
Dengan rasa enggan, Anang bersiap-siap untuk perjalanannya lagi pagi itu.
Dan memang sesuai dugaan Anang.
Belum berapa lama sejak kendaraannya mulai beranjak pergi dari depan gedung apartemen, rasanya Anang akan muntah karena mabuk perjalanan.
Guncangan kendaraan yang melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, apalagi saat melewati jalanan yang banyak tikungannya, benar-benar membuat Anang merasa mual.
Ketika Anang melihat keluar dari jendela sampingnya, malah memperburuk rasa pusingnya.
Keringat dingin mulai timbul didahi Anang.
Santi mungkin memperhatikan gerak-gerik dan gelagat Anang, lalu menghampiri Anang.
Sambil duduk memangku dipaha Anang, Santi mengelap keringat didahi Anang.
"Pusing?" tanya Santi dengan suara cemas.
Anang tidak menjawab, apalagi menggerakkan kepalanya, rasanya Anang tidak akan tahan, dan kemungkinan besar dia akan mengeluarkan semua isi perutnya.
Santi berdiri dari pangkuan Anang, lalu entah apa yang dia lakukan selanjutnya, karena Anang tidak mau membuka matanya.
Santi kembali duduk dipangkuan Anang, kemudian menempelkan sesuatu dibibir Anang.
"Coba kamu makan ini! Siapa tahu bisa mengurangi rasa mabuknya," kata Santi.
Anang membuka mulutnya sedikit.
"Dikunyah! Jangan langsung ditelan! Takutnya kamu nanti tersedak!" ujar Santi.
Anang merasa kalau Santi mendorong seperti tablet obat, masuk kedalam mulut Anang.
Anang mengunyah pelan sebutir tablet yang terasa seperti permen mint, tapi tidak ada rasa manisnya sama sekali, bahkan hampir terasa hambar.
Setelah menelan sedikit demi sedikit, tablet yang sudah halus dikunyah gigi-giginya, rasa mual Anang mulai menghilang.
Dan untuk beberapa menit kemudian, rasa pusingnya juga berkurang banyak.
Anang membuka matanya, dan melihat Santi yang masih duduk di pangkuannya.
"Sudah enakkan?" tanya Santi.
"Iya," sahut Anang.
"Untung saja...!" ujar Santi lalu tersenyum manis.
"Apa itu tadi?" tanya Anang penasaran.
"Obat maag!" sahut Santi yang hampir tertawa.
Anang mengerutkan alisnya.
"Nggak ada minyak kayu putih atau balsem. Ya... Mau bagaimana lagi? Tapi yang penting bisa mengurangi mabuk perjalananmu, 'kan?" ujar Santi.
__ADS_1
Anang memeluk Santi, sampai Santi tersandar didadanya.
Ada saja akalnya Santi.
Tapi, memang berhasil mengurangi mual dan pusing Anang, berarti nggak ada salahnya kalau Anang minum obat itu, kalau sampai dia merasa mual lagi.
Sampai mereka tiba ditempat event pertama dilangsungkan, Anang masih bisa merasa baik-baik saja, dan tidak terganggu lagi dengan mabuk perjalanan sama sekali.
Kali ini eventnya diselenggarakan di lapangan terbuka, ditengah teriknya panas matahari dikota itu, dengan panggung yang cukup tinggi.
Sambil menunggu gilirannya untuk naik ke panggung, Anang melihat berbagai reaksi dari penonton yang hanya berdiri-berdiri, melihat dan mendengarkan penyanyi diatas panggung.
Reaksi penonton yang beragam.
Ada penampil dipanggung yang diberikan tepuk tangan dan sorakan meriah, tapi ada juga penampil yang dapat respon buruk, sampai-sampai dilempar dengan botol atau kaleng minuman.
Selama Anang tampil dibeberapa event, baru kali ini Anang melihat reaksi penonton yang ekstrim seperti itu.
Berarti, kalau mereka kurang puas saat Anang tampil nanti, bisa saja Anang juga dilempari botol seperti beberapa penampil yang lain.
Sadis!
Sudah malu, sakit pula...
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Santi.
Anang menoleh kearah Santi yang berdiri disampingnya, sambil bergelayut dilengan Anang.
"Kamu gugup?" tanya Santi.
Anang menggelengkan kepalanya.
"Nggak! Aku nggak perduli, mereka suka atau nggaknya. Toh, aku nggak kenal dengan mereka!" ujar Anang enteng.
Santi mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bagus!" ujar Santi.
"Kalau begitu, aku juga nggak perlu khawatir," sambung Santi.
"Kamu memang nggak perlu terlalu khawatir denganku..." ujar Anang lalu menunduk agar bisa mencium bibi Santi.
Setelah Anang menciumnya, Santi tersenyum lebar.
Anang merangkul Santi, sampai Santi benar-benar menempel di badannya.
Tak lama, seseorang mendatangi Anang dan Santi, lalu bicara dengan Santi bersahut-sahutan.
Tampaknya sudah hampir waktunya bagi Anang, yang naik ke panggung.
Dan benar saja, memang giliran Anang yang harus tampil sekarang.
__ADS_1
Anang memang benar-benar tidak perduli, dengan apa yang akan jadi reaksi penontonnya.
Yang Anang pikirkan hanya karena dia suka bernyanyi, dan itu sudah cukup.
Mau hasilnya bagus atau tidak saat itu, Anang tidak mau menghiraukannya lagi.
Anang bernyanyi dan bermain gitarnya, dengan ringan tanpa beban yang berarti.
Tidak ada lagi ritual menghela nafas panjang, atau memejamkan matanya saat bernyanyi.
Entah Anang mulai kehilangan jiwanya, atau memang saking tidak perduli saja.
Begitu juga setelah selesai bernyanyi.
Meskipun Anang tidak dilempari botol, tapi Anang hanya sekedar membungkuk, tanpa tersenyum, lalu dengan terburu-buru langsung berjalan turun dari panggung, dan menghampiri Santi.
"Ayo kita kembali ke van!" ujar Anang.
Anang bisa melihat kalau Santi tampak seperti kebingungan melihatnya, tapi Anang lebih suka kalau mereka cepat-cepat pergi dari situ.
Didalam van yang sudah kembali melaju dijalanan, Santi memang tidak berkomentar apa-apa, tapi sesekali Anang bisa melihat kalau Santi melirik Anang, dengan ujung matanya.
Anang berdiri lalu menghampiri Santi, membuat Santi berdiri, lalu Anang duduk dan menarik Santi, agar duduk dipangkuannya.
"Setiap kita masuk kembali didalam sini, aku mau kamu duduk dipangkuanku. Nggak perlu menunggu aku memintamu lagi!" celetuk Anang.
Santi menganggukkan kepalanya, tanpa bicara apa-apa.
Anang memeluk Santi erat-erat.
Rasanya, satu-satunya hal yang masih bisa menghibur Anang, cuma karena ada Santi bersamanya saja.
Anang muak tinggal di negara itu.
Perjalanan dalam satu hari itu saja, yang membuat Anang mabuk perjalanan juga cukup menyiksa, dan membuat Anang semakin sering meminum obat maag, untuk mengurangi rasa tidak nyamannya.
Disetiap event yang Anang datangi, tidak ada yang bisa menarik perhatian Anang lagi.
Saat naik keatas panggung, tidak ada yang bisa membuat Anang khawatir, atau rasa ingin untuk memuaskan pendengarnya, seperti dulu saat Anang masih mengamen sampai menjadi penyanyi panggilan.
Anang bahkan melihat penonton yang ada, hanya seperti bayangan yang tidak berarti bagi Anang.
Entah tanggapan orang-orang yang jadi penontonnya itu, baik atau buruk, Anang tidak pernah mau memperhatikan, apalagi mengambil hati.
Sampai-sampai disalah satu event, Anang malah sempat melupakan lirik lagunya, Anang juga pernah mengacaukan permainan gitarnya di event yang lain.
Entah Anang memang tidak bisa, atau tidak mau berkonsentrasi, sudah tidak bisa dibedakan lagi yang mana satu, yang terjadi padanya.
Yang penting Anang sudah tampil, itu saja.
Kelihatannya, Anang memang kehilangan semangat, dan jiwanya untuk bernyanyi, bukan cuma rasa tidak perduli saja.
Bernyanyi sudah bukan menjadi sesuatu yang menyenangkan, bagi Anang.
__ADS_1
Anang benar-benar kelelahan.
Sedangkan semuanya itu entah kapan baru bisa berakhir.