
Kelihatannya yang menjadi mimpi buruk Anang malam tadi, memang akan jadi kenyataan.
Ketika Anang memasuki ruangan itu, raut wajah ayah Santi tampak berubah drastis.
Ketidak sukaannya dengan Anang terlihat jelas , disetiap garis keriput diwajah ayah Santi.
"Apa yang kamu lakukan disini?" kata Santi dengan suara membentak, sambil melihat kearah Peter.
"Santi! Jaga suaramu!" kata ayah Santi tak kalah tegas.
"Jangan memaksaku, kalau Papa tidak mau kena serangan jantung hari ini!" Santi seakan tidak perduli, berbicara dengan ayahnya memakai suara tinggi.
"Santi...!" ujar Anang pelan, berusaha menenangkan Santi, yang tampaknya sangat marah.
"Ada apa denganmu?" tanya ayah Santi sambil mengerutkan alisnya melihat Santi.
Kali ini ayah Santi sudah berdiri dari duduknya, dan seakan-akan hendak menantang Santi, anak perempuannya itu.
"Apa yang kamu mau? Hah? Brengsek?" Santi bertanya dengan suara tinggi menantang Peter.
Kalau Anang tidak cepat menangkap tangan ayah Santi, hampir saja ayah Santi menampar Santi waktu itu.
Suasana ruangan itu tiba-tiba menjadi hening.
Jarak tangan ayah Santi dengan wajah Santi sudah sangat dekat, dan hanya tertahan oleh tangan Anang, sebelum ayah Santi menepis pegangan tangan Anang ditangannya.
Wajah Santi merah padam, bibirnya bergerak tidak beraturan seolah-olah Santi sedang menahan mulutnya untuk mengatakan sesuatu, sambil menatap ayahnya dengan sorot mata tajam.
Anang bisa merasakan kalau tubuh Santi bergetar hebat, dalam rangkulannya.
"Santi...! Tolong tahan emosimu...! Demi aku...!" bisik Anang pelan ditelinga Santi.
"Demi kamu, katamu? Dasar penipu brengsek!" bentak ayah Santi sambil melihat Anang.
Kata-kata kasar dengan nada tinggi ayahnya kepada Anang, seakan jadi pemicu terbaik bagi Santi untuk ikut berkata kasar.
"Papa laki-laki terbodoh yang pernah aku kenal!" Santi berteriak tepat didepan wajah ayahnya.
Refleks Anang menarik Santi menjauh dari ayah Santi, meskipun Santi meronta-ronta dalam pelukan Anang.
'Plaaakk!'
Lenggangan tangan ayah Santi, mengenai punggung Anang yang melindungi Santi, dengan menjadikan badannya sebagai tameng.
Santi yang tadinya meronta-ronta, lalu terdiam dalam pelukan Anang yang memeluknya erat-erat, kemudian menatap Anang disitu.
__ADS_1
Tamparan ayah Santi cukup terasa pedih dipunggung Anang.
Bayangkan saja kalau tamparan itu mengenai wajah Santi...
Rasanya, Anang tidak bisa menahannya lagi.
Anang kemudian berbalik dan menatap ayah Santi lekat-lekat, lalu berkata,
"Maafkan saya, Pak! Tapi kalau bapak masih mencoba memukul Santi lagi, saya akan membawanya pergi dari sini!"
Anang memang bersungguh-sungguh.
Tidak akan Anang biarkan seorangpun menyakiti Santi, meskipun itu orang tua Santi sendiri.
Dan kelihatannya ayah Santi menyadari, kalau Anang bersungguh-sungguh mengatakannya.
Kembali ruangan itu menjadi hening, dan kali ini cukup lama tanpa ada yang mengeluarkan suara sedikitpun, selain suara nafas mereka masing-masing, yang terdengar disitu.
"Kita pergi saja dari sini. Kalau Papaku lebih percaya dengan Peter dari pada aku anaknya sendiri, tidak ada gunanya kita berlama-lama disini." kata Santi, sambil menarik lengan Anang, agar ikut berjalan keluar dengannya.
Anang mengikuti langkah Santi, dan sambil merangkul pinggang wanita itu, mereka berdua berjalan keluar dari ruang kerja ayah Santi itu.
Belum sempat Anang dan Santi melewati pintu, ayah Santi lalu memanggil Anang,
"Anang! Tunggu dulu!"
"Anang! Tolong tunggu dulu sebentar!" panggil ayah Santi lagi, sambil berjalan menyusul anak dan calon menantunya itu.
Anang menghentikan langkahnya, dan menahan Santi agar berhenti berjalan.
"Untuk apa kamu mendengarkannya?" ujar Santi dengan suara tinggi.
"Santi...! Meskipun kamu marah dengannya, dia tetap orang tuamu...!" kata Anang pelan, berusaha menenangkan Santi yang tampak gusar.
"Saya ingin bicara denganmu!" kata ayah Santi, sambil menatap Anang.
Anang melihat ayah Santi, yang kini raut wajahnya sudah tampak lebih tenang, bahkan seakan sedang memelas kepada Anang.
"Aku bicara dengan Papamu dulu... Kamu tunggu sebentar ya?!" kata Anang lagi kepada Santi masih dengan suara pelan, lalu memeluk Santi erat-erat, sambil mengecup kepala Santi dengan lembut.
Santi menganggukkan kepalanya, tanda setuju.
"Aku akan menunggu diteras depan!" sahut Santi, dan tanpa mau melihat ayahnya, Santi berjalan pergi, menuju pintu depan rumahnya.
"Ikut denganku ke ruangan tadi!" kata ayah Santi, sambil berbalik dan berjalan kembali keruang kerjanya.
__ADS_1
Anang kemudian berjalan menyusul, dibelakang ayah Santi.
"Duduk dulu!" kata ayah Santi mempersilahkan Anang.
Anang melihat Peter yang memasang tampang masa bodoh diujung sofa.
Anang lalu ikut duduk disofa, dengan sisi berlawanan dengan Peter.
"Kata Peter, kamu pernah menipu bos wanitanya dulu" kata ayah Santi seakan sedang mengkonfrontasi Anang dan Peter, berhadap-hadapan disitu.
"Setahu saya, saya tidak pernah menipu siapa-siapa. Saya waktu mengenal Peter dan bos wanitanya waktu itu, saya masih jadi pengamen jalanan dimalam hari,
disiang harinya saya bekerja dipekerjaan pembangunan renovasi rumah, dan tinggal dikost-kostan dibawah jembatan layang.
Malam itu Miss Jordan, maksudku bos Peter memintaku bernyanyi sambil mereka merekamku dengan ponsel, dan menawari saya imbalan, kalau saya mau bernyanyi untuk mereka,
Saya tidak membohongi Peter ataupun bosnya, seolah-olah saya mencari belas kasihan mereka. Apa yang saya ceritakan memang benar begitu adanya,
Baru-baru belakangan ini saja, saya bisa mendapat tawaran bernyanyi dengan imbalan yang cukup, untuk mengubah cara hidup dan tempat saya tinggal" kata Anang menjelaskan panjang lebar.
"Terimakasih! Imbalan kalian waktu itu yang membuatku bisa membeli ponsel, dan bisa mendapat tawaran bernyanyi dengan penghasilan yang lebih baik," sambung Anang, sambil melihat Peter, yang tampak masih mengacuhkan Anang.
"Lalu kamu bertemu Santi dimana?" tanya ayah Santi.
"Waktu saya masih tinggal dikost-kostan liar dibawah jembatan layang" sahut Anang.
"Maksudmu Santi juga tinggal disitu?" tanya ayah Santi sambil mengerutkan alisnya.
"Iya. Dia tinggal disalah satu petakkan, yang tidak jauh dari kamar sewaan saya" sahut Anang.
Kali ini ayah Santi tampak gusar.
"Kata Peter, kamu sengaja memanfaatkan Santi untuk mendapat keuntungan" ujar ayah Santi.
"Santi membantu saya dalam mengurus tawaran bernyanyi saya.
Kalau bapak merasa kalau saya mengambil keuntungan dari situ, itu memang benar, karena dengan begitu, saya bisa mendapat penghasilan yang lebih baik, dan bisa membaginya dengan Santi" kata Anang.
"Tapi kalau bapak mengira saya tahu, kalau Santi anak orang kaya, lalu mau memanfaatkannya, bapak salah besar.
Saya tidak pernah tahu keluarga Santi seperti apa, selama saya dekat dengannya. Sampai akhirnya saya melamarnya, dan berniat meminta restu dengan orang tuanya," sambung Anang.
"Kamu jangan berpura-pura suci!" kata Peter dengan suara tinggi, dan seolah sedang mengejek Anang.
Anang lalu menatap Peter.
__ADS_1
"Seorang penipu, pasti pintar memutar kata-kata" sambung Peter.