia.


"Apa nggak masalah, kalau aku ikut, sedangkan aku nggak diundang?" tanya Anang lagi.

__ADS_1


"Nggak lah! 'Kan, Mas Anang kesitu, jadi pasanganku?!" sahut Lia.


Anang mengangguk-anggukkan kepalanya.


Mereka berdua tiba disebuah hotel, yang tidak terlalu jauh dari rumah Lia.


Setelah Anang perhatikan tempat itu, Anang menyadari, kalau hotel mewah itu tempat Peter dan Wina, tertangkap basah sedang berselingkuh.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Lia.


"Nggak apa-apa. Pestanya, kelihatannya mewah ya?" ujar Anang berbohong.


"Iya, kedua mempelai bekerja dikantor besar. Wajar saja kalau membuat acara pernikahan besar-besaran," sahut Lia.


"Malam ini cuma acara santai, kumpul-kumpul begitu saja sambil makan-makan," sambung Lia.


Memang benar perkataan Lia.


Para tamu tampak santai, tanpa ada jadwal susunan acara.


Semua hanya suka-suka saja didalam aula hotel itu.


Ada yang berdiri-berdiri berkumpul, ada yang cuma duduk-duduk, sambil makan dan berbincang-bincang, meskipun ada juga yang berdansa ditengah ruangan.


Sedangkan pengantinnya, sibuk berfoto-foto dengan tamu, yang mau mengabadikan kenangan itu.


Lia membawa Anang untuk bersalaman dengan pasangan pengantin, sekedar mengucapkan selamat, lalu duduk disalah satu meja kosong.


Lia juga mengajak Anang mengambil makanan, lalu kembali ke tempat mereka duduk tadi.


Agak membingungkan bagi Anang, karena Lia tampak tidak terlalu mau berbaur dengan tamu-tamu undangan yang lain.


"Kamu nggak kenal dengan tamu-tamu yang lain?" tanya Anang, sambil memakan makanannya.


"Kenal... Rata-rata teman sekolahku dulu..." sahut Lia yang juga makan disitu.


"Masa, Mas Anang nggak ingat dengan wajah-wajah disini? Mereka-mereka juga yang hadir di acara reuni sekolah, waktu aku pertama kali bertemu dengan Mas Anang," sambung Lia.


Sambil Anang mengunyah makanannya, Anang melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan, dan memperhatikan wajah-wajah orang-orang yang ada disitu.


"Iya... Aku baru ingat," kata Anang.


"Makanya, aku nggak terlalu mau datang. Kalau bukan karena pengantinnya itu klien dikantorku, lalu Mas Anang nggak mau temani, mungkin aku nggak bakalan hadir," ujar Lia.


"Mereka masih sama... Sibuk memamerkan kehebatan masing-masing," sambung Lia.


"Coba mas lihat yang disebelah sana!" kata Lia lagi, lalu menunjuk dengan matanya, ke salah satu arah diruangan itu.


Anang mengikuti tatapan mata Lia.


Ada sekelompok orang yang duduk bersama, dengan penampilan sederhana, jika dibandingkan dengan tamu-tamu undangan yang lain.


Mereka terlihat seperti orang-orang yang di asingkan, diantara tamu yang hadir disitu.


"Kalau belum sukses, pasti jadi cemoohan, lalu dicuekin. Makanya, aku nggak terlalu suka, untuk berbaur dengan teman-teman sekolahku ini," celetuk Lia.


Rasanya, dimana-mana sama saja.


Yang hidupnya biasa-biasa saja, lalu dianggap rendahan, padahal segala sesuatunya itu sudah ada yang mengatur.


Bersyukur kalau bisa mendapatkan rezeki lebih dari orang yang lain, tapi, sebaiknya tetap menghargai orang yang belum dapat kesempatan, untuk menikmati rezeki seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2