SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 62


__ADS_3

Dengan menumpang taksi, Anang dan Santi kemudian pergi ke studio Pak Robi, setelah mereka selesai sarapan, yang dipesan Santi.


Disepanjang perjalanan, Santi tetap sibuk dengan ponselnya, dan sama sekali tidak menghiraukan Anang.


Hujan yang awalnya hanya gerimis, kini semakin lebat, sampai-sampai Anang hampir tidak bisa melihat jalanan, dari jendela disampingnya.


Meskipun sekarang sudah agak siang, tapi karena awan dan hujan yang menghalangi matahari, membuat suhu udara cukup dingin.


Sepanjang perjalanan tanpa ada satupun yang berbicara, sungguh situasi yang tidak mengenakkan bagi Anang.


Anang yang merasa tidak diperdulikan Santi, mulai berpikir yang aneh-aneh.


Kekhawatirannya kalau Santi mungkin akan meninggalkannya semakin menjadi-jadi.


Setibanya mereka distudio Pak Robi, Santi langsung berlari masuk kedalam gedung, seolah-olah tidak mau menunggu Anang yang berniat menutupi Santi agar tidak basah karena hujan.


"Hujannya lebat sekali!" kata Santi kepada Pak Robi, sambil berjabat tangan dengan laki-laki itu.


"Iya. Hampir tidak ada hari tanpa hujan lagi, sekarang ini," sahut Pak Robi menanggapi perkataan Santi.


"Katanya Anang punya beberapa lagu yang Anang gubah sendiri?! Kita coba dengarkan sekarang?" ujar pak Robi setelah berjabat tangan dengan Anang.


Tanpa perlu duduk kembali, Pak Robi langsung berjalan menuju ruangan tempat Anang pernah bernyanyi lagu Mister Grand waktu itu.


Begitu juga dengan Anang dan Santi, yang menyusul pak Robi dari belakangnya.


Anang disuruh masuk diruang terpisah, dan duduk tepat didepan mikrofon yang menggantung.


Sedangkan Santi, Pak Robi, dan seorang laki-laki lagi, berada diruangan sebelah.


"Anang coba nyanyikan sekarang!"


Suara Pak Robi terdengar jelas dari headset yang sekarang sedang dipakai Anang, menutupi sebelah telinganya.


Seorang laki-laki yang duduk disamping Pak Robi memberi aba-aba bagi Anang, untuk mulai bernyanyi.


Anang melihat Santi dari pembatas kaca.


Wanita itu masih sibuk melihat ponselnya.


Kegusaran hati Anang membuat lagu yang dia nyanyikan, semakin terasa emosi sedih yang terkandung didalamnya.


Delapan lagu gubahan Anang tentang patah hati, dinyanyikan Anang sampai habis, tapi Santi tetap tidak melihat Anang meskipun hanya sekali.


Pak Robi seakan menyadari kegelisahan Anang lewat lagu Anang, yang didengarkannya.


Pak Robi terlihat berbicara dengan laki-laki disebelahnya, kemudian berjalan masuk keruangan tempat Anang duduk.


"Sesedih itu?" tanya Pak Robi sambil tersenyum, dan menepuk-nepuk punggung Anang.

__ADS_1


Anang tidak menyahut, hanya berusaha tersenyum yang dipaksa-paksakan.


Wajah Anang yang terasa panas, membuat Anang yakin kalau wajahnya sekarang pasti berwarna merah karena malu.


"Tidak usah malu. Lagunya bagus. Emosinya dapat. Mau mencoba merekam secara profesional sekarang? Ada waktu?" tanya Pak Robi.


Anang melihat jam yang terpasang didinding diruangan sebelah.


Masih ada waktu sedikit kurang lebih tiga jam, sebelum dia harus bersiap untuk janjinya nanti malam.


"Bisa pak! Masih ada waktu sedikit. Tapi apa tidak akan merepotkan Pak Robi?" ujar Anang.


"Tenang saja! Kita bisa merekam sebisanya, dan tidak ada yang direpotkan. Anang memang akan bernyanyi untuk label kami. Lalu apa yang merepotkan?" kata Pak Robi.


"Oh, iya. Apa kamu ada lagu yang berbeda dari lagu-lagu tadi?" tanya Pak Robi.


"Ada pak! Ada dua lagu lagi," sahut Anang buru-buru.


"Oke. Kita coba dengarkan itu dulu. Kita perlu single, untuk memperkenalkanmu dipasar musik," kata Pak Robi.


Pak Robi kemudian berjalan keluar dari ruangan itu, dan kembali keruangan sebelah.


"Sekarang?" tanya Anang.


Pak Robi dan laki-laki disebelahnya, memberi tanda dengan mengacungi jempol.


Anang kemudian bernyanyi dua lagu ciptaannya, yang keluar dari tema, dengan sepenuh hati.


"Kita rekam salah satu lagu itu terlebih dahulu," Kata Pak Robi.


"Ayo ikut denganku!" sambung Pak Robi lagi.


Anang kemudian mengikuti langkah Pak Robi yang berjalan didepannya, keluar dari ruangan itu.


Anang dibawa naik kelantai dua gedung, sedangkan Santi singgah duduk disofa bagian depan, tanpa mengikuti Anang dengan Pak Robi.


Dilantai dua gedung itu, lebih ramai daripada dilantai dasar tadi.


Banyak orang berlalu-lalang disitu, dan semua terlihat sangat sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Anang melihat poster-poster grup band, dan penyanyi solo yang terpampang didinding, dan cukup membuat Anang terpana, sampai mengalihkan perhatiannya dari Pak Robi.


"Anang!" seru Pak Robi.


"Disebelah sini!" kata Pak Robi lagi.


Anang terkejut.


Ternyata Pak Robi sudah lumayan jauh didepannya.

__ADS_1


Buru-buru Anang berjalan menyusul Pak Robi, sampai kesebuah ruangan tertutup, yang lebih besar dibandingkan yang ada dilantai dasar tadi.


Pak Robi lalu berbicara dengan beberapa orang yang ada didalam situ.


Dalam ruangan berbatas kaca mirip seperti dibawah tadi, terlihat ada grup band yang sedang bernyanyi didalam sana.


Tidak terlalu lama,


Anang menonton aksi orang-orang yang bernyanyi sambil bermain satu set alat musik disitu, tiba-tiba salah satu orang yang berbicara dengan Pak Robi menghampiri Anang


"Tunggu sebentar! Setelah mereka selesai, kamu yang akan menggantikan mereka disitu," kata orang itu.


Anang hanya menganggukkan kepalanya.


Kali ini Anang mungkin akan mendekati jalan untuk mencapai cita-citanya untuk menjadi penyanyi terkenal.


Anang senyum-senyum sendiri, melihat dan membayangkan, dia yang akan bernyanyi didalam situ.


Membayangkan kalau foto-fotonya akan jadi poster yang akan ditempelkan di dinding.


Anang harus menampilkan yang terbaik, kalau dia mau semuanya berjalan lancar.


Saking sibuknya dengan pikiran, dan bayangan-bayangan kalau Anang akan menjadi penyanyi profesional, bisa menghapus kegelisahannya dengan urusan cinta.


Anang lalu melihat, kalau grup yang didalam ruangan itu sudah berhenti bernyanyi, dan bermain musik, kemudian berjalan keluar dari ruangan itu.


"Giliranmu masuk. Tunggu saja didalam. Nanti kami beri tanda kalau, semua sudah siap," kata orang yang mungkin adalah anak buah pak Robi, yang bekerja sebagai produser.


Pak Robi duduk dikursi yang agak jauh dari meja yang bertengger banyak sekali tombol dan pengatur rekaman.


Anang lalu duduk didalam ruangan terpisah tempat grup band tadi bernyanyi, dengan mikrofon yang sudah siap didepannya.


Tidak semudah yang dibayangkan.


Anang perlu mengulang proses rekamannya beberapa kali.


Terkadang baru beberapa kata dalam lirik yang dinyanyikan Anang, dia sudah diberhentikan, dan disuruh mengulang dari awal.


Sampai pita suara Anang kelelahan dan hampir serak, karena harus bernyanyi berulang-ulang seperti itu.


Anang sempat beberapa kali minum, karena tenggorokannya kering.


Untung saja, meski satu lagu saja yang diulang-ulang, tapi lagu itu disetujui hasil rekamannya, dan dianggap sudah cukup baik.


Kesibukkannya hari itu, sampai melewatkan waktu untuk janjinya nanti malam.


Anang merasa sangat lelah, karena duduk terlalu lama, dan harus bernyanyi hampir tanpa henti.


Ketika Anang keluar dari sana, Anang melihat Santi tersandar disofa, dan sudah tertidur, terlihat jelas kalau wanita itu juga kelelahan menunggu Anang yang terlalu lama.

__ADS_1


Anang lalu membangunkan Santi.


"Pesankan taksi. Ayo kita pulang!" kata Anang pelan.


__ADS_2