SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 131


__ADS_3

Making Love after a fight, will definitely be more excited...


Mungkin karena hormon yang dilepaskan saat bertengkar, kurang lebih mirip-mirip dengan hormon saat melakukan 'itu'.


Semakin tegang pertengkaran yang terjadi, semakin seru pertempurannya sebelum akhirnya berdamai.


Hampir saja Santi meninggalkan Anang di negeri antah berantah yang tidak dipahami Anang, cuma gara-gara kecurigaan Anang yang berlebihan.


"Aku tadi mencari informasi di studio Miss Jordan," celetuk Santi, lalu membalik telur dadar yang sekarang sedang dimasak Santi.


"Kenapa kamu nggak bilang?" tanya Anang, yang menemani Santi, sambil berdiri didapur bersamanya.


"Aku 'kan belum mendapatkan apa-apa, lalu aku harus bilang apa?" sahut Santi.


"Ada sedikit saja yang aku dapat tadi, tapi aku belum bisa bicara banyak dengan orang itu," sambung Santi, lalu mengeluarkan makanan dari dalam microwave.


"Itu saja?" tanya Anang.


Santi tidak langsung menanggapi perkataan Anang, malah menatap Anang lekat-lekat, dengan wajah datar.


"Makanya aku belum bilang apa-apa. Ini saja kamu sudah kelihatan seperti orang bingung, atau nggak percaya dengan omonganku," ujar Santi, lalu sibuk mengangkat telur yang sudah matang keatas piring.


Anang mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Maaf..." kata Anang.


"Aku tadi memang sempat berpikiran aneh-aneh, karena kamu terlalu lama diluar. Sendirian... Wajar saja kalau aku cemas, 'kan?" sambung Anang.


Santi menatap Anang lagi, lalu mementung kepala Anang dengan sutil yang dia pegang.


Pukulan Santi tidak keras, dan tidak memberi rasa sakit yang berarti, tapi Anang berpura-pura kesakitan, sambil mengelus-elus kepalanya.


"Kalau aku masih mau begitu, kamu kira aku mau menerima lamaranmu?" ujar Santi dengan raut wajah kesal.


"Jangan pernah berpikiran aneh-aneh lagi! Tanganku masih sakit!" sambung Santi.


Anang melihat pergelangan tangan Santi yang memang masih agak merah, bekas cengkeraman Anang tadi.


"Maafkan aku..." ujar Anang pelan, sambil memeluk Santi dari belakang, dan mengecup kepalanya pelan.


Santi menata semua makanannya diatas piring, lalu berjalan ke meja, sambil dibantu Anang.


"Kamu disuruh ke studio besok! Periksa ulang kesehatanmu, dan kemungkinan besar, sudah harus bekerja lagi," kata Santi ketika mereka berdua mulai makan.


"Rekaman ulang?" tanya Anang sambil mengerutkan alisnya.


"Nggak! Katanya tadi, rekamanmu kemarin sudah cukup, bahkan sudah dirilis tadi," sahut Santi.


Santi lalu menyuapkan sepotong telur dadar kemulutnya, setelah meneteskan sedikit saus sambal keatasnya.


Anang yang memakan makanan jatah dari studio Miss Jordan, merasa kalau makanan Santi lebih menarik daripada makanannya.

__ADS_1


"Aku mau itu!" ujar Anang.


Akhirnya mereka berdua berbagi makanan masing-masing.


"Jadi apa yang harus aku kerjakan, kalau aku dianggap sudah sehat?" tanya Anang.


"Kamu mulai promosi lagu. Kemungkinan kamu akan diarahkan untuk ikut event. Mungkin... Aku kurang tahu, hanya dengar-dengar dari orang-orang di studio tadi saja," sahut Santi.


Setelah menghabiskan makan malam yang terlambat, Santi mengambil obat-obatan yang masih harus Anang konsumsi.


Kemudian Santi dibantu Anang, membersihkan semua peralatan makan dan masak yang kotor.


"Besok aku masih harus mencari informasi lagi. Jangan berpikiran macam-macam, kalau kamu nggak melihatku disekitarmu!" ujar Santi.


"Curiga denganku... Sendiri masih memimpikan wanita lain... Dadaku yang dipegang, tapi ngomongnya 'oh God! oh God!' Sudah pasti kalau itu bukan mimpimu denganku, 'kan?" sambung Santi, sambil menyodorkan piring basah, untuk dikeringkan Anang dengan lap.


Anang hampir menjatuhkan piring ditangannya.


Astaga!


Ternyata memang Anang mengigau tentang wanita jeruk bali.


Seketika wajah Anang tiba-tiba terasa panas.


Apakah demamnya kumat lagi, atau karena malu dengan Santi?


Tapi rasanya kemungkinan besar, kalau gara-gara Anang merasa malu.


Santi duduk disofa sambil mengangkat kakinya, lalu diluruskannya disepanjang sofa.


Anang buru-buru menyelesaikan pekerjaannya, lalu menyusul Santi, lalu duduk dan memangku Santi disitu.


"Aku nggak bermimpi aneh-aneh kok," ujar Anang berbohong.


"Untuk apa kamu perlu menjelaskan itu?" tanya Santi, yang terdengar curiga dengan Anang.


"Berarti benar kamu bermimpi dengan wanita lain 'kan?" sambung Santi.


Santi sedang menatap Anang sekarang, Anang bisa melihatnya dari ujung matanya.


Anang tidak berani menatap Santi, dan hanya terdiam, sambil berpikir.


Apa yang harus Anang katakan sekarang?


Kalau Anang berbohong lagi, malah bisa-bisa Santi mengamuk dengannya, kalau sampai Santi tahu kebenarannya.


"Sudahlah...! Toh cuma mimpi. Tapi, awas saja kalau kamu berani melakukannya nanti!" ujar Santi lalu bersandar didada Anang.


Selamat...


Nyaris saja...

__ADS_1


Anang memeluk Santi erat-erat.~


Masih pagi-pagi sekali, Anang dan Santi sudah di studio Miss Jordan.


Anang memeriksakan dirinya diruangan yang ada dokternya, yang pernah Anang datangi waktu itu, sambil ditemani Santi.


Santi berbicara dengan dokter itu sebentar, sebelum dokter itu kemudian memberikan dua botol obat kepada Santi.


"Aku masih harus minum obat?" tanya Anang saat mereka berjalan keluar dari ruangan dokter.


"Bukan obat. Itu hanya vitamin..." sahut Santi yang memegang tangan Anang.


"Kita sekarang bisa pulang atau aku harus langsung bekerja?" tanya Anang.


"Kurang tahu. Katanya kemarin, kalau sudah selesai pemeriksaan kesehatan, kita disuruh menunggu dilobi," sahut Santi.


Mereka berdua kemudian duduk disofa, yang ada di lobi studio Miss Jordan.


Mungkin sekitar lima belasan menit mereka duduk disitu, seseorang mendatangi mereka berdua, lalu berbicara dengan Santi sebentar, sebelum orang itu berjalan menjauh.


"Kita keruangan itu. Jadwalmu untuk bekerja harus diambil disitu," kata Santi lagi sambil menunjuk salah satu ruangan, yang belum pernah Anang masuki.


Santi terlihat sibuk bicara dengan beberapa orang didalam ruangan itu, sebelum mereka menyodorkan kertas kepada Santi.


Santi membaca lembaran kertas itu, lalu kembali bicara dengan orang-orang itu sebentar.


Dan kelihatannya Santi kurang senang, dengan apa yang dia baca, atau apa yang dia bicarakan dengan orang-orang disitu.


Santi menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membawa Anang berjalan keluar.


"Kita bisa sarapan dulu," kata Santi yang masih menggandeng lengan Anang.


Anang dan Santi lalu duduk diruang makan dalam studio.


"Hari ini masih bisa beristirahat, tapi mulai besok pagi, kamu sudah mulai bekerja," celetuk Santi.


Santi terlihat menghela nafas panjang, seolah-olah ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.


"Jadwalmu terlalu padat," ujar Santi.


"Sepadat apa?" tanya Anang yang sedari tadi hanya terdiam.


"Padat! Bisa-bisa kamu makan juga tidur didalam mobil," sahut Santi.


Tidak terlalu lama, makanan mereka sudah diantar ke meja, berikut juga beberapa bungkusan makanan yang dimasukkan kedalam kantong plastik.


"Makan saja dulu!" ujar Santi yang tampak gelisah.


Santi lalu terlihat mengetik sesuatu dilayar ponselnya.


"Nanti kamu mau langsung pulang, atau masih mau bersamaku? Ada yang harus aku temui hari ini. Kalau besok aku sibuk ikut denganmu, aku nggak bisa bertemu dengannya lagi," kata Santi yang terburu-buru memakan makanannya.

__ADS_1


"Aku ikut denganmu saja!" kata Anang.


__ADS_2