
Entah apa yang menjadi nilai lebih di Peter, sampai-sampai ayah Santi bisa mempercayai laki-laki itu.
Apa karena penampilannya?
Atau hanya karena terlanjur dikenal ayah Santi lebih dulu, dibandingkan dengan Anang?
Yang pasti, semua yang dikatakan Peter, meski hanya beberapa potong kata, bisa mengalahkan semua perkataan Anang, meski Anang sudah bicara panjang lebar.
Ayah Santi didetik ini pun, kelihatannya masih mempercayai semua omongan Peter daripada cerita Anang.
Memang benar kata Santi, kalau ayahnya adalah orang terbodoh yang pernah mereka kenali.
Dengan latar belakang pendidikan tinggi, dan bekerja sebagai pengacara, bagaimana bisa ayah Santi tidak bisa menilai mana satu yang berkata benar atau sedang berbohong?
Lalu bagaimana caranya ayah Santi bekerja?
Apa hanya percaya yang dia mau percaya saja?
Kalau benar begitu, meski seorang pembunuh berkata dia tidak membunuh, ayah Santi akan menganggapnya bukan pembunuh, dan membelanya mati-matian, hanya karena percaya dengannya?
"Kamu bilang Santi tinggal dikost-kostan, yang rasanya tidak layak huni begitu? Kamu pikir itu bisa saya percaya?" tanya ayah Santi dengan nada keraguan disuaranya.
"Maafkan saya, Pak! Saya sudah berkata yang sejujurnya, tapi kalau Bapak tidak mau mempercayainya, berarti memang tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan," ujar Anang, lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Tunggu dulu! Saya belum selesai bicara denganmu" kata ayah Santi, berusaha menahan Anang agar kembali duduk disitu.
"Untuk apa berlama-lama bicara dengan mereka? Biarkan saja Papa dibodohi Peter selamanya, sampai dia mati dan arwahnya gentayangan!" suara Santi dengan nada tinggi tiba-tiba terdengar dari pintu.
Ternyata Santi sudah berdiri dipintu, entah untuk berapa lama, tanpa ada yang menyadari kehadirannya.
Ayah Santi tampak menahan kekesalannya, saat mendengar perkataan Santi.
"Jadi kamu mau bilang kalau Anang yang berkata jujur, dan Peter yang berbohong?" tanya ayah Santi dengan suara bergetar, terdengar jelas kalau ayah Santi sangat terganggu dengan perkataan kasar anak perempuannya itu.
"Apa perlu, Papa menanyakannya lagi?" Santi balik bertanya, masih dengan suara tinggi.
"Santi! Kamu sudah ditipu Anang!" ujar Peter seolah-olah memaksa, kalau dialah yang benar.
"Hah? Kamu bercanda? Lain kali, rapikan dulu celanamu sebelum kamu menemui Papa, biar tidak ketahuan, kamu habis menancapkan kelaminmu dimana!" sahut Santi membentak Peter.
"Ayo Mas! Kita pergi saja sekarang! Buang-buang waktu saja kita disini!" ajak Santi, kepada Anang, sambil tetap berdiri dipintu, tanpa mau masuk lebih jauh kedalam ruangan itu.
"Santi! Apa kamu tidak bisa bicara dengan baik?" ujar ayah Santi dengan suara bergetar.
"Bisa! Tapi papa juga harus memeriksa tempat tidur Papa dengan baik terlebih dulu!" sahut Santi masih tetap bicara kasar.
"Santi...!" kata Anang pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Maaf pak! Rasanya memang lebih baik kami pergi saja dulu. Tidak ada yang bisa bicara dengan baik, kalau semua hanya memakai emosi" kata Anang, lalu berjalan menghampiri Santi dipintu.
"Apa maksudmu?" tanya ayah Santi.
Anang berbalik, dan melihat ayah Santi.
"Saya tidak bermaksud apa-apa. Tapi sekarang, Bapak dan Santi sedang terbawa emosi. Saya hanya tidak ingin salah satu dari kalian, mengatakan sesuatu yang mungkin akan disesali nanti," kata Anang datar.
"Lihat 'kan, Pak?! Anang itu manipulatif!" kata Peter.
Santi hampir saja mengamuk lagi, tapi Anang menahannya.
"Terserah kamu mau bilang aku apa saja." kata Anang sambil melihat Peter.
"Permisi, pak!" sambung Anang sambil melihat kearah ayah Santi, lalu berbalik dan berjalan pergi dari situ.
Kali ini ayah Santi tidak lagi menyusul Anang dan Santi.
Anang dan Santi pergi dari rumah ayah Santi tanpa mau berbalik menoleh kerumah itu, sampai mereka mendapat tumpangan untuk kembali kekost'an mereka lagi.
Setibanya dikamar kost, Santi masih terlihat gusar.
Santi membuka kausnya, lalu melemparkannya dengan kasar ke lantai.
Anang hanya bisa terdiam melihat gerak-gerik Santi disitu, sambil duduk dipinggir ranjang.
Anang tidak tahu harus bicara apa dengan Santi, karena bukan hanya Santi yang pikirannya kacau, Anang juga begitu.
Anang merasa karena masa lalunya yang menyedihkanlah, makanya ayah Santi menganggapnya hanya sekedar penipu, dan pencari kesempatan dalam kesempitan.
Anang sadar kalau dia bukan siapa-siapa, tapi tetap saja menyakitkan kalau ada orang yang merendahkan harga dirinya seperti itu.
Terserah ayah Santi saja!
Yang penting Anang tidak seperti yang ayah Santi duga.
'Kan Anang juga sudah memberitahu laki-laki itu, kalau Anang akan menikahi Santi.
Mau Ayah Santi setuju atau tidak, Anang tetap akan menikahi Santi. Bahkan kalau perlu, Anang akan membawa Santi sekarang, kekantor urusan agama.
Santi tiba-tiba berhenti berjalan mondar-mandir, dan menatap Anang yang masih memandanginya, yang hanya memakai pakaian dalam.
Santi kemudian duduk diatas pangkuan Anang, berhadap-hadapan, dan menyandarkan kepalanya disalah satu sisi bahu Anang.
"Puaskan aku sekarang..." ujar Santi.
"Tamunya sudah pergi?" tanya Anang.
__ADS_1
"Sudah dari tadi malam..." jawab Santi lalu mencium leher Anang disitu.
"Tapi nanti setelah kita melakukannya, kamu mau ikut denganku untuk mengurus pengesahan hubungan kita?" tanya Anang pelan.
"Iya." jawab Santi singkat.~
Anang benar-benar memuaskan kemauan Santi, meski dengan sedikit perasaan khawatir, karena Santi tidak mau lagi kalau Anang memakai k*ndom.
'Aku nanti minum pil KB saja'
Hanya karena kata Santi itu, yang membuat Anang bisa ikut menikmati hubungan intimnya dengan Santi.
S*x memang menjadi penghilang stress terbaik bagi Anang, kelihatannya Santi juga merasa begitu.
Apalagi setelah beberapa kali mengeluarkan penatnya, Anang benar-benar merasa lega.
Untuk apa membeli obat-obatan penekan depresi?
Lebih baik menikah, dan melakukan hubungan intim dengan pasangan sampai puas!
Benar tidak?
Jelas benar, jangan ada yang membantah.
Kecuali masih anak-anak, jangan coba-coba melakukan sesuatu, yang bisa menghasilkan anak! ~
"Jam berapa sekarang?" tanya Anang.
Santi lalu melihat layar ponselnya.
"Sudah hampir jam tiga. Kenapa?" sahut Santi yang masih bersandar didada Anang.
"Ayo kita pergi sekarang. Kantornya masih buka kalau masih jam segini," ujar Anang bersemangat.
"Sebentar, aku bersih-bersih dulu!" sahut Santi lalu duduk, dan sambil tersenyum menunjuk keperutnya.
Anang juga tersenyum, lalu bersama-sama Santi, ikut membersihkan diri dikamar mandi.~
"Banyak juga yang harus dipersiapkan," kata Anang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, saat berjalan keluar dari gedung kantor urusan agama, sambil merangkul pinggang Santi.
"Hmm... Besok kita keluar kota. Lusa nanti baru kita mengurus semua berkasnya." sahut Santi.
"Eh, tunggu! Aku punya kenalan yang bisa membantu menguruskan berkas-berkasnya. Nanti aku hubungi dia. Siapa tahu dia bisa membantu, supaya kita tidak perlu terlalu sibuk mengurus itu semua." sambung Santi.
Santi kemudian mengetik-ngetikkan sesuatu dilayar ponselnya.
"Tinggal tunggu dia balas chat ku. Mungkin sekarang dia sedang dijalan pulang dari kantornya," kata Santi lalu bersandar dengan manja didada Anang.
__ADS_1
Anang dan Santi benar-benar lupa dengan kejadian buruk dirumah ayah Santi.
Atau mungkin memang tidak ada yang mau memikirkannya lagi.