SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 120


__ADS_3

Setibanya di bandara, Anang memang terpukau dengan tempat itu.


Seumur-umur Anang baru kali itu melihat langsung tempat pesawat singgah, yang mana dulu Anang hanya bisa melihatnya di film-film ditelevisi.


Itupun yang tampil di film hanya pesawat kecil, begitu juga bandaranya.


Rasanya seingat Anang, bandara yang ada di film yang tayang ditelevisi, tidak semewah dan semegah bandara tempat Anang berdiri sekarang.


Anang hampir tidak bisa berkedip, saat pandangannya menyapu kesana kemari, semua bagian dari tempat yang bisa dijangkau penglihatannya itu.


Padatnya penumpang juga tidak kalah memukau Anang.


Mulai dari orang lokal, sampai yang berbeda warna kulit.


Campur aduk orang-orang dengan ras yang berbeda-beda, benar-benar menarik perhatian Anang.


Dan rasanya Anang baru kali itu melihat langsung dari jarak dekat, ras kulit hitam, yang benar-benar hitam, sampai gigi dan bola mata mereka yang putih, tampak mencolok disandingkan dengan warna kulit mereka.


Meski berkulit hitam pekat, ada sesuatu yang unik yang membuat orang bisa tertarik untuk melihat orang-orang itu.


Kecantikan mereka yang berbeda dari orang kebanyakan.


Anang semakin terpukau ketika melihat keluar jendela kaca, dimana pesawat-pesawat dengan ukuran besar terparkir, ada juga yang baru terbang, begitu juga yang baru saja mendarat di lapangan.


"Mas! Jangan jauh-jauh dariku! Nanti aku bingung mencarimu..." ujar Santi.


Wajar saja kalau Santi berkata begitu.


Anang beberapa kali berhenti berjalan, atau setengah melamun, sampai-sampai Santi harus kembali, dan menariknya untuk terus berjalan didekatnya.


Santi lalu menggandeng tangan Anang, dan setengah menyeret Anang, agar Anang tidak berhenti berjalan begitu saja.


"Dimana Miss Jordan? Bantu aku mencarinya!" ujar Santi.


Santi kelihatan kebingungan mencari-cari keberadaan Miss Jordan, diantara orang banyak yang ada disitu.


Anang semestinya membantu Santi mencari Miss Jordan sejak tadi, tapi karena sibuk jelalatan makanya tidak ada yang penting, yang bisa Anang lihat.


Setelah beberapa waktu Anang mencoba berkonsentrasi untuk membantu Santi mencari Miss Jordan, akhirnya Anang bisa melihat wanita itu, hampir bersamaan dengan Santi yang juga melihatnya.


"Itu dia!" seru Santi, lalu berjalan bersama Anang, menghampir Miss Jordan, yang kelihatannya juga mencari-cari mereka disitu.


Santi lalu berbicara dengan Miss Jordan sebentar, sebelum Miss Jordan memberikan sebuah kertas seperti amplop kepada Santi.


Setelah Santi berbincang-bincang lagi sebentar dengan Miss Jordan, wanita itu lalu berjalan pergi.


"Miss Jordan sudah check-in. Tinggal kita saja sekarang," ujar Santi sambil menarik Anang ke salah satu bagian bandara, yang mirip dengan loket.

__ADS_1


Santi mengurus semuanya, sementara Anang hanya berdiri disampingnya.


"Letakkan disitu koper-kopernya! Biar masuk di bagasi semua!" kata Santi sambil menunjuk kesatu arah didekat pegawai bandara yang memeriksa tiket.


"Kecuali tas yang satu itu. Yang itu, dipegang saja! Nggak perlu dimasukkan bagasi. Kita butuh jaket dan perlengkapan lain didalam situ nanti," kata Santi lagi.


Anang menuruti semua perkataan Santi, dan kali ini Anang berkonsentrasi pada semua perkataan Santi, dan tidak lagi sibuk melihat kesana kemari seperti tadi.


Semua yang harus dilakukan Anang disitu, Santi yang mengarahkan.


Meskipun Anang sempat bingung, saat disuruh melepas tas yang dia pegang, mengeluarkan ponsel dari sakunya, melepas sepatu dan ikat pinggangnya, dan memasukkan semuanya kedalam keranjang, saat melewati semacam alat yang mungkin mendeteksi logam, tapi Anang tetap menurut saja.


Mau naik pesawat ternyata ribet!


Kalau di film-film yang Anang tonton, tidak ada diperlihatkan adegan pemeriksaan seperti itu.


Tahu-tahu pemerannya langsung saja naik, dan duduk didalam pesawat.


"Kita menunggu disini, sampai penerbangan kita dipanggil," kata Santi, lalu membawa Anang untuk duduk disampingnya.


Dalam ruangan itu kini sudah tidak sepadat seperti didepan tadi.


Malah hampir bisa dibilang lengang, kalau dibandingkan banyaknya orang didalam situ dengan luas areanya.


Kini Anang bisa dengan mudahnya mencari Miss Jordan yang sekarang duduk sendirian dikursi, yang tidak terlalu jauh dari tempat Anang dan Santi duduk sekarang.


Santi lalu melihat kearah Miss Jordan sebentar.


"Iya! Kalau aku nggak ikut, kemungkinan Peter yang akan ikut bersama kalian," sahut Santi.


Anang mengangguk-anggukkan kepalanya.


Untung saja Miss Jordan mau saja, ketika Anang meminta untuk membawa Santi.


Karena kalau tidak, berarti Anang akan menghabiskan waktu yang lama didalam pesawat, sambil duduk berdampingan dengan Peter.


Rasanya pasti aneh dan entah bakalan secanggung apa.


Berjam-jam perjalanan itu akan terasa sangat melelahkan, dan Anang tidak akan berhenti merasa cemas.


Apalagi seperti tadi saja, saat semua-semuanya diarahkan Santi.


"Ayo pergi kesana! Itu penerbangan kita yang dipanggil," kata Santi tiba-tiba.


Ketika memasuki kabin pesawat, Anang makin terpukau melihat didalamnya.


Ternyata tempat mereka duduk tidak seperti yang Anang bayangkan.

__ADS_1


Untung tidak seperti kursi bus, kursi pesawat jauh lebih nyaman dan lega, bahkan bisa dibuat agar posisinya agak terlentang, jadi penggunanya bisa tidur.


"Apa semua kursi dalam pesawat, begini semua?" tanya Anang.


"Nggak. Ini karena dikelas bisnis saja. Kalau di kelas ekonomi, kursinya biasa saja," sahut Santi, yang duduk bersebelahan dengan Anang.


"Kalau kamu bosan, bisa menonton disitu, tapi pakai ini biar kamu bisa dengar suaranya. Begitu juga kalau kamu mau mendengarkan musik, bisa disitu juga," kata Santi.


Santi menunjukkan caranya menggunakan peralatan untuk menonton dan mendengarkan lagu kepada Anang, pelan-pelan dan dengan sabar menjelaskan dengan Anang.


"Kalau kamu masih belum mengerti, beritahu aku!" kata Santi.


"Atau kamu mau melihat keluar?" sambung Santi.


Anang menganggukkan kepalanya.


"Iya," sahut Anang.


Santi lalu membuka penghalang jendela kaca disampingnya.


"Mau sekalian pindah tempat duduk?" tanya Santi.


"Nggak usah. Aku bisa melihatnya dari sini," sahut Anang.


Santi lalu tersenyum, dan menggenggam tangan Anang.


Anang memang masih bisa melihat keluar, apalagi waktu pesawat sudah mulai bergerak, dan membuat Anang merasa bersemangat yang berlebihan.


Atau ketakutan yang berlebihan?


Sudahlah...


Pegangan tangan Santi ditangannya, mampu membuat Anang merasa lebih tenang.


Ketika melihat keluar jendela, dan bangunan bandara sudah tidak terlihat lagi, dan yang tersisa hanya kegelapan disana, Anang terpikir tentang semua hal baru itu, yang membuat Anang menyadari banyaknya hal yang belum dia coba.


Lama-kelamaan, Anang bosan melihat keluar jendela yang sudah tidak terlihat apa-apa lagi.


Anang lalu memandangi Santi, yang terlihat lelah disebelahnya.


"Apa kamu sudah mengantuk?" tanya Anang, pelan.


"Belum. Kenapa?" Santi balik bertanya.


"Nggak apa-apa. Cuma mau tahu saja!" sahut Anang asal-asalan.


Santi tersenyum.

__ADS_1


"Perjalanan begini membosankan. Masih seru kalau pakai bus. Masih ada yang bisa kita lihat," celetuk Santi.


__ADS_2