SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 95


__ADS_3

Meskipun Santi masih terlihat kurang bersemangat, tapi Santi masih menemani Anang untuk bernyanyi di acara, yang mengundang Anang malam itu.


Sesekali Anang melirik Santi, yang tersenyum sambil melihat Anang.


Anang berusaha tetap tenang agar tidak mengacau penampilannya malam itu, karena keadaan pikirannya yang tidak karu-karuan.


Anang tahu kalau Santi sedang tidak baik-baik saja, meskipun Santi masih bisa tersenyum kepadanya.


Dipertengahan penampilan Anang, rupanya ada yang mengenali suara Anang disitu, dan meminta Anang menyanyikan lagu yang sekarang jadi bahan perdebatan antara dua label.


Anang memang menyetujui permintaan orang itu, tapi rasanya Anang tidak sanggup menyanyikan lagu itu sampai usai.


Perasaan Anang sangat kacau, karena melihat Santi yang hampir menangis, ketika Anang menyanyikan lagu yang sementara ini sedang mengangkat nama Anang di industri musik.


Santi terlihat berjalan menjauh, dan menuju kebagian belakang tempat itu.


Sekuatnya Anang mengeraskan hatinya, agar bisa tetap tampil profesional didepan orang-orang yang menonton, dan mendengarkan suaranya.


Setelah lagu itu usai Anang nyanyikan, Anang meminta ijin kepada orang yang mengundangnya, agar dia bisa istirahat sebentar.


"Silahkan!"


Ijin dari penyelenggara acara itu, bisa membuat Anang merasa sedikit lega.


Dengan cepat Anang menyusul Santi, dan benar saja dugaan Anang.


Ketika Anang tiba didepan toilet wanita, Santi terlihat keluar dari sana dengan mata sembab, dan tampaknya baru saja membasuh wajahnya dengan air.


Santi terlihat sangat terkejut dengan adanya Anang disitu.


"Kenapa kamu disini? Sudah selesai bernyanyi?" tanya Santi sambil tersenyum yang tampak dipaksa-paksakan.


"Belum. Aku minta ijin istirahat sebentar." sahut Anang.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Anang.


Santi menganggukkan kepalanya pelan.


Anang memeluk Santi disitu, dan memecahkan tangisan Santi didalam pelukannya.


"Sebaiknya, aku mungkin harus menjauh darimu...


Kalau aku nggak bersama kamu, rasanya kamu nggak akan dapat masalah seperti ini..." ujar Santi sambil menangis terisak-isak.


"Sudah... Jangan macam-macam! Jangan pernah punya pikiran begitu!" ujar Anang sambil mengusap-usap punggung Santi.


"Kalau kamu pergi dariku, itu nggak akan menyelesaikan masalah. Melainkan hanya akan menimbulkan masalah baru... Kamu pikir aku masih bisa bertahan, kalau aku hanya sendiri?" sambung Anang.


"Jangan menangis lagi ya?! Kamu duduk di sampingku diatas panggung. Masih ada beberapa lagu lagi yang harus aku nyanyikan." kata Anang.

__ADS_1


Santi mengusap wajahnya yang basah dengan air mata, kemudian terlihat menghela nafas panjang beberapa kali, sebelum akhirnya Santi ikut dengan Anang berjalan kembali kedepan.


Sesuai dengan permintaan Anang, Santi duduk disampingnya saat Anang bernyanyi, sampai semua lagu pesanan selesai Anang nyanyikan.


Tidak mungkin Anang menyalahkan Santi 'kan?


Anang menyayangi Santi dengan sepenuh hatinya.


Justru dengan adanya Santi bersamanya, Anang masih bisa bersemangat dalam bekerja.


Entah apa yang harus Anang lakukan.


Anang tidak melepas pelukannya dari Santi yang bersandar didada Anang, ketika mereka dalam perjalanan pulang kembali kekost-kostan.


"Apa aku hubungi Peter saja? Nggak tahu kenapa, aku merasa kalau dia masih tidak akan berhenti sampai disini saja," celetuk Santi.


"Lalu apa? Kamu mau kita batal menikah, lalu kamu akan menikahi Peter?" tanya Anang ketus.


Santi terdiam.


Santi tampaknya memang kebingungan, dan seolah hampir kehabisan akalnya lagi.


"Biarkan saja. Kita lihat sampai dimana Peter mau mencari masalah denganku," kata Anang.


"Yang jelas aku nggak akan melepaskan kamu untuknya begitu saja," sambung Anang. ~


Ketika mereka tiba di studio rekaman pak Robi, pak Robi masih belum terlihat disana.


Mereka berdua kemudian diarahkan pegawai pak Robi, agar langsung pergi kelantai dua bangunan itu.


Anang diminta melakukan perekaman ulang lagu yang lain, sedangkan Santi duduk menunggu Anang disofa diluar tempat Anang merekam suaranya.


Kali ini Anang merekam lagunya, yang pernah Anang unggah diakun f*cebooknya waktu itu


"Kasusnya masih bergulir," kata salah satu pegawai pak Robi yang ada diruangan itu, sambil mengatur mikrofon untuk dipakai Anang.


"Jordan and Henderson, bukan lawan yang bisa dianggap main-main. Label itu jauh lebih besar dari pada label ini.


Dengan koneksinya yang besar dan luas, mereka bisa memutar balikkan fakta, dan kemungkinan label ini akan kalah, dan lagumu akan ditarik dari pasaran," kata orang itu lagi.


"Apa pengaruhnya bagi label ini kalau laguku ditarik dari pasaran? Atau dianggap melakukan plagiarisme?" tanya Anang.


"Memangnya kamu melakukannya?" tanya orang itu dengan alis mengerut.


"Nggak. Aku membuat sendiri lagu itu, tanpa ada bayangan dari lagu mana pun. Hanya saja aku khawatir kalau-kalau pak Robi tidak bisa memenangkan tuntutan itu, karena kekurangan bukti," sahut Anang.


Pegawai pak Robi mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Label ini akan mengalami kerugian. Mulai dari rugi ongkos produksi, sampai membayar penalti ke label itu.

__ADS_1


Kecuali mereka mencabut tuntutan dan mau berdamai, cukup lagumu saja yang ditarik dari peredaran, sisanya hanya rugi ongkos produksi saja, dan tidak perlu membayar penalti," sahut orang itu.


"Tapi kamu nggak usah khawatir, itu bukan semuanya jadi kesalahanmu. Pak Robi dan kami kemarin juga kecolongan.


Kurang kewaspadaan.


Hal seperti itu biasa dalam persaingan di industri hiburan.


Dan kali ini, rasanya pak Robi tidak akan membuat kesalahan yang sama," sambung orang itu lagi.


Anang mendengarkan semua penjelasan pegawai pak Robi, tanpa bisa menanggapi lebih jauh perkataannya.


Setelah orang itu keluar dari ruangan tertutup itu, Anang kemudian diarahkan untuk mulai bernyanyi, sambil beberapa pegawai pak Robi memantau dari ruangan sebelah, yang berbatas jendela kaca.


Kali ini Anang berusaha mengeluarkan suara, dan kemampuan terbaiknya.


Anang tidak mau terlalu memikirkan yang sudah terlanjur terjadi, yang hanya akan merusak konsentrasinya.


Dan mungkin karena Anang benar-benar berfokus direkaman baru itu, sampai-sampai tidak membutuhkan waktu terlalu lama seperti waktu merekam lagu pertamanya, proses rekaman Anang sudah selesai.


"Lagumu kali ini, mungkin akan ditunda peluncurannya, sampai hak ciptanya selesai diurus pak Robi." kata salah satu pegawai pak Robi, ketika Anang keluar dari ruangan tertutup tadi.


"Pak Robi, kok nggak kelihatan?" tanya Anang.


"Dengar-dengar, mungkin Pak Robi masih sibuk mengurus semua tentang tuntutan, dan hak cipta lagu-lagumu. Sejak kemarin sore, pak Robi memang belum naik keatas sini," sahut orang itu.


Anang menghela nafas panjang.


Sesulit itu masuk dalam industri musik seperti ini.


Meskipun ada jalan dan kesempatan, tapi ada-ada saja halangan yang bisa mengacaukan prosesnya.


Pantas saja kalau banyak penyanyi atau grup band yang sempat tenar sebentar, lalu tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Terimakasih! Saya pulang dulu!" kata Anang kepada pegawai-pegawai pak Robi yang ada disitu.


"Oke!"


"Tetap semangat!"


Sahut mereka kepada Anang.


Anang melihat Santi yang tampak sibuk mengetik-ngetikkan sesuatu dilayar ponselnya, sambil duduk disofa.


"Sudah selesai?" tanya Santi sambil berdiri menghampiri Anang.


"Sudah. Ayo kita pergi dari sini!" ujar Anang.

__ADS_1


__ADS_2